RUBY CIDERA

3334 Words
Suasana di dalam mobil benar-benar sangat hening, tidak ada yang membuka suara sama sekali selama perjalanan. Sibuk dengan kegiatan dan isi pikiran masing-masing. Genta dengan stir mobil, dan Ruby yang sibuk melihat keluar jendela. Genta yang merasa canggung berdehem pelan, guna memecah suasana hening itu. Jujur dia sangat tidak nyaman jika satu mobil dengan seseorang tetapi hanya diam, tidak mengobrol sama sekali. Berasa cuman ada dia di dalam mobil itu. Ruby melirik sekilas pada cowok di samping nya yang barusana berdehem. Lalu dia menarik nafas nya perlahan dan memperbaiki posisi duduk nya menghadap depan. "Kenapa? Gak nyaman?" tanya dengan suara dingin. Genta menghela nafas nya perlahan. "Mungkin karna gue orang nya suka ngobrol, jadi pas satu mobil sama orang yang irit ngomong agak beda aja rasa nya." balas nya sedikit menoleh pada Ruby. "Lo emang biasa ya kayak gini?" "Gue gak pernah satu mobil sama orang lain. Kecuali anggota genk gue dan..." Ruby memberi jeda pada kalimat nya. "--dan Ralin." lanjut nya pelan. Genta menatap geli ke arah gadis di samping nya itu. "Berarti ini pertama kali dong. Lo satu mobil sama orang lain?" tanya nya. Ruby menarik nafas nya perlahan, dan menghembuskan nya secara perlahan juga. Lalu untuk pertama kali nya dia menoleh pada cowok itu. Tatapan nya dan tatapan Genta langsung bertemu. Dia terdiam untuk benerapa saat, saat menatap manik mata cowok tersebut. "Segitu cinta nya lo sama Ralin, sampai rela bantuin gue kayak gini?" Ruby mengabaikan pertanyaan Genta yang tadi. Genta terkekeh pelan. Dan kembali menatap ke depan. "Lucu lo tau gak. Kenapa lo bisa berpikiran kayak gitu?" "Semua orang juga tau. Dan semua orang juga lihat, lo ada someting ama kembaran gue itu. Bukti nya, lo masuk kepengurusan osis, cuman buat deket sama dia kan?" "Jadi lo beranggapan kalau gue masuk osis, karna pengen deket sama Ralin? Gitu?" "Siapa yang tau." jawab Ruby simpel, tanpa mengurangi aura dingin dan datar yang sudah menjadi ciri khas nya. Dia lalu kembali menatap ke depan. "Sebagian kecil prediksi lo bener. Tapi banyak salah nya. Gue masuk osis, karna dulu di smp gue juga suka masuk organisasi, gue suka di sibukkin. Mangka nya...." "Mangka nya lo mau tepot-repot bantuin gue, atas permintaan Ralin?." potong Ruby. Genta lagi-lagi terkekeh pelan. "Bukan karna permintaan Ralin aja sih. Tapi gue juga mikir, cewek sendirian di tengah malam, apa gak bakal bahaya. Gue bukan tipe cowok yang tega lihat cewek sendirian di jalan malam-malam." Kalimat terakhir Genta membuat Ruby termangu, dengan detak jantung yang kembali cepat. Kata-kata yang sama juga pernah di dengar nya. Aku bukan cowok yang suka lihat cewek sendirian malam-malam di tepi jalan. Untuk sesaat pikiran Ruby kembali melayang tak karuan. Bahkan dia tidak sadar jika mobil yang membawa diri nya telah berhenti sejak tadi. Genta menatap heran ke arah gadis yang masih saja diam dalam posisi nya, menatap ke depan, dengan tatapan yang terlihat kosong. Bahkan tidak bergerak, barang sedikit pun saat mobil berhenti. "Ruby!" Genta membuka suara nya pelan. Gadis itu masih bergeming. "By !!" kali ini Genta menyentuh pundak Ruby. Menandakan gadis itu melamun, saat dia menyentuh pundak nya, Ruby terlihat kaget. "Lo ngelamun?" Ruby menyadari diri nya yang tadi melamun. Dia menoleh sebentar pada Genta, lalu keluar dari mobil tanpa berkata apa pun. Genta yang melihat itu hanya mengernyit bingung, sikap Ruby malam ini bagi nya terkesan aneh. Mulai dari gadis itu yang tadi seperti orang ketakutan dan gemetar, sekarang seperti orang linglung. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikiran gadis itu. Tapi dia tidak tau apa. Genta turun dari mobil sport milik Ruby. Dia dapat melihat, Ralin yang berdiri di depan pintu, dan Ruby yang melewati gadis itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Lo apa in saudara gue?" tanya Ralin saat Genta telah berdiri depan nya. Genta mendesah. "Belum sempat gue ngapa-ngapain, gue udah di bunuh kali sama saudara dingin lo itu." jawab nya asal. Ralin terkekeh pelan, ada benar nya juga. "Ya udah kalau gitu, thanks ya udah mau bantuin gue." seru nya tulus. Genta menatap senyuman Ralin yang selalu terlihat manis di mata nya. Hal yang selalu menggerakkan bibir nya untuk tersenyum juga. "Its oke. Apa sih yang gak buat lo." balas nya seraya mengacak pelan rambut Ralin. "Apa an sih lo bisa aja." kekeh Ralin. "Ya udah gue pulang dulu ya! Nih kunci mobil Ruby." Genta menyerahkan kunci mobil tersebut. Ralin mengangguk, dan menatap Genta yang mulai memasuki mobil milik nya. Dia sedikit melambaikan tangan saat mobil cowok itu berlalu meninggalkan pekarangan rumah nya. ☔☔☔☔☔ Setelah kepergian Genta. Ralin melangkah memasuki rumah nya yang sudah sepi. Karna kedua orang tua, Dirga, dan Digta telah terlelap ke alam mimpi mereka. Dia telah menjanjikan kepada semua nya bahwa Ruby baik-baik saja, dan sejak di jemput oleh Genta. Kalau tidak, mungkin mereka sekarang masih terjaga, dan menunggu Ruby dengan khawatir. Sedangkan Regan, jangan di tanya lagi kemana pergi nya cowok itu. Seperti malam-malam sebelum nya, cowok itu pasti meghabiskan waktu bersama teman-teman satu genk nya, hanya untuk sekedar nongkrong, atau tidak balapan liar. Sikap Regan yang seakan tidak perduli dengan siapa pun terkadang membuat anggota keluarga yang lain geleng-geleng kepala. Mana pernah cowok itu khawatir dengan keadaan keluarga nya. Dulu pernah Digta mengalami kecelakaan saat pulang kuliah, dan kritis beberapa minggu di rumah sakit. Jangan kan menunggui saudara nya, Regan bahkan tidak menampakkan wajah nya di rumah sakit sama sekali, sampai Digta di larikan ke rumah sakit di Paris karna kondisi nya yang semakin buruk. Sikap nya yang seperti itu lah, yang sering membuat nya di banding-bandingkan dengan Digta yang mempunyai perhatian yang besar pada setiap anggota keluarga. Ralin melangkah kan kaki nya untuk menuju kamar. Namun langkah nya terhenti saat melewati kamar Ruby yang tepat berada di samping kamar nya. Pintu kamar saudara kembar nya itu sedikit terbuka, itu lah yang membuat perhatian nya teralihkan. Dia sedikit mendorong pintu itu, dan menyembulkan kepala nya. Terlihat lah Ruby yang sudah berganti pakaian tengah berdiri di balkon kamar. Hal favorit yang di lakukan gadis itu. Ralin memilih memasuki kamar Ruby, dan menutup pintu tersebut. Dia yakin, Ruby menyadari kedatangan nya. "Udah malam By. Ntar lo masuk angin." seru Ralin seraya duduk di ranjang dengan bad cover berwarna biru muda, warna yang di ketahui nya di sukai oleh saudara nya itu. Ruby membalilkan tubuh nya, dan berjalan menuju ranjang nya, duduk disana dengan posisi sediikit membelakangi Ralin. Hanya diam, tanpa merespon ucapan Ralin. "Makasih ya. Lo udah gantiin gue rapat tadi." Ralin kembali mebuka suara. "Gue gak ikut rapat." balas Ruby pelan. Ralin tersenyum. "Udah gue duga. Pasti ruangan itu mendadak tegang karna dimasuki oleh queen bee sekaligus mantan ketua osis." Ruby menghela nafas nya perlahan. "Lo yang terlalu lembek. Mangka nya mereka seenak nya." "Bukan. Bukan gue yang terlalu lembek. Tapi lo yang terlalu kejam dan keras." Ralin mensejajarkan duduk nya di samping Ruby, lalu menatap saudara nya itu dari samping. "Kadang kita harus lebih lunak, supaya gak ada orang yang merasa gak nyaman dengan kehadiran kita." Ruby untuk pertama kali nya menoleh menatap Ralin. Dengan wajah datar yang masih di pertahankan nya. "Dan terkadang kita juga harus keras. Supaya kita bisa di hargai." Ralin tertegun sesaat mendengar perkataan gadis tersebut yang terdengar tajam dan penuh penekanan itu. Sebelum akhir nya dia menarik nafas perlahan. "Apa hidup cuman untuk meminta di hargai?" "Enggak. Tapi gue gak suka ada orang yang menganggap enteng gue. Seakan-akan gue adalah orang lemah yang gak bisa berbuat apa-apa." Perkataan Ruby lagi-lagi terkesan seperti orang yang menahan emosional nya. Dan Ralin mengerti akan hal itu. "Hidup ini berat By. Terkadang kita di tuntut untuk mengikhlaskan dan memberi maaf. Agar gak ada dendam yang tersisa. Apa yang telah terjadi mustahil untuk di tarik kembali, apa yang sudah di takdir kan mustahil untuk di rubah, dan apa yang sudah pergi mustahil untuk datang kembali." Ralin berucap dengan pandangan yang menerawang ke depan. "Dendam cuman bikin kita makin sakit, karna terus megingatkan kita akan kejadian, tanpa memberikan ruang untuk bahagia dengan hal yang baru." Ralin akhir nya menoleh pada Ruby yang lebih dulu menatap nya. "Gue gak ingin lo jadi orang yang terselubung dengan ketraumaan, dan dendam di masa lalu." lanjut nya. Ruby termangu dengan setiap perkataan yang keluar dari mulut Ralin. Dia diam mematung dengan sorot mata yang terus menatap lurus mata teduh milik saudara nya itu. Sampai Ralin kembali membuka suara. "Gue ingin lo berhenti mengutuk takdir. Karna takdir adalah suratan dari Tuhan yang kecil kemungkinan bisa di rubah." Kalimat terakhir Ralin membuat Ruby mengalihkan pandang nya ke arah lain. Ralin yang melihat reaksi Ruby, menarik nafas perlahan dan bangkit dari duduk nya. Berjalan menuj pintu kamar. Sesaat tangan nya menyentuh gagang pintu, saat itu juga lah sebuah suara menghentikan nya. "Gimana keadaan lo?" Suara pelan itu membuat Ralim menoleh pada sang pemilik suara. Dia tersenyum Menatap punggung Ruby. "Dengan lo yang nanya kayak gini, bikin kondisi gue lebih baik. Dan cukup untuk obat buat gue." seru nya penuh dengan perasaan yang membara. Pasal nya ini adalah pertanyaan uang sangat di harapkan nya sejak dulu. Setelah mengucapkan itu, Ralin berlalu meninggalkan kamar tersebut. Tanpa dia tau, sang penghuni kamar, tersenyum walau sangat tipis. ☔☔☔☔☔ Ruby menuruni setiap anak tangga yang menghubungkan lantai dua dengan lantai satu rumah nya. Dia telah rapi dengan seragam putih yang di lapisi dengan rompi kotak-kotak berwarna hitam, di padukan dengan rok sedikit di atas lutut senada dengan warna rompi. Sebelah tangan nya menenteng jaket kulit berwarna hitam, apalagi kalau bukan jaket genk BlackHeart. Dan pundak menyandang ransel kecil ciri khas ransel siswi kebanyakan berwarna hitam. "Bibi pikir non Ruby gak ke sekolah hari ini, habis nya di bangunin gak nyaut-nyaut." Suara Bi Iyem terdengar menyambut kedatangan nya setelah melanglah turun dari anak tangga terakhir. Ruby hanya membalas dengan anggukan pelan nya. Dia lalu melangkah ke meja makan, disana telah tersedia hidangan sarapan pagi. Dan hanya ada Regan di sana, tanpa anggota keluarga yang lain. Bagaimana tidak, sekarang sudah pukul 06.45 sebentar lagi jam 7, alhasil semua penghuni rumah itu sudah pergi untuk kegiatan masing-masing. Jangan di tanya lagi, Regan bukan lah Dirga yang taat peraturan, dan bukan Digta yang pintar dan anti keterlambatan. Regan adalah bad boy Victor University, cowok terkenal brandal, playboy, anak motor, dan berantakan. Namun entah kenapa, pesona nya selalu memikat banyak wanita di Victor, padahal di kampus itu ada yang lebih oke di banding Regan. Yaitu Digta, yang lebih good boy, dan tidak sembrono dan urakan seperti Regan. "Kemana lo tadi malam? Ralin sampai nelfon dan nanya ke gue." Ruby duduk di kursi yang berseberangan dengan Regan. Dia yang baru duduk langsung di hadiahi pertanyaan yang menurut nya sendiri tidak penting. "Bukan urusan lo. Ralin b**o aja nanya ke orang yang salah kayak lo." jawab Ruby dingin tanpa melirik sedikit pun pada kakak nya itu. Dia sibuk mengolesi roti dengan selai vanilla kesukaan nya. Regan menghela nafas nya. "Ya lo bener. Ralin salah nanya gue. Karna gue juga gak peduli." balas nya tak kalah dingin. Meja makan yang hanya di isi dua orang itu benar-benar menciptakan keheningan yang mencekap. Bi Iyem dan Mbak Siti yang melihat mulai saling pandang, pasal nya mereka tahu di rumah ini diisi oleh orang-orang berbeda karakter. Contoh nya saja, Dirga anak sulung keluarga ini yang lebih pendiam dan kalem. Digta anak ketiga keluarga Alexander yang lebih ramah. Ralin anak ke empat yang tidak jauh berbeda dengan Digta. Sedangkan Regan dan Ruby yang lebih pemberontak, dingin, dan terkesan tidak peduli dengan keluarga sendiri. Tapi yang menjadi tanda tanya terbesar para pekerja di rumah itu. Anak bungsu keluarga Alexander itu, berubah baru dua tahun belakangan ini. Karna dulu nya, Ruby di kenal sebagai anak yang ceria dan sering mengusili Ralin dan ketiga saudara nya yang lain. Begitupun dengan Regan, cowok itu mulai berubah semakin dingin, dan semakin cuek sejak sesudah kejadian kecelakaan Digta, bahkan Regan tidak pulang sama sekali saat itu. Sikap dingin Regan, sering hanya tertuju jika telah berdua bersama Ruby, atau tidak bersama Digta. "Sejak kapan lo peduli sama orang di rumah ini. Mungkin kalau salah satu hilang atau mati juga lo gak bakal tau. Hidup lo kan cuman buat diri lo sendiri." Ruby berkata dengan suara dingin, di sertai dengan bangkit nya dia dari duduk nya dan berlalu keluar rumah menyeret tas dan jaket kulit nya. Tangan Regan yang tadi nya ingin menyuap terhenti di udara. Dia mengangkat kepala nya saat mendengar deru mobil meninggalkan rumah. Di dalam ruangan rumah yang besar itu, hanya tersisa diri nya dan kesunyian. Mungkin kalau salah satu hilang atau mati juga lo gak bakal tau. Hidup lo kan cuman buat diri lo sendiri. Regan tertegun dalam waktu yang lama, saat kata-kat itu terngiang-ngiang di telinga nya. ☔☔☔☔☔ Ruby berjalan memasuki kelas nya XII IPA 3. Kelas yang sudah ramai dengan siswa siswi yang memang bagian dari kelas itu, dan ada juga yang hanya sekedar berkunjung untuk bertemu dengan teman mereka di dalam kelas tersebut. Namun saat kedatangan Ruby di kelas itu, membuat sebagian dari penghuni kelas keluar, atau diam menutup mulut. "Itu tadi ada yang narok di meja lo. Kayak nya anak osis, soal nya pakai almameter osis biru muda." Suara itu berasal dari gadis yang tengah sibuk membolak balik buku kimia, bahkan dia berbicara tanpa menatap wajah lawan bicara nya. Siapa lagi yang berani mempunyai sikap secuek dan tanpa takut itu kalau bukan Nesya. Anggota genk BlackHeart yang paling cuek dan tenang. Bahkan saat menghadapi Ruby sang leader. Ruby meraih kertas print yang sudah di jilid itu di atas meja nya. Membolak-balik nya sebentar, lalu berbalik ke pintu kelas setelah meletakkan tas nya terlebih dulu. Nesya yang melihat Ruby kembali berbalik, akhir nya mengangkat kepala dan menatap punggung sang leader. "Mau kemana lo?" "XII IPA 1" jawaban singkat itu membuat Nesya mengangguk. Dan kembali melanjutkan bacaan nya. Ruby berhenti melangkah saat telah berdiri di depan pintu kelas XII IPA 1, tempat yang di tuju nya. Tangan nya memegang proposal berjudul Galang Dana yang terletak di atas meja nya. Ternyata cowok bernama Farhan yang di ancam nya kemarin, benar-benar melakukan tugas sesuai perintah nya. Dengan langkah tanpa beban dia berjalan masuk, dan menuju meja Ralin. Gadis itu sudah menatap ke arah nya bersama dengan Tata yang di ketahui nya satu bangku dengan Ralin. Sebelum dia sampai ke meja itu. Seseorang menabrak nya dari depan. Tubuh nya sedikit terdorong kebelakang, namun tidak kehilangan keseimbangan. "Ma...Maaf Ruby..Gue...Ga...K sengaja." suara gagap itu terdengar di tengah kelas yang mulai hening. Ruby menatap dingin gadis cupu berkacamata tebal itu, gadis yang sama dengan yang kemarin menghalangi jalan nya bersama BlackHeart saat di kantin. Dia melirik nama gadis itu, pasal nya gadis itu juga termasuk siswi langganan yang sering di bully genk nya, tapi dia tidak pernah tau nama nya. Shiren. Itu nama yang di tangkap mata Ruby. Tanpa berkata apa-apa dia melewati gadis itu dengan sedikit menyenggol lengan gadis tersebut. Ralin bernafas lega, karna Ruby tidak melakukan hal yang aneh-aneh terhadap Shiren, yang termasuk penghuni kelas XII IPA 1 juga. "Proposal Galang Dana." Ruby meletakkan proposal itu di atas meja Ralin, lalu berbalik tanpa menunggu respon dari saudara nya itu. Ralin menatap proposal tersebut, lalu beralih menatap Ruby yang sudah menghilang di balik pintu kelas nya. ☔☔☔☔☔ "Ayo semua nya. Bapak tunggu di lab kimia 10 menit lagi. Dan kalian nanti langsung berdiri bersama anggota kelompok yang sudah bapak bagi tadi." Siswa siswi XII IPA 3 mengangguk, mengerti akan intruksi Pak Dadang, guru Kimia SMA Saga. Hari ini adalah jadwal nya kelas tersebut pratikum kimia, setelah kelas XII IPA 1 pratikum kemarin. Kelas mulai kosong setelah semua peghuni nya keluar dan menuju lab kimia, dengan membawa jas lab yang di berikan kepada setiap siswa siswi jurusan IPA. Di dalam kelas itu hanya tersisa Ruby yang masih diam di kursi nya, seakan tidak minat dengan pratikum hari ini. Dan Genta yang mulai berjalan ke pintu, namun terhenti saat melihat Ruby masih duduk diam. "Yuk ke lab! Pak Dadang pasti udah nunggu." seru Genta menatap teman satu kelompok nya itu. Ruby beralih menatap datar ke arah cowok di depan nya. Cowok yang tengah mengangkat kedua alis. Dia menghela nafas nya, dan bangkit seraya membawa jas lab nya. "Mimpi apa gue harus satu kelompok sama lo." gumam nya dan berajalan keluar kelas. Genta tersenyum simpul, sembari berjalan beriringan dengan Ruby. "Kenapa sih lo kayak nya anti banget sama gue?" tanya nya. Ruby tidak membalas pertanyaan itu. Sampai mereka sampai di lab kimia yang sudah di huni oleh siswa siswi IPA 3. Mereka berjalan pada satu meja yang masih kosong. Setiap kelompok terdiri atas dua orang. Jadi satu meja khusus untuk dua orang. Dia atas meja itu sudah banyak alat-alat dan cairan kimia yang cukup berbahaya. "Saya berikan waktu 20 menit untuk tugas ini." ucap Pak Dadang. "Jadi silahkan bekerja, dan hati-hati." lanjut nya lagi. Semua mulai melakukan tugas mereka masing-masing, mengikuti kertas panduan yang telah di berikan. Begitu pun dengan Ruby dan Genta, kedua nya mulai tekun mengerjakan. Namun di antara kedua nya, Ruby lebih bekerja santai. Bahkan tanpa melihat kertas panduan. Mungkin karna terlalu pintar kali ya. "Ini gimana sih? Di campurin kesini?" tanya Genta seraya menunjukkan dua botol kimia dengan warna cairan yang berbeda pada Ruby. Ruby menoleh. "Iya, itu campurin aja, dengan kadar yang sama banyak nya." jawab nya pelan. Genta mengangguk. Saat dia baru saja akan mencampurkan dua cairan kimia itu. Gerakan nya harus terhenti saat mendengar teriakan tertahan yang berasal dari gadis di samping nya itu. Dia menoleh, bahkan bukan hanya dia tapi seluruh siswa siswi dan pak Dadang menoleh ke arah Ruby yang sudah memegang tangan kanan nya dengan wajah yang meringis. "Ya ampun By !!" Genta dengan sigap meletakkan botol kimia yang di pegang nya tadi. Lalu beralih pada Ruby yamg dia yakin tengah menahan sakit dan panas akibat tertumpah cairan kimia. "Arghhh.. " ringis Ruby saat Genta memegang tangan nya yang terkena cairan kimia itu. Pak Dadang, dan empat anggota BlackHeart lain nya langsung berlari ke meja kejadian. "Ada apa ini?" tanya Pak Dadang, dan melihat tangan Ruby yang memerah. "Ya ampun Ruby. Kenapa bisa seperti ini?" tanya nya khawatir. Ruby menggigit bibir bawah nya menahan sakit di tangan nya. "Biar saya bawa Ruby ke uks pak." Genta mengambil jalan tengah. Dan langsung merangkul Ruby ke uks. Kepergian Ruby di perhatikan semua penghuni lab. Namun berbeda demgan Nesya, Stefi, Ranaya, dan Yuma. Ke empat anggota BlackHeart itu langsung menatap tajam ke arah cewek yang berdiri di samping Pak Dadang dengan wajah ketakutan dan gemetar. Terlebih Stefi, gadis itu bahkan kini mendekat ke arah gadis yang kemungkinan besar pelaku dari ketumpahan cairan kimia di tangan Ruby itu. "LO SENGAJA HAH! INGIN NYELAKAIN RUBY HAH?" bentak Stefi dengan kemarahan yang menggebu-gebu. Gadis yang di ketahui semua orang bernama Siska itu semkin gemetar hebat, bahkan sudah mulai menangis. "Engg..gak Stef, gue gak sengaja." seru nya terbata-bata. Stefi mencengkram erat krah baju Siska, dan menatap geram gadis itu. "Gak sengaja lo bilang? LO PIKIR GUE PERCAYA HAH?" lagi-lagi dia berteriak berang. Seisi lab mulai di selubungi ketegangan. Terlebih melihat Stefi yang mulai tidak terkendali emosi nya. Jika tidak ada Pak Dadang mungkin lab itu bisa porak poranda karna amukan Stefi. Yang terkenal paling berbahaya itu. "Sudah Stefi. Mungkin Siska memang tidak sengaja. Jadi kamu tahan emosi, dan lebih baik kita lihat kondisi Ruby sekarang." bijak Pak Dadang, menenangkn siswa nya yang satu itu. "Dan buat kalian semua, lanjut kan tugas kalian!" tegas nya yang langsung di patuhi yang lain. Stefi masih menatap tajam Siska. Sebelum akhir nya berlalu meninggalkan Lab, menyusul Pak Dadang yang telah keluar terlebih dahulu. Dan si susul Ranaya, dan Yuma yang ikut menatap tajam ke arah Siska yang menunduk dengan tangis yang belum reda. Hanya tersisa Nesya di dekat meja kejadian itu. Dia menatap datar dan dingin pada Siska. "Kalau sampai Ruby kenapa-kenapa. Lo tinggal persiapin diri lo buat besok. Saat BlackHeart gak akan ngasih ampun buat lo." seru nya dingim dan penuh dengan ancaman dan peringatan. Lalu berlalu meninggalkan Lab Kimia. Seisi lab mulai berbisik-bisik memperkirakan apa yang akan di lakukan genk BlackHeart esok hari. ☔☔☔☔☔
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD