KESAMAAN

3051 Words
Genta mempercepat langkah nya di sepanjang koridor yang sepi tersebut. Pelaksanaan belajar mengajar tengah berlangsung, oleh karna itu lah baik koridor lantai satu, dua dan tiga kosong, hampir tak berpenghuni. Dia sedikit berlari, sembari celingak celinguk mencari seseorang yang sudah menghilang sejak dari ruangan osis tadi. "Dikelas kali ya." gumam nya sembari mengatur nafas nya yang sesak dan tidak beraturan. Dengan langkah yang cukup lebar. Genta kembali memutar tubuh nya itu menaiki tangga menuju lantai dua. Namun langkah nya terhenti saat mata nya menangkap punggung seseorang yang tengah berdiri di ujung koridor tengah menghadap pada hamparan bunga warna warni, dan pohon yang begoyang-goyang di terpa angin. Koridor lantai satu memang menghubungkan jalan untuk ke taman belakang sekolah. Namun sangat jarang di kunjungi oleh siswa dan siswi, pasal nya tidak ada tempat duduk untuk bersantai seperti taman bagian depan sekolah. Entah kenapa, kaki Genta melangkah menuju ujung koridor tersebut. Dia dapat melihat, rambut orang itu yang di terpa oleh angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Dari postur belakang, Genta tahu siapa orang terrsebut. Namun seakan memastikan, dia kembali terus mendekat. Hingga selangkah lagi dia akan benar-benar sejajar dengan orang itu, sebuah suara membuat langkah nya berhenti. "Belajar jadi stalker lo?" pertanyaan itu meluncur dari bibir gadis itu. Genta menghela nafas nya perlahan, lalu mensejajarkan berdiri nya dengan gadis tersebut. "Enggak. Gue cuman gak sengaja aja lihat lo disini." jawab Genta seraya ikut menatap ke depan. "Lagian lo ngapain sih disini? Setahu gue, taman belakang sekolah ini paling jarang di kunjungi." lanjut nya. Kali ini menoleh, menatap wajah Ruby dari samping. Gak dari depan, gak dari samping. Tidak ada yang berubah dari wajah gadis itu. Masih datar, dingin dan penuh kebekuan. "Gue udah pernah bilang kan sama lo. Kalau lo ketemu gue, lo gak usah banyak omong." Balas Ruby sakartis. Genta lagi-lagi menghela nafas berat nya. "Yaelah. Susah ngomong sama orang yang emang dasar nya irit ngomong banget." gumam nya. Tidak ada lagi suara yang merespon. Di tengah diam nya suasana, Genta justru melirik Ruby dengan ekor mata nya. Sebenar nya dia heran dan bingung, akan sikap yang ada dalam diri gadis di samping nya ini. Di satu sisi, dia melihat bahwa gadis itu dingin, cuek, kejam, dan datar. Dan itu memang fakta yang dilihat banyak orang. Tapi disisi lain, dia justru melihat sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Contoh nya saja dari cara pandang dan sorot mata gadis itu. Sorot tajam, dingin, namun terselip sesuatu yang sulit di baca oleh siapa pun. Sorotan yang penuh dengan kemisteriusan. Mungkin tidak semua orang bisa melihat itu, tapi bagi diri nya pribadi, dia melihat kejanggalan itu. Tapi apa? "Ngapain lo masih disini? Balik ke kelas!" seruan itu lebihbterdengsr sebagai perintah dan usiran di pendengaran Genta. "Lo sendiri gak balik ke kelas?" Genta malah balik bertanya. "Bukan urusan lo." balas Ruby dingin. "Gue heran deh sama lo." pernyataan Genta mengundang tatapan Ruby untuk beralih pada cowok itu. "Lo itu pintar, juara umum, bahkan gue lihat lo bisa pintar tanpa belajar. Tapi kenapa lo masih sering bolos, dan anti sama kelas gini?" ujar nya dengan tatapan heran. Bukan nya ikut mengerutkan dahi. Ruby justru menatap lawan bicara nya dengan datar. "Lo siapa sih yang harus tau tentang hidup gue? Kenal aja gue gak sama lo." Ucapan santai Ruby jujur cukup menohok d**a Genta. Pasal nya gadis itu berkata seakan dia adalah orang yang benar-benar asing, yang sok kenal denan nya. Ya walaupun nyata nya dia belum begitu kenal dengan Ruby, tapi paling tidak dia sudah 1 minggu satu kelas dengan gadis itu, dan keluarga mereka juga sudah saling kenal. "Gue tau, gue emang orang baru yang hadir dalam hidup lo. Bahkan gue baru pertama kali, lihat orang yang bersikap begitu dingin nya ke semua orang, kayak lo. Itu yang bikin gue gak ngerti sama karakter lo. Bahkan sama keluarga sendiri, lo seakan bersikpa seperti orang asing yang gak saling kenal." suara Genta kali ini lebih terdengar serius. "Tadi lo bilang kalau lo bukan ketua osis lagi di sekolah ini. Berarti lo dulu pernah menjabat kan? Trus kenapa lo berhenti?" kali ini pertanyaan Genta membuat Ruby tertegun di tempat. Pertanyaan itu seakan memutar balik memori nya, ke masa yang lagi-lagi tidak ingin di ingat nya. Dengan sebelah tangan yang terkepal, Ruby berusaha menahan setiap gejolak dalam d**a nya. Berusaha mempertahankan benteng yang telah di bangun nya selama ini. Dengan sorotan sengit dia menatap cowok di samping nya itu. "Berhenti banyak omong! Karna apa pun tentang gue, itu bukan urusan lo sama sekali." seru Ruby ketus dan berjalan meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Genta yang terdiam seorang diri. Genta menatap kepergian Ruby dengan sorot mata nya. Mata nya menangkap dengan jelas mata Ruby yang tadi berubah begitu sengit, dan ucapan yang biasa nya dingin, tadi berubah ketus begitu saja. Apa dia salah menanyakan hal itu? Tapi satu yang bisa di tangkap nya saat bersitatap singkat dengan mata itu tadi. Mata itu penuh akan sorot emosional terpendam yang terus berusaha di sembunyikan. ☔☔☔☔☔ Ketenangan. Hanya itu lah satu-satu nya hal yang di ingin kan oleh Ruby. Sudah dua tahun, dia adalah orang yang selalu mencari ketenangan, benci akan keramaian. Karna bagi nya, saat dia menerima sebuah ketenangan, disana lah logika nya bisa berjalan dengan sehat dan terarah. Tetapi berbeda untuk malam ini. Kesunyian, ketenangan dan kegelapan malam justru menyeret Ruby kembali ke bayangan-bayangan masa lalu. Bayangan yang entah bisa di defenisikan nya sebagai kebahagiaan, atau justru kebalikan dari itu. Bayangan itu menyeruak masuk, seiring dengan mata nya yang terus menelusuri sekitar tempat dimana dia berdiri. Air danau yang terlihat tenang, angin malam yang sejuk menerpa rambut dan menyentuh lembut permukaan kulit nya. Mata Ruby berhenti pada sepasang ayunan yang berada tepat di samping dia berdiri dengan pohon sebagai pengingat tali nya. Ayunan yang terlihat tenang, dan sesekali bergoyang tertiup angin yang lumayan kencang. Sebuah senyuman pahit hadir di wajah gadis itu. "Kamu lagi ngapain sih?" tanya Ruby dengan nada sedikit kesal. Pasal nya sudah dua jam dia duduk di ayunan, tanpa melakukan apa pun, selain melihat sang kekasih yang sibuk mengukir-ukir di pohon. Entah apa yang di buat. "Udah, kamu duduk manis aja disana kenapa sih?" jawab sang cowok tanpa melihat sedikit pun pada Ruby yang mulai kesal. Dia masih sibuk memahat di pohon. "Ini juga dari tadi udah duduk Dafa!" geram Ruby yang di sambut kekehan pelan oleh Dafa. "Iya iya." Ruby mendengus, dan kali ini membiarkan Dafa mengerjakan apa yang dia mau. Tanpa banyak bertanya lagi, dia hanya mengayunkan ayunan yang di duduki nya dengan gerakan pelan. Hingga Ruby tersentak kaget saat tiba-tiba ayunan yang di tumpangii nya bergerak naik turun dengan ritme yang cepat. "Dafa !! Dafa stop!!" teriak Ruby histeria. Bukan nya berhenti Dafa justru tertawa melihat reaksi kaget sang kekasih. "Dafa stooppp plisss!! Jatung aku udah mau copot ini!!" teriak nya kembali, dan berpegangan erat pada kedua tali ayunan. Dafa menghentikan ayunan dengan tangan nya. Dan tawa yang masih tersisa. "Kamu lucu deh kalau kaya gitu." goda nya pada Ruby. "Lucu-lucu, udah mau jantungan ini. Malah ketawa." kesal Ruby seraya mengatur nafas nya. Dafa mencubit pipi kekasih nya, dengan senyuman yang merekah dia menatap wajah kesal sang kekasih dari samping, satu-satu nya orang yang selalu membuat nya tersenyum dalam keadaan apa pun. "Udah dong jangan ngambek. Ntar jelek loh." ledek nya dan duduk di satu ayunan yang lain nya. "Bodo amat. Ngeselin sih. Udah di cuekin, sekarang di kerjain. Pacar apaan tuh kayak gitu." Dumel Ruby, enggan untuk menatap Dafa. Dafa menarik nafas nya perlahan, lalu mersih pergelangan tangan Ruby. "Ngapain sih?' tanya gadis itu seraya mendongak menatap nya yang telah kenbali berdiri. Tanpa menjawab Dafa menarik tangan Ruby ke depan pohon yang barusan di pahat nya tadi. Pohon yang merupakan tempat pengikat tali ayunan. Ruby terdiam di tempat nya, menatap sebuah ukiran sederhana namun bermakna besar bagi nya. Dia lalu menatap Dafa di samping nya. Cowok itu tersenyum. "Kamu tau kenapa aku ukir nama kita disini?" Ruby menggeleng. "Karna aku mau, kamu gak pernah lupa sama aku. Sama hubungan kita." Ruby mengerutkan dahi nya tidak mengerti. Dafa memegang kedua bahu nya. Dan menatap nya serius dan sangat dalam. "Aku mau kamu tau. Bahwa dimana pun aku berada, aku akan selalu jadi malaikat pelindung kamu. Walau jarak sejauh apa pun. Karna aku percaya, kekuatan dan ikatan hati itu lebih besar, dari sebuah tindakan langsung. Karna hati akan selalu mengikuti sang pemilik kemana pun pergi. Dan aku telah menyerahkan seluruh hati aku buat kamu. Yang akan selalu menemani langkah kamu." "Jika suatu saat nanti aku pergi. Aku gak bisa natap kamu dari dekat kayak gini. Kamu boleh melupakan apa pun itu tentang aku. Asal kamu jangan pernah melupakan tempat ini, karna tempat ini adalah saksi bahwa aku pernah memiliki kamu." Tatapan Dafa beralih pada ukiran yang di buat nya. "Dan ukiran di pohon ini, aku percaya gak akan pernah hilang." dia kembali menaap lekat pada Ruby yang tidak bersuara. "Seperti aku percaya dan yakin, bahwa aku akan selalu ada di sini. Di hati kamu." lanjut nya seraya menujuk tepat ke d**a kiri Ruby. Ruby tersenyum di tengah berair nya mata nya. "Kalau kamu percaya kamu akan selalu ada di hati aku. Berarti aku juga harus percaya, bahwa kamu gak akan pernah ninggalin aku. Memang mustahil kamu yang akan selalu stay di samping aku. Tapi seperti yang kamu bilang, bahwa bukan hanya sebuah tindakan sajalah bentuk perlindungan. Tapi hati juga berperan lebih besar." Dafa membalas senyuman manis kekasih nya itu, tangan nya bergerak dan meghapus setetes air mata yang mengalir di pipi Ruby. "Aku tidak ingin melewatkan sedetik pun hidup aku tanpa senyuman dari kamu." "karna senyuman adalah satu bagian kehidupan yang terlalu berharga untuk di lewatkan." Tangan Ruby tanpa sadar mencengkram kuat pohon yang terdapat ukiran itu. Mata nya perlahan terpejam, dan d**a nya mulai sesasak. Dia kembali berusaha keras menahan gejolak emosional pada diri nya. Agar tidak ada air mata barang hanya setetes pun. Karna semenjak dua tahun lalu, dia telah menghapus kata-kata air mata dalam kamus hidup nya, serta menghapus senyuman dalam setiap langkah nya. Tidak akan pernah ada senyuman di setiap kaki nya melangkah, dan setiap mata nya menatap. Mata Ruby kembali terbuka saat tenaga nya mulai habis. Tubuh nya sudah di basahi oleh keringat dingin. "Seyuman itu udah mati. Dan menjadi barang usang, yang tak bernilai lagi. Senyuman bukan kunci segala kebahagiaan lagi Dafa." gumam nya di tengah kesendirian malam. Dengan rahang yang mengeras, dan sorot mata yang tajam, dia menatap ukiran di pohon itu. ☔☔☔☔☔ Sudah 1 jam lama nya Ruby duduk di ayunan itu, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Jalanan juga sudah terlihat tidak berpenghuni, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang lagi disana. Hanya ada mobil nya yang terparkir di tepi jalan. Ruby bangkit dari posisi duduk nya, dan berjalan menuju mobil. Berniat akan meninggalkan tempat tersebut. Dia kembali menoleh dan menatap tempat itu, sebelum akhir nya masuk ke dalam mobil sport nya. Belum terlalu jauh mobil nya berlalu meninggalkan tenpat tersebut. Mobil itu tiba-tiba berhenti tanpa di intruksi kan. "Sial! Kenapa sih ni mobil." Umpat Ruby seraya memukul stir mobil nya. Lalu kembali turun dan melihat apa yang terjadi. "Ergghh pake acara kempes lagi." erang Ruby mendapati ban mobil belakang nya kempes, seperti nya terinjak paku. Ruby berulang kali mendesah, dia menatap sekeliling jalan yang benar-benar kosong. Jangan kan kendaraan, pejalan kaki saja tidak terlihat disana. Tidak ada pilihan lain, selain dia menghubungi seseorang untuk meminta pertolongan. Ruby mulai mengotak-atik ponsel nya, mencari kontak orang yang mungkin saja bisa membantu nya. Setelah di temukan, tanpa buang waktu lagi, dia menyambungkan telpon ke nomor tersebut. Tidak terlalu lama menunggu. Sambungan telpon sudah terjawab. "Dimana sih lo? Jam segini belum pulang. Nyokap khawatir." baru saja Ruby akan mengambil nafas untuk membuka suara. Suara seseorang di seberang sana membuat nya kembali menutup mulut. "Lo lagi gak nongkrongkan sama teman-teman satu genk lo? Trus lo sekarang dimana? Woi jawab dong By." Suara di seberang sana terus saja terdengar tanpa jeda. Ruby menghela nafas nya perlahan, saat tidak lagi di dengar nya suara itu. "Udah? Udah ngomong nya?" untuk pertama kali nya dia mengeluarkan suara dingin nya. "Gimana gue mau jawab. Kalau lo ngomong terus." lanjut nya. Terdengar helaan nafas di sebrang sana. "Ya udah sekarang lo dimana?" "Di tempat biasa. Mobil gue pecah ban." jawab Ruby singkat dan datar. "Gue kirim montir ke sana sekarang." Tanpa merespon lagi, Ruby langsung mematikan sambungan telpon dan menyimpan ponsel nya ke dalam tas. Seraya menunggu montir kiriman Ralin, dia duduk di salah satu pondok yang ada disana. Memperhatikan gelap, dan sepi nya jalanan malam. Yap, Ralin adalah satu-satu nya orang yang bisa di andalkan nya jika dia terjebak dalam suatu kendala. Saudara nya itu akan langsung tau, jika dia mengatakan "tempat biasa", karna pada nyata nya hanya Ralin lah yang mengikuti perkembangan sikap nya dari tahun ke tahun. Dan hanya Ralin juga lah yang mengetahui segala penyebab dari perubahan drastis dalam dirinnya. Satu-satu nya orang yang stay, saat dunia nya benar-benar runtuh. Sebuah mobil berhenti tepat di depan Ruby. Dia mengernyitkan dahi nya saat di lihat nya mobil itu adalah mobil dengan BA yang di kenal nya. Mobil Toyota Alphard berwarna putih milik keluarga nya. Seseorang turun dari mobil itu, dan langsung saja bersitatap dengan nya. Mobil yang Ruby yakini di kemudikan oleh Pak Sentosa itu berlalu meninggalkan lokasi dan meninggalkan dia berdua dengan orang yang barusan turun. "Kenapa mobil lo?" Ruby masih terus menatap datar orang yang barusan turun dari mobil keluarga nya itu. "Sejak kapan lo jadi montir nya Ralin?" akhir nya dia bersuara setelah sekian lama diam. Cowok itu terkekeh pelan. Dan membalas tatapan datar milik gadis di depan nya. "Ralin nyuruh gue ke sini buat bantuin lo. Soal nya montir langganan dia lagi sakit, dan kebetulan gue disana, ya gak ada salah nya kan gue nolongin dia." Ruby mengalihkan pandangan nya ke arah lain. "Ban pecah." sahut nya pelan dan menyibukkan diri dengan ponsel yang barusan dikeluarkan nya. Tidak memprdulikan penjelasan cowok yang di ketahui nya bernama Genta itu. Yap, dia adalah Genta, alias teman lama Ralin. Genta memperhatikan Ruby yang bermain ponsel, sebelum akhir nya mulai menggantikan ban yang pecah dengan ban cadangan di dalam bagasi. Tidak butuh waktu lama bagi Genta untuk mengganti ban tersebut. Setelah semua selesai, dan membereskan segala peralatan nya. Dia bangkit dari posisi berjongkok. "Udah nih. Udah gue---" ucapan nya terhenti saat dia menoleh pada gadis pemilik mobil yang sudah tertidur, dengan posisi kepala bersandar pada dinding kayu pondok tersebut. Genta melangkah mendekat pada Ruby yang tertidur, lalu memperhatikan gadis itu dari dekat. Wajah gadis itu terlihat damai dan tentram. Tidak terlihat ekspresi datar dan dingin yang biasa nya di tambil kan gadis itu. Dan Ruby terlihat.. "Cantik kalau lagi tidur gini." seru Genta pelan seraya tersenyum tipis. Karna malam yang terus larut, akhir nya dia memilih membangun kan gadis tersebut. "By, bangun yuk, mobil nya udah siap tuh." bisik Genta pada telinga gadis tersebut. Tubuh Ruby menggeliat. Dan perlahan membuka mata nya, sesaat merasakan tepukan pelan di pundaknya. Mata nya terbuka sempurna, saat di dapati nya wajah Genta yang begitu dekat dengan nya. Hanya berjarak beberapa senti lagi, mungkin ujung hidung mereka akan bersatu. Ruby menahan nafas nya, dan tangan nya mencengkram erat tiang penyangga pondok tersebut. Mata nya terus bersitatap dengan mata Genta yang begitu dekat dengan nya. "Kecapekan banget ya. Sampai ketiduran di pondok kayak gini." Ucapan itu semakin mebuat jantung Ruby berdetak cepat dan tidak beraturan. Tubuh nya mulai bereaksi mengeluarkan keringat dingin, dan mulai begetar. Nafas nya pun mulai tidak beraturan. Sebuah bayangan muncul saat dia terus menatap mata teduh milik Genta. "Ruby, hei bangun sayang. Mobil nya udah siap tuh." suara lembut seseoang membuat Ruby perlahan membuka mata nya. "Udah siap?" tanya nya pada cowok yang kini sangat dekat dengan nya. "Kenapa?" tanya nya saat Dafa tak kunjung mengalihkan pandangan. Cowok itu terus menatap lekat ke mata nya, tanpa bekedip, dan dengan seulas senyuman. "Kecapean banget ya. Sampai ketiduran di pondok kayak gini." Kata-kata yang sama terngiang terus di telinga Ruby. Kata-kata yang sama namun dengan pemilik suara yang kini berbeda. Bagaimana mungkin? Ruby terus mencengkram kuat kayu penyangga pondok itu. Mata nya menatap liar ke sekeliling tempat itu. Tempat ini, sama persis dengan tempat saat dulu mobil yang di tumpangi nya juga mogok. Dan sekarang, dengan orang yang berbeda membangun kan nya dengan cara yang sama. Sekelebat bayangan itu berputar dan bergantian masuk ke dalam pikiran nya. Genta menatap heran pada Ruby yang terlihat bergetar, dengan wajah yang di penuhi keringat dingin. "Lo kenap---" Belum sempat dia menyelesaikan ucapan nya. Gadis itu terlebih dulu telah bangkit dari duduk nya, dengan sedikit mendorong d**a nya. Genta semakin di buat tidak mengerti, saat Ruby mulai mencengkram erat kepala nya. Bahkan tak jarang, dia mendengar erangan-erangn pelan dari gadis itu. "By lo kenapa? Lo sakit kepala?" Genta berucap, mulai panik. Karna reaksi gadis itu. "Ya udah kita pulang sekarang!" "Jangan deket-deket gue! Gue bisa pulang sendiri!" Ruby memperingati dan menatap Genta dengan nafas yang terputus-purtus. "Tapi lo kelihatan capek." Ruby yakin, wajah nya sekarang memang terlihat kacau dan berantakan. Tapi dia tidak memperduli kan itu, walau tubuh nya sudah lemas sempurna karna sedaritadi dia mengerahkan seluruh tenaga nya untuk mencengkram kayu penyangga. Genta menatap Ruby yang mulai berjalan menuju pintu mobil. Namun belum sempat gadis itu berhasil membuka pintu mobil. Dia sudah kehilangan keseimbangan, dengan sigap Genta menahan tubuh Ruby agar tidak meyentuh tanah. "Kan. Lo lagi capek. Kali ini giliran lo yang gak boleh ngebantah gue. Biar gue yang nyetir." tegas Genta dan memapah Ruby ke bangku penumpang. Tenaga nya yang benar-benar sudah habis membuat nya tidak lagi membantah, dia membiarkan diri nya di rangkul oleh Genta. Orang yang bahkan menjadi penyebab, kekacauan nya tadi. Orang yang menyebabkan dia kembali di datangi bayangan-bayangan masa lalu itu. Di dalam mobil Ruby tertegun, dan menatap kosong ke depan. Kejadian malam ini adalah kejadian yang pernah di alami nya dulu. Dengan lokasi, waktu, namun dengan orang yang berbeda. Malam ini. Untuk kedua kali nya. Cowok di samping nya ini kembali membuat nya di hantui bayangan-bayangan yang sudah berusaha di lupakan nya. Bayangan yang nyaris sama dengan kejadian malam ini. Dan... Ruby menoleh, menatap mata Genta yang tengah serius menyetir. Mata itu, mata yang mengingatkan nya akan mata milik seseorang. Sorotan mata yang nyaris sama. Apa ini Tuhan. Kenapa semua nya nyaris sama? ☔☔☔☔☔
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD