AWAL BENCANA

2373 Words
Ruby terdiam di depan gundukan tanah tersebut, menatap sendu ke arah batu nisan tersebut. Tangan nya bergetar, saat mengusap nisan nan dingin itu. Nisan yang bertuliskan nama seseorang. Ruby memaksa kan senyum nya, walau senyum yang tampak sangat tipis. Tanpa di undang, cairan bening itu lolos dari kelopak mata nya. Dia tidak ingin lagi menangis, tapi semakin dia berusaha, semakin sakit yang di rasakan nya. Luka lama itu tak pernah kering, selalu basah, dan akan perih saat di sentuh. Tersenyum. Hal yang paling sering di lakukan nya, atau mungkin tidak pernah. Tapi setiap dia di sini, di depan makam Dafa, dia akan selalu tersenyum, walau di paksakan. Karna dia tau, Dafa sangat menyukai sebuah senyuman. "Daf...." Setelah sekian lama. Ruby mengeluarkan suara nya, walau dengan suara bergetar. "Tau gak bentar lagi hari apa?" Tanya nya, seraya terus menatap nisan, seakan nisan itu adalah makhluk hidup yang mendengar setiap kata-kata nya. Ruby mengangguk, sambil menghapus air mata di pipi nya. "Aku selalu inget, jadwal kita setiap 2 bulan. Dan aku udah janji ke kamu, untuk selalu melaksanakan itu, walau nyata nya aku gak bisa Daf, kalau harus melakukan itu sendirian." Ruby bersuara getar. "Tapi aku tau, kamu akan selalu ada di saat aku butuh, kan kamu jaga aku dari atas sana." Seru nya tersenyum getir. Untuk sesaat, hanya isak tangis Ruby yang terdengar, gadis itu menunduk dengan tangan yang mecengkram batu nisan tersebut. Pundak nya naik turun, akibat tangis. d**a nya seakan semakin sesak. "Daf...maaf..." Gumam nya bergetar di tengah tangis nya. Ruby mengangkat kepala nya kembali menatap nisan tersebut. Di pemakaman yang sepi pengunjung itu, Ruby menangis sejadi-jadi nya, melimpahkan segala beban yang ada di hati nya, melepaskan segala yang di rasakan nya selama ini. Rasa bersalah, dosa, kekecewaan, amarah, semua nya bercampur menjadi satu. Membentuk sebuah perasaan yang penuh dengan penderitaan. "Maaf Daf! Maafin aku!" Suara Ruby masih bergetar hebat. "Aku salah sama kamu! Maafin aku Daf! Aku mohon maafin aku!" Ujar Ruby beruntun, dan tercekat karna air mata nya yang semakin deras. Dua tahun, Ruby merasakan rasa bersalah yang luar biasa atas kematian Dafa. Ruby tau, dan sadar bahwa semua yang terjadi adalah salah nya. Salah diri nya. Andai malam itu dia tidak pernah menuntut kepada Dafa untuk menemui nya di cafe. Mungkin kecelakaan naas yang merenggut nyawa Dafa tidak akan pernah terjadi. Dan mungkin Dafa akan tetap berada di samping nya. Dan hidup nya pun, mungkin tidak akan seperti sekarang. Jika Ruby di tanya, apakah dia merindukan kehidupan nya yang dulu? Maka dia akan menjawab dia sangat merindukan segala nya, semua yang di punya nya dulu. Tapi dia tidak bisa untuk kembali, karna pada nyata nya, jika dia kembali, maka semakin sakit yang di rasakan nya. Dan Ruby hanya ingin bertahan di titik nya sekarang. ☔☔☔☔☔ Basecamp BlackHeart Kini ke empat anggota genk BlackHeart itu, kecuali Ruby tengah berkumpul di bascamp mereka. Tempat yang hanya di ketahui oleh mereka berlima. "Kira-kira tadi Ruby kenapa ya?" Ranaya memulai pembicaraan. Seraya mengetuk-ngetukkan jari nya di atas meja dengan ritme pelan. "Ya elah Ran, emosi Ruby mulai gak stabil semenjak Nichol muncul lagi. Iya gak sih?" Stefi menanggapi, namun pandangan nya terarah pada layar ponsel. "Tapi kayak nya bukan itu doang deh." Yuma membuka suara untuk pertama kali. Stefi dan Ranaya mengerutkan dahi mereka. Bahkan Stefi mengalihkan pandagan nya pad Yuma. "Maksud lo?" Tanya Ranaya tidak mengerti. Di tengah ketiga teman nya tengah mengobrol. Nesya justru hanya diam dengan pandangan lurus ke depan, dan tangan kanan yang memutar-mutar ponsel nya. Dia adalah orang yang satu-satu nya tau, apa yang terjadi dengan Ruby. Yang mengakibatkan emosional leader nya itu tidak stabil. Ting.. Bunyi ponsel Nesya mengalihkan perhatian semua penghuni meja. Nesya berhenti memutar ponsel nya, dan mulai menyentuh layar touchscreen itu. Di sana tertera sebuah pesan notifikasi, entah kenapa tangan nya rasa nya berat untuk menekan notifikasi tersebut. Perasaan nya mendadak gelisah. Dengan gerakan pelan, Nesya membuka pesan tersebut. Deg Perasaan gelisah nya terbukti sudah, saat layar ponsel nya memperlihatkan sebuah pesan, yang benar-benar membuat jantung nya berdetak cepat. Baik Stefi, Ranaya, dan Yuma sama-sama melihat perubahan pada raut wajah Nesya. Yang tadi nya dingin dan tenang, kini berubah tegang. Mereka bertiga saling pandang heran, sebelum akhir nya Stefi bertanya. "Lo kenapa Nesy? Chat dari siapa?" Tanya nya seraya menatap intens pada Nesya. Nesya berulang kali menajamkan penglihatan nya, agar tidak terjadi kesalahan. Tapi tetap saja, isi pesan itu tetap sama. "Nesy lo--- "Kita ke rumah Ruby sekarang!" Ucapan Ranaya terhenti saat Nesya memotong, dan dengan cepat gadis itu meraih jaket nya dan berlalu keluar tempat tongkrongan itu, tanpa memberikan penjelasan apa pun pada teman-teman nya. Mereka yang masih tidak mengerti saling pandang. "Kita ikutin aja dulu! Nanti kita tanya." Ujar Stefi pada Ranaya dan Yuma. Kedua nya mengangguk, dan ikut menyusul Stefi yang lebih dulu berlalu menyusul Nesya. Sedangkan di belahan bumi lain. Ruby tengah menggeram, dan menatap tajam pada ponsel nya. Tangan nya mencengkram ponsel tersebut dengan kuat, rahang nya mengeras, dan mata nya di penuhi dengan kilatan kemarahan. Pesan singkat itu benar-benar memancing amarah nya. Ruby yang telah di bakar amarah, tanpa sadar membanting ponsel nya di lantai, membuat ponsel itu berderai. Prang.. Nafas Ruby terengah, dan dengan cepat menyambar jaket nya, seraya menuruni tangga dengan cepat setelah meraih kunci mobil nya di atas meja, yang baru saja di kembalikan oleh Mami nya. Penghuni meja makan malam itu, cukup kaget mendengar bunyi bantingan itu yang berasal dari kamar Ruby. Mereka seketika menoleh saat melihat Ruby menuruni tangga dengan cepat, wajah gadis itu tampak datar, namun dengan tatapan sangat tajam. "Kamu mau kemana Ruby?" Liana bertanya, pasal nya sekarang sudah cukup malam. Ruby menjawab datar tanpa menoleh. "Keluar!" "Tapi makan dul---" Belum sempat Liana menyelesaikan ucapan nya. Ruby sudah lebih dulu berlalu keluar rumah, dan detik berikut nya terdengar mesin mobil menjauh. Liana kini di lingkupi rasa khawatir yang sangat luar biasa. Pasal nya dia dapat melihat ada amarah dalam diri putri bungsu nya itu. Dia takut, jika akan terjadi sesuatu pada Ruby, karna gadis itu membawa mobil dalam keadaan marah. Digta melirik pada Ralin. Seakan bertanya pada gadis itu, apa yang terjadi. Ralin menggeleng, wajah nya tak kalah bingung dari semua nya. Alex tak kalah di selimuti rasa khawatir. Ruby tengah berada dalam emosi yang sangat labil saat sekarang ini. "Positif thinking aja." Kata Dirga. Ralin mengangguk, walau perasaan nya luar biasa khawatir. ☔☔☔☔☔ Stefi, Ranaya, dan Yuma masih sangat bertanya-tanya, apa yang terjadi sebenarnya? Pasal nya, sedaritadi Nesya tidak mengeluarkan siapa, jangan kan menjelaskan. Gadis itu masih sibuk menyetir dengan tatapan tenang milik nya, namun mereka tau bahwa Nesya tengah menahan sebuah gejolak dalam d**a nya. Terbukti dengan Nesya yang melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. "Nesy! Kali ini lo jawab! Lo kenapa sih? Chat dari siapa tadi? Kenapa lo jadi kacau kayak gini?" Stefi bersuara, kali ini lebih mendesak orang yang berada di samping nya itu. Ranaya dan Yuma ikut mengangguk di belakang. Nesya menghela nafas nya perlahan, lalu melirik Stefi yang duduk di samping nya, dan beralih pada Ranaya dan Yuma yang ada di bangku belakang. Tangan Nesya lalu bergerak meraih ponsel yang ada di dashboard mobil, dan memberikan nya pada Stefi. Stefi meraih nya dengan heran, namun dengan cepat membuka aplikasi line di sana. Ranaya dan Yuma, memperbaiki posisi nya dengan sedikit mencondongkan tubuh ke arah Stefi, ikut kepo dengan isi chat tersebut. Untuk seseaat mereka diam, saat membaca isi pesan tersebut. Sedangkan Nesya masih menyetir, tanpa mengurangi wajah datar nya. Ranaya menggeleng tidak percaya. "O may god! Tu orang gila ya!" Pekik nya, dengan mata masih tertuju pada ponsel Nesya yang ada dalam genggaman Stefi. "Berarti kita harus buru-buru guys, sebelun Ruby sampai ke lokasi itu." Seru Yuma panik, dengan wajah khawatir nya. Ranaya mengangguk cepat. "Jean benar-benar cari mati!" Gumam Stefi geram, amarah nya seketika naik saat membaca pesan tersebut. Rahang gadis itu mengeras, dan tangan nya mencengkram kuat ponsel Nesya. "Kita harus habisin dia!" ujar nya melirik tajam pada Nesya. "Gue juga mau nya kayak gitu. Tapi selagi kita masih bisa cegah. Kita coba cegah dulu!" Balas Nesya tenang. "Nesya bener. Prioritas kita malam ini, ngecegah Ruby sampai ke lokasi itu." Ranaya membenarkan. Stefi mendesah kasar, teman-teman nya itubselalu tidak sependapat dengan nya. "Serah deh!" Mobil Nesya tepat berhenti di depan pagar rumah Ruby. Dengan gerakan cepat ke empat nya langsung turun, dan sedikit berlari masuk ke dalam pekarangan rumah besar itu. Langkah mereka yang tergesa-gesa lantas saja mengundang perhatian penghuni rumah yang tengah makan malam. Mereka sampai di ambang pintu, dan semua orang menatap ke arah mereka. "Kalian!" Seru Ralin heran, melihat empat anggota BlackHeart yang datang tergesa-gesa, di saat Ruby tidak di rumah. Ralin bangkit dari duduk nya, begitupun dengan yang lain. Mereka tak kalah heran nya. Nesya mengatur nafas nya. "Lin, Ruby ada?" Tanya nya saat Ralin tepat di depan nya. Ralin mengerutkan dahi nya. "Loh Ruby gak nongkrong sama kalian?" BlackHeart tidak merespon apa pun, kecuali pandangan mereka yang beradu satu sama lain. "Dia bilang kemana?" Tanya Nesya lagi, berusaha menutupi kegelugupan nya. "Dia gak bilang sih! Langsung cabut aja tadi!" Jawab Ralin. "Emang kenapa?" Kali ini Ralin bertanya dan menatap ke empat nya heran. Mereka yang di tatap curiga oleh Ralin, hanya dapat saling pandang, dengan wajah yang berusaha sebiasa mungkin agar satu pun dari keluarga Alexander tidak curiga. Kalau mereka tau, apalagi Alex dan Liana, sudah dapat di pastikan mereka akan khawatir luar biasa. Apalagi masalah besar ini, tidak ada yang mengetahui nya, kecuali Ralin. "Ada yang kali---" "Guys! Ruby ternyata udah nyampe di cafe. Kita ke sana sekarang yuk!" Suara Ranaya yang tiba-tiba membuat ucapan Ralin terhenti. Tatapan Ralin langsung saja beralih pada Ranaya, yang tersenyum seraya memegang ponsel nya. Nesya, Stefi dan Yuma yang mengerti lantas langsung merespon. "Ya udah Lin, kita cabut dulu ya! Gue pikir tadi Ruby belum berangkat." Seru Nesya. Ralin mengangguk samar, walau masih ada sesuatu yang mengganjal bagi nya, atas sikap genk BlackHeart. "Om, Tante, Kak Dirga, Kak Digta! Kita pamit ya!" Seru Nesya meakilkan. Dirga, Digta, dan Alex mengangguk, serta tersenyum tipis. "Hati-hati ya kalian!" Seru Liana sembari tersenyum. Dan di balas ke empat nya dengan senyuman. Ralin masih berdiri di ambang pintu bahkan saat BlackHeart telah pergi. Mendadak perasaan nya tak karuan, dia gelisah, seakan ada sesuatu yang akan terjadi malam ini, tapi dia tidak tau apa. Tanpa sadar tangan Ralin terangkat dan beralih ke arah d**a kirinya, di sana dia merasakan detak jantung nya tidak karuan. Dan pikiran nya melayang pada Ruby. Apa ini? ☔☔☔☔☔ Berbeda dengan BlackHeart yang tengah di selubungi rasa khawatir luar biasa. Di tempat lain justru, seseorang tengah melajukan mobil sprot nya dengan kecepatan penuh, kondisi jalanan yang sudah mulai sepi membuat akses nya lancar. Tangan Ruby mencengkram erat stir mobil, tatapan nya mengkilat tajam dan penuh kemarahan, serta nafas nya yang tidak beraturan karna emosional nya yang bergejolak. Kalau lo gak pengecut! Temuin gue di sana! Tempat dimana semua di mulai! Dan itu pun kalau lo ingin orang-orang di sekitar lo aman! Kita balapan! Pesan itu membuat Emosi Ruby naik seketika. Dia paling tidak suka jika ada orang yang menantang nya dengan kata-kata pengecut. Cittt... Bunyi itu di timbulkan dari ban mobil Ruby yang mengerem. Ruby telah sampai di sebuah jalanan sepi, gelap, dan hanya di terangi oleh lampu-lampuu jalan yang remang-remang. Dada Ruby semakin naik turun, dan nafas nya terus saja memburu. Saat mata nya menatap lokasi di sekitar nya, tangan nya semakin mencengkram erat stir mobil, mata nya terbuka besar dan tampak memerah. Bukan gue! Bukan gue penyebab segala nya! Bukan elo Ruby! Batin Ruby bersuara geram, dan meyakinkan nya akan satu hal. Dengan sekuat tenaga menahan emosional nya. Agar tidak ada air mata, dan tidak ada rasa takut. Dia membuka pintu mobil, dan melangkah keluar. Terpaan angin malam, langsung saja menyapu tubuh nya, membuat rambut nya menutupi setengah wajah nya. Tangan nya masih terkepal kuat, dan mata nya masih menatap lurus ke depan. Lebih tepat nya ke arah sebuah pohon besar yang ada di sana. Dingin nya angin malam seakan tidak di rasakan nya. Tubuh nya mulai bergetar, dan mata nya mulai memanas, bersamaan dengan otak nya yang mulai memutar kejadian lama. Citttt...BRukkk.. "DAAAFFAAAA!!!!" "KAMU PEMBUNUHHHH!!!!" "PEMBUNUUHHHH!!!" "DAFA MENINGGAL!!! DAN LO ADALAH PEMBUNUH NYA!!!" Setiap kata-kata itu berputar hebat di telinga Ruby. Dan setiap pergantian kejadian bergantian masuk ke dalam otak nya. Tangan Ruby terkepal kuat, nafas nya naik turun, dan mata nya menatap liar sekitar. "PEMBUNUHHH!!!" "PEMBUNUUHHHH!!" Satu kata itu terus berputar hebat. Ruby menggelengkan kepala nya, seakan berusaha mengusir kata itu dan mengusir semua kejadian itu. Tubuh Ruby semakin bergetar hebat. Selang beberapa detik berikut nya, beberapa mobil mendekat ke arah Ruby berdiri. Dan di salah satu mobil sport itu, keluar lah gadis yang membuat Ruby berada di tempat terkutuk ini. Jean tersenyum sinis, melihat reaksi tubuh lawan nya yang tampak tegang dan gemetar. Dan dia sangat menyukai ini, saat dia dapat menguasi lawan terbesar nya selama ini, dan melihat sang Ruby lemah, semakin lemah, dan lalu ambruk. "Bagaimana? Apa ada sesuatu yang lo rasain?" Jean bersuara dan menyeringai ke arah Ruby yang masih berdiri seperti patung. Mereka telah di kelilingi oleh beberapa orang dari romobongan Jean, sama-sama menatap ke arah Ruby dengan senyuman sinis. Sorot mata Ruby berubah tajam saat menatap Jean, musuh nya. Tangan nya masih terkepal kuat di bawah sana. "Gue bukan pengecut!" tekan Ruby. Jean terkekeh sinis. "Bukti in dong! Lo bisa ngebully sepupu gue di sekolah. Tapi apa lo bisa ngalahan gue di balapan kali ini?!" Seru nya merendahkan. Jean mendekat, membunuh jarak nya dengan sang lawan. Lalu mengarahkan mulut nya ke arah telinga Ruby. "Di tempat dimana lo pernah ngerenggut nyawaa orang yang sangat gue cintai! Lo kejam Ruby! Dan lo adalah seorang PEMBUNUH!" Bisik Jean penuh penekanan, terlebih pada kata terakhir. Gigi Ruby bergemelatuk, jantung nya berdetak lebih liar dari tadi. Satu kata itu kembali berputar hebat di kepala nya. Dengan sekuat tenaga, dia menekan segala hasrat dalam diri nya. Menekan emosional nya. Jean menyeringai devil melihat reaksi Ruby yang semakin menunjukkan sisi lemah. Di dalam hati, dia berteriak penuh kemenangan. Perlahan-lahan Ruby gue akan bikin lo ambruk, dan hancur berkeping-keping. Jean membatin. "Kita mulai hm?" Tanya Jean seraya megangkat alis nya sebelah. ☔☔☔☔☔
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD