AMUKAN STEFI DAN NESYA

3083 Words
Brummm...Brummm.. Bunyi deru mesin mobil terdengar di tengah jalanan yang kini di penuhi oleh orang-orang yang ingin melihat aksi balapan antara Jean dan Ruby. Ruby mencengkram erat stir mobil nya, seraya terus menatap tajam ke depan. Tidak memerdulikan bahwa kini Jean tengah menatap nya dengan seringaian merendahkan. Di antara mobil kedua nya, berdiri seorang wanita yang memegang kain berwarna merah. Suara hiruk pikuk mobil terdengar heboh, saat wanita itu mulai menghitung mundur. Meneriaki nama Jean dan Ruby. Rombongan Ruby baru saja datang, setelah di perintahkan oleh gadis itu. Sebagian dari anak-anak genk mobil nya, dan sebagian dari siswa siswi SMA Saga. "3....2....1...Goo!!" Kain merah itu di lempar ke udara, dan saat mendarat di aspal, kedua mobil langsung saja melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Bertepatan saat itu, mobil BlackHeart tiba. Mereka tertegun saat melihat kedua mobil itu menjauh. Mereka terlambat. "Kita telat!" sahut Ranaya dengan suara lemah, menatap nanar mobil Ruby yang menjauh. Berulang kali mereka tampak menyelip, dan menyudutkan satu sama lain. Terlebih mobil Jean atas mobil Ruby. Setiap mobil Jean akan menyerempet nya, Ruby telah lebih dulu mengindar dan mempercepat laju mobil nya, meninggalkan mobil Jean jauh di belakang. Ditengah balapan sengit itu. Nesya, Stefi, Yuma dan Ranaya justru semakin di hantui dengan kegelisahan luar biasa. Mereka seakan tau, kejadian buruk apa yang sebentar lagi akan terjadi. Stefi mengusap wajah nya gusar. "Guys kita harus gimana?! Kita harus hentiin Ruby sekarang!" Ujar nya panik. "Ya tapi gimana cara nya Stef! Ruby gak akan mau denger kita! Sekalipun kita kejar mobil nya!" Tambah Ranaya, tak kalah panik nya. "Kita gak ada pilihan lain selain ngasih tau seseoang yang mungkin bisa di dengar oleh Ruby." Seru Yuma. Nesya mengusap wajah nya tak kalah gusar. Untuk pertama kali nya dia memperlihatkan ke khawayiran nya, berulang kali dia menggeram di tengah keramaian itu. Rombongan pihak Ruby menatap bingung ke arah BlackHeart, tidak biasa nya mereka terlihat segusar itu saat melihat sang leader balapan. Biasa nya mereka akan ikut berteriak, memberi dukungan. "Nesy!" Ranaya berseru khawatir, menatap Nesya memohon. Nesya menggeleng lemah. "Gue gak bisa berbuat apa-apa. Ruby di luar kontrol, dia gak akan mau denger gue." Jawab nya pelan, seakan tidak ada tenaga lagi untuk berbicara. Ranaya, Stefi da Yuma mendesah bersamaan. Kini mereka hanya dapat berdo'a agar ketakutan mereka tidak menjadi kenyataan. "Kenapa harus tempat ini sih?" Suara Ranaya kali ini terdengar pelan, menatap nanar sekeliling nya, mata nya tiba-tiba memanas ingin menangis. "Kenapa harus tempat ini?" Seru nya lagi. Ketiga teman nya yang mendengar suara lirih itu, ikut terdiam. "Karna Jean menginginkan kehancuran Ruby, dengan memanfaat kan kejadian itu." Jawab Stefi dengan suara geram, dan tangan terkepal. Amarah nya sudah naik sejak tadi, tapi dia terus berusaha menekan nya agar tindakan yang di buat nya tidak memperumit suasana. Belum sempat kekhawatiran mereka mereda. Sebuah suara keras membuat mereka kaget luar biasa, dan membuat nyawa mereka seakan terbang dari raga. Bukan hanya BlackHeart tapi semua orang di sana di buat kaget saat mendengar bunyi dentuman kuat. PRANGG...BRAKK... Nesya, Stefi, Ranaya dan Yuma menoleh ke asal suara dentuman itu. Di sana, sebuah mobil sport menghantam keras nya pohon. Dan itu adalah mobil Ruby. Ketakutan mereka kini menjadi kenyataan. ☔☔☔☔☔ BlackHeart di selubungi rasa kekhawatiran yang luar biasa. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain cepat-cepat membawa Ruby ke rumah sakit. Yang terpenting bagi mereka saat ini, hanya lah keselamatan sang leader. Tak perduli betapa ingin nya mereka menghabisi Jean, terutama Stefi. Mati-mati an gadis itu menekan amarah nya, dan mengontrol setiap keinginan nya untuk menghajar Jean bahkan menghabisi wanita iblis itu. Di sini lah Nesya, Stefi, Ranaya dan Yuma berada. Di depan ruangan ugd, yang pintu nya masih tertutup rapat. Nesya tak henti nya mondar mandir, seraya mengusap wajah nya dengan gusar sesekali. Ranaya dan Yuma duduk di kursi tunggu dengan menangkup kan tangan mereka untuk menutupi seluruh wajah. Yuma sudah lebih dulu menangis sejak kejadian tadi. Sedangkan Stefi yang lebih diam, dan berdiri di samping pilar rumah sakit, tangan kiri nya mencengkram pilar tersebut, dan tangan nya terkepal. Rahang nya mengeras, dan mata nya berkilat tajam. Ranaya baru saja akan menelpon nomor seseorang saat suara Nesya menghentikan nya. "Mau nelfon siapa lo?" Tanya Nesya datar sambil menatap Ranaya. "Gue mau nelpon Ralin." "Jangan!" Cegah Nesya. Ranaya mengerutkan dahi nya tidak mengerti. "keluarga Ruby harus tau Nesy!" Ujar Ranaya dengan suara nya yang naik satu oktaf. Nesya menggeleng. "Itu sama aja mempersulit keadaan." Jawab nya tenang. Yuma yang tadi menutupi wajah nya dengan tangan, mulai menatap Nesya bingung. Begitupun dengan Stefi. "Maksud lo?" Tanya Stefi. Nesya menatap ketiga teman nya bergantian. "Hubungan Ruby dengan om Alex lagi gak baik. Dia habis berantem hebat kemarin malam. Dan sekarang, kalau kita ngasih tau Ralin, sama aja kita ngasih tau anggota keluarga nya yang lain." Jelas nya. "Tapi yang lebih rumit nya lagi. Ruby bakalan di salahkan, karna kecelakaan ini terjadi karna ulah nya. Balapan liar." Tambah Nesya. "Trus kita mesti gimana?" Tanya Yuma dengan suara parau nya. Mata gadis itu sudah bengkak karna menangis. Dia amat takut jika terjadi hal serius pada Ruby. Nesya tampak berpikir. "Apa kita kasih tau Nichol?" Ranaya kembali bersuara. Melirik teman-temannya bergantian. "Gak! Jangan ngasih tau dia!" Respon STefi sengit. "Genta!" Suara Nesya lantas saja mengundang pandangan bingung ketiga nya. "Kita gak punya pilihan lain. Paling gak malam ini ada yang jagain Ruby di sini." Sambung Nesya. "Tapi kita gak punya nomer, id line, atau nomor wattshap nya Genta!" Seru Ranaya. Tiba-tiba Langkah kaki seseorang membuat perhatian BlackHeart teralihkan. Mereka serempak menoleh. Berdiri lah di sana Rido dengan beberapa anak SMA Saga. Menatap BlackHeart. Nesya mendekat pada Rido yang tampak bingung karna di tatap begitu oleh semua angota BlackHeart tersebut. "Gue minta apa pun yang bisa ngehubungin Genta." Rido mengerutkan dahi nya tidak mengerti. "Buruan!" Seru Nesya lagi, masih dengan suara dingin nya. Rido tidak ada pilihan lain, selain memberikan apa mau dari Nesya. Sebelum, besok nya dia menjadi sasaran bully genk tersebut. ☔☔☔☔☔ Genta masih tertegun di teras rumah nya. Menyandarkan kepala nya pada pilar besar penyangga rumah tersebut. Sedangkan tatapan nya lurus ke depan. Entah lah, perasaan nya kacau semenjak tadi siang. Dan sesuatu hal mengganggu pikiran dan perasaan nya. Tapi Genta tidak mengerti, kenapa dia bisa seperti ini. Jika di lihat secara logika, Ruby memang bukan siapa-siapa nya. Tapi entah kenapa, setiap apa pun yang terjadi pada gadis itu. Baik masa lalu, atau hal dalam bentuk apa pun. Genta selalu ingin tau. Karna bagi nya hidup gadis es itu, amat sangat menyimpan misteri. Mulai dari sikap nya di sekolah, sikap nya terhadap keluarga nya, dan yang membuat nya bertanya-tanya adalah sikap Ruby pada Nichol. Dia merasa, ada sesuatu yang dulu pernah terjadi di antara kedua insan tersebut. Sesuatu yang mungkin membuat Ruby marah. "Kita bisa selesaiin ini By. Kita bisa mulai lagi! Walau memang tanpa Dafa!" "JANGAN SEBUT NAMA ITU!!" Teriak Ruby histeris. "Satu lagi yang harus lo cam-min. Jangan berbicara tentang yang dulu. Karna apa pun tentang yang dulu, udah mati! Bukan hanya nama itu. Tapi juga Ruby. Ruby yang dulu, udah mati!" Kata-kata dan bayangan kejadian tadi siang di koridor itu berputar di kepala Genta. Dia memang menyaksikan pertengkaran antara Ruby dan Nichol tadi siang, saat dia akan kembali menuju kelas. Di sana, dia dapat melihat dengan jelas, gejolak emosional Ruby yang hampir sama saat gadis itu menangis dan berteriak di depan nya. Dan Dafa. Nama itu, Genta sempat mendengar Nichol menyebutkan nama Dafa tadi. Siapa sebenarnya Dafa dalam hidup Ruby. Dan kenapa juga Ruby tidak ingin mendengar nama tersebut? Arrghh...semua sungguh memusingkan kepala Genta. Drttt... Lamunan Genta buyar saat ponsel nya bergetar. Dia meraih ponsel tersebut dengan malas-malasan. Dan menatap nya dengan enggan. Genta seketika menegakkan tubuh nya, saat sebuah notifikasi pertemanan masuk di akun Line nya. Dan di sana tertera nama Nesya Renandara. Dan itu adalah salah datu anggota genk BlackHeart. Genta dengan kebingungan nya menerima pertemanan tersebut. Tak lama setelah itu, sebuah pesan muncul atas nama Nesya. Genta semakin di buat bingung. Bisa sekarang lo kerumah sakit? Ruby kecelakaan! Pesan singkat itu lantas membuat jantung Genta berdetak cepat. Mata nya membulat kaget dan mulut nya bergumam pelan. "Ruby kecelakaan." Gumam nya. Lo cukup ke rumah sakit! Tanpa ngasih tau siapa pun! Kalau sampai salah satu anggota keluarga Alexander tau, baik itu Ralin. Gue janji! Akan bikin lo habis di sekolah! Pesan kembali masuk dengan pengirim yang masih sama. Namun kali ini sebuah ancaman. Genta tidak pikir panjang lagi. Dengan cepat dia berlari masuk, dan meraih jaket serta kunci motor nya. Lalu berangkat menuju rumah sakit. Bukan karna ancaman Nesya. Tapi karna memang, hati nya yang meminta. Mendadak, perasaan nya tak karuan setelah menerima kabar tersebut. Dan persetan tentang ancaman Nesya, tidak di pikirkan nya. Termasuk tentang kenapa tidak boleh di beritahukan nya keluarga Alexander akan hal ini. Karna yang terpenting sekarang. Dia memastikan bahwa Ruby baik-baik saja. Dan masalah lain, akan di pikirkan nya nanti. ☔☔☔☔☔ Gimana? Kalian udah pastiin, teman kalian masih hidup?! Atau udah lewat Pesan itu masuk ke line Nesya. Siapa lagi pengirim pesan tersebut kalau bukan Jean, wanita iblis yang BlackHeart juluki. Dokter memang telah keluar, dan mengatakan bahwa Ruby baik-baik saja. Hanya luka-luka kecil yang di dapat leader mereka itu karna kecelakaan tersebut. Dan Blackheart cukup di buat lega akan hal itu. Namun mereka kembali di panaskan, kali ini dengan isi pesan tersebut. Nesya menggengam erat ponsel nya, untuk pertama kali nya dia memperlihatkan kilatan kemarahan. Tapi tidak dengan Stefi, gadis itu menggeram kencang dan menonjok dinding rumah sakit cukup keras, lalu berlalu dengan amarah yang sudah memuncak. Tidak ada yang mencoba menghentikan, termasuk Nesya. Mereka tau, Stefi sudah sampai pada batas kesabaran nya. "Ran, Yum! Lo berdua ikut cover Stefi. Gue takut dia lepas control. Dia bisa aja ngebunuh Jean malam ini!" Seru Nesya cepat. Ranaya dan Yuma mengangguk. Dan segera berlari meninggalkan rumah sakit. Di sana masih ada Rido yang tampak bingung dengan BlackHeart. Terlebih tadi, saat Stefi menonjok dinding rumah sakit, dia sedikit bergidik ngeri. Apa tidak sakit? Dia saja tidak pernah melakukan itu walau sedang dalam keadaan marah. Tapi di lain sisi, dia sangat maklum dengan sikap keras yang di miliki Stefi. Nesya menunggu kedatangan seseorang dengan gelisah. Genta sedaritadi belum juga datang, sedangkan keadaan semakin genting. Jika Ranaya dan Yuma gagal sedetik saja menghentikan Stefi. Maka hidup Jean malam ini akan berakhir, dan Stefi akan menjadi pelaku nya. Nesya menginginkan kehancuran Jean. Tapi bukan dengan mendorong satu teman nya ke dalam neraka. Tak lama setelah itu, koridor rumah sakit yang hening itu terpcahkan dengan seseorang yang berlari. Tampak lah di sana Genta,yang tengah berlari ke arah Nesya dan Rido berdiri. "Gimana Ruby?" Tanya Genta menatap Nesya dan Rido bergantian, dengan nafas yang masih terengah. "Gue titip Ruby! Ada hal yang harus gue urus!" Bukan nya menjawab pertanyaan Genta. Nesya justru berucap penuh perintah, dan dengan cepat berlalu meninggalkan rumah sakit. Genta yang masih bingung menatap kepergian Nesya, lalu beralih pada Rido yang berdiri. Seakan bertanya apa yang terjadi. Rido mengangkat bahu nya, sambil menggeleng. Sebagai jawaban atas, tatapan Genta. ☔☔☔☔☔ Stefi sudah tak dapat lagi menahan amarah nya. Dia tanpa membuang waktu lagi keluar dari mobil dengan rahang yang mengeras, dan sudah seperti orang kerasukan. Mata tajam menatap sekitar tempat tongkrongan Jean. Lalu beralih pada sebuah botor bir yang tergeletak tak jauh di sana. Dengan cepat dia merampas botol kosong tersebut, dan berlari lebih dekat ke tempat tongkrongan tersebut. PRANGG... Dengan emosi yang semakin meningkat, Stefi membanting botol tersebut ke dinging, hingga menciptakan bunyi pecahan yang sangat kuat. Tongkrongan itu hanya di terangi oleh lampu remang-remang. Semua orang di sana lantas berdiri saat mendengar bunyi tersebut. Termasuk Jean. Mereka serempak menoleh ke asal suara, tampak lah di sana berdiri Stefi dengan wajah mengeras, dan tangan terkepal, siap akan menelan mangsa nya hidup-hidup. Lebih dari 10 orang di sana mengcover Jean. Berdiri di depan gadis itu, untuk memberikan perlindungan agar Stefi tak dapat menerjang Jean. Stefi yang sudah di selimuti kemarahan luar biasa, tanpa ampun menerjang satu persatu anak buah Jean. Dia persis seperti orang kesetanan. BUGHHH BUGHH BUGHHH Bunyi dentuman-dentuman pukulan terdengar di tempat yang sepi itu. Semua anak buah Jean tumbang oleh Stefi sendiri. Kini dia berhadapan langsung dengan mangsa utama nya. Jean menatap tidak percaya, seluruh anak buah dan teman-teman nya telah tumbang. "Minta perlindungan kepada Tuhan Jean! Itu pun jika Tuhan masih ingin memberi lo perlindungan!" Seru Stefi geram dan penuh penekanan. Mata nya memerah ganas. Brukk...Prang...Brakk... "Arghh....!!!" Pekikan Jean terdengar saat tubuh nya sukses membentur keras nya kaca meja, yang seketika langsung hancur. Stefi gila! Dia bear-benar gila. Dengan brutal dan tanpa memberi Jean akses untuk melawan. Dia terus memukul wajah Jean. BUGHHHH "b*****t!!! BUGHH "b******k!!!" BUGHHH BUGHHH Bertubi-tubi Stefi menghadiahi tubuh Jean dengan pukulan. Jean tidak bisa melawan, karna tubuh nya di kukung oleh tubuh ganas Stefi. Stefi menarik krah baju Jean, dan memaksa nya untuk berdiri. Lawan nya itu sudah lemas, dan kehilangan tenaga. "LO IBLIS YANG HARUS GUE MUSNAHIN! ORANG b******k YANG HARUS MATI!!" Teriak Stefi penuh kemurkaan. BUGHH PRANGG Dengan satu kali tendangan sangat kuat dari Stefi. Jean, terpelanting dan menghantam keras nya dinding. "Arghh..." Jean meringis kesakitan. "LO HARUS MENEMUI AJAL JEAN!!" teriak Stefi lagi. Saat Stefi akan mencekik Jean yang tersudut di dinding. Ranaya dan Yuma sudah lebih dulu memegang kedua tangan Stefi, menhentikam aksi gila gadis tersebut. "SADAR STEF! LO JANGAN GILA!" teriak Ranaya, dan terua berusaha menahan tubuh Stefi yang masih gencar ingin menghabisi Jean, yang tampak sudah tidak berdaya di sana. "LEPASIN GUE! MAKHLUK LAKNAT KAYAK DIA HARUS MATI!!" teriak Stefi memberontak. Gadis itu sudah persis seperti Psychopat. Yuma dan Ranaya mati-matian menyeimbangi kekuatan Stefi yang lebih kuat dari mereka. "Stef sadar! Gak kayak gini cara nya!" Seru Yuma dengan tangis yang mulai pecah. "GUE GAK PEDULI! SEKALIPUN GUE HARUS MASUK PENJARA! YANG PENTING DENDAM RUBY TERBALASKAN!!" Stefi masih mencoba melepaskan cekalan kedua teman nya dengan brutal. "ARGHH..." BRUK.. "AWWHH.." Ranaya dan Yuma terpental saat Stefi menepis dengan kuat kedua tangan mereka. Stefi terlepas, mereka menatap penuh khawatir ke arah Stefi yang siap menghabisi Jean dengan tangan kosong nya. Mereka tau, bahwa Stefi kini tengah berada dalam amarah yang sangat luar biasa, bahkan mengalahlan logika nya. Jean berusaha bangkit dan memberi perlawanan. Tapi tubuh nya seakan sudah patah karna serangan bertubi-tubi yang di berikan Stefi. Namun seperti nya malam ini bukan lah ajal Jean. BUGHH.. Satu pukulan keras mendarat di wajah Stefi. Gadis itu untuk pertama kali nya tersungkur, dan itu berasal dari Nesya yang baru saja datang. Wajah gadis itu tak kalah terlihat marah. Dia menarik krah baju Stefi yang masih merintih karna sakit. Dan menatap tajam teman nya itu. "CONTROL EMOSI LO!! LO PIKIR DENGAN CARA KAYAK GINI RUBY LANGSUNG BANGUN HAH! JANGAN JADI ORANG GILA YANG NGOTORIN TANGAN LO SENDIRI BUAT NGEHABISIN ULAR KAYAK DIA!!" Teriak Nesya berang. BUGHH BRAKK.. Nesya mendorong Stefi hingga jatuh. Dia juga sudah tak dapat lagi menahan emosi nya. Selama ini dia terlihat tenang, karna semua masih bisa di kendalikan. Tapi malam ini, dia seakan habis kesabaran. Stefi tersungkur ke aspal, wajah nya terasa sakit karna pukulan Nesya. Ranaya membantu nya berdiri, karna keseimbangan nya sudah roboh karna Nesya. "Bawa Stefi pergi dari sini!" Perintah Nesya dengan nada dingin nya. Mata datar nya, menatap Jean yang terkapar di sana. Ranaya dan Yuma membimbing Stefi menuju mobil. Membiarkan Nesya mengurus segala nya. Stefi terlihat sudah kehilangan tenaga, karna mengamuk tadi. Nesya berjalan lebih tenang ke arah Jean. Dengan sekali hentakan dia menarik krah baju gadis itu, lalu menghempaskan tubuh Jean ke arah kursi yang ada di sana, sehingga posisi gadis itu terduduk. Lalu menatap tajam menembus mata Jean. "Gue nyelametin lo dari Stefi bukan karna gue ingin lo hidup Jean! Tapi karna gue ingin ngebuat lo ngerasain neraka nya hidup, sebelum gue bener-bener mengirim lo ke neraka!" Nesya mulai mengeluarkan suara kegeraman nya. Jean tertawa sinis, walau wajah nya sudah tak berbentuk lagi. Dia masih bisa mengeluaran seringaian tersebut. "Bukan gue! Tapi leader lo itu, yang akan perlahan-lahan mati. Gue gak ingin dia mati sekarang! Tapi gue ingin, dia ngerasaim penderitaan tanpa henti!" Balas nya dengan suara lemah. Tangan Nesya terkepal, dia benci melihat seringaian devil itu. Tangan nya dengan cepat mencengkram dagu Jean, dia sudah amat geram dengan lawan nya tersebut. "arghh.." Jean meringis, dan berusaha melepaskan cengkraman Nesya. "LO denger ya! Gue bisa jadi lebih brutal daripada Stefi, saat lo nguji kesabaran gue! Gue bisa aja ngebunuh lo malam ini dengan tangan gue sendiri, kalau gue mau! Tapi ngehabisin lo, gak akan bikin Ruby membaik!" Geram Nesya, dan semakin memperkuat cengkraman nya. "jangan sekali-sekali lo bangunin macan yang lagi tidur! Karna amarah nya akan lebih berbahaya, dari pada macan yang sering memburu mangsa!" ucap nya sengit. "Apa yang di terima oleh Siska sepupu lo, itu baru awal nya. Kalau lo masih sayang sepupu lo itu. Lo bisa hentiin kegilaan lo sekarang! Jangan pancing gue, ngotorin tangan gue, untuk ngehancurin sepupu lo itu, sehancur-hancur nya!" Mata tajam Nesya beradu dengan mata tanpa gentar Jean. "Dan lo jangan lupa! Bukan Ruby penyebab kematian Dafa! Dan bukan Ruby pembunuh sesungungguh nya." "Lo jangan lupain fakta, bahwa lo adalah pembunuh sesungguh nya! ELO PEMBUNUH SESUNGGUH NYA!!" teriak Nesya dan menghempaskan dengan kasar dagu Jean. "DAN KALAU GUE MAU, GUE BISA JEBLOSIN LO KEPENJERA MALAM INI!! KARNA BUKTI KEMATIAN DAFA MASIH ADA DI TANGAN BLACKHEART!!" teriak nya lagi, dengan kilatan kemarahan di mata nya. Jean terkejut, dia pikir bukti itu telah lenyap sejak lama. "KENAPA? LO KAGET! JANGAN PANGGIL GUE NESYA! KALAU GUE SEGAMPANG ITU LO BEGOIN! BUKTI ITU MASIH ADA DI TANGAN GUE! DAN KAPAN PUN GUE BISA NGELIHATIN ITU KE KELUARGA DAFAAA!! DAN HIDUP LO AKAN HABIS!!" Nesya kembali mencengkram dagu Jean. "Malam ini Ruby emang tumbang. Tapi setelah ini, Ruby akan bangkit dan lo tinggal tunggu tanggal kehancuran lo!" Tekan nya, dan menghempaskan dagu Jean, hingga terlepas dari tangan nya. Nesya menatap tajam Jean. "Lo gila Jean! Dan karna kegilaan lo! Lo mengorbankan orang yang paling lo cintai! Hanya demi kebencian lo akan Ruby!" Kata nya, sebelum akhir nya berlalu meninggalkan kekacauan tersebut. Jean masih pada tempat nya, tangan nya terkepal kuat. Mata nya memanas, dan nafas nya memburu. "Gue emang gila! Dan karna kegilaan ini gue bersumpah akan menghabisi siapa pun penghalang yang menghalangi langkah gue, UNTUK MENGHABISI RUBY!!!" "LO AKAN HABIS RUBY! GUE BRSUMPAH!" teriak nya seorsng diri di tempat sepi itu. BRAK... PRANGG... Kaki nya menendang meja yang ada di sana, dan melempar setiap benda yang ada di sekitar nya. ☔☔☔☔☔
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD