“Indira! Indira, buka pintu, Indira!” Ibra makin mengeraskan ketukannya pada pintu kamar Indira. Dia tak peduli jika nanti penghuni kamar lain merasa terganggu dengan teriakannya. Tak ada jawaban sama sekali, tapi suara igauan seperti yang sedang menangis itu terdengar jelas ditelinga Ibra. Rencananya memang Ibra hendak mengajak Indira makan malam, meski tadi sore gadis itu sudah mengatakan bahwa dia ingin delivery saja. “Maaf, Pak. Harap tidak melakukan hal yang mengganggu tamu lain,” seorang laki-laki muncul dari balik pintu kamar sebelahnya. “Maaf,” Ibra menyadari tindakannya yang sedikit norak malam ini. “Apakah ada sesuatu, Pak?” penghuni kamar sebelah Indira juga keluar karena mendengar teriakan Ibra yang sedikit mengganggu. “Maaf, yang di dalam itu tunangan saya. Sepertinya dia

