Ibra semakin terbuai oleh kelembutan yang kini menyapa tangannya ketika bahu telanjang itu tersentuh olehnya. Sementara Indira yang telah hilang kendali warasnya hanya mampu melenguh lirih dengan mata terpejam ketika merasakan bibir Ibra mulai menjelajah bahu dan separuh dadanya. Ibra gelap mata. Dia merasa tak bisa lagi mengendalikan diri. Godaan ini demikian manis untuk dihentikan. Maka tanpa memikirkan apapun lagi, laki-laki itu menurutkan keinginan nalurinya untuk memuaskan seleranya akan perempuan yang selama ini tak pernah dia lampiaskan, sekalipun. Sementara Indira seperti berada pada jeda antara sadar dan terbuai, antara keinginan menolak dan menikmati. Hembusan napas Ibra yang panas menyapa setiap inci kulitnya, menyisakan gerah yang membuatnya ingin melempar apapun yang melekat

