“Mas nggak nginep?” tanya Indira saat Daniel pamit pulang dari rumah Ibunya, sementara Indira mengantarnya sampai ke depan pintu. Daniel yang berjalan pelan didepan Indira mendadak berbalik dengan lembut. Menatap Indira yang tertunduk kikuk dengan senyum tertahan. “In, meski ini rumah Ibu, aku masih memegang etika untuk tidak menginap di rumah calon istriku. Apa kata orang? Apalagi di paviliun belakang banyak penghuni kost, aku tak mau mereka menilaimu yang tidak baik.” Indira mengangguk dan tersenyum. “Maaf, Mas. Kenapa tadi setelah Mas bicara dengan Ibu, sepertinya Ibu menjadi sedikit murung?” Daniel terdiam sesaat, ada yang bimbang di hatinya. Tapi dia harus menutupnya untuk saat ini. Indira tidak boleh tahu, agar tidak di dera perasaan bersalah. Sudah cukup Indira berkorban sel

