Suasana kembali tenang kedua pria itu kini terlihat sedang ngobrol dengan emosi yang stabil.
"Pa, aku mau bicara serius. Tolong jangan potong dulu sebelum Sean selesai." pinta Sean. Santoso mengangguk, dia mengerti bila putranya sudah dewasa dan mereka harus bicara layaknya sesama pria
"Mengenai pekerjaan, Sean sudah minta unpaid leave ke kantor, dan mereka sudah setuju." Dia menunggu respon dari mereka. Tapi sepertinya mereka menurut, tidak memotong sebelum Sean selesai bicara.
"Lalu mengenai Shiela. Terapi kemo pertama belum bisa dipastikan apakah berhasil atau tidak, masih banyak perawatan yang harus dijalaninya, jadi Sean akan lebih banyak di Singapura menemaninya. Dan ...Sean bermaksud akan menikahi Shiela setelah ia menyelesaikan semua perawatan ini." Pria itu menarik napas panjang dan merasa kelegaan dalam hatinya. Terserah apa keputusan kedua orang tuanya, yang penting Sean sudah mengutarakan isi pikiran yang selama ini membebaninya.
"Sudah selesai kamu bicara?" tanya Santoso. "Sekarang giliran papa bicara, dan jangan kamu potong juga." Sean hanya menganggukan kepalanya
"Papa sudah diskusi dengan mama mengenai Shiela. Kami tidak setuju jika kamu mengorbankan masa depanmu untuk seorang wanita yang sedang menjalani perawatan ....yang kita tidak tahu berhasil atau tidak.. kami membesarkanmu dengan harapan kamu dapat meneruskan usaha papa kemudian hari, kami tidak ingin kamu hanyut dengan perasaan. Kamu sekarang sorang pria, berpikir menggunakan logika, bukan dengan perasaan." Santosa menatap putranya dalam dalam, berharap Sean mengerti maksud mereka.
"Tapi kami bukan orang tua yang kolot. Papa tahu kalau kamu mencintai Shiela. Kamu boleh menemaninya selama di Singapura, papa mendukungnya karena ini menyangkut masalah nyawa. Mengenai masalah menikahi Shiela, kita bahas kemudian, setelah perawatan Shiela selesai kita lihat perkembangannya. Bagaimana? Setuju?"
Sean terdiam, Santoso adalah seorang negosiator yang hebat. Sean dihadapkan dengan tidak ada pilihan sama sekali kecuali mengikuti rencananya. Dengan mendengus kesal akhirnya Sean menanggukan kepalanya tanda setuju. Yang penting sekarang mereka tidak melarang dirinya untuk menemani Shiela.
Menjelang magrib Sean keluar rumah untuk menemui Mila, untuk menjelaskan semuanya malam ini. Dengan demikian semua masalah yang membenaninya akan selesai dan dia dengan tenang dapat pergi menemani kekasihnya.
"Sorry Mila...lama menunggu." ucapnya ketika sampai di sebuah coffee shop.
"Its ok...belum lama juga aku sampai."jawabnya.
Setelah Sean dan Mila memesan minuman untuk mereka, Sean mulai mengatur posisi duduknya lebih tegak. "Mila, ada yang hendak aku jelaskan. Aku mohon kamu tenang dan berfikir jernih." Sean memulai penjelasannya. Mila hanya terdiam. Sebenarnya dia tahu kalau Sean akan membawa kemana arah pembicaraan ini.
"Sebelumnya aku minta maaf, selama ini aku hanya menganggap kamu sahabat yang sedang membutuhkan perhatian. Bukannya aku menutup mata, aku tahu kalau kamu mencintaiku bahkan sejah SMA. Terima kasih atas cintamu, tapi...." Sean menatap Mila dengan tatapan yang lembut, "Cintaku sudah dimiliiki oleh Shiela. Dulu dan sekarang." lanjutnya. Sean diam dan menunggu reaksi Mila.
"Kenapa Sean? Tidak mungkin kah aku menggantikan Shiela? tidak pernahkah kamu menyukaiku? bukan sebagai sahabat tapi sebagai kekasih? Isak Mila.
Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya...."Sorry Mila, cinta tidak bisa dipaksa. Sejak dulu kamu tahu kalau aku mencintainya. Kuharap kau bersikap dewasa menerima kenyataan ini. Kami akan tetap menjadi sahabatmu jika kau membutuhkannya"
Mila menangis terisak mendengar kalimat yang menyakitkan dari bibir Sean. Tetapi, dia juga sadar kalau ternyata pria dia tidak bisa mengubah pendirian Sean. Sejak dulu hingga sekarang mimpinya untuk menjadi kekeasih Sean tidak akan pernah terwujud. Mila harus mulai membiasakan dirinya menerima kenyataan pahit ini.
Mungkin tiga tahun yang lalu Mila akan meraung dan berteriak bagaikan orang gila mendengar hal ini, tetapi emosinya kini telah jauh lebih baik. Semua itu berkat bantuan Sean yang sabar mengisi kesongan hatinya selama ini.
Malam masih panjang, setelah mengatar Mila dan memastikan wanita itu telah aman berada di rumahnya, Sean mengendarai mobilnya kembali pulang.
"Hallo sayang..." ucapnya tersenyum, mendengar suara Shiela saja hatinya berbunga bunga.
"Bagaimana kamu hari ini? mash mual? pusing? sudah makan? sudah mau tidur ya?" bertubi tubi pertanyaan Sean terlontar...mengantri minta dijawab.
"Hm...borongan nih nanyanya yah....." gurau Shiela. "Aku sehat sehat saja hari ini tidak perlu khawatir. Kamu sendiri? sudah makan? " tanya Shiela.
"Kamu tidak perlu memikirkan aku Shiela...yang penting kesehatan kamu. Hm...aku sudah rindu ingin menciummu sekarang." ucap Sean sambil dibayangkan bibir Shiela yang semakin sering dicumbunya.
"Hahahhahaha...baru tadi pagi..." jawab Shiela.
"Huhhgg...baiklah....besok aku kembali, awas yahhh sudah berani mengejek aku sekarang?" kata Sean sambil bergurau. "Besok sore, pesawat jam 4, tunggu aku yahhh...Ehh kamu mau dibawain apa dari Jakarta?"
"Bawa kembali cintaku saja Sean...I miss you." Bisik Shiela.
Ahh...jika tidak diingat dia sudah membeli tiket buat besok sore, mau rasanya malam ini ia kembali ke Singapura. Berbunga bunga hatinya mendengar pernyataan perasaan Shiela. " I miss you too honey....tunggu aku dan sweet dream, " Sean mengakhiri percakapan mereka.
Malam itu Sean tidur dengan nyenyak, semua ganjalan di dadanya sudah banyak berkurang.
Pagi pagi Sean dibangunkan oleh dering smart phonenya. Dibaca nama yang tertera di layar..."MILA". Membaca nama itu Sean segera bangun "Mila? ada apa ?" tanya Sean berdebar debar khawatir.
"Kamu kapan balik Singapura?" tanya Mila
"Sore nanti."
"Peswat jam?"
"Empat"
"Aku ikut."
"Haaa?" Sean teriak kaget "Kamu tidak kerja ....?" Tutt..