Ibu pikir aku cuma bisa bertahan hidup dari uang Galih?
"Huuh ... sombong sekali kau! Kau kira kau akan hidup tanpa uang Galih? Dari mana kau bisa mengisi perutmu kalau bukan dari hasil jerih payah anakku? Jangan sombong kamu!" Bentak Bu Farah.
Sedangkan mata Bu Farah mendelik-delik mengiringi gerak bibirnya yang dengan pongahnya berbicara.
"Bu, ibu pikir aku cuma akan bisa bertahan hidup dari uang Galih? Uang yang cuma ia kasih lima ratus ribu setiap bulan itu? Lima ratus ribu itu justru tidak lebih besar dari gaji seorang pembantu, Bu!" Ucapku tidak kalah sengitnya.
Bosan rasanya selama ini selalu mengalah, selalu menuruti kehendak mereka, tapi ujung-ujungnya tetap saja aku tidak dihargai.
Nampaklah rona masam wajah Bu Farah kian menjadi.
"Kau pikir standar hidupmu lebih baik dari pembantu? Haa?" Bentak Mertuaku.
"Ooowh, itu sudah jelas, Bu. Aku di sini adalah istri Mas Galih, bukan pembantu. Hanya saja aku yang terlalu bodoh selama ini kalian perlakukan layaknya pembantu." Balasku lagi.
Kulihat Bu Farah mengepalkan tangan menahan emosi. Peduli amat. Aku tidak takut sama sekali. Rasa takut dan rasa segan ku telah hilang akibat perbuatan mereka yang selalu menganggapku rendahan.
"Kau memang pantas untuk kami jadikan sebagai asisten di rumah ini!" Imbuhnya lagi.
"Jangan harap, Bu." Ucapku sembari masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Segera ku cek handphone keluaran lama yang sudah menemaniku sejak masa sekolah SMA.
Clink...
Mataku melebar dengan bibir mengembangkan senyum ketika sebuah pesan notifikasi dari bank menyambut pandangan mataku.
Bersamaan dengan itu, sebuah pesan masuk dari Papa.
[Nak, silahkan cek rekeningmu, Papa sudah kirim sejumlah uang buat kebutuhanmu, jangan pernah minta uang sama Galih lagi. Apalagi sampai menggantungkan hidup sama mereka. Galih mau memberi uang hasil kerjanya sama mertuamu, biarkan saja. Tenangkan pikiranmu, jangan mau lagi di tindas orang, Nak!] Pesan dari papaku.
Ku perhatikan angka-angka yang tertera di notif bank.
Jumlahnya bahkan lebih banyak daripada keseluruhan gaji Mas Galih dalam sebulan.
Papa tetaplah Papa. Ternyata selama ini ia tidak benar-benar membenciku.
[Tenangkan dulu pikiranmu di sana, Nak! Jangan banyak pikiran. Tunjukkan pada mereka bahwa kamu bukanlah wanita lemah yang bebas mereka injak-injak dan tidak bisa bebas mereka tindas.]
Terimakasih Pa, supportnya. Aku tidak menyangka jika Papaku ternyata masih peduli.
***
"Bu, ada apa? Kok kelihatannya jutek sekali?" tanya Megan mendekati sang Ibu.
"Ibu sedang kesal sama Kiara. Dia sudah berani menentang sekarang!" tanggap Bu Farah dengan berkacak pinggang.
"Apa? Kiara berani menentang Ibu? Apa dia cukup berani untuk melakukan itu?" Megan mengernyitkan dahi.
"Iya, Megan. Tadinya ibu ingin memintanya memasak buat teman-teman ibu yang akan datang nanti. Semua bahan-bahan sudah ibu siapkan. Tinggal Kiara memasaknya saja. Tapi ternyata Kiara menolak, Megan. Alasannya sedang capek," Bu Farah mulai bercerita.
"Ohoo, berani sekali dia. Tidak nyadar apa tuh orang. Hidup numpang, berlagak pula. Luar biasa sekali. Dia bilang capek, capek ngapain? Cuma mengurus rumah saja sudah mengaku capek. Ini tidak bisa dibiarkan, Bu!" Geram Megan.
"Kamu benar, Kiara memang tidak bisa dibiarkan. Sebaiknya apa yang harus kita lakukan?" Bu Farah setuju dengan cara berpikir Megan.
Megan terlihat berpikir. Rupanya ia sedang mencari cara untuk memberi pelajaran pada Kiara.
"Kita harus melaporkan Kiara sama Galih! Biar Galih tahu bagaimana kelakuan istrinya." Ujar Megan.
"Ya, dengan begitu ibu berharap Galih akan bersedia menyingkirkan Kiara dari rumah ini. Toh nantinya aku bisa mencarikan Galih istri yang lebih baik," tutur Bu Farah dengan nada kebencian.
***
"Dek, hari ini Mas Gajian. Ini jatah buat Adek," Mas Galih menyodorkan lima lembar uang berwarna merah ke hadapanku.
Fyuuuuh...
Aku menghela nafas.
"Mas, kasih ajah sama Ibu," ujarku.
"Apa? Kamu nggak mau terima?" Mas Galih menyipitkan mata.
"Bukan tidak mau menerima, tapi memang seperti kata Ibu, Ibu yang lebih berhak menyimpan dan mengolah uangmu. Ya sudah. Serahkan saja sama ibu semuanya, Mas. Tanggung juga ngasih ibu sembilan juta lima ratus ribu. Genapin ajah jadi sepuluh juta. Pas kan gajimu segitu." Jawabku santai.
"Dek, kenapa bicara begitu? Apa Adek tidak suka apabila gajiku dipegang sama ibu? Dek, mohon mengerti, Mas menyerahkan sebagian besar gajiku untuk ibu, itu karena beliau yang bisa mengatur dan menghandle semua kebutuhan dan pengeluaran di rumah ini. Anggaran di rumah ini tidak bisa dibilang kecil, Dek," Mas Galih menjelaskan.
"Oh begitu," tanggapku pendek.
"Iya, Sayang. Ibu sudah sejak dulu terampil mengelola keuangan keluarga. Tidak mungkin kendali keuangan di rumah ini digantikan oleh orang lain, termasuk kamu, Dek. saya tahu betul kamu pasti akan kewalahan dan kecapean sendiri jika harus diserahkan tanggung jawab itu. Makanya Mas menyerahkan gaji kepada ibu supaya bebanmu menjadi ringan,"
"Hmmm..." Aku berdeham panjang.
"Dek, Mas mohon Adek mengerti. Bukan Mas tidak mau menyerahkan uang gaji Mas sama kamu secara keseluruhan. Tapi demi Tuhan, Mas cuma ingin meringankan pekerjaanmu. Dan uang yang lima ratus ribu ini terserah kamu mau menggunakannya untuk apa saja. Ini mutlak hakmu," ucap Mas Galih lagi.
"Bukankah dengan begini kamu akan lebih bisa menikmati waktu? Tidak perlu capek-capek memikirkan uang belanja, mengatur uang buat bayar listrik serta air, dan sebagainya." Sambung Mas Galih seolah tidak putus-putusnya.
Aku tetap diam menyimak semua kata-kata yang diucapkan oleh Mas Galih.
"Dek, percayalah mas sayang sama kamu. Mas ingin memberikan yang terbaik buat kamu. Mas juga tidak ingin merepotkan kamu dengan memikirkan rincian-rincian kebutuhan rumah tangga. Makanya Mas menyerahkan tugas tersebut semuanya sama ibu." Kembali terdengar Mas Galih berbicara.
Lagi-lagi aku menghela nafas panjang. Tidak habis pikir mengapa bisa cara berpikirnya seperti itu.
Padahal selama ini Mas Galih tidak tahu, jikalau uang lima ratus ribu yang ia serahkan padaku pun kebanyakan dipinta kembali sama ibunya.
"Dek, tolong terima uang ini ya!"
Mas Galih menyodorkan uang tersebut ke tanganku, aku tetap bergeming.
"Tidak usah mas, terima kasih. Kasih aja uang lima ratus ribu ini sama ibu. Bukannya aku mau menolak, tapi memang buat apa Mas menyerahkan uang ini padaku kalau ujung-ujungnya akan kembali kepada ibu juga,"
Aku kembali menyerahkan lembaran-lembaran uang itu ke genggaman Mas Galih.
"Mengapa begini, Dek. Uang lima ratus ribu ini sudah cukup banyak untuk kebutuhan pribadi Adek," tutur Mas Galih tanpa merasa bersalah.
Ingin rasanya ku mengeluarkan kata-kata u*****n dari mulut ini. Dari mana bisa dia berpikir jika uang segitu sudah cukup banyak dalam jangka waktu satu bulan? Hanya saja sebagai perempuan aku masih berusaha untuk menjaga pola berbicara yang seharusnya.
"Tolong terima uang ini, Dek. sepertinya Adek patut bersyukur bisa memegang uang sebanyak ini," ucapnya lagi.
Spontan saja ucapannya membuatku kesal. Banyak dari mana uang segitu? Bahkan untuk ukuran ekonomi di rumah ini saja, buat makan seminggu pun tak cukup.
"Mas, tidak usahlah terlalu banyak bicara lagi. Serahkan uang itu sama Ibu," Sergahku.
"Dek, ada apa denganmu? Apakah Adek marah karena ibu tidak memberi uang buat beli gamis baru? Sabar Dek, pakaian ibu masih banyak, gamis dan dasternya Mas lihat masih bagus bagus. Begitu juga dengan pakaian Mbak Megan, banyak yang tidak terpakai lagi. Dan juga tidak kalah bagusnya sama pakaian ibu. Bukankah ibu sudah memberikannya padamu? Kalau sudah begitu, buat apa beli yang baru? Seperti kata Ibu, itu namanya pemborosan, Dek,"
"Cukup, Mas. Saya bilang tidak usah banyak bicara. Tidak ada sangkut pautnya sama daster dan gamis bekas itu. Cukup berikan semua uang itu sama ibu sana ...! Aku tidak membutuhkannya ...!"