Istrimu Hanyalah Beban Bagimu, Galih!
"Galih, istrimu itu sudah keterlaluan. Dia sungguh-sungguh telah menjadi pembangkang sekarang," ujar Bu Farah dengan muka bersungut kesal.
"Maksudnya bagaimana ya Bu?" Galih bertanya.
"Maksud ibu, istrimu sudah berani melawan ibu dengan ucapan yang kasar. Menolak permintaan ibu, padahal kau tahu ibu cuma meminta tolong padanya untuk memasak. Lihat di dapur, bahan-bahan makanan yang sudah ibu beli masih berada utuh di dalam kulkas tanpa tersentuh olehnya," ucap Bu Farah berapi-api.
Fyuuh...
Galih menghirup udara perlahan. Hatinya semakin bimbang dengan ucapan sang ibu.
"Apa benar Kiara bersikap sebegitu buruknya sama ibu?" tandas Galih.
"Kamu masih tidak percaya juga? Alangkah b*dohnya kamu! Ramuan apa yang telah Kiara sodorkan padamu sehingga kau menjadi sebegitu tunduknya sama dia," Megan turut menimpali percakapan tersebut.
"Tidak usah bilang-bilang ramuan, Mbak. Mana mungkin Kiara kenal soal begituan." Jawab Galih.
"Jangan bersikap terlalu naif, Galih. Seorang wanita yang berasal dari kalangan rendahan seperti dia, tentu saja tahu betul perihal perbuatan yang mengarah ke mistis," lanjut Megan tidak mau kalah.
"Tapi aku tidak pernah melihat Kiara pergi ke dukun atau sebagainya, Mbak,"ujar Galih.
"Punya otak dipakai buat mikir, Galih. kalau dia benar-benar melakukan perbuatan itu, tidak mungkin juga dia pergi bersama kamu atau dilihat secara langsung sama kamu. Perlu kau ketahui, bahwa orang dari kalangan miskin seperti dia pasti nekat menghalalkan segala cara demi bisa hidup dan masuk ke keluarga terpandang seperti keluarga kita," jelas Megan dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Galih nampak manggut-manggut. Ucapan sang kakak ada benarnya juga. Begitulah ia membatin di dalam hati.
"Lihatlah istrimu sekarang, sudah berani melawan ibu sedemikian rupa, sudah berani berlagak nyonya di rumah ini. Seharusnya sebagai menantu dia sadar posisinya bagaimana. Istrimu itu tidak bersyukur, Galih. Dia itu penjilat, hanya menginginkan uangmu saja. Seharusnya kau sadar itu!" Lanjut Megan dengan nada kebencian yang besar. Terlihat dari sungut wajahnya.
Galih nampak berpikir. Dalam hatinya sebenarnya dia juga menangkap kejanggalan pada sikap Kiara tadi yang menolak uang jatah bulanan secara mentah-mentah.
Padahal biasanya Tiara selalu menerima tanpa banyak tanya.
Tapi kalau seperti anggapan Megan, yang mengatakan jikalau Kiara adalah penjilat, Galih mempunyai keraguan akan anggapan itu.
'Seandainya saja Kiara benar-benar, dia tidak mungkin menolak pemberianku secara mentah-mentah sebagaimana layaknya tadi. Tapi memang benar sikapnya berubah drastis dan lebih berkesan pada membangkang padaku. Apa salahku pada Kiara? Sepertinya Kiara memang bersalah dalam hal ini. mengapa dia tidak mencoba untuk berusaha menjadi menantu yang baik buat ibu, dan mencoba untuk menjadi adik ipar yang baik untuk Mbak Megan. Kiara memang kelihatan ingin menang sendiri,' batin Galih dalam hati.
"Sebaiknya kau berpikir jernih sekarang. Pantas ataukah tidak untuk melanjutkan rumah tanggamu bersama Kiara. Jujur Nak, ibu takut hidupmu akan tertekan jika selamanya menanggung beban hidup seperti Kiara. Dia bahkan tidak berperan sebagai istri. Tapi menurut ibu dia lebih tampak seperti seseorang yang membebanimu," tutur Bu Farah menimpali.
"Benar, Galih. Seharusnya kau berpikir jauh ke depan. Bukan hanya memikirkan tanggungan seperti Kiara. Hidupnya hanya membuat kau tak bisa berpikir bebas. Sedangkan dia di rumah ini nampaknya tidak berperan apa-apa. Mengolah keuangan dia tak pandai, menjadi menantu dia tak becus, jadi adik ipar pun dia tak mengerti bagaimana cara menghormati fan menghargai. Maaf Galih, bukan maksudku untuk menaburkan api di rumah tanggamu. Aku adalah kakak kandungmu. aku sayang sama kamu dan tentu saja menginginkan yang terbaik untukmu. Soal Kiara, seperti pendapat ibu, aku sangat yakin bahwa Kiara bukanlah seorang istri yang pantas untukmu," Megan memberikan pengertian yang cukup panjang.
Kembali galih berpikir. Dilema menghampiri.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Mbak? Otak Mbak kan cukup pandai, aku yakin Mbak bisa memberikan solusi yang baik untukku," ucap Galih meminta pendapat Megan.
Megan menatap adiknya dengan tatapan bersungguh-sungguh.
"Demi kebaikanmu, ceraikan Kiara!"
***
Aku baru saja selesai mandi ketika kudengar suara deru mobil masuk ke halaman. Tapi itu bukan deru mobil mertua ataupun mobil Mas Galih. Soalnya aku kenal betul suara mobil mereka.
Kusibak tirai jendela, melihat siapa yang datang.
Oh ternyata Bu Farah dan seorang wanita cantik dan menawan. Siapa dia?
Ah peduli amat kucoba untuk masa bodoh.
Benar saja, sebentar kemudian, suara high heel mereka beradu dengan lantai marmer menimbulkan bunyi khas yang kian mendekat memasuki rumah.
"Kiara, tolong buatkan minuman. Ini ibu ada tamu istimewa!" Terdengar suara Bu Farah memberikan perintah seperti biasanya.
"Kiara, tolong cepat ya, tidak pakai lama. Ibu tak suka perempuan yang suka bersikap lambat. Jangan lupa juga hidangkan makanan diatas meja makan. Sekalian sama es tehnya. Cepetan ya! Seorang pembantu kerjanya harus cepat,"
Astaga, beliau memanggilku dengan sebutan pembantu? Seketika darahku mendidih.
"Maaf Bu aku sedang sibuk." Jawabku ketus.
Aku tahu jawaban yang kuberikan pasti akan mengundang amarah Bu Farah.
Dugaanku benar, tidak berselang lama suara high heels Bu Farah mendekati.
Seketika juga pintu terbuka. s**l, mengapa tidak kukunci saja pintu kamarku tadi? Tapi sudahlah sekarang sudah terlambat. Biarkan saja beliau berbicara.
"Kiara, kamu jangan bikin malu ibu ya!" Bentaknya tanpa ba bi bu.
"Aku tidak bikin malu ibu kok. Hanya saja aku bukan pembantu di rumah ini, sebagaimana yang ibu katakan tadi!" sergahku cepat.
"Kamu memang secara status bukan pembantu, tapi dalam keseharian kau sangat cocok dengan peran itu. Ingat kata-kataku, jangan membangkang lagi. Atau kalau tidak, akan kusuruh Galih untuk segera menceraikanmu!"
Astagfirullahaladzim, berkali-kali aku mengusap d**a untuk mencoba menahan kesabaran.
"Sekarang cepat pergi ke belakang, dan siapkan apa yang kuperintahkan. Aku tidak suka menantu pembangkang. Dikasih hidup enak kok suka belagu. Sudah cukup selama ini kau membuat hubunganku dan Galih renggang. Hanya karena wanita gelenjotan sepertimu, anak laki-lakiku jadi suka menentang ibunya sendiri. Ingat Kiara! kau takkan bisa memisahkanku dan Galih. Harus kau ketahui, bahwa sekarang Galih sudah bisa ku kendalikan. Kau tidak bisa menguasainya lagi," tutur Bu Farah tanpa menjaga perasaanku.
"Bu, aku tidak pernah berniat memutuskan hubungan kalian. harus juga ibu ketahui bahwa ibu lah yang selalu menginginkan kerenggangan diantara kami," balas ku tak kalah sengit.
Biarlah, kali ini kepalang basah aku disebut sebagai pembangkang. Aku tidak takut sama sekali kepada mertuaku maupun terhadap Mbak Megan. Cukup selama ini mereka sok berkuasa. Seperti pesan Papa, sekarang sudah waktunya aku bangkit dari penindasan.
Aku tidak akan keluar dari rumah ini sebelum membalas semua perbuatan mereka. Mereka semua berpikir hanya mereka yang bisa menindasku seperti yang mereka lakukan selama ini?
Soal risiko, aku siap menghadapi. Bercerai pun aku tak masalah sama sekali.
"Sekarang cepatlah ke dapur dan siapkan apa yang telah kuperintahkan," Bu Farah mengulang kembali perintah dengan nada kasar bak seorang majikan besar.
"Bukankah ibu bisa melakukannya sendiri? atau kalau ibu mau silakan ajak tamu istimewa ibu itu untuk turut menyiapkan hidangan buat kalian," jawabku.
"Astaga, apa kau tidak tahu siapa yang ku ajak ke rumah ini? Apakah kau belum tshu siapa wanita cantik yang datang bersamaku?" Tanya Bu Farah dengan cibiran yang merendahkan.
"Rasanya aku tidak perlu tahu siapa dia, Bu," jawabku.
Bu Farah berdiri berkacak pinggang membusungkan d**a. Sikap congkak melekat erat pada dirinya.
"Huuuh, wanita dari kalangan miskin seperti kamu ini memang lebih lihai dalam bersikap sombong. Kiara, semoga kau tidak terkejut. Sekarang aku beritahu sama kamu, bahwa wanita yang datang bersamaku adalah Celine. Dia seorang wanita yang akan menggantikan posisimu sebagai istrinya Galih. Tentu saja dia wanita berkelas yang tidak patut dan tidak pantas mengerjakan pekerjaan dapur sebagaimana pembantu sepertimu,"