Malam itu, setelah Bu Ratri masuk ke kamarnya, suasana di meja makan terasa sangat kaku.
Ze duduk menghadap buku catatan pengeluaran bulanannya yang sudah penuh dengan coretan. Ia menghitung kembali sisa saldo di rekeningnya, dan hasilnya selalu sama, menipis.
Arif sedang asyik mengganti saluran televisi, seolah tidak punya beban. Ze menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian.
"Mas," panggil Ze pelan.
Arif menoleh, "Ya, Sayang?"
"Ini sudah tanggal dua puluh tujuh, Mas. Gajian kamu biasanya tanggal dua puluh lima, kan? Sudah lewat dua hari, tapi kamu belum kasih uang untuk cicilan rumah dan operasional dapur. Tabunganku sudah hampir habis buat bayar listrik sama uang sekolah Lili kemarin."
Arif terdiam sejenak. Tangannya yang memegang remote tampak sedikit kaku. Ia mematikan televisi, lalu menghela napas panjang.
"Oh, soal itu ... Maaf ya, Ze. Aku lupa bilang. Bulan ini gajiku ada potongan sedikit karena aku ambil kasbon di awal bulan kemarin."
Ze mengernyitkan dahi. "Kasbon? Buat apa, Mas? Kita kan nggak ada keperluan mendesak bulan lalu?"
"Ya buat bayar DP-nya Fira itu, Ze. Kan aku sudah bilang, aku mau yang terbaik buat Lili. Jadi aku ambil kasbon dulu supaya Fira bisa langsung mulai ngajar," jawab Arif tanpa menatap mata Ze.
"Tapi Mas, itu kan gaji pokok kamu! Kalau gaji pokokmu dipotong buat bayar guru les, terus kita bayar cicilan rumah pakai apa? Kamu bilang ada bonus proyek luar? Kenapa nggak pakai uang itu saja?" desak Ze.
Suaranya mulai bergetar karena rasa cemas yang tak terbendung.
Arif tampak mulai tidak nyaman. Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju jendela, menyibakkan gorden sedikit untuk melihat kegelapan di luar.
"Uang bonus itu belum cair semua, Ze. Masih ada proses administrasi. Kamu jangan terlalu perhitungan kenapa, sih? Ini kan buat anak kita juga."
"Aku bukan perhitungan, Mas! Aku cuma realistis!" Ze berdiri, menghampiri suaminya.
“Realistis?”
"Aku kerja banting tulang di kantor, pulang masih harus ngurus rumah, semua demi bantu kamu nutupin kekurangan kita. Tapi kalau kamu main potong gaji tanpa diskusi sama aku, kita bisa gali lubang tutup lubang, Mas. Belum lagi sikap Ibu yang seolah-olah menganggap aku ini beban di rumah ini."
Arif berbalik, menatap Ze dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada perpaduan antara rasa bersalah dan kekeraskepalaan di sana.
"Ibu nggak bermaksud begitu, Ze. Ibu cuma mau bantu. Sudahlah, jangan dibesar-besarkan. Nanti kalau bonusku cair, semuanya aku ganti."
"Kapan cairnya, Mas?"
"Segera, Ze. Segera."
Jawaban yang mengambang itu justru membuat lubang di hati Ze semakin besar.
Selama ini, Arif adalah pria yang sangat tertib soal keuangan. Kejanggalan ini terasa seperti alarm yang berbunyi nyaring di telinga Ze.
Ze ingin membantah, ingin bilang bahwa mereka harusnya diskusi dulu sebelum mengambil keputusan finansial sebesar itu.
Namun, melihat wajah lelah Arif, Ze kembali luluh. Ia merasa bersalah karena sudah mempertanyakan niat baik suaminya untuk pendidikan Lili.
"Ya sudah, kalau memang begitu. Tapi nanti kalau bonusnya cair, langsung buat cicilan ya, Mas? Aku takut kena denda kalau lewat tanggal jatuh tempo," ucap Ze akhirnya, mengalah.
"Iya, Sayang. Percaya sama aku, semuanya terkendali," jawab Arif sambil tersenyum dan mengusap tangan Ze.
***
Keesokan harinya, Ze mencoba mengamati bagaimana Fira bekerja.
Ternyata, Fira benar-benar sosok yang menyenangkan. Ia tidak hanya mengajar, tapi juga pandai mengambil hati Bu Ratri.
Di dapur, Ze melihat Bu Ratri dan Fira sedang tertawa kecil sambil menyiapkan camilan untuk Lili.
"Fira ini pinter banget masak ya, Ze? Tadi dia kasih tahu Ibu cara bikin sambal goreng yang nggak langu," puji Bu Ratri saat Ze masuk ke dapur.
Ze tersenyum paksa. "Oh ya? Wah, hebat ya Fira. Udah pinter ngajar, pinter masak juga."
Fira hanya tersenyum sopan. "Enggak kok, Mbak Ze. Saya cuma berbagi tips sedikit saja sama Ibu."
Sore itu, suasana rumah terasa begitu hangat. Arif pulang membawa martabak manis, mereka makan bersama di ruang tengah termasuk Fira yang diajak bergabung oleh Bu Ratri.
Mereka mengobrol tentang banyak hal, tentang berita viral, tentang cuaca, hingga tentang hobi Lili yang mulai suka menggambar.
Tidak ada tatapan rahasia antara Arif dan Fira. Arif tetap menjadi suami yang perhatian pada Ze, sesekali menyuapi Ze martabak atau memuji betapa rapinya rumah hari ini.
Fira pun bersikap sangat profesional, ia lebih banyak mengobrol dengan Lili atau mendengarkan cerita Bu Ratri tentang masa lalu di kampung.
Ze merasa sedikit lega. Mungkin kecurigaannya kemarin hanya karena ia terlalu lelah.
Fira adalah orang baik, Arif adalah suami yang berdedikasi, dan Bu Ratri ... ya, Bu Ratri tetaplah mertua yang cerewet tapi sebenarnya sayang pada cucunya.
Namun, saat Ze hendak merapikan tas kerja Arif yang tergeletak di meja depan agar tidak berdebu, ia melihat secarik kertas kecil yang terjatuh dari saku tas tersebut.
Bukan map cokelat, bukan dokumen rahasia. Hanya sebuah struk belanja dari sebuah toko perhiasan ternama di pusat kota, tertanggal dua hari yang lalu.
Ze mengerutkan kening. Ia melihat nominalnya, setara dengan harga sebuah kalung emas.
Ze meraba lehernya sendiri, kosong. Ia melihat jari-jarinya, hanya ada cincin kawin yang sudah lama ia pakai.
“Mas Arif beli perhiasan? Untuk siapa? Apa ini hadiah kejutan untukku?”
Ze segera memasukkan struk itu kembali ke tempatnya dengan hati berdebar.
Ia tidak ingin merusak kejutan itu jika memang benar untuknya. Ia kembali ke ruang tengah dengan senyum yang lebih lebar, menatap Arif dengan rasa haru.
“Mungkin ini alasan Arif kasbon, dia mau kasih aku hadiah karena aku sudah kerja keras,” pikir Ze.
Malam itu ditutup dengan tawa Lili yang memenuhi ruangan. Segalanya tampak normal. Segalanya tampak sempurna.
Ze tertidur dengan harapan bahwa besok pagi, ia akan menemukan sebuah kotak perhiasan di bawah bantalnya atau di dalam tas kantornya.
Tanpa ia sadari, struk itu adalah awal dari sebuah benang merah yang akan menariknya masuk ke dalam kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan.