bab 1. aroma kebahagiaan
Aroma nasi goreng mentega buatan seorang wanita cantik bernama Zenata selalu berhasil mengalahkan dinginnya udara pagi di pinggiran kota.
Di dapur kecil yang luasnya tidak seberapa itu, Zenata sudah berkutat dengan penggorengan sejak pukul setengah enam pagi.
Rambutnya dicepol asal-asalan, daster batiknya tertutup apron biru pudar, dan matanya masih sedikit mengantuk, tapi tangannya cekatan mengayunkan sodet.
“Pagi, Sayang,” sebuah suara berat yang familiar terdengar di belakangnya.
Tanpa menoleh pun, Zenata tahu itu Arif—sang suami. Detik berikutnya, sepasang lengan melingkar di pinggangnya, dan sebuah kecupan mendarat singkat di pelipisnya.
Zenata tersenyum, rasa lelah akibat kurang tidur seolah menguap begitu saja.
“Pagi, Mas. Kebangun ya gara-gara suara berisik di dapur?” tanya Zenata lembut sambil terus mengaduk nasi.
Arif terkekeh, kepalanya bersandar di bahu sang istri.
“Bukan berisik, tapi baunya itu loh, sampai masuk ke mimpi. Kayaknya nasi goreng buatan istriku ini emang obat paling ampuh buat memulai hari.”
Zenata tertawa kecil. Kalimat-kalimat sederhana seperti itu selalu menjadi bahan bakar baginya untuk menghadapi hari-hari yang panjang.
Di matanya, Arif adalah sosok suami yang sempurna. Meski gaji Arif sebagai ketua tim penjualan tidak bisa dibilang besar, pria itu tetap rendah hati dan selalu menunjukkan rasa sayangnya.
Zenata merasa sangat beruntung, setidaknya di tengah cicilan rumah yang masih menggunung, cinta mereka tidak ikut berkurang.
“Lili sudah bangun?” tanya Zenata.
“Lagi dandan dia di depan cermin. Katanya mau pakai jepit rambut bunga matahari yang kamu belikan kemarin. Biar cantik pas upacara, katanya,” jawab Arif sambil melepaskan pelukannya dan berjalan menuju dispenser untuk mengambil air.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki kecil yang berlari di lorong. Lili, putri semata wayang mereka yang berusia tujuh tahun, muncul dengan seragam SD yang masih kaku dan tas punggung bergambar kartun favoritnya.
Senyumnya lebar, memamerkan satu giginya yang tanggal di bagian depan.
“Bunda! Lihat jepitnya, pas nggak?” Lili berputar-putar seperti penari balet di tengah ruang makan.
Zenata mematikan kompor, lalu berlutut di depan putrinya. Ia merapikan kerah baju Lili dan membetulkan posisi jepit rambutnya yang sedikit miring.
“Pas banget. Anak Bunda cantik sekali hari ini. Nanti di sekolah jangan lari-lari ya, biar nggak keringetan jepitnya.”
“Siap, Bunda!” Lili memberi hormat dengan gaya yang menggemaskan, membuat Zenata dan Arif tertawa bersamaan.
Kebahagiaan sederhana di meja makan itu adalah momen favorit Zenata. Sambil menyuapi Lili, mereka sesekali bercanda tentang hal-hal kecil.
Arif menceritakan target penjualannya dengan semangat, sementara Zenata mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali memberikan dukungan moral.
Namun, suasana hangat itu sedikit bergeser ketika pintu kamar di sudut rumah terbuka.
Ibu mertua Zenata, Bu Ratri, keluar dengan daster panjang dan wajah yang sudah dipulas bedak tipis. Ia berjalan menuju meja makan dengan langkah yang seolah menginterupsi tawa mereka.
“Duh, pagi-pagi sudah berisik sekali,” ujar Bu Ratri sambil menarik kursi di ujung meja, Bu Ratri menginap di rumah mereka karena ada hal mendesak.
Zenata langsung berdiri, mengambilkan piring untuk mertuanya. “Pagi, Bu. Ini nasi gorengnya baru matang. Mau sekalian kopi atau teh?”
Bu Ratri melirik piring nasi goreng itu dengan tatapan menilai.
“Nasi goreng lagi? Kemarin kan sudah nasi goreng. Kamu ini lulusan S1, Ze, masa variasi menu buat suami sama anak cuma ini-ini aja? Mbok ya agak kreatif sedikit.”
Senyum Zenata sedikit menyusut, tapi ia tetap berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
“Iya, Bu. Maaf, tadi cari bahan yang paling cepat saja supaya keburu berangkat kantor. Soalnya hari ini ada rapat pagi.”
“Kantor lagi, kantor lagi,” gumam Bu Ratna pelan, tapi cukup keras untuk didengar semua orang.
“Maaf, Bu.”
“Perempuan itu ya tugas utamanya di rumah. Kalau rumah urusannya beres, anak pinter, baru deh boleh mikir kerjaan. Ini Lili kemarin nilainya ada yang merah, kamu masih saja sibuk urusan kantor.”
Arif yang biasanya menengahi, hanya terdiam sambil mengunyah nasinya. Ia tidak membantah ibunya, tapi juga tidak menyalahkan Zenata secara langsung. Ia hanya mengelus punggung tangan Zenata di bawah meja, sebuah gestur rahasia yang seolah berkata, Sabar ya, jangan dimasukkan ke hati.
Zenata menghela napas panjang. Ia ingin sekali menjawab bahwa ia bekerja juga untuk membantu Arif membayar cicilan rumah yang mereka tempati sekarang, rumah yang juga ditinggali oleh Bu Ratri dengan nyaman.
Zenata ingin bilang bahwa izin untuk bekerja pun keluar dari mulut Bu Ratri sendiri tahun lalu saat ekonomi mereka sedang goyah.
Tapi, Zenata memilih diam. Ia tidak ingin merusak pagi yang tadinya begitu indah.
“Nanti aku usahakan pulang lebih awal buat nemenin Lili belajar, Bu,” ucap Zenata akhirnya, memberikan jawaban yang paling aman.
Bu Ratri hanya mendengus pelan, lalu mulai menyendok nasinya. Meski suasananya sedikit mendingin, kehadiran Lili yang tiba-tiba nyeletuk tentang tugas prakaryanya berhasil mencairkan ketegangan itu kembali.
“Nanti sore Bunda bantu Lili bikin kincir angin, ya?” pinta Lili dengan mata berbinar.
Zenata mengangguk mantap. “Pasti, Sayang. Bunda usahakan pulang tepat waktu.”
Setelah keriuhan kecil di meja makan tadi, Zenata segera bersiap. Ia mengganti daster batiknya dengan kemeja kerja yang sudah ia setrika rapi semalam.
Di depan cermin, ia memulas lipstik berwarna nude tipis-tipis, mencoba menutupi rona lelah yang mulai menetap di bawah matanya.
"Mas, aku berangkat duluan ya. Takut telat karena ada rapat divisi," pamit Zenata sambil mencium tangan Arif di depan pintu.
Arif tersenyum lebar, menarik Zenata ke dalam pelukan singkat yang hangat.
"Hati-hati, Sayang. Jangan lupa makan siang. Kalau capek, kabari aku ya."
Kata-kata Arif selalu menjadi oase. Di saat Bu Ratri terus-menerus menyindir statusnya sebagai istri yang bekerja, dukungan kecil dari Arif seperti ini sudah cukup bagi Zenata.
Ia merasa perjuangannya banting tulang di kantor tidak sia-sia selama suaminya tetap berada di pihaknya.
Namun, di sudut ruang tamu, Bu Ratri sedang sibuk mengelap bufet kayu dengan kain mikrofiber, meski sebenarnya tidak ada debu di sana.
Matanya melirik Zenata yang sedang memakai sepatu hak tingginya.
"Lulusan S1 kok kerjanya cuma jadi staf bantuan, Ze. Capek di jalan, gaji habis buat ongkos sama titip makan, kalau saya jadi kamu, mending fokus urus rumah. Lihat itu gorden, sudah waktunya dicuci," gumam Bu Ratri tanpa menoleh
"Iya, Bu. Nanti hari Minggu aku cuci gordennya. Aku berangkat dulu."
Perjalanan menuju kantor memakan waktu hampir satu setengah jam dengan transportasi umum.
Di dalam bus yang sesak, Zenata berdiri sambil berpegangan pada handrail. Pikirannya melayang pada Lili.
Penurunan nilai Lili benar-benar mengganjal hatinya. Sebagai ibu, ia merasa gagal.
Seharusnya ia ada di sana saat Lili kesulitan memahami soal matematika, bukan malah sibuk menyusun laporan arsip milik manajernya.
Sesampainya di kantor, Zenata langsung disambut dengan tumpukan dokumen. Pekerjaannya sebagai staf bantuan memang tidak terlalu bergengsi, namun sangat menyita tenaga.
Ia harus memastikan semua administrasi beres, membantu divisi lain yang kekurangan orang, hingga mengurus hal-hal sepele yang sering kali diabaikan.
"Mbak Ze, tolong fotokopi ini ya, sepuluh rangkap," panggil salah satu rekan kerjanya.
"Mbak Ze, data inventaris bulan lalu sudah di-input belum?" tanya yang lain.
Zenata mengerjakan semuanya tanpa mengeluh. Ia adalah tipe pekerja keras.
Di kepalanya hanya ada satu motivasi, struk gaji bulanan yang akan langsung ia bagi-bagi untuk cicilan rumah, uang sekolah Lili, dan kebutuhan dapur.
Ia rela dianggap hanya staf bantuan asalkan dapur rumahnya tetap mengepul dan kursi di ruang tamu mereka tidak ditarik oleh bank.
Pukul lima sore, Zenata bergegas pulang. Ia menolak ajakan teman-temannya untuk sekedar ngopi atau mampir ke mal.
Pikirannya sudah di rumah. Ia ingin memasak menu spesial—ayam goreng serundeng kesukaan Arif dan Lili—sebagai bentuk permintaan maaf karena pagi tadi hanya menyajikan nasi goreng.
Di perjalanan pulang, ia menyempatkan diri mampir ke toko buku kecil dekat stasiun. Ia membelikan Lili buku mewarnai baru dan pensil warna isi 24. Ia berharap hadiah kecil ini bisa membuat Lili kembali semangat belajar.
***
Sesampainya di depan pagar cat putih rumahnya, Zenata mendengar suara tawa dari dalam. Ia tersenyum lebar.
Suasana rumah terasa begitu hidup. Saat membuka pintu, pemandangan yang menyambutnya benar-benar menghangatkan hati.
Arif sedang duduk di lantai karpet ruang tengah, menggendong Lili di punggungnya sambil merangkak seperti kuda-kudaan.
Lili tertawa cekikikan, tangannya memegang pundak ayahnya erat-erat.
"Ayo kuda! Lari lebih cepat!" teriak Lili riang.
"Ampun, Tuan Putri! Kudanya sudah capek!" balas Arif sambil terengah-engah tapi tetap tertawa.
Bu Ratri duduk di sofa sambil menonton mereka, wajahnya yang biasanya kaku kini terlihat lebih lunak dengan senyum tipis.
"Sudah-sudah, kasihan ayahmu itu, Lili. Nanti pinggangnya copot."
Zenata mematung sejenak di ambang pintu, menikmati potret keluarga yang begitu sempurna itu.
Inilah alasan mengapa ia rela menahan lelah setiap hari. Inilah kebahagiaan yang ingin ia jaga selamanya.
"Bunda pulang!" seru Lili begitu menyadari kehadiran ibunya. Ia langsung turun dari punggung Arif dan menghambur ke pelukan Zenata.
Zenata mencium puncak kepala anaknya dalam-dalam.
"Hai, Sayang. Bunda punya kejutan buat Lili."
Arif bangkit berdiri, menyeka keringat di dahinya dengan kaosnya, lalu menghampiri Zenata. Ia mengecup dahi istrinya dengan lembut.
"Capek ya, Sayang? Sini tasnya aku bawakan. Kamu istirahat dulu, biar aku yang lanjut temani Lili."
Zenata menggeleng sambil tersenyum manis. "Enggak apa-apa, Mas. Aku mau masak ayam serundeng dulu buat kita makan malam. Ibu juga pasti sudah lapar, kan?"
Bu Ratri berdehem, kembali ke mode seriusnya. "Ya sudah, cepat dimasak. Tadi saya lihat ayam di kulkas belum diapa-apain. Lili juga belum mandi, tadi asyik main terus sama ayahnya."
Meski ucapan Bu Ratri masih bernada perintah, Zenata tidak mengambil hati. Ia merasa energi kebahagiaan dari tawa Lili dan perhatian Arif barusan sudah cukup untuk mengisi baterainya kembali.
Malam itu, meja makan kembali penuh dengan aroma masakan.
Mereka makan bersama dalam suasana yang relatif tenang. Arif bercerita tentang promosi jabatan yang mungkin akan ia dapatkan dalam beberapa bulan ke depan.
"Kalau Mas naik jabatan, mungkin kamu nggak perlu capek-capek kerja lagi, Ze," ucap Arif sambil menyuapkan potongan ayam ke mulutnya.
Zenata tersenyum mendengarkan.
"Biar kamu bisa fokus di rumah, nemenin Lili belajar. Kasihan anak kita kalau ditinggal terus."
Zenata terdiam sejenak. Kalimat itu terdengar seperti perhatian, tapi juga seperti beban. Namun, ia hanya mengangguk.
"Semoga ya, Mas. Aku juga pengennya begitu."