bab 2. merasa bersalah

1768 Words
Malam semakin larut. Suara jangkrik di luar rumah mulai bersahutan, menggantikan kebisingan suara televisi yang sudah dimatikan sejak satu jam lalu. Lili sudah terlelap di kamarnya setelah Ze membacakan dongeng singkat tentang putri yang tinggal di istana awan. Bu Ratri pun sudah masuk ke kamarnya, meninggalkan keheningan yang nyaman di seluruh penjuru rumah. Ze menutup pintu kamar tidurnya dengan perlahan, hampir tak bersuara. Ia melihat Arif sudah bersandar di kepala tempat tidur, kacamata bertengger di hidungnya, dan sebuah tablet di tangannya, mungkin sedang memeriksa laporan penjualan terakhir. "Lili udah tidur?" tanya Arif tanpa mengalihkan pandangan, tapi nadanya sangat lembut. "Udah, Mas. Langsung pules begitu kepalanya nempel bantal. Capek banget kayaknya habis jadi kuda-kudaan sama ayahnya tadi," jawab Ze sambil duduk di pinggir tempat tidur, lalu mulai mengoleskan krim malam ke wajahnya. Arif meletakkan tabletnya di nakas, lalu bergeser mendekat. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya melalui pantulan cermin rias. "Maafin Ibu ya, Ze. Tadi pagi omongannya agak ... ya, kamu tahu sendiri lah Ibu gimana." Ze menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap pantulan mata suaminya di cermin. "Nggak apa-apa, Mas. Aku udah biasa. Yang penting Ibu sehat dan masih mau nemenin Lili di rumah. Aku udah syukur banget." Arif menarik Ze untuk berbaring di sampingnya. Ia menarik selimut untuk mereka berdua, lalu membiarkan Ze menyandarkan kepala di dadanya yang bidang. Ze bisa mendengar detak jantung Arif yang tenang, sebuah irama yang selalu berhasil membuatnya merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Aku janji, Ze," bisik Arif sambil mengusap-usap bahu istrinya. “Janji apa, Mas?” "Suatu saat nanti, kalau posisiku sudah lebih stabil, aku mau kita punya rumah yang lebih besar. Yang ada taman belakangnya buat Lili main, dan mungkin satu asisten rumah tangga supaya kamu nggak perlu capek-capek lagi pulang kantor langsung ke dapur." Ze tersenyum, meski matanya mulai terasa berat. "Aku nggak butuh rumah besar, Mas. Gini aja aku sudah bahagia. Asal kita bertiga terus, dan cicilan ini cepat lunas, itu sudah lebih dari cukup." "Kamu itu terlalu sederhana, Ze. Kamu lulusan S1, punya otak encer, tapi sekarang malah sibuk bantu bayarin cicilan rumah dan dengerin omelan Ibu. Kadang aku merasa bersalah karena belum bisa kasih kamu kehidupan yang lebih 'mewah'." "Mas, kemewahan buat aku itu bukan soal barang. Tapi soal kamu yang selalu pulang ke rumah, kamu yang sayang sama Lili, dan kamu yang masih mau meluk aku kayak gini setelah seharian kerja. Itu lebih dari cukup." Ze mendongak, menatap mata suaminya dalam-dalam Arif tidak menjawab. Ia hanya mempererat pelukannya dan mengecup puncak kepala Zenata berkali-kali. Dalam remang lampu tidur yang kekuningan, suasana itu terasa sangat suci. Mereka adalah dua orang yang berusaha bertahan di tengah kerasnya hidup. "Mas, soal nilai Lili." Ze memulai pembicaraan yang sebenarnya agak ia hindari. “Kenapa, Sayang?” "Aku kepikiran. Tadi gurunya sempat telepon sebentar. Katanya Lili sering melamun di kelas. Apa mungkin dia kurang perhatian dari aku ya?" Arif terdiam sejenak. Tangannya yang tadi mengusap bahu Ze sempat terhenti sepersekian detik sebelum kembali bergerak. "Mungkin dia cuma lagi transisi aja, Ze. Kelas satu kan emang agak berat. Tapi jangan khawatir, aku sudah pikirkan solusinya. Kita bakal kasih yang terbaik buat dia." "Maksud kamu?" "Ya, pokoknya yang terbaik. Kamu fokus kerja aja dulu, bantu aku pelan-pelan. Urusan Lili, nanti kita cari jalan keluarnya bareng-bareng. Oke?" Ze mengangguk pelan. Ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Memiliki suami yang suportif seperti Arif adalah anugerah terbesar dalam hidupnya. Ia merasa sangat dicintai, sangat dilindungi. "Ya sudah, tidur yuk. Besok kamu harus bangun pagi lagi," ujar Arif lembut sambil mematikan lampu tidur. Dalam kegelapan, Ze memejamkan mata dengan hati yang tenang. Ia tidak tahu bahwa di balik kata-kata penenang itu, Arif sedang menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Ia tidak tahu bahwa solusi yang dimaksud suaminya akan membawa perubahan besar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Malam itu, di balik pintu rumah yang tertutup rapat, rahasia itu masih tertidur lelap. Menunggu waktu yang tepat untuk bangun dan mengoyak kebahagiaan yang selama ini Ze pahat dengan air mata dan keringat. *** Minggu kedua Bu Ratri menginap di rumah itu, suasana yang tadinya tenang perlahan mulai terasa sesak bagi Ze. Meskipun statusnya hanya tamu sementara yang menunggu rumahnya selesai direnovasi, Bu Ratri memperlakukan setiap sudut rumah Ze seolah itu adalah wilayah kekuasaannya sendiri. Pagi itu, Ze sedang terburu-buru mencari kunci kantornya yang seingatnya ia letakkan di atas meja rias. "Cari apa, Ze? Kunci?" suara Bu Ratri terdengar dari arah dapur. Ze melongok keluar kamar dengan rambut yang baru setengah rapi. "Iya, Bu. Tadi malam aku taruh di sini, kok sekarang nggak ada ya?" "Ibu pindahkan ke gantungan dekat pintu. Meja rias itu tempat kosmetik, bukan tempat barang logam begitu. Nanti lecet kayunya," jawab Bu Ratri santai sambil terus mengelap meja makan. “Gitu ya, Bu? Makasih ya, Bu.” "Kamu itu udah S1, harusnya lebih terorganisir. Hal kecil begini saja berantakan, gimana mau atur masa depan anak." Ze menghela napas, mencoba menelan kekesalan yang mulai naik ke tenggorokan. “Iya, Bu. Makasih sudah dipindahkan." Ia segera menyambar kuncinya. Di ruang tengah, Arif sedang membantu Lili memakai sepatu. Pemandangan itu biasanya membuat hati Ze hangat, tapi pagi ini ada gurat kecemasan di wajah suaminya. "Mas, hari ini ada panggilan dari sekolah Lili, kan?" tanya Ze sambil memakai jam tangannya. Arif mendongak, wajahnya terlihat agak tegang. "Iya, jam sepuluh nanti. Kamu nggak bisa izin sebentar, Ze? Perasaan kalau ibu yang datang, guru-gurunya lebih enak jelasinnya." "Aduh, Mas. Hari ini ada audit internal di kantor. Aku benar-benar nggak bisa ditinggal. Aku staf bantuan satu-satunya yang pegang arsip tahun lalu. Kamu kan tahu sendiri posisi aku di sana gimana." Ze meringis. Belum sempat Arif membalas, Bu Ratri sudah menyela sambil membawa segelas teh hangat untuk putranya. "Udah, biar Ibu saja yang datang ke sekolah Lili. Kamu kerja aja, Ze. Toh, kalau kamu datang juga paling cuma bisa minta maaf karena nggak pernah dampingi anak belajar." Kalimat itu telak menghantam ulu hati Ze. Ia menatap Arif, berharap suaminya akan membela atau setidaknya menawarkan solusi lain. Namun, Arif hanya mengangguk pelan. "Ya sudah, kalau Ibu nggak keberatan. Nanti aku antar Ibu ke sekolah dulu sebelum ke kantor," ucap Arif. Ze berangkat kerja dengan perasaan tidak karuan. Di dalam bus, ia tidak lagi melihat foto keluarga di ponselnya. Ia hanya menatap kosong ke luar jendela. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Bu Ratri, meski hanya sementara, telah mengambil alih perannya satu per satu. Dan, yang paling menyakitkan adalah bagaimana Arif seolah menikmati peran barunya sebagai anak penurut di depan ibunya. Di kantor, Ze tidak bisa fokus. Bayangan surat panggilan dari guru wali kelas Lili terus menghantuinya. ‘Kenapa nilai Lili bisa turun drastis? Apa karena dia terlalu sering ditinggal? Tapi kan ada Ibu di rumah?’ Ze membatin. Pukul dua siang, sebuah pesan w******p masuk dari Arif. [Mas: Ze, aku sudah di kantor lagi. Tadi Ibu udah dari sekolah. Hasilnya kurang bagus. Nanti malam kita obrolin ya.] Jantung Ze berdegup kencang. Ia ingin menelepon, tapi pekerjaannya sedang menumpuk. Ia terpaksa menahan rasa ingin tahunya sampai jam kantor usai. Sepanjang sisa hari itu, Ze bekerja seperti robot. Ia menginput ribuan data dengan mata yang panas. Saat pulang, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara Lili yang berlari menyambutnya. Ze menemukan Lili sedang duduk di pojok ruang tamu, menunduk sambil memainkan ujung roknya. Di meja makan, Bu Ratri dan Arif sudah duduk melingkar, dengan beberapa lembar kertas hasil ujian Lili yang penuh dengan angka merah. "Sini, Ze. Duduk," suara Bu Ratri terdengar dingin. Ze meletakkan tasnya dan duduk di samping Arif. Ia melihat hasil ujian matematika Lili. Angka 40 tertera besar-besar di sana. "Guru bilang, Lili sama sekali nggak konsentrasi kalau di kelas. Dia sering bengong. Dan pas ditanya soal PR, dia bilang nggak tahu," ujar Bu Ratri memulai sidang malam itu. Ze dan Arif bertukar pandang. "Ini nggak bisa dibiarkan, Rif. Anak ini baru kelas satu. Kalau dasarnya sudah begini, gimana nanti?" "Aku udah berusaha temani dia belajar setiap malam, Bu," bela Ze dengan suara bergetar. "Temani gimana? Kamu pulang jam tujuh malam, sudah capek, masak, terus nemenin dia sambil matanya merem-melek?" sindir Bu Ratri. Ze hanya menundukkan kepala. "Anak itu butuh bimbingan yang segar, yang fokus. Bukan sisa-sisa tenaga dari ibunya yang sibuk cari uang." Arif mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku setuju sama Ibu, Ze. Kita nggak bisa begini terus. Aku juga nggak bisa maksimal bantu Lili karena target kantorku lagi gila-gilaan bulan ini." "Terus kita harus gimana, Mas?" tanya Ze lirih. Arif menatap ibunya sebentar, lalu beralih ke Zenata. "Aku sudah tanya-tanya teman di kantor. Ada seorang mahasiswi tingkat akhir, pintar, dan dia biasa kasih les privat buat anak-anak SD. Namanya Fira. Katanya dia sabar banget." Zenata terdiam. Les privat? "Tapi Mas, biaya les privat itu nggak murah. Apalagi kalau mau yang datang ke rumah setiap hari. Kita kan lagi ketat banget buat cicilan." "Soal biaya, itu urusan aku," potong Arif dengan nada yang tidak ingin dibantah. “Mas, kamu yakin?” "Aku ada bonus proyek kemarin yang belum aku kasih tahu kamu. Cukup kok buat bayar guru les selama beberapa bulan ke depan." Ze merasa ada sesuatu yang janggal. Arif biasanya sangat terbuka soal keuangan. Sejak kapan ada bonus proyek yang tidak ia ketahui? Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Bu Ratri sudah menimpali. "Nah, itu solusi bagus. Ibu juga setuju. Jadi selama Ibu masih di sini, Ibu bisa bantu awasi guru les itu. Biar rumah ini ada aturannya. Kamu tetap bisa kerja, Ze, tanpa perlu khawatir anakmu jadi bodoh." Ze menelan semua argumennya. Ia menatap Lili yang masih menunduk ketakutan. Rasa bersalah sebagai ibu kembali mencengkeramnya. Mungkin benar, ia egois karena ingin memegang semuanya sendiri. Mungkin kehadiran orang lain memang dibutuhkan untuk menyelamatkan masa depan anaknya. "Kapan dia mulai datang?" tanya Ze akhirnya, pasrah. "Besok sore," jawab Arif singkat. “Besok? Berarti kamu udah memutuskan ini sebelum ngomong ke aku?” “Ya mau gimana lagi, Ze. Ini demi anak kita.” “Baiklah.” Ze diam dan tak mau membantah. "Dia bakal datang jam empat, pas Lili pulang sekolah. Jadi pas kamu pulang kantor, urusan belajar Lili sudah beres. Kita tinggal makan malam dan istirahat." Malam itu, Ze kembali tidur dengan perasaan ganjil. Ia merasa ada sebuah pintu yang baru saja terbuka di rumahnya, pintu yang memberikan izin bagi orang asing untuk masuk ke dalam ruang paling pribadi mereka. Ia mencoba memeluk Arif, mencari kekuatan seperti biasanya. Namun malam ini, Arif membelakanginya. Suaminya itu sudah tertidur, atau mungkin berpura-pura tidur, meninggalkan Ze terjaga ditemani bayang-bayang kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Retakan itu masih halus, hampir tak terlihat. Tapi di balik pagar cat putih itu, kebahagiaan yang dipahat Ze mulai terasa rapuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD