Pagi berikutnya terasa berbeda bagi Ze. Biasanya, ia bangun dengan semangat untuk menyiapkan segala keperluan Arif dan Lili.
Namun hari ini, ada beban tak kasat mata yang menggelayut di pundaknya. Nama 'Fira' terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Mas, kamu yakin Fira ini orangnya baik?" tanya Ze sambil memasangkan dasi Arif. Tangannya sedikit gemetar.
Arif menurunkan pandangannya, menatap Ze dengan senyum menenangkan yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati Ze.
"Yakin, Sayang. Temanku di kantor itu orangnya pemilih kalau soal pendidikan anak. Kalau dia bilang Fira bagus, ya pasti bagus. Kamu jangan terlalu cemas begitu, ya?"
Ze memaksakan senyum. "Bukan cemas, Mas. Cuma ... aku merasa aneh aja ada orang asing yang bakal menghabiskan waktu lebih banyak sama Lili daripada aku sendiri."
Arif mengelus pipi Ze lembut. "Ini cuma sementara, Ze. Sampai nilai Lili stabil lagi. Aku mau kita semua tenang. Kamu juga nggak perlu lembur-lembur pikiran tiap malam gara-gara PR Lili yang nggak selesai, kan?"
Di meja makan, Bu Ratri sudah sibuk menyiapkan tas Lili.
"Ze, kamu nggak usah pikir macam-macam. Fokus saja cari uang di kantor. Biar Ibu yang awasi si Fira nanti sore. Ibu bakal pastikan dia kerja beneran, bukan cuma numpang duduk."
Meskipun ucapan Bu Ratri bernada dukungan, Ze tetap merasa ada sindiran halus yang menyelinap.
Seolah-olah Bu Ratri ingin menegaskan bahwa Ze memang sudah 'lepas tangan' dari urusan anak.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Ze tidak bisa berhenti mengecek jam tangannya.
Setiap menit yang berlalu terasa seperti hitungan mundur menuju kedatangan wanita asing itu ke rumahnya.
Di kantor, fokus Ze benar-benar berantakan. Ia bahkan hampir salah memasukkan data laporan bulanan, sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama dua tahun bekerja sebagai staf bantuan.
"Ze, kamu sakit?" tanya Maya, rekan kerjanya, yang memperhatikan Ze berulang kali menghela napas panjang.
Ze menggeleng, mencoba memaksakan tawa kecil. "Enggak, May. Cuma kurang tidur aja."
"Atau lagi kepikiran cicilan?" canda Maya.
Ze hanya tersenyum kecut. “Nggak kok, May.”
“Terus?”
“Aku ada masalah di rumah.”
“Masalah? Masalah apa? Sama suami?”
“Nggak. Lebih ke masalah anak sih.”
“Kenapa? Lili kenapa? Ada masalah sama Lili?”
Ze sudah percaya pada Maya, karena Maya adalah teman karibnya di kantor.
“Nilai Lili di sekolah menurun, May. Jadi, Mas Arif menyewa guru les private untuk Lili agar Lili bisa fokus dan nilainya bisa diperbaiki.”
“Itu kan bagus, terus kenapa kamu merasa terbebani?”
“Aku ngerasa nggak enak aja sama Mas Arif, karena guru itu bakal lebih sering menghabiskan waktu sama Lili dibandingkan aku.”
“Ya ampun, aku hanya mau bilang ke kamu yaa, kamu hati-hati aja, suruh Arif jaga jarak sama guru les itu, agar kamu lebih tenang.” Maya menepuk pundak Ze.
Pukul empat sore, tepat saat jam pulang kantor Ze masih satu jam lagi, sebuah pesan masuk dari Arif.
[Mas: Fira sudah sampai rumah. Dia sopan sekali, Ze. Lili juga sepertinya langsung suka. Kamu hati-hati pulangnya.]
Dada Ze terasa sesak. Ada rasa lega karena Lili menyukai guru barunya, tapi ada juga rasa nyeri yang aneh.
Rasa cemburu seorang ibu yang merasa 'digantikan'. Ia membayangkan Lili tertawa bersama Fira, belajar bersama Fira, sementara dirinya masih berkutat dengan tumpukan kertas dan bau AC kantor yang pengap.
Selama perjalanan pulang di angkot, Ze merasa waktu berjalan sangat lambat. Ia ingin segera sampai, ingin melihat sendiri siapa wanita yang telah masuk ke dalam benteng kecilnya itu.
Pikirannya melayang-layang liar. Apakah Fira lebih pintar darinya? Apakah Fira lebih sabar menghadapi Lili yang sulit konsentrasi?
Begitu sampai di depan pagar cat putih rumahnya, Ze menarik napas dalam-dalam. Ia merapikan kemejanya, memulas kembali lipstiknya agar tidak terlihat terlalu kusam setelah seharian bekerja. Ia ingin menunjukkan bahwa meski ia bekerja, ia tetap nyonya di rumah ini.
Saat pintu terbuka, Ze tidak langsung disambut oleh tawa Lili seperti biasanya.
Rumah itu terasa sangat tenang, namun ada aura berbeda.
Di ruang tengah, di atas karpet bulu yang biasa Ze gunakan untuk bermain bersama Lili, dua orang sedang duduk berhadapan.
Lili tampak sangat serius memegang pensilnya, matanya berbinar menatap lembaran buku di depannya.
Di hadapannya, duduk seorang wanita muda dengan pakaian yang sangat rapi namun kasual, sebuah blus berwarna pastel yang dipadukan dengan celana kain yang pas.
Rambutnya diikat kuda dengan rapi, menonjolkan wajahnya yang bersih dan terlihat cerdas.
"Nah, kalau yang ini dikali dulu, baru ditambah. Coba Lili hitung lagi," suara wanita itu terdengar sangat lembut dan merdu.
"Bunda pulang!" Lili berseru saat melihat Ze, tapi ia tidak langsung lari memeluk Ze.
Ia menoleh sebentar, memberi salam, lalu kembali menatap bukunya dengan antusias.
"Bunda, Bu Fira pinter banget! Lili jadi ngerti kenapa angka ini bisa jadi sepuluh!"
Ze terpaku. Ia menatap wanita itu—Fira—yang kini bangkit berdiri dengan sopan dan memberikan senyum yang sangat manis.
"Selamat sore, Mbak. Saya Fira," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Ze menyambut uluran tangan itu. Tangan Fira terasa halus, sangat kontras dengan tangan Ze yang kasar karena sering berurusan dengan kertas kantor dan sabun cuci piring setiap malam.
"Sore, Fira. Suami saya sudah cerita banyak soal kamu," ujar Ze, mencoba terdengar seramah mungkin meski hatinya bergejolak.
Dari arah dapur, Bu Ratri muncul sambil membawa nampan berisi teh dan camilan.
"Eh, Ze sudah pulang. Lihat itu, Ze. Lili nggak pernah seserius itu kalau belajar sama kamu. Emang beda ya kalau sama ahlinya."
Ze hanya bisa terdiam, mematung di tempatnya berdiri. Ia melihat ke sekeliling rumahnya. Arif belum pulang, tapi pengaruh kehadiran Fira sudah memenuhi setiap sudut ruangan.
Di matanya, Fira terlihat terlalu sempurna untuk ukuran seorang mahasiswi tingkat akhir.
Ada sesuatu yang tidak bisa Ze jelaskan, sebuah insting yang mengatakan bahwa pintu rumah yang terbuka untuk Fira bukan hanya akan memperbaiki nilai Lili, tapi juga akan mengungkap rahasia yang selama ini tertimbun rapi di bawah lantai rumah mereka.
Malam itu, saat Ze mencuci piring sendirian di dapur setelah Fira pulang, ia tidak sengaja menemukan selembar kuitansi di atas meja makan yang tertutup taplak.
Kuitansi pembayaran pertama untuk jasa guru les privat.
Mata Ze membelalak saat melihat nominalnya. Itu bukan sekadar gaji mahasiswi biasa.
Itu nominal yang sangat besar, hampir setara dengan setengah dari cicilan rumah mereka.
Dari mana Arif dapat uang sebanyak ini?
Ze tidak pernah tahu tentang uang ini dan uang ini juga jumlahnya terlalu besar, bahkan Ze tidak pernah menerima uang sebanyak ini dari Arif.