bab 19

1605 Words
Pagi itu, suasana di rumah Ze dan Arif sangat tenang setelah ketegangan kemarin. Ze bangun dengan senyum yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan dalam enam bulan terakhir. Ze mengenakan daster rumah yang rapi, menguncir rambutnya dengan cantik, dan langsung menuju dapur. Aroma nasi goreng mentega dan telur mata sapi memenuhi ruangan. Bu Ratri yang biasanya bangun dengan wajah kaku untuk menyiapkan sarapan karena menganggap Ze lamban, tertegun melihat menantunya sudah sibuk di depan kompor. "Pagi, Ibu sayang," sapa Ze ceria. Ze melangkah mendekat dan mencium tangan mertuanya dengan takzim. "Ibu duduk aja ya, biar aku yang siapkan semua hari ini. Aku tahu Ibu pasti capek kepikiran soal bank kemarin." Bu Ratri mengerjapkan mata, bingung dengan perubahan drastis menantunya yang kemarin baru saja memberontak dengan belanja barang mewah. “Kamu udah nggak marah soal ucapan Ibu kemarin, Ze?" Ze tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat ringan. "Ya ampun, Bu. Aku mana bisa marah lama-lama sama Ibu. Aku sadar, kemarin aku cuma lagi stres kerja. Ibu benar, keluarga itu nomor satu. Aku sudah pikirkan matang-matang, aku akan bantu Mas Arif sekuat tenaga." Arif masuk ke ruang makan, wajahnya tampak kusut, namun matanya langsung berbinar melihat Ze yang begitu manis. Arif ragu-ragu untuk mendekat, teringat bagaimana Ze menolaknya mentah-mentah semalam. "Mas, ini kopinya. Pakai gula aren kesukaan Mas," ujar Ze meletakkan cangkir itu di depan Arif, lalu mengusap bahu suaminya dengan lembut. “Wah. Iya. Makasih ya, Sayang.” "Maafin aku ya soal semalam. Aku udah bicara sama koperasi kantor pagi-pagi sekali lewat pesan singkat. Mereka bisa bantu, asalkan syarat yang kita bicarakan semalam ditandatangani." Arif menarik napas lega, seolah beban satu ton di pundaknya baru saja diangkat. "Beneran, Sayang? Kamu memang istri terbaik. Aku sempat takut kamu beneran bakal biarkan rumah ini disita." "Mana mungkin, Mas. Rumah ini kan masa depan kita," ujar Ze melirik ke arah lorong. “Kamu memang yang terbaik.” "Oh iya, Fira mana? Suruh sarapan bareng sini. Kasihan dia kalau harus mengajar Lili dalam keadaan lapar." Bu Ratri dan Arif saling berpandangan, seolah tidak percaya dengan pendengaran mereka. Ze yang biasanya dingin pada Fira, kini justru mencarinya untuk sarapan bersama. "Fira lagi nggak enak badan, Sayang. Mungkin di kamar aja," jawab Arif ragu. "Loh, kalau nggak enak badan justru harus makan, Mas. Panggil aja. Suruh dia menginap di sini saja beberapa hari kalau memang capek bolak-balik kampus.” “Kamu nggak keberatan?” tanya Arif bingung. “Aku nggak keberatan kok. Kamar tamu kan luas, daripada dia harus kos sendirian kalau lagi sakit, lebih baik di sini ada yang jaga," ucap Ze dengan nada yang sangat tulus. Fira yang rupanya sudah berdiri di ambang lorong sejak tadi, tampak gemetar. Matanya yang sembap menatap Ze dengan penuh ketidakpercayaan. Ze menghampirinya, menuntun tangan Fira untuk duduk di meja makan. "Duduk ya, Fir. Makan yang banyak. Aku udah buatkan bubur spesial juga kalau kamu merasa mual," ujar Ze mengedipkan mata pada Fira, sebuah gerakan yang membuat Fira hampir menjatuhkan sendoknya. “Ibu tahu darimana saya mual?” tanya Fira menatap Ze. “Kamu ini kayak nggak tidur di sini, ya aku tahu kalau kamu mual karena beberapa hari itu yang ku dengar,” jawab Ze. “Itu hanya—” “Hanya apa, Fir?” “Hanya—” Fira kebingungan. “Apa kamu hamil?” tanya Ze menatap Fira seperti sebuah jebakan. Fira membulatkan mata, ada rasa takut di dalam hatinya. Namun, ia tidak mungkin berkata apa-apa. Arif dan Bu Ratri juga sama, sama-sama terkejut, tak lama kemudian Arif tertawa terbahak-bahak seolah mengalihkan pertanyaan Ze. “Mas kenapa?” tanya Ze. “Nggak apa-apa, Sayang, aku hanya ketawa kalau emang bener Fira hamil, tapi nggak mungkin sih,” kekeh Arif. “Nggak mungkin gimana? Fira kan perempuan,” geleng Ze. “Eh maksud aku—” “Ya udah. Nanti periksa ya, Fir.” “Saya udah periksa, Bu, saya hanya masuk angin.” “Oh gitu? Syukurlah kalau hanya masuk angin.” Selama sarapan, Ze terus bersikap sebagai nyonya rumah yang sempurna. Ia melayani Arif, mengambilkan kerupuk untuk Bu Ratri, dan memastikan gelas Fira selalu penuh. Ze tidak lagi menyinggung soal uang, soal pengkhianatan, atau soal suara yang ia dengar kemarin. Ia menjadi Ze yang dulu, penurut, manis, dan berbakti. Setelah sarapan, Ze mengeluarkan selembar kertas dari tas kerjanya. "Mas, ini surat yang diminta koperasi. Isinya cuma pernyataan kalau rumah ini dalam pengawasan kita bersama dan aku yang bertanggung jawab atas pelunasannya lewat potongan gajiku." Arif membaca sekilas. Bahasanya cukup teknis, namun ada satu poin yang disisipkan Ibu Sarah dengan sangat rapi. “Bahwa pihak pertama (Arif) menyetujui penyerahan hak kepemilikan penuh kepada pihak kedua (Zenata) apabila ditemukan pelanggaran terhadap komitmen kesetiaan dan keutuhan rumah tangga, sebagai bentuk kompensasi atas beban finansial yang ditanggung pihak kedua." Arif mengerutkan dahi. "Ini poin soal kesetiaan ini maksudnya apa, Ze?" Ze tersenyum manis, mengelus tangan Arif. "Itu cuma syarat formal dari koperasi, Mas. Mereka mau pastikan kalau aku bayar cicilan ini, rumah tanggaku stabil. Kan mereka nggak mau potong gajiku kalau ujung-ujungnya kita ada masalah hukum. Kamu nggak keberatan, kan? Toh, kamu kan setia banget sama aku." Arif menelan ludah. Ia melirik Fira yang sedang menunduk, lalu melirik Bu Ratri yang mengangguk-angguk, karena tak paham. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, stiker kuning di pagar harus hilang. "Ya sudah, aku tanda tangan," ucap Arif mantap. Ia menggoreskan penanya di atas materai, tidak menyadari bahwa ia baru saja menandatangani surat kematian bagi haknya atas rumah itu. "Makasih ya, Mas. Oh iya, ini kunci mobil. Hari ini aku naik ojek saja, biar Mas pakai mobilnya buat urusan kantor atau antar Fira kalau perlu," ujar Ze menyerahkan kunci mobil atas namanya itu kepada Arif. Arif tampak sangat bangga. Ia merasa telah berhasil menaklukkan kembali istrinya. "Kamu beneran nggak apa-apa naik ojek?" "Enggak apa-apa, Mas. Sekali-sekali pengen hirup udara luar," jawab Ze sambil tersenyum. Di kantor, Ze nggak bekerja. Ia menghabiskan waktunya untuk berkoordinasi dengan petugas pindahan melalui aplikasi pesan. "Ingat, jemput barang-barangnya saat rumah kosong. Biasanya antara jam sepuluh pagi sampai jam dua siang," instruksi Ze. Ze mulai memindahkan barang-barang berharganya secara bertahap. Perhiasan dari ibunya, dokumen penting, tas-tas bermerek yang ia beli kemarin, bahkan beberapa koleksi buku kesayangannya sudah ia cicil pindahkan ke loker kantor sebelum nanti dibawa ke apartemen rahasianya. Ze merasa seperti hantu di rumahnya sendiri. Ia ada di sana, melayani, tersenyum, dan mencium tangan mertuanya, namun jiwanya sudah pergi jauh. Ze membiarkan Arif membawa mobilnya kemana-mana, membiarkan suaminya merasa hebat karena bisa menyetir mobil bagus, padahal setiap kilometer yang ditempuh Arif dicatat oleh Ze sebagai beban biaya yang akan dituntut nantinya. *** Malam harinya, Ze pulang dan mendapati Fira sudah merasa sangat nyaman. Gadis itu sudah mulai berani menonton TV di ruang tengah bersama Bu Ratri. Arif duduk di antara mereka, tampak seperti seorang raja dengan dua permaisuri dan seorang ibu ratu. "Bu Ze sudah pulang?" sapa Fira, kali ini suaranya sedikit lebih berani. "Sudah, Sayang. Gimana, sudah enakan?" Ze mengusap kepala Fira, sebuah sentuhan yang membuat bulu kuduk Fira berdiri, namun karena Ze tersenyum begitu manis, Fira menganggapnya sebagai bentuk penerimaan. "Udah, Bu. Tadi Pak Arif antar aku ke dokter juga pakai mobil," lapor Fira jujur. "Baguslah. Mobil itu memang buat dipakai keluarga. Mas Arif hebat ya, perhatian banget sama kamu," puji Ze tulus karena ia senang Arif menambah bukti perhatian berlebihan kepada Fira. Bu Ratri tersenyum puas. "Nah, begini kan enak. Adem rumahnya. Kamu itu Ze, kalau dari dulu begini kan Ibu nggak perlu marah-marah." "Iya, Bu. Aku minta maaf ya," ucap Ze duduk di samping mertuanya, mulai memijat bahu Bu Ratri. “Iya, Ze.” "Aku sadar, Fira ini sudah seperti adik buat aku. Kalau Fira mau menginap di sini selamanya juga aku nggak masalah. Kamar tamu itu kan memang disiapkan buat keluarga." Arif menatap Ze dengan penuh kekaguman. Ia merasa hidupnya sangat sempurna sekarang. Arif punya istri yang bekerja keras dan penurut, ia punya selingkuhan yang hamil dan tinggal di rumah yang sama, dan ibunya bahagia. Ia tidak tahu bahwa Ze sedang menghitung detik demi detik menuju ledakan. Setiap malam, saat Arif tertidur di sampingnya, Ze akan bangun dan menulis di buku harian digitalnya. “Hari ke-3 pasca penemuan. Arif sudah tanda tangan perjanjian aset. Dia merasa menang. Dia membawa mobilku untuk mengantar Fira ke klinik lagi hari ini. Aku mencatat plat nomor dan jam keberangkatan mereka. Aku melihat mereka berpegangan tangan di garasi pagi tadi lewat cctv tetangga yang aku minta rekamannya. Teruslah merasa bahagia, Arif. Karena semakin tinggi kamu terbang, semakin hancur tulangmu saat aku menjatuhkanmu nanti.” Ze menutup ponselnya. Ia menatap wajah suaminya di bawah cahaya lampu tidur. Wajah yang dulu ia puja, kini tampak seperti wajah orang asing yang menjijikkan. Ia kembali memikirkan syarat di perjanjian itu. “Jika salah satu berbuat salah, rumah itu akan menjadi milik yang disakiti." Arif mengira berbuat salah itu adalah sesuatu yang sulit dibuktikan. Ia tidak tahu bahwa Ze sudah memiliki rekaman suara desahannya di kamar, foto-foto kemesraannya dengan Fira, dan pengakuan saksi-saksi kecil di sekitar mereka. Ze menarik selimutnya. Ia harus tetap menjadi istri yang baik besok pagi. Ia harus tetap menyiapkan sarapan, mencium tangan mertuanya, dan tersenyum pada Fira. Ze harus memastikan Fira merasa sangat aman di rumah ini, sampai-sampai Fira lupa bahwa dia sedang berada di rumah wanita yang suaminya ia rebut. "Selamat malam, Mas," bisik Ze pelan, sebuah sapaan yang lebih mirip dengan kutukan. Pagar cat putih di luar sana tampak berkilau di bawah lampu jalan. Stiker kuning bank itu kini sudah dicabut karena Ze sudah membayar cicilan yang tertunggak menggunakan uang pinjamannya. Namun bagi Ze, pagar itu bukan lagi pelindung. Itu adalah gerbang menuju medan perang yang sebentar lagi akan ia menangkan secara mutlak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD