bab 28. kebebasan?

1231 Words

Matahari pagi menembus jendela ruang tengah yang kini kosong dari hiruk-pikuk suara Bu Ratri atau rengekan Fira. Ze terbangun dengan mata sembap, masih meringkuk di lantai. Dinginnya ubin menyadarkannya bahwa ia nggak sedang bermimpi. Mereka benar-benar udah pergi. Ze bangkit, membersihkan sisa air mata di pipinya. Ia berjalan ke dapur, menyeduh kopi hitam tanpa gula. Pahitnya kopi itu terasa lebih jujur daripada semua janji manis Arif selama ini. Pintu depan diketuk. Ze mengernyit. Siapa yang bertamu sepagi ini? Begitu pintu dibuka, sosok pria dengan kemeja rapi berdiri di sana, Jeva. "Mas Jev? Kok pagi-pagi udah ke sini?" Ze merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Jeva menatap Ze dengan pandangan yang sulit diartikan. Jeva juga melihat ruang tamu yang kacau dan wajah Ze yan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD