Campus

1261 Words
Geng SeNSa! Ya itula nama geng yang seketika menjadi buah bibir di salah satu universitas terbaik negara ini, khususnya fakultas hukum. Bagaimana tidak? Tiga dara cantik juga modis membuat kaum lelaki melotot saat mereka lewat. Sebagai mahasiswi baru di kampus itu, juga berada di jurusan dan kelas yang sama. Kemana-mana selalu bertiga. Seline, Nadine dan Sandra. Nama ketiga gadis itu. Seline yang berambut lurus sepunggung memiliki wajah manis juga cantik, Nadine berkulit eksotis dengan rambut ikal sebahu dan Sandra yang tampak cerdas dengan kacamata bergaya yang bertengger di hidungnya. Justin, sesama mahasiswa baru menelan salivanya saat melihat mereka masuk ke kelas. Ketiganya cantik tapi dia telah menjatuhkan pilihan pada Seline. Bagaimana tidak? Wajah yang manis merah merona dengan tubuh yang proporsional itu terlihat sangat pas di pelukannya. Apalagi bibirnya yang selalu dipulas lipstik pink tipis, kissable. Justin selalu memikirkan hal kotor saat melihat Seline. "Selineee ... duduk disini." Panggilnya bersemangat. Seluruh kelas sudah tau Justin menggilai Seline, dia selalu menyiapkan tiga bangku kosong di sampingnya. Justin berwajah tampan juga atletis, sayang dia tidak tau kalau Seline telah menjadi seorang nyonya. Seline tadinya ingin mengatakan status dia, tapi dilarang keras oleh Nadine, "Bagaimana sih?" rutuk Nadine, "Kamu mau dibully?' "Kenapa dibully karena menikah?" tanya Seline lagi polos. "Pokoknya nggak seru aja, lagian ingat pesan papa untuk sementara pernikahan kamu cukup orang-orang dekat yang tau," lanjut Nadine. Dan di sanalah Seline dalam bujuk rayu pemuda yang sangat terlihat mengaguminya. "Justin jangan dekat-dekat Seline!" Omel salah seorang teman sekelas mereka. "Kenapa sih?" kata Justin kesal. "Kamu jangan nodai kesucian Seline dengan kemesumanmu." Sandra itu adalah teman Justin, dia mengenal Justin saat SMA. Dia mengetahui kalau Justin merupakan lelaki badboy yang kerap mempermainkan perempuan, hanya saja Sandra bukanlah tipe yang bisa frontal menegur seseorang, karena itu Nadine yang bertindak. Sementara dalam hatinya Justin berdecak saat matanya memandang Seline lekat. Wajahnya terlihat mengantuk. Kalau dapat Seline aku berhenti nakal. Senyumnya simpul. Eh dia menahan kepala Seline yang maju ke depan dengan sebelah tangannya. "Eh." Seline tersadar rupanya dia mengantuk. "Maaf Justin." "Nggak apa, aku pinjemin tanganku." Nadine dan Sandra menggeleng kasihan melihat usaha Justin. Setelah tidak ada mata kuliah, Justin membelikan ketiga gadis itu minuman dan membayari makanan mereka. Si Justin selalu mengekori mereka kemana-mana. "Jadi belum di gol sama Om Arya?" Ucapan Nadine membuat Seline kesal dan ingin mencubitnya kuat. "Tapi udah kiss," kata Seline dengan sangat pelan, takut ada yang mendengar apalagi si Justin terus memperhatikan mereka. "Enak?" tanya Nadine sekenanya. "Tapi takut." "Takut apa?" tanya Nadine bengong. "Takut pengen terus hihi ...." Seline tertawa. Disusul oleh Sandra dan Nadine. Seline akhirnya menceritakan kalau beberapa minggu yang lalu bertemu mantan Arya di mall, dan bagaimana mantannya memperlakukan dia. "Memang di sini kamu itu jadi orang ketiga darl?" kata Sandra. "Tapi bukan salah kamu sepenuhnya." "Uuhh ...." Erang Seline, mana dia memikirkan hal itu sebelumnya. "Tapi aku harap kamu nggak ngecewain Om Arya. Biar Om Arya nggak menyesal udah ninggalin dia buat kamu." "Gimana caranya?" tanya Seline polos. "Ya harus mengimbangi Om Arya, apalagi kebutuhan biologisnya. Kasian Om Arya udah nikah tapi nggak dapat jatah malam." Nadine menggeleng. Seline memukul Nadine yang ucapannya begitu v****r. "Nadine." "Yang udah nikah di sini siapa? Kenapa bahas ginian masih malu-malu kucing?" "Tapi aku sudah berusaha jadi istri yang baik, menyiapkan makan, mengganti pakaian, pokoknya semuanya." "Kalian pernah berantem?" tanya Sandra. Nadine menggeleng. "Gawat tau, kalau dalam rumah tangga adem-adem aja ibarat sayur tanpa garam hambar." Nadine melanjutkan. "Eh malam ini kamu harus goda om Arya, sebelum terlambat nanti Om Arya cari pelampiasan di luar." "Nadinee ...." Ucapan Nadine itu berhasil membuat mata Seline berkaca. "Udah sih Nadine," tegur Sandra. "Hehe maaf ... maaf." Mereka melihat mobil berhenti di dekat mereka. Seline melambai pada Nadine dan Sandra saat masuk ke mobil itu. Terlihat sosok ala eksekutif muda di balik stir. Arya menjemputnya hari ini dari kampus. "Siapa itu?" Justin bertanya pada Nadine dan Sandra. "Pacar Seline," jawab Nadine judes. Wajah Justin mengeras, sayang dia tak melihat orangnya. Justin bertekad akan menjadikan Seline miliknya. Arya memandangi dari dalam mobil seorang pemuda yang sedang bersama Nadine dan Sandra. "Siapa itu?" Dia tidak tahan untuk menanyakannya "Justin." "Temen di kampus?" Seline mengangguk. "Pacar Nadine atau Sandra?" Entah kenapa Arya sedikit kesal melihatnya berdekatan dengan Seline. "Bukan. Tapi ...." Seline menghentikan ucapannya. "Tapi apa?" "Nggak deh," sahut Seline kikuk. "Lho kenapa begitu?" "Justin suka sama Seline." Gadis itu menjawab pelan. Kata-kata itu membuat hati Arya tercubit, jelas saja. Pemuda itu sepantaran dengan Seline. "Seline suka juga?" Arya bertanya walaupun takut akan jawaban yang akan meluncur dari bibir manis Seline. "Ng-nggaklah, Seline sukanya sama Arya." Arya menoleh cepat kaget mendengar pernyataan itu, selama ini Seline kerap mengatakan dia suka Arya, tapi waktu itu mereka belum menikah. Arya tersenyum simpul dia kegirangan. Aneh sekali dirinya, pikir Arya mengeluh. "Mau nonton?" "Mau." Seline mengangguk cepat. Setelah pulang dari bioskop, mereka mengunjungi rumah Sean. Seminggu minimal satu kali mereka akan datang ke sana. Sebenarnya Seline selalu merengek agar mereka kembali ke rumah itu pada papanya, tapi Sean menolak keras. Sepertinya sedang ada tamu, Arya mendengar suara sedang berdebat. "Papa," ujar Seline langsung berhambur ke dalam. Arya melihat lawan bicara Sean, pria yang sedikit gempal walaupun wajahnya menarik. Fynn, itu adik dari ibu Seline. "Om Fynn," kata Seline takut-takut. "Oh hai Seline, kabarnya kamu kuliah. sekarang." Fynn menatap ke arah Arya sinis, dia selalu membenci Arya karena Sean lebih memilih menyerahkan urusan perusahaan pada Arya ketimbang dia, adik iparnya. Fynn hanya beberapa tahun di bawah Sean. Umurnya awal empatpuluhan, tapi pria itu tak pernah stabil secara ekonomi padahal telah terus di topang oleh keluarga Zumora selama ini. Selalu terlilit hutang, perjudian, n*****a bahkan doyan main perempuan. Arya saja tidak mengira bagaimana Ibu Seline yang cantik dan baik hati itu memiliki saudara seperti Fynn dan ibunya yang dulu pernah mau menjual ibu Seline ke lelaki hidung belang demi membayar hutang. Untunglah Ibu Seline bertemu Sean, kakek dari pihak Seline telah lama meninggal hanya tersisa Nenek dan adik ibunya, si Fynn itu ditambah istrinya  dan anak-anak Fynn yang juga memusingkan kepala dengan gaya hidup yang sangat boros. Mereka selalu datang untuk minta uang ke rumah ini, seakan Sean adalah sumber uang. "Pulanglah Fynn, nanti aku suruh Arya mengurus keperluanmu," sahut Sean dengan nada tinggi. "Cih." Fynn keluar dan saat melewati Arya dia berkata, "Dasar manusia tak tau diuntung." Arya diam saja, memang sudah berkali-kali dia menerima hinaan dan cibiran dari keluarga Ibu Seline. Ketika Fynn dirasa sudah menghilang barulah Sean bersumpah serapah. "Papa, sudahlah." Seline memeluk leher papanya. "Transfer sejumlah uang ke rekeningnya besok Arya," kata Sean. Sekalipun Sean membenci keluarga ibu Seline, terkadang Sean mau tak mau membantu keluarga itu agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar lagi. "Kalian dari mana?" tanya Sean. "Nonton papa." Bibi Suri menghidangkan salad buah dan kue kering untuk cemilan. "Sudah tiga bulan menikah kenapa belum ada tanda-tanda akan memberiku cucu Arya?" Ujar Sean to the point. Gimana mau ada tanda, memang mereka belum memadu kasih sebagai suami istri.'/ Seline diam saja, sambil memakan salad buah dan sesekali menyuapi Arya. Sean tersenyum melihatnya. Sean selalu saja menanyakan cucu, Seline cemberut dibuatnya. Seline bersama perawat membaringkan Sean di atas tempat tidur. "Seline," panggil Sean. "Iya, Pa?" "Jawab yang jujur apa Arya dan Seline telah berhubungan?" Seketika wajah Seline memerah karena malu, bagaimana Sean menanyakan hal privasi seperti itu? Seline menggeleng, dasar si Arya laki-laki bukan sih dia. Bagaimana dia bertahan tanpa menyentuh Seline padahal telah tinggal serumah. "Kata Om Arya, mau pelan-pelan dulu sekarang kami sedang tahap pacaran papa." "Apa itu?" Mau tak mau Sean tertawa mendengarnya. "Tapi papa tidak bisa menunggu lama Seline." "Uhh papa, udah papa jangan khawatir aku juga mau kasih cucu yang banyak." Mereka berdua tertawa Seline mengecup pipi papanya. Perawat Sean seorang laki-laki muda berusia dua puluhan. Dia dan Bibi Suri tinggal di dalam rumah, selain Arya Bibi Suri dan perawat itu juga orang yang Sean percaya. Orang-orang yang telah lulus ujian yang dibuat Sean dan terus dipantau sebelum Sean meletakkan mereka disisinya. Sean pintar membaca sifat seseorang dan dia juga selalu waspada. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD