bc

Good Morning, Uncle!

book_age16+
1.7K
FOLLOW
12.2K
READ
age gap
arranged marriage
drama
sweet
bxg
first love
like
intro-logo
Blurb

(Sudah Tamat)

Arya seorang pria berusia menjelang 26 tahun dewasa dan penggila kerja mendadak harus mengikuti keinginan terakhir abang angkatnya. Keinginan yang membuat dia menggila bagaimana tidak keinginan itu adalah menikah dengan putrinya Seline yang berusia belum genap 18 tahun, gadis yang selalu dia anggap dan perlakukan sebagai keponakannya. Yang belum dewasa, manja dan posesif, setidaknya begitulah Arya melihatnya selama ini.

Belum lagi keluarga ibu Seline yang selalu menekannya dan berusaha mempengaruhi Seline untuk membencinya karena berusaha menguasai harta warisan papa Seline. Hidup Arya yang selalu tenang dan damai berubah menjadi kacau balau, seakan belum cukup Seline yang mulai bertransformasi menjadi wanita dewasa mulai menghantui Arya sebagai lelaki normal untuk segera menyentuhnya.

chap-preview
Free preview
A Promise
Suasana di rumah itu tampak lengang seakan penghuninya tidak berada di dalam. Rumah berwarna putih yang besar dengan pekarangan luas juga rapi terawat. Tanaman di sekeliling juga terlihat apik dengan bunga-bunga bermekaran. Di Kamar utama, seorang pria berusia empat puluhan terbaring di peraduan sedang tertidur. Suara nafasnya nyaris tak terdengar, bahkan kalau ada yang melihat, pasti mengira pria itu telah mati karena wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang kurus. Seketika pria itu melotot dan menggulingkan tubuhnya, dia terjatuh dari tempat tidur. "Papaaaa!!!!" Teriakan histeris gadis berusia menjelang delapan belas menggetarkan dinding. Sambil terisak gadis itu berusaha mengangkat tubuh papanya yang terjatuh dari tempat tidur. Perawat yang sedang keluar mengambilkan makanan tergopoh-gopoh kembali ke kamar utama dengan wajah memucat, karena khawatir bukan karena takut. Dengan susah payah mereka berdua mengangkat tubuh pria itu, membaringkan kembali ke atas tempat tidur. "Papaaa ...." Isak gadis itu, air mata mengalir dari kedua matanya yang bening. Mengalir lebih lambat di pipi yang ranum dan merah. "Panggil Arya," bisik pria itu lirih kepada sang perawat. Ya sejak dua tahun yang lalu Pria bernama Sean Saka Zumora itu lumpuh dari pinggang ke bawah akibat kecelakaan. Pria itu tersenyum lemah melihat gadis cantik di hadapannya, oh lihatlah betapa mirip dia dengan mendiang istrinya. "Putriku yang cantik." Dia membelai pipi yang lembut dan basah itu, hatinya terasa sesak. Sudah lama ditinggal ibunya, sekarang dia akan ditinggalkan ayahnya begitulah kepedihan yang dirasakan oleh Sean. "Papa, Seline lulus, Pa," bisik gadis itu, Seline Amaryllis Zumora. Masih mengenakan pakaian seragam putih abu-abunya. Nama Amarilis tersemat menjadi nama tengahnya karena istri Sean sangat menyukai bunga itu, begitu pun taman mereka yang penuh ditanami bunga Amarilis dengan berbagai warna. "Papa tau, anak papa sangat pintar dan cerdas." Terdengar suara langkah tergesa menuju kamar. "Bang Sean!" Teriak pria muda itu menghampiri tempat tidur. "Om Arya, papa jatuh," rintih Seline pelan. "Bang ... abang nggak apa? Kita bawa ke rumah sakit aja," ujar pria itu panik. Pria yang dipanggil Arya tadi sedang meeting di kantor, saat asisten rumah tangga Sean menelponnya. Dia mengakhiri meeting dan bergegas ke kediaman keluarga Zumora. "Arya." Sean menggeleng, dia mencengkram tangan Arya kuat. "Ya, Bang." Pedih hati Arya melihat Sean dalam kondisi demikian, sejak kecelakaan terkutuk itu, Sean yang dulunya seorang yang gagah dan penuh semangat mendadak tak bisa berbuat apa-apa. Sebagian waktunya dihabiskan di atas tempat tidur. Sesekali kalau cukup sehat dia akan berjalan-jalan dengan kursi roda. Sean butuh orang lain untuk menopang dia. Sean, pemilik perusahaan Zumzum Corporation yang bergerak di bidang ekspor hasil laut terbesar di kota ini, hasil perjuangan dengan darah dan air mata hingga perusahaan seperti saat sekarang. Perjuangan Sean sama sekali tidak mudah, hanya Arya yang tahu karena sedari remaja mengikuti pria itu. "Arya, dengarkan ini keinginanku." Sean memerintahkan agar perawat dan asisten rumah tangganya keluar dari kamar. Hanya tertinggal Sean, Seline dan Arya. "Ya bang, pasti bang." Mata Arya mulai berkaca. Sejak peristiwa kecelakaan yang menimpanya, Arya dipercaya oleh Sean untuk menjalankan perusahaan. "Menikahlah dengan Seline." "Papa ...." Seline terpekik kaget mendengar ucapan papanya. Begitupula dengan Arya yang tak kalah kaget, dia sampai tak bisa berkata apa pun. "Bang. Itu tidak mungkin jangan lakukan ini," sahut Arya lirih. "Arya, aku bisa mati setiap saat. Aku ingin kau menjaga Seline." "Bang, aku pasti akan menjaga Seline. Sekali pun tidak kau minta." "Tidak! Arya, kalian harus menikah, aku tak percaya keluarga Ibu Seline. Kalau aku mati mereka akan menghancurkan Seline, mereka semua gila harta Arya, kau sudah lihat bukan perbuatan mereka dulu pada ibu Seline." Sean menggeletukkan giginya dengan amarah. "Hah! Aku tak peduli harta, aku tak ingin mereka menganiaya Seline. Mereka kejam Arya, kau tau itu." Seline menangis lagi, sampai sesenggukan. "Seline kemari sayang." Seline terduduk di lantai, matanya nanar memandang Arya. "Om Arya." Begitulah dia selalu bermanja pada pria itu. Om Arya memang begitu tampan juga perhatian, tapi bukankah dia terlalu dewasa untuk Seline? Umur mereka terpaut cukup jauh, delapan tahun. "Mendekat sayang papa, Seline." Seline mendekati papanya, masih berurai air mata seakan stock air di mata Seline begitu banyak. "Setelah papa tiada ...." "Tidak papa jangan katakan itu." Seline terisak. "Hanya Arya satu-satunya orang yang bisa Seline percayai. Seline mau kan menikah dengan Arya? Ini keinginan papa." "Tapi pa ...." Seline berkata lirih. "Bang, jangan lakukan ini. Kau pasti akan sembuh." Arya berkata dengan frustrasi. "Diamlah Arya, aku tau kondisiku sampai sejauh ini. Aku menunggu Seline lulus." Sean terengah. Arya menjambak rambutnya sendiri, bingung dengan kondisi ini. "Seline, mau kan? Demi papa, Nak. Memang papa meminta Seline menikah dengan pria pilihan papa, karena papa tau itu yang terbaik untuk Seline." "Papa ...." Air mata Seline mengalir, memandang lagi ke arah Arya yang sama frustasinya dengan dia. Seline gadis yang tegar, sekalipun dia kerap manja pada dua lelaki di hadapannya ini, dia bukanlah gadis yang lemah. Dia yakin bisa menjaga dirinya sendiri, Seline masih punya cita-cita, dia ingin berkuliah kemudian bekerja mengejar karir. Kenapa papa memintanya menikah? Seline memandangi wajah papanya, kondisi yang sangat menyedihkan. Lemah juga tak berdaya. "Ya papa, Seline ... Seline mau ...." Sean mengusap rambut anaknya itu, "Papa yakin Seline akan bahagia bersama Arya. Biar papa siap meninggalkan Seline sayang." "Papa---" "Arya bersumpahlah." "Bang, jangan seperti ini." Bibir Arya bergetar. "Bersumpahlah Arya!" Sean menaikkan intonasinya. "Baiklah bang, aku bersumpah. Aku akan menikahi dan menjaga Seline," ujar Arya nyaris berteriak. Dia sangat bingung mendengar permintaan yang tak masuk akal itu. "Terimakasih Arya, Arya kemarilah." Sean menggenggam tangan Arya dan menyatukannya dengan tangan Seline. "Seline keluar dulu ya, sayang. Ada yang ingin papa obrolkan dengan Arya." Seline melepaskan tangannya dan berjalan keluar dengan sangat pelan. Dia masih terisak. "Bang ...." "Cukup Arya masalah ini sudah selesai, aku akan meminta orang mengurus akad nikah kalian secepatnya selagi aku belum mati." "Berhentilah bicara tentang kematian. Kenapa abang harus melakukan ini?" "Di dunia ini hanya kau yang aku percaya Arya." Arya memejamkan matanya. "Tapi bukan begini caranya." "Yang penting kalian telah menikah dan tercatat, tidak perlu resepsi untuk saat ini, agar manusia-manusia jahat itu tidak tau. Aku tau mereka ada di belakang kecelakaanku tapi aku tak punya bukti kuat." Sean terengah lagi. Arya mengambilkan minumannya. "Seline bagian jiwaku, dia juga seluruh hartaku akan aku serahkan padamu." "Ya Tuhan, Banggg ...." Arya bergetar. "Ya, Arya." "Bang ... jangan begini. Jangan memberiku beban yang tak sanggup aku tanggung. Bagaimana seandainya aku berubah?" "Kalau begitu aku akan bangkit dari kubur dan menghantuimu. Cam kan itu, Arya." "Bang ...." Mata Arya mulai panas. Sean tertawa, "Arya ... Arya ... kau masih saja cengeng ... seperti anak perempuan. Mana ada yang mengira pemuda gagah sepertimu hobby sekali menangis." "Aku tidak menangis." Arya berkata kesal. "Alahh pertama kali kita bertemu saja kau sedang menangis." "Itu sudah lama sekali. Bang, bisa cabut permintaanmu itu. Mana mungkin aku memperistri Seline." "Kenapa tidak mungkin?" "Aku selalu menganggapnya sebagai keponakanku, lagipula dia masih terlalu muda. Aku takut menyakitinya." "Buat dia jatuh cinta padamu Arya, masa harus kuajarkan. Lagipula bagaimana kau menyakitinya, menyakiti jangkrik saja kau tak sanggup." "Bang ...." "Kau sudah bersumpah. Besok aku akan bertemu dengan pengacara untuk peralihan seluruh aset kepadamu." Arya tersungkur di lantai, kenapa Sean begitu mempercayainya. Orang asing seperti dia. Arya tak sanggup lagi berpikir. "Sudah pergilah, aku mau istirahat." Tutup Sean itu pertanda dia tak bisa lagi dibantah. Arya menutup pintu itu pelan. Kepalanya sangat sakit. "Om ...." Panggilan itu lirih dari arah ruang makan. "Seline." Gadis yang begitu kecil, selama ini Arya menganggapnya sebagai anak kecil. "Om, apa kita akan menikah?" Pertanyaan itu bagai panah menghujam langsung ke ulu hati Arya. "Kenapa kamu mengiyakan permintaan papamu, Seline?" "Uhh ... a-aku harus gimana?" Benar juga pertanyaan itu bodoh sekali, Arya saja tidak berkutik menghadapi Sean. Arya duduk di depan Seline, "Kamu nggak mau menikah dengan aku?" "Uhh ... bukannya gitu, eh ...." Arya menggenggam tangan gadis kecilnya itu, "Sudahlah tidak usah dipikirkan ya." Seline mengangguk, terhipnotis dengan pandangan teduh Arya. *** Arya menyesap Americano-nya. Dia sudah setengah jam duduk di tempat itu. Biasanya dia yang terlambat, tapi hari ini dia sengaja datang lebih awal. Memikirkan kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada seseorang yang dia tunggu. Dari kejauhan dia melihat sesosok wanita dengan blazer pastel dan celana senada juga heels berwarna kulit memasuki pintu cafe. Senyum terhias dibibir wanita itu saat melihat Arya di sudut cafe. Wanita itu memanggil waitress dan memesan Melon Juice pure tanpa gula. "Katakan dalam rangka apa ini? Tumben sekali mengajak bertemu di hari kerja," katanya sumringah. "Biasanya aku sangat sulit bertemu denganmu." Wanita itu menopangkan dagunya ke tangan. Arya bingung harus berkata apa, dia rasa wajahnya benar-benar datar saat ini. "Gaya." "Ya, Hun." Begitulah wanita itu memanggilnya, sudah satu setengah tahun ini mereka berpacaran. Arya menghela nafas. "Kenapa, sih?" Senyum di wajah Gaya mulai menghilang, berganti dengan kerutan di keningnya. "Kita putus." Akhirnya Arya mengatakan itu. "Apaa??!!!" Gaya berteriak keras, membuat pengunjung cafe menoleh ke arah mereka. "Kamu serius? Apa maksudnya ini?" Dia berkata gusar. "Ini salahku sepenuhnya." "Sh*t! Jadi jelaskan? Jangan bilang kalau kamu sedang ingin sendiri, aku bukannya bodoh Arya!" Waitress yang mengantarkan pesanan ke meja mereka sedikit bergetar mendengar keributan itu. Tapi dia berhasil meletakkan jus melon tanpa tumpah. "Gaya, kumohon mengertilah." "Are you insane? Kenapa minta aku mengerti sementara aku tidak tau apa yang sedang terjadi." Gaya mulai menjerit, hilang sudah sikap anggun yang selama ini dia jaga. "Ini salahku, kamu boleh memaki dan membenciku." Gaya bangun dari kursinya, "Kamu bilang mau menemui orang tuaku kemarin, sekarang kamu mau putus? Apa kamu takut komitmen?" "Gaya, please ... duduklah." "Katakan sesuatu yang masuk akal, kalau tidak aku tidak mau!" Gertak Gaya dengan mata yang membulat. "Aku akan menikah." "Fu*k." Gaya mengeluarkan makian dan sumpah serapah, pengunjung cafe mulai berbisik. "Apa kamu menghamili perempuan lain?" "Bukan seperti itu." Memang harusnya Arya tidak mengajak Gaya bertemu di tempat ini, tapi kalau di apartemennya bisa-bisa dia tidak akan bisa memutuskan gadis ini. "Trus? Kamu dijodohkan? Hellow kamu nggak punya keluarga seingatku!" kata Gaya ketus. Arya diam sejenak. "Aku ...." Plak!!! Gaya menamparnya, "b******n!" Gadis itu pergi sambil berlari. Memang tepat memutuskan Gaya di tempat ini, dia pasti tak akan merendahkan dirinya untuk meminta penjelasan lebih lanjut dari Arya. Harga diri Gaya sangat tinggi. Arya merenung, dia merasa berdosa telah menyakiti hati Gaya. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Everything

read
283.6K
bc

Undesirable Baby (Tamat)

read
1.1M
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.7K
bc

Accidentally Married

read
110.3K
bc

CEO and His Cinderella

read
56.7K
bc

UN Perfect Wedding [Indonesia]

read
80.3K
bc

MANTAN TERINDAH

read
10.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook