Little Girl

1419 Words
"Aaaaaaaaa!!!!!!" Seline menjerit keras. Membuat dua orang sahabatnya Sandra dan Nadine terlonjak kaget. "Kenapa sih, teriak-teriak gitu?" rutuk Sandra, mereka sedang berada di kamar Seline yang didominasi warna hijau juga strawberry. Ya, Seline tergila-gila pada strawberry dan warna hijau. Seluruh produk body care-nya wangi strawberry, jadi bisa dibayangkan bagaimana manisnya wangi kamar itu. Memang rumah Seline selalu menjadi tempat nongkrong ternyaman bagi Sandra dan Nadine sepulang sekolah. Mereka telah lulus saat ini dan sedang menunggu pembagian ijazah. "Cepetan bilang kalau nggak aku pecat dari Geng SeNSa," omel Nadine "SeNSa tanpa Seline hanyalah NSa," ejak Seline sambil menjulurkan lidahnya. Mereka mengikrarkan diri sebagai Geng SeNSa yang merupakan singkatan dari nama Seline-Nadine-Sandra. Sangat ABG sekali bukan? "Jangan bikin kami mati penasaran." Nadine dengan kejam melempar Seline dengan bantal strawberry. "Sepertinya aku akan menikah," ucap Seline seraya melebarkan mata. "Apa?!!!" Nadine dan Sandra berteriak bersamaan. "Jangan halu, darl!" "Beneran ini. Papaku yang minta." "Whoaat??? Terus calonnya sapa?" Sandra membulatkan bibirnya. "Om Arya." Mata Seline berbinar ceria. Nadine dan Sandra berpandangan, kemudian berteriak lagu secara bersamaan. "Noo!!!!" keluh Nadine, "Aku nggak rela, Om Arya ... pangerankuuu." Nadine meraung. "Sstt ... sttt ...." Seline memukuli Nadine. "Nanti ada yang denger gimana?" Siapa juga yang dengar? Kamar Seline berada di lantai dua, sedangkan kamar ayahnya berada di lantai satu. Seline menceritakan keinginan papanya pada dua sahabatnya itu, mereka sudah lama bersahabat dan selalu berbagi cerita. Sejenak Seline sedih karena papanya bilang itu jadi keinginan terakhirnya. Tapi Seline yakin sekalipun dengan kondisi seperti itu, papanya tidak akan meninggalkan dia dengan cepat. Seline hanya perlu banyak berdoa dan memperhatikan papa. "Om Sean curang, harusnya kita bersaing secara sehat." Nadine merengek lagi. Ya mereka bertiga memang gadis remaja labil, tapi mereka paham sekali bagaimana sosok pria dewasa tampan seperti pangeran di film-film. Saking seringnya mereka nongkrong di rumah Seline, tentu mereka tahu bagaimana sosok Om Arya itu, Om Arya kerap datang ke rumah Seline untuk urusan pekerjaan atau pun sekedar berkunjung saja. Om berkaki panjang yang baik hati, selalu menuruti keinginan mereka. Pokoknya kalau ada Om Arya, kesempatan minta apa pun pasti dikabulkan. Pria penyayang, perhatian, aih pokoknya tipe pria dewasa idaman, cowok-cowok di sekolah mereka sih lewat. "Sorry ayang-ayangku." Seline memasang wajah sedih yang dibuat-buat. Hmm ... sebenarnya sejak lama Seline telah berpikir, kalau menikah suaminya haruslah orang seperti Om Arya, dia terkikik mengingat bagaimana dia bisa punya pemikiran seperti itu di otaknya. Bagaimana tidak? Dia selalu berkeliaran di sekitar pria itu sejak masih kecil, sekalipun umur mereka terpaut jauh tapi Seline merasa Om Arya sosok yang mengayomi. Bahkan nilai Om Arya di banding papa masih menang Om Arya, soalnya papa sering marah dan sedikit otoriter. Karena itulah Seline mengiyakan saat papanya meminta dia menikah dengan om Arya. Hanya saja terlalu cepat, dia pikir dia akan menikah setelah lulus kuliah. "Terus kalau udah nikah, kuliah nggak? Kan kita janji mau kuliah bareng." tanya Sandra. Astaga! Seline melupakan hal itu. Dia tentu ingin kuliah, tapi seandainya nanti dia menikah dengan Om Arya, apa dia masih boleh kuliah? "Hah? Aku tak memikirkan itu." Seline menjawab ragu. "Ya ampun Seline." Sandra menggeleng. "Hei Seline, tapi apa bener kamu bakal cocok jadi istri Om Arya?" tanya Nadine. "Uhh memangnya kenapa Nadine? Kamu marah, ya?" "Bukan gitu. Om Arya itu kan pria dewasa, sedangkan kita, eh kamu belum ngerti gimana pacaran gaya orang dewasa. Gimana kalau Om Arya masih nganggep kamu anak kecil coba?" "Om Arya nggak akan begitu," keluh Seline. Tapi di dalam hati dia tau yang dikatakan Nadine benar adanya. "Ih kamu, aku baca diary kakakku, mereka aja pacaran udah sampe tahap ehm ... " lanjut Nadine lagi. "Nadine, kamu jadi m***m ih." "Ya ampun Seline, katanya kamu mau nikah, masa bahas beginian aja mukamu udah kayak kepiting rebus. Gimana malam pertama nanti coba?" "Nadineee ...." "Tapi Nadine ada benernya loh." Sandra menimpali. "Memang Om Arya selalu baik dan perhatian di depan kita. Tapi itu karena dia nganggap kita masih kecil. Kita nggak pernah tau gimana sikapnya dengan wanita dewasa." Seline terpekur, memikirkan ucapan kedua temannya. "Kita harus membuntuti Om Arya, seminggu lagi kalian akan dinikahkan. Memang kamu nggak mau tau sepak terjang calon suamimu?" "Tapiii ...." "Gimana kalau dia selingkuh sama wanita dewasa? Atau dia punya pacar dan nanti kamu diduain pas kalian udah nikah?" Nadine menakut-nakuti, semakin membuat Seline resah. "Uuh Nadine, jangan bilang gitu," rengek Seline. "Liat ... liat ... kelakuan seperti ini mau jadi istri Om Arya?" "Nadineee ... Sandra belain aku dong." Seline memohon sambil mengerjabkan matanya. "Tapi, omongan Nadine ada benernya loh, darl. Aku setuju kalo kita buntuti Om Arya mulai besok." Seline menarik nafas dan menghembuskan pelan, sebelum akhirnya mengangguk, mereka kemudian membuat jadwal rencana stalking Om Arya. Dimulai dari akun media sosialnya. *** Geng SeNSa benar-benar serius dengan misinya membuntuti sosok pria tampan yang saat ini berada di kantor Zumzum Corp. Ya, itu kantor papa Seline. "Aih bosan," ujar Seline, mereka telah menunggu sejak jam pulang kantor tapi tak ada tanda-tanda Om Arya akan keluar. Nadine memukul bahunya pelan. "Demi masa depan kamu, darl. Kamu harus bertahan." Tampaknya Nadine yang lebih bersemangat menjalankan aksi labil ini, keluh Seline. "Sandraa ...." panggil Seline. Sandra yang menyetir mobil saat ini. "Kita pulang saja, ya?" "Heii itu Om Arya!" pekik Nadine. Mengabaikan ucapan Seline. Mereka melihat Om Arya menuju mobilnya di parkiran gedung. Kantor Zumzum dijaga oleh security jadi yang tidak berkepentingan tidak diizinkan masuk. Tampaknya security itu juga masih baru, jadi bisa dipastikan dia tidak akan mengenali wajah Seline. Terutama Seline memang jarang datang ke perusahaan sejak papanya sakit. Dulu dia datang beberapa kali untuk makan bersama papanya. Mobil Arya meninggalkan kawasan industri dan menuju pusat kota. Tanpa pria itu menyadari mobil berwarna putih dengan tiga orang remaja di dalamnya membuntuti dari belakang. Arya memarkir mobil di parkiran mall. "Ngapain Om Arya nge-mol?" Kata Seline tanpa sadar. Jangan bilang kalau dia ada kencan dengan seseorang. Seline sedikit banyak merasakan kecemasan juga. "Ayo cepat." Nadine berkata. "Roger ... roger ... Om Arya masuk ke toko jewelry." Deg! Jantung Seline berdegup kencang. Kemudian Om Arya meninggalkan mall dengan ketiga gadis yang masih mengekorinya. Om Arya masuk ke Mou Couture. Sebuah butik ternama yang terkenal ahli men- design pakaian bridal eklusif. "OMG! Ternyata Om Arya persiapan buat nikahan kalian darl! Huhuu cemburu buta aku," kata Nadine. "Sudah yuk, kita pulang aja," ucap Seline lemah. "Kenapa darl, kamu malah sedih?" tanya Sandra. Seline menggeleng, "Cuma lelah." "Kita makan sushi dulu gimana? Habis itu baru kita balik," ajak Sandra diiyakan dengan cepat oleh Nadine. Seline merasa ada rasa sedih menelusup hatinya, setahu dia dari film-film yang ditonton, calon mempelai wanitalah yang paling banyak berperan dalam menyiapkan segala sesuatunya saat merencanakan pernikahan. Walaupun karena kondisi ini mereka hanya akan melangsungkan akad nikah tanpa resepsi, tetap saja Seline merasa sedih. Seline lebih banyak diam sepanjang perjalanan pulang. Mereka bertiga disambut Bibi Suri, asisten rumah tangga Seline yang telah menyiapkan makan malam. Juga perawat papa yang mendorong kursi roda papanya. "Papa." Seline memeluk papanya. "Dari mana saja Seline-nya papa?" Sean tersenyum menyambut putrinya juga teman-temannya. "Ayo makan, sebentar lagi Arya datang." Deg! Jantung Seline berdetak lagi. "Kami udah makan, Pa," sahut Nadine. Nadine dan Sandra memanggil Sean dengan sebutan papa juga, karena mereka telah sangat dekat seperti keluarga. "Makan apa tadi?" Sean bertanya lagi. "Sushi." "Memangnya kenyang makan sushi saja? Pantes kalian kurus-kurus," ejek Sean sambil tersenyum. "Uuh papa ini." Seline cemberut. "Oke deh paaa, kami makan lagi. Cuma makan urusam mudah ..." Nadine berkata sambil tertawa. "Bibi bikin puding loh kalo non-non semua nggak mau makan nasi, makan puding saja," timpal Bi Suri. "Asyikkk," sahut Seline. Dia kembali terlihat ceria. Mereka duduk di meja makan, Seline dengan telaten menyiapkan piring papanya. Sekalipun ada Bibi Suri, Seline yang selalu menyiapkan makan Sean karena dia ingin papanya gembira, melihat putrinya begitu menyayangi dan senang mengurusi keperluannya. Seline sangat sayang papanya, tentu saja. "Hemm sudah cocok jadi calon istri," ledek papanya. "Papa." Wajah Seline merona merah. Nadine dan Sandra tertawa geli. "Apa kalian sudah diberitahu?" tanya Sean pada kedua sahabat anaknya itu, mereka mengangguk. "Pesan papa kalian bertiga tetap akur seperti sekarang ini, ya?" "Siap pah." jawab mereka serentak. Kemudian ruangan itu dipenuhi suara tawa, sesekali suara sendok berdenting. "Nah, itu Arya sudah datang," ujar Sean. "Wah rame." Arya tersenyum. Dia membawa gaun yang terbungkus cover, disampirkan di bahunya. Seline tahu gaun apa itu. Bibi Suri mengambil gaun bercover itu kemudian membawa ke kamar tamu. Tempat Arya biasanya tidur kalau menginap di rumah mereka. Arya bergabung bersama mereka di meja makan. "Seline, siapin makanan buat Arya," perintah Sean. "Papa." "Bang." Arya dan Seline berkata serentak. Kemudian mereka diam sambil menghela nafas, Nadine dan Sandra saling melihat, ingin tertawa tapi ditahan. "Lusa kalian menikah masa masih malu-malu seperti itu." "Eh lusa?!!!" jerit Seline. Tampaknya Arya sudah tahu karena dia tidak lagi kaget saat mendengar pernyataan Sean. "Iya, urusan dengan KUA dan lain-lain sudah beres. Semakin cepat semakin tenang papa." Seline melirik takut-takut ke arah Arya, syukurlah wajah Arya terlihat tenang dan tak terlihat tanda penolakan. Hanya saja itu membuat jantung Seline berdetak semakin cepat. Lusa?!! Kenapa cepat sekali? Seline menjerit dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD