BAB 2 Amarah Sang CEO

341 Words
Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar kamar utama. Namun, bagi Maya, tak ada kehangatan sedikit pun di dalam hatinya. Ia terbangun di ranjang mewah itu sendirian. Sisi lain ranjang tetap rapi, seolah seseorang tidak pernah berbaring di sana. Arka bahkan tidak kembali semalam. Dengan langkah berat, Maya turun dari tempat tidur. Tubuhnya masih terasa lemah akibat semua tekanan emosional. Ia melirik gaun pengantin yang tergantung di sudut ruangan—simbol pernikahan palsu yang menyeretnya ke dalam hidup penuh ketidakpastian ini. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan keras. Maya tersentak. Arka masuk, wajahnya gelap dan penuh amarah. Jas kerjanya sempurna, tapi matanya merah seperti menahan marah sepanjang malam. Tanpa berkata apa-apa, Arka melemparkan sebuah berkas ke arah Maya. Kertas-kertas itu beterbangan di lantai, berhamburan. "Ini kontrak pernikahan," ucapnya dingin. "Baca dan tanda tangan." Maya membungkuk, memungut lembaran-lembaran itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak saat membaca isinya: perjanjian suami-istri tanpa hubungan fisik, tanpa hak atas harta, dan larangan mencampuri urusan pribadi satu sama lain. "Kenapa... sekejam ini?" Maya berbisik, matanya berkaca-kaca. Arka mendengus sinis. Ia melangkah mendekat, hingga Maya bisa merasakan hawa dingin dari tubuh pria itu. "Karena kau pembohong," desisnya. "Kau pikir aku ini bodoh? Aku tahu kau bukan Maira." Maya tertegun. Tubuhnya kaku. "Tapi karena perjanjian bisnis ini terlalu besar untuk dibatalkan, aku akan memainkannya sesuai caraku," lanjut Arka, suaranya semakin dingin. "Tanda tangan, atau aku pastikan hidupmu lebih buruk dari neraka." Air mata Maya menggenang, tapi ia menahannya dengan sekuat tenaga. Perlahan, ia mengambil pena yang disodorkan Arka. Dengan tangan bergetar, ia membubuhkan tanda tangannya. Saat pena meninggalkan kertas, Maya merasa seperti baru saja mengunci dirinya sendiri di dalam penjara yang tak terlihat. Arka mengambil kembali kontrak itu tanpa ekspresi. "Mulai sekarang, jangan pernah muncul di hadapanku kecuali aku yang memanggil," katanya, sebelum berbalik pergi meninggalkan Maya yang berdiri membeku di tengah kamar mewah itu. Begitu pintu tertutup, Maya jatuh berlutut, menahan tangis. Di dunia yang penuh kepalsuan ini, Maya tahu satu hal: Dia harus bertahan. Dia harus menemukan jalan keluar dari semua ini. Atau... dihancurkan selamanya. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD