BAB 3 Benteng Dingin

328 Words
Sudah tiga hari sejak pernikahan mereka. Tiga hari penuh keheningan dingin di dalam rumah mewah milik Arka Mahendra. Tiga hari Maya merasa dirinya seperti hantu—tak terlihat, tak dianggap. Maya menjalani harinya dalam diam, berusaha tidak mengganggu pria itu. Setiap pagi, ia bangun lebih awal untuk sarapan sendiri di ruang makan yang luas dan kosong. Setiap malam, ia tidur sendirian, sementara Arka entah di mana—mungkin di ruang kerja atau bahkan tidak pulang. Namun hari ini berbeda. Saat Maya berjalan melewati ruang tamu, ia tak sengaja berpapasan dengan Arka. Pria itu baru pulang, jasnya kusut, dasi longgar tergantung di leher. Wajahnya tampak lelah, namun tetap memancarkan aura dingin yang menakutkan. Mereka sama-sama terdiam beberapa detik. Maya langsung menunduk, hendak pergi, namun langkahnya dihentikan oleh suara berat Arka. "Berhenti." Maya mematung. Arka menatapnya tajam, seolah kehadirannya mengganggu. "Apa yang kau lakukan di sini? Berkeliaran seperti bayangan," cibir Arka. Maya mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, menahan sakit hati. "Aku hanya ingin mengambil air minum," jawabnya pelan. Arka mendengus. "Kau pikir ini rumahmu? Jangan bertingkah seolah kau punya hak di sini." Maya mengangkat wajahnya perlahan. Untuk pertama kalinya, matanya menatap mata Arka dengan berani, meski suaranya tetap gemetar. "Aku tidak pernah berpikir begitu," katanya lirih. "Aku tahu tempatku." Arka terdiam sejenak, seolah kaget melihat keberanian kecil itu. Tapi detik berikutnya, ekspresinya kembali dingin. "Bagus," katanya singkat. Tanpa berkata apa-apa lagi, Arka berjalan melewatinya, sengaja menyenggol bahu Maya dengan kasar. Maya menahan napas, matanya terasa panas. Tapi ia menegakkan punggungnya, menolak membiarkan air mata jatuh. Saat Arka menghilang di tangga menuju lantai atas, Maya bergumam dalam hati: Aku tidak akan menyerah. Aku akan bertahan, apa pun yang terjadi. Namun di lantai atas, di balik pintu kamarnya yang tertutup, Arka berdiri lama, menatap kosong ke arah lorong. Ada sesuatu tentang gadis itu... sesuatu yang mulai mengusik pikirannya. Dan itu membuatnya semakin marah. Pada Maya. Pada dirinya sendiri. Karena Arka Mahendra tidak pernah membiarkan dirinya peduli pada siapa pun. Apalagi wanita pengganti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD