Malam turun dengan sunyi yang menyesakkan.
Maya duduk di sisi ranjang besar itu, mengenakan gaun tidur sederhana berwarna putih. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena gugup menghadapi suami, melainkan karena ketakutan menghadapi penghinaan yang mungkin akan datang.
Pintu kamar terbuka dengan suara berat.
Arka masuk.
Maya langsung berdiri, refleks.
Namun pria itu hanya meliriknya sekilas, sebelum berjalan melewati Maya begitu saja seolah ia tak ada.
Tanpa sepatah kata pun, Arka membuka lemari pakaian, mengambil piyama hitam, lalu masuk ke kamar mandi. Suara air mengalir memenuhi keheningan, membuat Maya berdiri kaku dalam kecanggungan.
Beberapa menit kemudian, Arka keluar. Rambutnya masih basah, tetesan air membasahi leher kokohnya. Ia berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar dan melemparkan tubuhnya di sana.
Maya menatapnya, bingung.
"Arka... kamu tidak mau tidur di ranjang?" tanyanya hati-hati.
Arka mengangkat wajah, menatapnya dengan pandangan dingin penuh kebencian.
"Ranjang itu milikmu," katanya dingin. "Aku tidak sudi tidur di sebelah pembohong."
Kata-katanya menusuk lebih dalam daripada cambukan. Maya menunduk, menahan napas.
"Aku minta maaf," gumam Maya, suaranya hampir tak terdengar.
Arka tertawa kecil, getir. "Maaf? Kau pikir kata maaf bisa memperbaiki semuanya?"
Maya menggigit bibirnya, air mata menggenang di sudut matanya, tapi ia cepat-cepat memalingkan wajah, menolak menunjukkan kelemahannya.
"Jangan pernah berharap apa-apa dariku, Maya," lanjut Arka, suaranya tajam. "Aku tidak akan pernah menyentuhmu. Tidak akan pernah."
Maya mengangguk pelan, menerima takdir pahit itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia naik ke ranjang dan berbaring memunggungi Arka.
Air mata mengalir tanpa suara, membasahi bantal mewah di bawah pipinya.
Di sudut kamar, Arka memejamkan mata di sofa, mencoba mengabaikan suara isakan kecil yang memenuhi ruangan.
Namun, dalam hatinya yang keras, ada sesuatu yang berdenyut. Sebuah rasa bersalah yang enggan diakui.
Tapi ia membungkus dirinya dengan kemarahan.
Ia tidak boleh peduli.
Tidak kepada wanita ini.
Tidak kepada siapa pun.
Karena bagi Arka Mahendra, cinta adalah kelemahan. Dan kelemahan adalah kehancuran.
Malam itu, mereka tidur dalam satu ruangan.
Namun rasanya...
Lebih dingin daripada kutukan.
---