Keesokan paginya, Maya turun ke ruang makan dengan langkah hati-hati.
Hari ini, keluarga besar Arka datang untuk sarapan bersama — tradisi keluarga Mahendra setiap bulan pertama setelah pernikahan anggota keluarga.
Dan hari ini, Maya tahu, dia harus menghadapi mereka. Sendirian.
Saat Maya memasuki ruang makan yang megah itu, semua kepala langsung menoleh.
Ada belasan orang di sana — paman, bibi, sepupu Arka — semuanya berdandan rapi dan tampak angkuh.
Dan di ujung meja, duduk seorang wanita paruh baya dengan aura berwibawa: Bu Ratna Mahendra, ibu Arka.
Maya membungkuk hormat. "Selamat pagi, Ibu, Om, Tante..."
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya desisan kecil dan tatapan mencemooh.
Maya menggigit bibirnya, menahan rasa malu.
Ia berjalan ke kursi kosong di samping Arka. Pria itu duduk kaku, menatap piringnya tanpa bicara. Ia bahkan tidak melirik Maya sedikit pun.
Saat Maya baru saja menarik kursinya, suara Bu Ratna menggema di ruangan.
"Tunggu."
Maya membeku.
Semua orang memandangnya.
Bu Ratna mengamati Maya dari ujung kepala sampai kaki, matanya tajam seperti pisau.
"Siapa yang mengizinkanmu duduk di sini?" tanyanya dingin.
Maya tertegun. Ia menatap Arka, berharap ada pembelaan, tapi pria itu tetap diam, bahkan tidak bergerak.
Maya menunduk. "Saya... istri Arka."
Beberapa tamu tertawa kecil, mengejek.
Bu Ratna tersenyum sinis. "Istri? Istri macam apa yang menggantikan posisi orang lain di altar?"
Maya menahan napas, jantungnya terasa diremas.
"Kau pikir kau bisa menipu kami semua?" lanjut Bu Ratna, nadanya semakin pedas. "Kami hanya menerimamu karena situasi darurat. Tapi jangan pernah bermimpi menjadi bagian dari keluarga ini."
Maya mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan air mata.
Suasana menjadi semakin mencekam. Maya merasa semua mata menusuknya seperti jarum.
"Kalau kau punya sedikit harga diri," kata salah satu bibi Arka dengan suara keras, "kau seharusnya pergi sebelum mempermalukan keluarga ini lebih jauh."
Maya hampir tak sanggup bernapas.
Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Arka tiba-tiba berdiri.
Semua orang terdiam.
Dengan wajah datar, Arka mengambil piringnya dan berkata dingin, "Aku tidak lapar."
Kemudian, tanpa menoleh ke Maya atau siapa pun, ia berjalan keluar dari ruang makan.
Meninggalkan Maya sendirian.
Di tengah tatapan hinaan yang membakar.
Maya berdiri kaku, air mata jatuh satu per satu.
Namun ia tidak bergerak.
Tidak lari.
Tidak menangis di depan mereka.
Dalam hatinya, Maya berjanji:
Aku akan bertahan. Aku akan membuat mereka menyesal. Suatu hari nanti.