BAB 6 Dinding Sinis

376 Words
Maya membersihkan meja makan dengan tangan gemetar. Setelah insiden pagi tadi, seluruh tubuhnya terasa berat. Namun ia menolak menangis lebih lama. Ia sadar, menangis tidak akan mengubah apa pun. Maya memutuskan: kalau Arka dan keluarganya membencinya, ia akan membuktikan dirinya lewat kesabaran dan keteguhan. Bukan dengan air mata. --- Sore itu, Maya menunggu Arka pulang. Ia sudah menyiapkan makan malam sederhana, memasak sendiri. Ia tidak yakin apakah Arka mau menyentuhnya — tapi ia ingin mencoba. Sedikit saja. Ketika suara pintu utama terdengar, Maya buru-buru berdiri. Arka masuk, tampak lelah dengan setelan kerjanya. Ia membuka jas dan melemparkannya sembarangan ke sofa. Maya mendekat dengan hati-hati. "Arka..." katanya pelan. "Aku sudah menyiapkan makan malam. Kalau kamu lapar..." Arka menoleh perlahan, menatap Maya dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya kosong, sinis. "Kenapa berpura-pura peduli?" ejeknya. "Kau pikir ini akan mengubah posisimu?" Maya menggigit bibirnya. "Aku tidak berpura-pura," bisiknya. "Aku hanya ingin... melakukan tugasku." Arka tertawa pelan, penuh sarkasme. "Tugas? Kau pikir aku membutuhkan istri yang hanya tahu cara memasak dan tersenyum bodoh?" Kata-katanya menampar keras. Maya mengerjap, menahan perih. Arka melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. "Dengar baik-baik, Maya," katanya dengan suara dingin menusuk. "Aku tidak butuhmu. Aku tidak pernah menginginkanmu. Dan aku tidak akan pernah menyentuhmu." Maya menunduk, merasa napasnya tercekat. "Tapi aku tetap istrimu," bisiknya, hampir tak terdengar. "Aku sudah berjanji di altar. Aku akan bertahan." Arka mendengus. "Kau bisa bertahan sekeras yang kau mau," katanya tajam. "Tapi jangan pernah berharap aku akan melihatmu lebih dari sekadar pengganti." Dengan itu, Arka melewatinya, berjalan menuju tangga. Meninggalkan Maya berdiri sendiri di ruang makan yang sunyi. Maya menutup mata sejenak, menarik napas panjang. Lalu, perlahan, ia tersenyum kecil, getir. Kalau bertahan adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup di dunia Arka Mahendra, maka ia akan bertahan. Dengan hati yang terluka. Dengan harapan tipis yang hampir punah. Namun, di balik luka itu, Maya tidak menyadari: sedikit demi sedikit, keberadaannya mulai mengusik hati beku Arka. Sedikit demi sedikit... benteng pria itu mulai retak. Meski Arka sendiri masih terlalu keras kepala untuk menyadarinya. kita mulai masuk ke flashback malam pesta topeng — malam penting di mana sebenarnya Maya dan Arka pernah bertemu tanpa mereka sadari! Bab 7 ini bakal mulai membuka rahasia kecil yang nanti jadi bom besar di pertengahan cerita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD