11: Dia menyembunyikan sesuatu

499 Words
Sebulan kemudian, ternyata aku menang. Cerpenku terpilih menjadi juara satu terbaik. Tapi, sayangnya, Deka tidak masuk hari ini. Kata temannya, Deeka ada acara keluarga. Hari ini aku jadi merasa kemenanganku tidak ada artinya. Padahal, selama aku menulis cerpen, Deeka sering ikut membantu dan memberiku semangat. Dia juga yang memilihkan judul untukku, dan dia … sebenarnya salah satu inspirasiku dalam menulis cerpen itu. Bukankah lebih menyenangkan jika menulis cerita yang didasari oleh kisah nyata? Kini, aku hanya tersenyum menanggapi orang-orang yang memberiku ucapan selamat. Aku bingung harus berkata apa. Karena kemenanganku itu semua karena Deeka. Tujuanku menulis adalah agar membuatnya senang. Tapi, hari ini dia malah tidak ada. "Nara! Deeka bilang, selamat! Dia minta maaf karena nggak bisa masuk. Tapi, katanya dia seneng banget karena lo menang," ujar sahabat Deeka yang bernama Roni. Sebenarnya, hubunganku dan Roni tidak terlalu dekat. Tapi, karena dia sangat pintar, dia beberapa kali menghampiriku dan bertanya soal pelajaran. Dia teman diskusi yang cukup menyenangkan. "Oh, oke." Aku mengangguk canggung. Aku masih merasa sedih karena Deeka tidak mengucapkan selamat secara langsung. "Lo mau ngomong sama Deeka? Biar gue telepon dia, kalau lo mau." Aku menggeleng. "Nggak. Makasih, Ron." "Udah, nggak apa-apa! Ayo!" Roni menarik tanganku, menjauhi keramaian. Setelah itu, dia langsung menghubungi Deeka menggunakan ponselnya. "Halo, Dee. Nara mau ngomong sama lo, nih! Apa? Lo sibuk?" Aku menghela napasku. "Udah, Ron. Gue nggak apa-apa." "Ayolah, Dee! Nara menang, nih. Say something to her." Roni akhirnya tersenyum lebar, dan memberikan ponselnya padaku. "Halo?" sapaku pelan. “Yo! Apa kabar, Calon penulis sukses?" Aku terdiam, karena suara Deeka terdengar begitu serak. "Nara, gue baik-baik aja. Lo nggak usah khawatir." "Lo lagi nggak bohong?" "Kapan sih gue bohong sama lo?" Deeka terkekeh pelan. Namun, aku masih merasa cemas. "By the way, selamat! See? Lo pasti menang." “Makasih, Dee.” Setelah hening sesaat, aku mendengar Deeka batuk-batuk, lalu terdengar suara beberapa orang yang panik. "Deeka! Lo kenapa?" tanyaku ikut panik. "Bye, Nara. Sampai ketemu tiga hari lagi." Sambungan terputus tiba-tiba, dan aku merasa lemas. Roni terus memanggil namaku. "Nara! Deeka kenapa?" "Dia... baik-baik aja, katanya." Aku mengembalikan ponsel Roni, lalu mengatur napasku. "Tapi, gue tahu, dia bohong." "Deeka nggak bohong, Ra." “Lo tahu dari mana kalau dia nggak bohong?” Aku menatap Roni cukup sinis. “Karena gue sahabatnya,” jawab Roni malah membalasku dengan senyum lebar. “Dia emang lagi batuk, tapi nggak parah. Lo nggak perlu khawatir.” “Gitu, ya? Oke.” Aku berjalan lemas memasuki kelas. Sandra yang melihatku murung, langsung mengernyit heran. “Ra? Are you okay?” tanya Sandra. “No, I’m not okay.” Aku menjawab sambil menghela napas berat. “Gue habis ngehubungin Deeka. Kata Roni, dia lagi sakit batuk. Tapi, kayaknya lebih buruk dari itu.” “Kenapa lo mikir gitu?” “Suara Deeka nggak terdengar kayak biasanya. Dan, tadi kayak banyak orang panik manggil nama dia. Gimana bisa gue berpikir kalau dia baik-baik aja?” “Lo bisa tanya kalau dia udah masuk sekolah besok. Tapi, gue yakin dia baik-baik aja, kok.” Sandra terlihat sangat berusaha menenangkanku. “Tiga hari lagi. Katanya, dia akan masuk sekolah tiga hari lagi,” ujarku datar. “Tiga hari? Well, tiga hari itu nggak lama, Ra. Lo harus lebih sabar, oke?” Aku mengangguk lemas. “Oke.” Aku menyesal membiarkan Deeka menutup telepon. Aku ingin bicara dengannya lebih lama lagi….    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD