12: Dia kenapa?

666 Words
Deeka tidak masuk sekolah hingga seminggu. Terakhir bicara dengannya, kata Deeka, "Sampai ketemu tiga hari lagi." Apa-apaan itu? Lagi-lagi, dia berbohong. "Nara, kira-kira Deeka kenapa, ya? Kok dia nggak masuk-masuk?" tanya Sandra berbisik. “Gue kira dia nggak akan izin selama ini.” "Nggak tahu." Aku mengedikkan bahu, kembali mengerjakan tugas Biologi yang diberikan guruku. "Lo nggak penasaran?" "Nope." Bukan penasaran, lebih tepatnya, aku khawatir. "Lo suka sama Deeka, kan?" "Lo nanya? Bukannya lo udah tahu jawabannya?" Aku terkekeh pelan, wajahku mungkin sudah merah. Sandra mengangguk. "Kalau gitu, perjuangin." "Perjuangin gimana? Dia aja udah seminggu nggak masuk." Aku menghela napas. "Tanya ke Roni aja. Dia kan sahabat baiknya Deeka. Harusnya dia tahu keadaan Deeka sekarang kayak gimana, atau alasan dia nggak masuk." "Iya juga, ya." Akhirnya saat jam istirahat, aku bertanya pada Roni soal Deeka. Roni sedang bermain basket sendirian di lapangan, bola yang ia lempar selalu masuk ke dalam ring. Huh, ternyata dia tidak payah sepertiku. Aku tetap diam, berdiri di pinggir lapangan. Sampai bola basket yang Roni lempar malah memantul ke arahku, ia baru sadar dan terkejut. “Lo sejak kapan berdiri di situ, Ra? Bikin kaget aja.” Aku sok melihat jam tanganku. “Hmm, sepuluh menit, kayaknya.” “Lo harusnya manggil gue aja, kenapa cuma diem di situ? Tadi gue sempat ngira lo hantu sekolah yang lagi bergentayangan nonton gue main basket.” Aku memutar bola mata, melempar bola basket cukup kencang ke arah Roni. Namun, Roni ternyata bisa menangkapnya. Dasar jago. “Gue takut ganggu. Lo keliatan serius banget main bola basketnya. Kayak orang yang lagi banyak pikiran dan masalah.” “Ah, masa?” Roni terkekeh hambar. “Gue cuma lagi iseng, kok. Masalah apa coba?” “Iseng atau kesepian?” ejekku, menghampirinya. Entah kenapa, dia terlihat gugup. “Kesepian?” Mata Roni menyipit. “Oh, karena Deeka nggak masuk? Hmm, kayaknya lo yang lebih kesepian. Iya, kan?” “Yap.” Aku mendengus geli. “Gue udah terlalu terbiasa diganggu sama dia setiap hari. Udah seminggu, hidup gue terlalu tenang karena dia nggak masuk. Ternyata nggak enak.” “Oke, jadi lo ke sini mau nanyain Deeka, kan?” tebak Roni to the point. “Kita nggak sedekat itu, kalau lo cuma mau ngobrol sama gue.” Aku menjentikkan jariku. “Tepat sekali! So, kenapa sih Deeka belum masuk juga? Acara keluarga masa lama banget? Terakhir, dia sakit batuk, kan? Gimana keadaannya? Udah sembuh?” “Whoa, sabar. Lo nanya apa mau wawancara gue, sih? Deeka liburan ke Singapura, Ra. Tadinya cuma tiga hari, tapi kayaknya dia dan keluarganya terlalu betah di sana. Tapi, tenang. Besok dia pulang, kok. Tadi dia ngasih tahu gue lewat chat.” “Serius?” Aku merasa lumayan lega. “Awas ya, kalau besok dia belom pulang.” “Galak banget, sih, Ra. Iyaaa, Deeka pasti pulang, lo nggak perlu khawatir.” “Tentu aja gue khawatir, Ron.” “Segitu sukanya, ya?” Roni malah mengejekku. Aku memandangnya datar. “Kenapa? Nggak boleh?” Roni tertawa. “Tentu aja boleh. Gue nggak bisa ngelarang lo suka sama dia, kan?” Aku tersenyum kecil. “Bagus, sekarang tinggal Deeka aja yang nggak tahu perasaan gue. Serius, deh. Apa gue terlalu keliatan suka sama Deeka?” Roni menggeleng. “Akting lo selama ini bagus. Gue baru tahu lo suka sama Deeka tuh sejak … tadi. Lo repot-repot nyamperin gue dan nanyain kondisi Deeka. Kalau lo nggak suka, lo nggak mungkin peduli dia mau izin seminggu ataupun sebulan.” “s**l, saran Sandra malah bikin gue ketahuan.” Aku berdecak pelan. “Dan, lo bahkan nggak bisa ngebantah. Kalau lo tadi ngebantah, mungkin gue akan percaya.” “Oh, ya?” Aku terkekeh. “Yaaa.” Roni ikut terkekeh. “Bodo, deh. Yang penting Deeka belum tahu. Tapi, awas aja kalau lo ngasih tahu dia, ya!” “Kenapa nggak boleh?” “Gue mau ngasih tahu dia secara langsung. Puas?” “Whoa, itu baru keren. Gue dukung!” Aku ingin meninju lengannya, tapi ia berhasil menghindar dan berlari. “Kalau kalian jadian, jangan lupa traktir!” “Ogah!” Ternyata Deeka pergi liburan ke Singapura bersama keluarganya. Astaga, sia-sia aku khawatir selama seminggu ini. Ternyata dia baik-baik saja, syukurlah. Tapi, entah kenapa aku masih merasa cemas dan ada yang mengganjal. Roni tidak membohongiku, kan? Aku benci pembohong. Dari dulu, aku tidak percaya dengan kalimat ‘berbohong demi kebaikan’. Menurutku, berbohong tidak akan membuat siapa pun merasa lebih baik. Jika semuanya terbongkar, yang ada hanya rasa marah dan kecewa. Jadi, aku harap, Roni ataupun Deeka tidak berbohong. Jika mereka berbohong, aku pasti akan membenci mereka. Entah sampai kapan.     Aku menyesal, karena percaya pada Roni saat itu  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD