"Beruang! Kangen, nggak?"
Deeka hari ini muncul, dengan senyum secerah matahari, walau bibirnya terlihat pucat. Aku sempat mengabaikannya, berpura-pura sibuk dengan novel yang sedang k****a. Deeka yang terlihat kesal, dengan seenaknya menutup novelku.
"Gue bawa oleh-oleh buat lo," ujarnya setelah berhasil menarik perhatianku.
"Really?" Aku menaikkan satu alisku.
"Yes! Nih, cokelat dari Singapura. Dijamin enak!"
Dia memberiku sebatang cokelat dengan bungkus gambar patung singa. "Thanks. Ternyata lo beneran ke Singapura, ya. Gue kira bohong."
"Gue bukan pembohong."
"Tapi, penipu, kan?"
Deeka seperti terkejut mendengar ucapanku. "Hah?"
"Bercanda.”
Deeka akhirnya tertawa. "Sebenernya, ada satu lagi oleh-oleh buat lo."
"Apa?"
"Tutup mata, dong."
Aku menghela napas dan menutup mataku. "Awas kalau aneh-aneh."
"Ini nggak aneh, dan... selesai."
Aku membuka mataku, melihat Deeka dengan bingung. "Mana? Apa oleh-olehnya?"
Dia hanya tersenyum dan pergi begitu saja, membagikan cokelat pada anak-anak yang lain. Aku mendengus dan memutar bola mataku. Namun, saat aku kembali ingin membaca novel, aku melihat gantungan kunci berbentuk beruang terpasang di tempat pensil biru mudaku.
Oh, ya ampun.
“Cie cie, kok cuma lo yang dikasih, sih? Dasar Deeka curang. Yang lain cuma dikasih cokelat masa?” Sandra mendnegus di sebelahku, terus menyikut lenganku dengan jail.
“Kenapa, ya?” Aku juga tidak mengerti. Kenapa aku saja yang diberi gantungan kunci lucu? Apa dia mengingatku saat melihat gantungan kunci beruang ini, makanya dia beli? Namun, kenapa hanya aku yang dapat?
Lagi-lagi, Deeka membuat harapanku melambung tinggi.
Apa aku boleh berharap sekarang, kalau Deeka menyukaiku?
“Dia kayaknya naksir sama lo, Ra. Fix, udah postif!” Sandra terus menggodaku.
“Lo yakin? Tapi, bisa aja kan ini hadiah karena gue menang lomba waktu itu?”
“Walau hadiah buat lo karena menang, tetap aja itu artinya dia peduli banget sama lo. Ngapain coba dia repot-repot ngasih hadiah kalau lo menang? Gue aja sebagai sahabat lo, nggak ngasih apa-apa, kan? Heheh.”
“Ya karena lo mager, kan?” Aku mendengus geli.
“Nah, iya, itu maksud gue. Deeka nggak mager kayak gue, berarti dia punya perasaan lebih dari sekadar teman, Ra! Aduh, gue pinter banget soal beginian.”
Diam-diam aku merasa senang dengan Analisa Sandra. Dia semakin membuat aku berharap. Yap, berharap Deeka juga menyukaiku. “Seandainya … lo bisa sepinter ini pas pelajaran Kimia, ya. Pasti seru.”
Sandra tekekeh, menepuk punggungku. “Iya, seru banget. Tapi, itu hanya imajinasi, Ra. Kimia dan gue sama sekali tidak bisa bersahabat.”
“PDKT dulu, dong.”
“Udah, dan yang ada kepala gue malah sakit.”
“Ish, dasar.” Aku tertawa. Sandra memang lucu.
Aku menoleh ke belakang, dan tanpa sengaja aku melihat Deeka memberikan gantungan kunci beruang yang sama denganku kepada Roni. Oh, jadi bukan aku saja yang diberi hadiah itu?
Sahabatnya juga. Itu artinya, Deeka tidak menganggapku lebih istimewa, bukan?
Waah, bodohnya aku.
“Tadi ketawa, sekarang murung lagi. Kenapa, sih, Ra?” Sandra ikut menoleh ke belakang. “Eh? Roni juga dikasih? Astaga, analisa gue jadi berbeda lagi.”
“Apa analisa lo kali ini?” tanyaku lemas.
“Deeka tetap naksir lo, tapi dia nggak mau terlalu keliatan jelas. Makanya dia juga ngasih hadiah yang sama ke Roni.”
“Sorry, San. Gue rasa, hati Deeka hanya dia dan Tuhan yang tahu. Kita nggak bisa nebak. He just … so complicated.”
“Yep, agree.”
Gantungan kunci itu, masih kusimpan hingga sekarang.
Yang membuatku menyesal adalah… aku tidak pernah mengucapkan terima kasih untuk gantungan kunci yang Deeka berikan itu.