Setelah bel istirahat berbunyi, aku bermaksud menghampiri Deeka dan mengajaknya ke kantin. Dia janji akan mentraktirku kemarin, sebagai hukuman sudah membuatku kesal. Tapi, gerakanku terhenti saat melihat ada perempuan lain yang sudah berdiri di dekat meja Deeka.
"Deeka, ini aku masakin nasi goreng. Dimakan, ya."
"Iya, makasih."
Wait, APA?
Kenapa Deeka menerimanya?
Kuurungkan niatku untuk menghampirinya dan langsung keluar dari kelas menuju lapangan. Setiap jam istirahat, lapangan selalu sepi. Aku suka.
Aku mengambil bola basket, dan mencoba memasukkannya ke dalam ring. Namun, tidak masuk-masuk. Menyebalkan!
"Lo payah banget, Beruang."
Aku menghela napas mendengar suara seseorang yang sangat kukenal itu dari belakang. "Ngapain lo? Sana makan bekal lo itu. Maksud gue, bekal dari Siska!"
"Ya udah. Ayo, makan," katanya.
Saat berbalik, aku melihatnya duduk bersila dengan santai di pinggir lapangan sambil membawa sebuah kotak makan. "Sini! Duduk, dong."
Entah kenapa, aku menurutinya, dan duduk bersila di depannya. "Ngapain?"
Deeka membuka kotak makan itu, lalu memberi sendok padaku. "Lo hari ini nggak bawa bekal karena kesiangan, kan? Lo tadi terlambat."
"Eh, iya. Tapi... gue nggak mau makan nasi goreng ini. Siska kan masak untuk lo."
"Gue nggak mau makan sendirian. Cepat makan." Deeka terus memaksaku untuk makan.
Ah, aku merasa gengsi untuk memakan masakan Siska. Dan kalau Siska tahu, pasti dia merasa sedih. Tapi, Deeka sangat memaksa. Tatapannya juga terlihat serius.
"Oke." Aku mencobanya satu sendok, dan menurutku enak.
"Lo pusing-pusing, nggak?"
"What?" Aku mengernyit.
"Kayaknya nggak ada racun. Oke, ini aman untuk gue makan."
Aku langsung memukul kepalanya dengan sendok. "Dasar ngeselin! Maksud lo, gue tadi jadi kelinci percobaan?!"
Deeka hanya meringis dan tertawa. Ia malah terlihat bahagia saat aku siksa. Jangan heran, dia memang seaneh itu. Dia sering sekali membuatku marah, dan katanya ekspresi kesalku sangat membuatnya terhibur. Pernah dulu sekali, dia berkata, “Lo cantik banget kalau ngamuk, Beruang!”
Aku sampai kehabisan kata-kata waktu itu. Aku yakin dia hanya bercanda, tapi jantungku salah paham dan menganggap kata-katanya serius. Sering sekali hal itu terjadi. Otak dan jantungku tidak bisa kompak jika sedang di dekatnya.
“Woy, kok lo malah bengong? Lo marah, ya? Tapi, kok diem aja? Biasanya alis lo langsung menyatu gitu, terus mulut lo mengerucut lucu.” Deeka mengibaskah tangannya di depan wajahku. “Lo kenapa?”
“Lo bahkan hafal raut wajah gue saat marah?” Aku mendengus.
“Iya, dong. Udah tiga tahun gue selalu merhatiin lo setiap marah. Masa nggak hafal? Bukannya malah aneh, kalau nggak hafal?” Dia malah tersenyum sombong.
“Iya, iya, aneh banget kalau lo nggak hafal.” Aku menghela napas. “Gue tadi diem karena lagi berpikir, Dee.”
“Wow, apa yang lo pikirin? Gue kok penasaran, ya?” Deeka memajukan badannya, wajahnya juga jadi berada satu jengkal di depan wajahku.
Otomatis, aku menutup wajahnya dengan telapak tanganku dan mendorongnya menjauh. “Bukan urusan lo.”
“Yah, gue nggak boleh tahu?”
“Nggak.”
“Kenapa? Apa objek dari pikiran lo itu gue?”
Tepat sekali. Tapi, aku tidak mungkin mengaku, kan?
“Bukan. Ngapain gue mikirin lo? Rajin amat, dih.”
Deeka terkekeh. “Iya, ya? Gue kan ada di depan lo. Kalau nanti gue jauuuuh banget dari lo, mungkin lo baru mikirin gue. Iya, kan?”
Aku mengernyit. “Lo mau pergi ke mana?”
“Nggak sekarang. Mungkin masih lama.”
“Ke mana?”
Deeka tersenyum lebar. “Suatu hari nanti, lo pasti tahu.”
Dia berhasil membuatku merinding. Senyum dan tatapan matanya sangat bertolak belakang. Seperti, mulutnya berusaha menampilkan senyum, sedangkan matanya menahan kesedihan. Aku bisa merasakannya.
“Kalau gue tahu, kira-kira gue sedih atau nggak?” tanyaku pelan.
“Mudah-mudahan nggak,” gumam Deeka lebih pelan. “Lo nggak boleh sedih, Beruang! Semangat, oke?” Tiba-tiba suaranya menjadi keras lagi. Mengagetkan saja.
“Biasa aja, kali. Nggak usah teriak, Dee! Berisik, tahu.” Aku mencubit pinggangnya. Dia memang kalau teriak suka lupa tempat.
“Aduh, iya, maaf.” Lagi-lagi dia malah tertawa.
Tapi kali ini, tidak terdengar setulus biasanya.
Aku menyesal, karena memakan nasi goreng itu.
Aku seharusnya bisa menolak paksaan Deeka lebih keras.