9: Dia membuatku takut

474 Words
Setiap kali aku melihatnya, aku merasa bahagia dan takut di waktu yang sama. Aku bahagia karena memiliki kesempatan melihatnya. Namun, di sisi lain, aku juga merasa takut, karena berpikir dia akan menjauh dariku setelah mengetahui perasaanku. Aku tidak ingin dia menjauh. Aku akan mencari cara agar bisa selalu ada di dekatnya. Aku ingin terus melihat tawanya, dan juga tatapan matanya yang begitu penuh dengan semangat. Aku ingin dia. Hanya dia. Apakah boleh? "Nara, gue lihat lo sama Deeka di lapangan kemarin." Siska menghalangi jalanku ke toilet. "Lo jahat banget, sih. Gue bikin nasi goreng itu cuma buat Deeka! Kenapa jadi lo yang makan?!" Aku menunduk takut. "Maaf, Deeka yang maksa gue—” "Berhenti godain Deeka. Gue tahu, lo suka sama dia. Tapi, lo sok jual mahal biar Deeka tertarik. Iya, kan?" "Nggak! Nggak gitu!" Aku akhirnya berani menatap Siska. "Terus gimana, hah?" "Gue nggak suka sama Deeka." "Gue harap, lo nggak bohong. Dasar nggak tahu malu. Punya kaca nggak di rumah? Dasar cewek aneh." Siska akhirnya pergi. Aku langsung masuk ke dalam toilet, lalu menutup mulutku dengan telapak tangan dan menangis. Aku berharap, tidak ada yang mendengarku menangis. Astaga, apa hanya perempuan sempurna yang boleh jatuh cinta? Apa aku seburuk itu, sampai tidak boleh menyukai Deeka? Aku kira, aku mulai ada harapan, mengingat sikap Deeka yang semakin akrab denganku. Kami jadi tidak terlalu sering bertengkar akhir-akhir ini. Dia juga selalu tidak lupa menyapaku setiap pagi. Dan setiap malam, dia selalu mengirimkan pesan dan kami bisa berbalas pesan hingga tengah malam. Bahkan, sampai aku ketiduran, dan di pagi harinya ada pesan singkat darinya yang mengucapkan ‘Good Night’. Aku rasa itu sangat manis. Tanpa sadar, aku kira dia memberiku harapan. Namun, mendengar kata-kata Siska membuat harapan itu semakin pudar. Aku takut, Deeka akan berpikir seperti Siska. Aku takut … Deeka juga menyuruhku bercermin dan sadar diri. Mungkin, aku terlalu paranoid. Tapi, bukankah itu wajar? Ponsel di sakuku bergetar, saat aku melihatnya ternyata ada pesan dari Sandra. [Lo di mana, Ra? Tadi Deeka nyariin lo.] Aku sedikit tersenyum. Kenapa Deeka mencariku? Aku pun membalas pesan Sandra, memberitahunya aku sedang di toilet. [Lo nggak apa-apa, kan?] Aku menggeleng, dan memilih tidak membalas pesannya lagi. Aku tidak mau berbohong dan mengatakan kalau aku baik-baik saja. Tapi, untuk mengatakan yang sebenarnya, bukanlah hal yang mudah untukku. [Cepet balik ke kelas, kalo lo udah mendingan] Aku mendengus. Sandra memang seperti itu. Sering sekali tahu apa yang aku rasakan, padahal aku tidak memberitahunya. Dan, aku masih saja kagum dengan hal itu. Aku dan Sandra sebenarnya memiliki banyak sekali perbedaan. Dari hobi, cara berpakaian, artis yang disukai, dan masih banyak lagi. Namun, perbedaan itu tidak pernah menjadi masalah bagi kami. Kami masih bisa membicarakan banyak hal dan berbagi banyak hal. Kami bahkan masih bisa menertawakan hal yang sama. Aku rasa, sampai kapan pun, aku ingin bersahabat dengan Sandra. Mungkin, bahkan sampai kami tua dan memiliki cucu. Terima kasih, Sandra. Aku seharusnya tidak menangis saat itu. Aku seharusnya balas memarahi Siska dengan berani. Aku benar-benar menyesal
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD