Surat ke-17 : Ulang tahun Makasih, karena lo udah memberi hadiah terindah di hari ulang tahun terakhir gue, Nara. Lo memilih tetap berada di sisi gue, walau gue udah bersikap super duper nyebelin. Maaf, maaf, maaf. Gue nggak pernah bermaksud membentak lo kemarin. Gue terpaksa, Ra. Gue merasa sakit banget saat membentak lo. Gue nggak pernah bayangin, gue akan sejahat itu sama lo. Itu semua terpaksa. Gue cuma mau lihat keputusan akhir lo. Gue nggak mau sok lemah dan dikasihani sama lo. Dan nanti akhirnya lo ternyata terpaksa karena merasa 'nggak enak' sama gue yang penyakitan ini. Gue nggak mau hal kayak gitu terjadi. Gue mau lo mengambil keputusan yang lo anggap tepat. Jangan sampai ada penyesalan. Dan ternyata, lo sangat membuat gue lega dengan keputusan keras kepala lo. Lo emang NA

