Terima kasih kepada Kamu, para pembaca setia. Jangan lupa klik love kalau suka dengan jalan ceritanya.
* * *
Ternyata Johni benar tidak menyerah. Sebenarnya Alisa juga sudah curiga waktu Johni bertanya kepada Alisa berencana kuliah dimana. Akhirnya walaupun mereka berbeda jurusan kuliah, entah disengaja atau tidak, Johni mengambil universitas yang sama dengan Alisa.
Sayangnya Vika kuliah di luar kota karena jurusannya tidak ada di universitas itu. Alisa sedih harus dipisahkan jarak dengan sahabatnya, tetapi sedikit terhibur dengan kehadiran Johni. Setelah penolakan itu, hubungan Johni dan Alisa malah lebih mencair. Sekarang Johni suka menelepon hal–hal yang ingin diketahuinya langsung kepada Alisa, tidak lagi melalui mak comblang Vika. Pernah ada kejadian lucu.
Johni bertanya, “Sa, apa Kamu suka film horror? Kamu mau menonton film Papan Ouija di bioskop?”
“Ah, aku nggak suka film horror. Aku takut,” jawab Alisa.
“Aku juga takut.”
“Terus, Kita ngapai John nonton kalau semua takut?” Alisa jadi curiga Johni membayangkan dirinya menjerit terus berlindung di pelukan Johni.
“Upsss… Challenge diri kita saja, Sa. Eh… Kamu nggak berpikiran yang aneh-aneh kan?” Johni curiga dengan ekspresi muka Alisa. Lalu mereka tertawa.
Ya Alisa bersyukur Johni tidak kecewa, tetapi bersedia menjalani tahap teman tapi mesra dulu.
Sebenarnya acara waktu pertama jadian itu agak tidak romantis. Berkedok kumpul makan siang, hari itu tidak jadi mengejutkan buat Alisa. Lantaran Vika datang dengan kebaya dan rok lilit pendek, pasti ada sesuatu yang spesial. Padahal bayangan Alisa cinta pertamanya akan dilakukan di atas bukit pada malam hari. Lalu ada gazebo dengan dihiasi lampu kerlap–kerlip dan pemandangan temaram cahaya kota di bawahnya.
Tapi itu kan tidak bisa dilakukan tanpa membohongi mama. Dia perlu ijin keluar kota malam-malam. Jadi seperti ini saja juga bisa dimaklumi oleh Alisa.
Pada siang hari bolong di sebuah cafe di kawasan elit Jalan Senopati.
“Alisa, bersediakah kamu menjadi pacarku?” tanya Johni agak memelas.
DEG. Akhirnya saatnya tiba juga Johni menembaknya. Baik Vika maupun Johni diam sejenak. Tapi kelihatan keduanya berharap Alisa mau menerima tanda cinta Johni. Seperti yang bisa ditebak Johni akan mengeluarkan bunga Azalea. Satu bucket bunga itu sudah dipersiapkan matang–matang sesuai dengan impian Alisa.
“Iya, John,” jawab Alisa kali ini tidak mengelak.
“Terima kasih, Sa,” jawab Johni terharu setelah menunggu hampir 2 tahun dia tidak diPHP.
“Iya, John,” jawab Alisa juga tersipu malu.
Lalu Vika mulai heboh sendiri. “Ayoo... semuanya kita pesta hari ini. John nggak apa–apa kan aku pesan wine? ”
Dia menuangkan gelas mereka bertiga dengan sparkling wine dan mengangkat segelas untuk memulai bersulang.
“Tapi,” kata Alisa tiba–tiba menyela.
“Yah, Sa. Tapi apalagi? tanya Vika heran. Johni juga kelihatan cemas.
“Tapi ... back...backstreet dulu, John. Nggak apa–apa kan?” tanya Alisa gugup.
Aduh, jangan sampai pernyataan ini menggagalkan kebahagiaan pasangan baru itu hari ini.
“Oh... itu aku sudah cerita ke Johni. Sudah beres, Sa,” jelas Vika memberikan rasa tenang.
“Oh... terima kasih ya, John,” kata Alisa malu.
“Iya, Sa. Aku akan selalu menunggu buat Kamu,” kata Johni menghibur.
Aduh, baik sekali si Johni mau mengerti terus pikir Alisa.
Itu cerita singkat jadian Alisa dengan Johni. Selebihnya mereka mulai berpacaran seperti muda–mudi lainnya. Nonton bioskop, nongkrong di cafe, dan eksplorasi mall. Tapi jam lima sore, semua itu harus sudah diakhiri agar Alisa bisa sampai rumah sebelum magrib dan sudah beres–beres diri.
# # #
“John, lagi ngapai?” tanya Alisa.
Siang itu sehabis mendengar curhat mama, Alisa melakukan vidio call dengan Johni dari atas kasur yang empuk. Tadi dia sempat ketiduran setengah jam, karena kecapaian sehabis menguras air matanya.
“Sa, aku belum lihat wajah Kamu beberapa hari ini. Kamu juga nggak balas chat aku,” protes Johni.
“Iya deh, maaf. Aku kan mesti cari waktu kalau mau hubungi Kamu. Tapi ingat! Kamu jangan telepon-telepon aku ya, biar aku yang telepon Kamu duluan. Supaya nggak ketahuan,” jelas Alisa panjang lebar.
“Oke lah, Sa,” jawab Johni menerima penjelasan itu.
“Tapi nanti chat Kamu aku balas. Kemarin tuh aku masih sibuk sama oma,” jelas Alisa lagi.
“Oke. Terus Kamu sudah ngapai saja disana?” tanya Johni.
“Kemarin main-main saja di rumah oma, John. Terus hari ini baru mau ke pantai,” jawab Alisa. Tidak mungkin dia cerita Johni ada di dalam mimpinya, nanti ke GR-an.
“Oh rumah oma Kamu dekat ke pantai?”
“Ya kira–kira 2 kilo lah.”
“Aku jadi ingin lihat rumah oma Kamu. Nanti Kamu kirimi aku ya foto–fotonya di pantai,” pinta Johni.
“Iya.”
“Kok Kamu kaya sedih, Sa?” Johni membaca raut wajah pacarnya itu.
“Ah masa...?” Alisa buru–buru mengarahkan matanya ke gambar dirinya di handphone. Lalu menoleh ke meja rias untuk mendapatkan gambar yang lebih detail. Iya juga, betapa bodoh dirinya habis bangun langsung vidio call tanpa make up dulu. Mungkin karena sudah terlalu nyaman dengan Johni jadi terbiasa tampil apa adanya. Sekarang mau bohong atau jujur saja ya pikirnya.
“Ya aku sedih mamaku lagi sakit,” kata Alisa lirih.
“Semoga Tante cepat sembuh, Sa,” kata Johni polos tanpa tahu penyakit apa yang diderita ibunya Alisa.
“Iya, John. Terima kasih.”
Alisa malah tertegun mendengar jawaban Johni. Tapi stok air matanya hari itu sudah habis.
Tiba–tiba Alisa jadi teringat idenya tadi pagi untuk mempertemukan Johni ke mama. Tapi apa mama akan marah? Atau ini malah saat yang tepat, mungkin mama akan mendukungnya. Waktu mama tinggal setahun lagi, jadi dia harus bergerak cepat.
Walaupun kesehatan mama sekarang buruk, tapi daripada terlambat sama sekali. Apalagi Johni sebagai calon pasangannya sebaiknya tahu keadaan calon mertua pikirnya. Tidak boleh ada hal penting yang ditutupi kalau ini akan berdampak kepada hubungan mereka berdua ke depan.
“John, kalau aku minta Kamu ke sini mau nggak?” tanya Alisa serius.
“Loh... bukannya Kamu yang ngelarang aku jangan deket keluarga Kamu dulu?” tanya Johni heran.
“Iya sih, John. Tapi nanti aku mau bicara sama ma..,” suara Alisa mendadak tersedak. Dia melihat di atas lemari Johni ada sekotak coklat Ferrero Rocher mengganggu batin Alisa.
“Itu coklat Ferrero ? Kamu beli atau dikasih siapa?” tanya Alisa curiga.
“Mana? Oh di belakang. Dari teman kita, Sisel. Kemarin dia datang,” jawab Johni polos.
Hati Alisa tiba – tiba jadi panas. Kalau mendengar nama Sisel seperti mendengar nama musuh, walaupun Sisel juga tidak pernah berbuat jahat kepada Alisa. Tapi dia mencoba menahan dulu, masa dia cemburu buta. Ini adalah salah satu ujian yang mana harus percaya kepada pasangan.
“Terus Kamu bilang kita sudah jadian awal tahun ini?” tanya Alisa dengan nada tinggi. Tapi perasaan tidak bisa ditutupi.
“Sudah, Sa. Tapi dia tetap kasih coklatnya”
“Terus Kamu terima, John?”
“Iya, Sa. Aku nggak tega soalnya takut dia jadi sedih.”
Hmmm, Johni memang orangnya baik. Alisa mungkin cemburu, tetapi mungkin perasaan Sisel lebih hancur lagi mengetahui acara jadian mereka itu.
“Ya sudah. Kalau gitu Kamu kasih coklatnya ke adik Kamu saja,” perintah Alisa.
“Oke daripada Kamu kesal,” kata Johni mengalah.
“Nggak, aku takutnya Kamu entar dipelet,” jawab Alisa asal.
“Ha... Ha... Ha... iya Tuan Putri.”
“Ih ... iseng deh. Jadi Kamu bisa kapan John ke sini?” tanya Alisa balik lagi ke topik.
“Tunggu pangeran datang Sabtu ini ya, Sa,” kata Johni bercanda.
“Dasar pangeran kodok ... Bye.”