Bab 10 : Kisah Kasih di Sekolah

1291 Words
Alisa mulai berpikir, apakah dia jujur saja kepada mama kalau dia sudah punya Johni. Tapi perasaannya berkecamuk, apakah mama akan setuju dengan hubungan mereka berdua. Mama kan pernah bilang dulu, “Kamu selesai sekolah dulu baru boleh pacar–pacaran. Sekarang Kamu masih muda masih panjang masa depannya.” Hmm tapi itu kan dulu waktu SMA. Alisa memang memegang teguh amanah itu. Sampai–sampai dia membatasi pergaulan dengan semua teman laki–lakinya. Termasuk ketika SMA ada beberapa siswa yang mencoba menembaknya. Entah cuma main–main atau serius, tetapi semuanya Alisa tolak-tolaki. Jadi akhirnya Alisa terkenal dengan sebutan “Cewek Hutan” karena aturannya yang masih kolot. Tapi Johni sosok yang berbeda. Dia bisa mengerti dan menunggu Alisa sampai selesai SMA. Selain paras dan kepribadiannya bisa meluluhkan hati Alisa juga. “Nggak apa–apa kalau saatnya bukan ini. Aku akan menunggu Kamu,” kata Johni ketika dulu ditolak Alisa. “Maaf ya, John. Ya Kamu ngerti posisi aku kan? Aku cuma tinggal  berdua sama mama, jadi aku nggak bisa mengecewakan mamaku,” jelas Alisa. “Iya aku ngerti Kamu nggak bisa menolak permintaan mama Kamu,” kata Johni. “Aku akan menembak Kamu lagi pada saatnya,” janji Johni kepada Alisa. Di luar kehendak Johni yang menginginkan Alisa menjadi pacarnya, sebenarnya Alisa juga sudah lama menaruh hati kepada laki-laki itu. Paras Johni cukup ganteng, dengan perawakan cukup ideal. Tidak gemuk, tetapi juga tidak kerempeng. Badannya juga tidak atletis. Cenderung seperti cowok kuper, memakai kacamata, dan selalu membawa bekal dari rumah. Anaknya pintar karena selalu rangking tiga besar di kelas sejak SMA 1. Bagi Alisa cowok tipenya tidak perlu yang hebat seperti bintang film, tetapi yang penting bersih dan selalu tampil rapi. Dia juga selalu tampil sederhana, tidak pernah memakai aksesoris yang bermerk. Entah dia kaya atau biasa saja, tetapi jelas tidak mau memamerkan kekayaannya. Satu lagi yang penting, Johni bukan seorang idola di sekolah. Soalnya nanti bisa membuat Alisa cemburu dengan para fansnya. Ini kelebihan yang dipunyai oleh Johni, dibandingkan  laki–laki lain yang pernah meminangnya. Mereka pernah sekelas saat SMA 1, tetapi saat itu, Alisa sih tidak merasakan chemistry apa–apa. Ya, Alisa cuma sebatas mengagumi Johni sebagai anak yang pintar dan alim saja. Mereka sering bergabung dalam kerja kelompok yang sama. Tapi biasanya Johni lebih banyak diam dan tidak mengobrol banyak dengan Alisa. Perbincangan hanya terfokus seputar pelajaran saja. Entah kapan Johni mulai tertarik dengan dirinya. Tapi menurut Vika, sahabat Alisa, sejak kelas penjurusan yang memisahkan Johni dan Alisa, Johni jadi suka cari informasi tentang Alisa ke Vika. Ya receh begitu, seperti apakah Vika masih suka main ke rumah Alisa. Terus Vika kalau jalan sama Alisa biasanya kemana. Ada nama Vika disebut-sebut, tetapi Vika seperti merasa bukan dia lah tokoh utamanya. Lama–lama Vika jadi curiga lalu konsultasi ke Alisa. Dari situ mereka berdua berkesimpulan Johni diam–diam suka dengan Alisa.  Setelah beberapa hari berlalu, kadang Alisa berpikir menyesal juga pernah menolak, maksudnya menunda dulu hubungan mereka. Bagaimana kalau Johni selama 1-2 tahun itu kemudian beralih kepada perempuan lain. Saat itu Alisa pun tidak bisa komplain karena memang tidak ada ikatan cinta di antara mereka sebelumnya. Apalagi menurut mata–matanya, dia tahu Sisel, anak kelas IPA juga suka membawakan Johni cemilan, seperti coklat. Pasti perempuan itu ada maksud terselubung juga dengan Johni. Sisel, anaknya cantik versi cendikiawan. Berkacamata dengan dandanan selalu rapi daripada modis. Rambutnya diikat rapi supaya tidak menutupi telinga. Seragam roknya selalu dibawah lutut supaya tampil sopan. Berkacamata tebal terlihat kuper, agak mirip Johni versi cewek. Tapi untungnya Sisel juga tipe yang pemalu dan cuma bisa pakai cara–cara begitu untuk mengungkapkan perhatiannya kepada Johni. Entah hubungan Johni dan Sisel sudah sampai tahap mana.      “Johni akhirnya nembak Kamu, Sa? Sisel kan suka sama dia.” Vika, sahabat sekaligus mata–matanya itu, heran. So what?  Pikir Alisa. Oke lah Sisel suka sama Johni, tapi kan yang ditembak sama Johni dirinya, bukan Sisel. Ada rasa bangga bercampur kasihan di benak Alisa. Tapi Alisa hanya mengangguk biar tidak kelihatan sombong. “Terus Kamu terima atau tolak?” tanya Vika lagi penasaran sambil menatap tajam mata Alisa dalam-dalam. “Aku tolak, Vik.” “Pufff...iya aku sudah nebak sih.” Vika menghela napas panjang. “Pasti karena mama Kamu ya?” lanjut Vika lagi. Aduh... Apakah dia sudah kebanyakan menolak anak cowok dengan alasan itu, jadi Vika sampai hapal. Rasanya tidak usah diiyakan sudah terlanjur rumor berkembang seperti itu. Tapi kok Johni masih menembaknya ya? Apa dia tidak tahu rumor itu. Maklum Johni anak kelas IPA, bareng sama Vika dan Sisel. Sedangkan Alisa kelas IPS. Alisa benci pelajaran kimia, walaupun suka dengan fisika.  Sebelum penjurusan mereka berempat sekelas, tetapi kemudian Alisa saja yang masuk kelas IPS. Hanya jalan pulang ke apartemen Alisa dengan rumah Vika yang searah. Jadi mereka seringkali ketemu di kelas dan angkot, lama–lama jadi dekat. Alisa sering main ke rumah Vika, demikian Vika juga sering main ke rumah Alisa. Sebenarnya masih ada tiga anak cewek lagi yang searah pulang dan beberapa kakak kelas, tetapi mereka malah tidak terlalu dekat dengan geng itu. Kebetulan mereka berdua saja yang turun paling ujung dekat terminal, dibandingkan yang lain. Jadi mereka bisa mengobrol lebih seru saat bangku–bangku mikrolet sudah kosong. Anggap saja pak supir angkot diabaikan. Dia tidak mendengar celotehan para perempuan.   “Tapi Kamunya bagaimana, Sa? Apa Kamu suka sama dia? Johni anaknya baik kayanya cocok sama Kamu. Sayang saja sih Kamu tolak,” kata Vika mencibir. Vika merasa gagal mencomblangi Johni dan Alisa karena terbentur amanah ibunya Alisa.   “Iya sih Vik,” kata Alisa malu-malu. “Tuh kan.” Vika langsung menyambar. “Sebelum–sebelumnya, kalau cerita nolak cowok, tapi Kamu biasa saja. Tapi giliran sama Johni, Kamu jadi galau.” Pipi Alisa agak memerah. Apa iya dia terlihat galau sejak tidak jadi pacaran dengan lelaki yang diam–diam disukainya. “Aku kan bilangnya tunda dulu, tapi apa dia nangkap maksud aku ya, Vik?” tanya Alisa bingung. “Ya mana aku tahu Sa. Dia bisa saja mikirnya ditolak halus atau apaan,”  jawab Vika kesal. Vika mulai menakut–nakuti. “Sa, kesempatan belum tentu datang dua kali. Bagaimana kalau ...” Belum selesai Vika menyelesaikan terornya, Alisa memotong. “Tapi aku juga sudah kasih tahu sesuatu, biar dia nggak patah hati,” potong Alisa. “Kasih tahu apaan sih, Sa?” tanya Vika kesal. “Aku bilang nanti kuliah mungkin bisa,” jawab Alisa polos. “WHATT!” teriak Vika marah. “Kamu serius? Jangan PHP, Sa. Kasihan anak orang,” tegur Vika. “Ya nggak, Vik. Aku kan juga sayang kalo dia lepas ke Sisel,”  jelas Alisa. “Terus...?” “Jadi aku janjii saja sekalian tes apakah Johni memang setia mau menunggu aku,” lanjut Alisa menjelaskan. “Hebat, idemu kayanya cukup brilian juga Sa,” Vika mengangguk–angguk sambil mencernanya. “Terus mama Kamu nanti bagaimana?” tanya Vika lagi masih bingung. “Ya kalau kuliah kan katanya jam pelajarannya flexibel, Vik. Jadi sementara aku bisa backsteet dulu kali,” kata Alisa sambil mengangkat bibirnya. Dia juga ragu dari jauh–jauh hari sudah berencana membohongi mama. Tapi kan ini kehidupannya sesekali dia juga ingin bebas menentukannya. “Hmmm... oke lah, Sa. Aku dukung Kamu, Sa,” kata Vika meyakinkan. “Makanya Kamu cepat cari pacar, mumpung nggak dilarang,” bisik Alisa pelan. Lalu mereka masih tertawa–tawa dari ujung bangku angkot paling dalam. Sampai akhirnya angkot sudah di depan terminal. Pak supir hanya geleng–geleng kepala mendengar dua remaja perempuan yang baru bertumbuh itu. Dia menghentikan keseruan obrolan kedua penumpangnya, kemudian meminta pembayaran. Dua sahabat itu turun dengan bergandengan tangan terayun-ayun seperti anak kecil. Satu sama lain mendoakan yang terbaik buat sahabatnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD