Bab 4 : Malam Pertama

1273 Words
Untungnya mama muncul mengajak Alisa ke kamar sehingga sesi interogasi berhenti sampai di situ. Kebetulan Alisa juga sudah capai setelah perjalanan berkendara dari pagi hari. Alisa ingat kamar mama ada di paling ujung. Kata mama nanti kamar buat Alisa di sebelahnya supaya kalau ada apa–apa Alisa gampang mencari mama. Kebetulan. Entah kamar tidur itu bekas siapa atau memang tidak terpakai, mungkin sengaja buat tamu yang mau menginap. Sepanjang jalan menuju kamar, mama mulai membantu mengingatkan kamar-kamar lain, takutnya Alisa juga lupa. Soalnya rumah nenek banyak memiliki kamar yang tadinya dipersiapkan buat keluarga besar. Ya, walaupun Alisa nanti juga bisa cari tahu sendiri, tapi lebih baik tahu lebih awal. Belum lagi seingat Alisa ada lorongnya yang buntu, jadi mesti balik lagi kalau salah masuk. Lagi asyik mendengar penjelasan mama, Alisa melihat seseorang mengintip dari pintu lorong seberang. Tidak begitu jelas wajahnya karena pelakunya juga tidak mau ketahuan. “Ma, yang di seberang itu lorong kamar Tante Sani ya?” tebak Alisa. “Nanti Kamu ... Eh... Iya Sa,” jawab mama sambil mengarahkan pandangan ke lorong yang ditanyakan anaknya. Tapi sosok itu sudah kembali sembunyi, jadi mama tidak melihatnya. “Tadi kayanya ada Tante Sani, Ma. Tapi nggak keluar.” “Oh... ya sudah. Mungkin dia sudah mau tidur,” kata mama. Alisa merasa hubungan mama juga tidak dekat dengan adiknya, Sanita. Masa mama tidak mau menengok walaupun sebentar. Begitu juga dengan bibinya yang tidak menyambut mereka. Apakah Tante Sani sakit menular sehingga tidak bisa keluar kamar. Dulu seingat Alisa, bibinya itu berperawakan agak gemuk tidak seperti mama yang langsing sampai sekarang. Namun bibinya itu suka berdandan berlebihan. Kalau mau keluar rumah maka bedak, lipstik dan eye shadow selalu mewarnai wajahnya. Dulu Alisa tidak tahu definisi cantik, tetapi bibinya selalu bereksperimen dengan warna makeup. Bajunya juga selalu yang berwarna warni dengan potongan agak terbuka. Mungkin karena Tante Sani masih bergulat mencari jodohnya sehingga harus tampil selalu prima. Tetapi kemudian bibinya hamil dan dandannya mulai tidak terawat. Kadang suara bibinya juga terdengar sedang marah–marah. Apakah itu efek kehamilan, sehingga emosi wanita menjadi tidak stabil. Alisa juga tidak paham karena belum pernah mengalaminya. Tapi Alisa baru sadar kemana suami bibinya itu. Apakah kisah Tante Sani senasib dengan mama. Lebih gawatnya suami bibi tidak pernah kelihatan, alias mungkin tidak pernah ada. # # # Mereka sampai di depan kamar Alisa. “Sa, sana mandi dulu baru tidur,” perintah mama. “Tadi Kamu ingat kan kamar mandi dimana?” tanya mama lagi. “Iya Ma,” jawab Alisa. “Ma, Om memangnya nggak pernah pulang? Masa sih Ma sampai begitu.” Alisa menanyakan perihal suami bibi yang katanya merantau. “Om Kamu itu kerja di luar negeri. Tapi kayanya sudah pergi, nggak kembali lagi. Jangan dibahas ya.” Kalimat itu yang selalu mengakhiri penjelasan mama. Mama mendesah panjang sebagai tanda bahwa tidak suka membahas itu dan itu lagi. “Sana mandi nanti keburu dingin.” Mama sekarang sibuk mengeluarkan baju – baju dari koper Alisa. Alisa memilih pakaian dalam dan piyama bermotif kembang krisan kecil sebagai outfit malam ini. Dia buru–buru melewati lorong dan melangkah ke dalam kamar mandi. Lampu dinyalakan supaya terang benderang. Berbanding terbalik dengan lorong sekitarnya yang agak suram itu. Dia melepas pakaiannya yang apek dan menyalakan air pancuran. Benar saja airnya sudah dingin seperti keluar dari kulkas. Atau memang cuaca sekitar daerah situ yang agak panas. Tetapi yang penting sekarang Alisa bisa menyegarkan penat di tubuhnya. Alisa terbuai ketika tumpahan air itu seperti memijat tubuhnya. DUG! Tiba – tiba Alisa tersadar dari ritual mandinya karena mendengar bunyi seperti benda jatuh. Matanya dengan cepat terbuka dan mencari dari mana suara itu berasal. Apakah ada tikus yang mendorong barang jatuh. Hmmm, tidak ada. Sekarang Alisa mulai curiga. Dia mencari apakah ada celah buat orang mengintip mandi. Alisa coba mengamati langit plafond tidak ada lubang sedikit pun. Sekarang pikirannya beralih ke arah pintu. Sesi mandi terpaksa berakhir, kran dimatikan, dan dia buru–buru membungkus tubuhnya dengan handuk. Terdengar suara orang berlari dari balik pintu. Alisa merasa kesal dan berteriak, “SIAPA? AWAS YA!” Disertai u*****n. Buru–buru dia memutar kunci pintu. Kepalanya saja yang melongo dari balik pintu. Rasanya ingin segera menangkap basah orang iseng itu. Dia tengok ke kanan, kiri, dan ke bawah mencari benda apa yang jatuh, tapi sudah tidak ada apa-apa. Dia mulai berpikir apakah sepupu laki–lakinya yang iseng atau mungkin sesuatu yang lain. Ada ketakutan sendiri menatap ke sepanjang lorong remang-remang itu. Apalagi di ujungnya lampu ruangan tengah pun sudah dimatikan sehingga ujungnya terlihat gulita. Alisa segera menutup pintu lagi dan berpakaian. Ah, jangan berpikir macam–macam pikirnya. Tapi Alisa lupa menengok ke atas sepasang bola mata sedang memperhatikannya. # # # Alisa memasuki kamar tidurnya dan berjanji besok pagi akan protes kepada mama dan nenek atas kejadian tadi. Mama sudah pergi menyelesaikan pekerjaannya, jadi Alisa tidak perlu membereskan kopernya. Setelah memastikan pintu dan jendela tertutup rapat, sekarang tugasnya hanya berbaring di atas ranjang dan segera tidur. Alisa tidak berani mematikan lampu, sehingga matanya jadi agak sulit terpejam. Alisa berusaha memejamkan mata tetapi ternyata susah, jadi dia mulai mengamati sekeliling. Kamar itu standar saja hanya terdiri dari ranjang, nakas di kiri dan kanan, lemari besar setinggi langit plafond, meja belajar, meja rias, serta kursi masing-masing. Tapi matras kasur, bantal dan gulingnya sangat empuk dijejali bulu angsa sintetis. Furniture didominasi kayu mahoni dengan finishing berwarna krem senada dengan warna dinding. Selebihnya semua laci kosong karena memang sudah lama kamar itu tidak ada yang yang mengisi. Akhirnya rasa letih mendatangkan kantuk dan mengalahkan perasaan tidak nyaman tidur di tempat baru. Suasana seketika hening hanya terdengar deru mesin AC. Alisa tertidur pulas. Kaki Alisa terasa nyaman menapak di atas pasir. Matanya memandang ke pesisir pantai sambil melangkah menyusurinya. Hari itu tidak ada seorangpun, hanya desiran angin dan ombak yang bergulung–gulung di lautan. Gelapnya malam sudah mulai gantian dengan remang pagi. Aneh juga biasanya jam–jam segini para warga sudah sibuk. Seharusnya para nelayan baru pulang melaut membawa hasil tangkapan dan disambut oleh istri mereka. Tapi Alisa cuek saja dan terus melangkah. Sampai dia melihat dari garis cakrawala muncul sosok yang kian mendekat. Seiring benda itu bergerak dengan cepat menuju ke arah Alisa. Hmmm, apakah itu salah satu kapal nelayan yang mau merapat ke pantai. Tapi kok perasaan Alisa jadi tidak enak ya melihat bentuknya yang sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal, melainkan seperti mahluk hidup. Sosok hitam itu semakin mendekat ke arahnya dan membesar. Alisa jadi semakin ngeri dan memutuskan lari menjauh saja kembali ke rumah. BLAS! Lagi galau, sialnya tiba–tiba kaki Alisa terperosok ke dalam sebuah lubang. Kaki kanannya tertahan bersama pasir yang ikut amblas. Sementara sosok raksasa itu sudah sampai berenang ke tepi pantai dan berlari mengejarnya ke arah rumah. Dia berusaha keras menarik kakinya tetapi seperti ada jari-jari tangan yang mencengkram tidak mau melepaskan. Terlambat sudah. Raksasa hijau tua itu muncul di hadapannya dengan mata merah. Gigi caling keluar dari mulutnya bersama air liur menetes. Cakarnya yang panjang siap menerkam tubuh Alisa yang kelihatan mungil. Rambut gimbal mahluk itu jatuh melingkupi kepala Alisa. Alisa jadi susah bernapas lalu seakan berhenti. Semua menjadi gelap. “MAAA...!” Jerit Alisa lepas. Mata Alisa terbuka melotot. Jantungnya berdegup kencang. Untungnya ternyata itu semua hanya mimpi buruk. Tapi tubuhnya masih lemas tidak ada tenaga untuk bangkit. Hanya kepalanya yang bisa menengok sekeliling untuk memastikan sebenarnya tidak terjadi apa–apa. DEG. Tubuh Alisa bergetar dan bulu kuduknya merinding melihat ke arah bawah. Dilihatnya ada sosok bayangan anak kecil memegangi kaki kanannya. “MAMA..... MAMA ....!” Jerit Alisa kencang memanggil mama. Lalu Alisa jatuh kembali ke alam bawah sadarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD