Bab 5 : Cerita yang Tidak Lucu

1351 Words
Pagi itu badan Alisa terasa lemas sekali, padahal habis bangun tidur mestinya badan kembali segar. Sinar matahari tidak mampu menembus tirai blackout berwarna  maroon itu. Tetapi panas matahari membangunkan Alisa seakan hawa dingin AC tidak berarti. Rasanya Alisa ingin menangis ketakutan kalau ingat kejadian semalam. Tapi kan itu hanya mimpi buruk, pasti mama dan nenek tidak akan menanggapinya serius. Paling–paling mama hanya akan bilang makanya jangan lupa berdoa. Ya sudah lah pikir Alisa coba lihat malam nanti. Dia mempertanyakan masa mimpi buruk akan datang setiap hari. Walaupun dia ngeri juga melihat ke arah kakinya dan membayangkan jemari itu. Tapi pagi ini kakinya sudah bisa digerakkan kembali normal seperti sediakala.   Alisa bangun dan pergi mandi. Kali ini dia lebih waspada. Tapi sampai tetes air terakhir untungnya tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Hmmm mungkin karena sudah agak siang, jadi banyak orang yang sudah bangun. Setan pada tidur. “Sa, sudah selesai mandinya?” tanya nenek yang  duduk di sofa seperti mengawasi dari ruang tengah. “Iya, Oma.” Alisa sedikit terkejut. Kali ini dia keluar hanya memakai handuk sebagai kemben, tetapi dia sudah memakai pakaian dalam. Untungnya handuknya cukup besar, jadi bisa menutup sampai sedikit di atas lutut. Kebiasaan Alisa di rumah tinggal hanya dengan mama, jadi tidak malu keluar masuk kamar mandi dengan pakaian seadanya. Ah, tapi ini kan rumah orang lain, Alisa berjanji harus lebih sopan. Apalagi rambutnya agak basah jadi ada air yang menetes ke lantai. “Sarapan sudah ada di meja, Sa. Kalau sayuran buat Oma, kamu makan ayam bakar saja,” jelas nenek. “Iya Oma. Alisa masuk kamar dulu.”  Maksudnya mau ganti pakaian yang sopan dulu. Hari ini Alisa memutuskan memakai outfit balutan crop top berwarna putih dipadukan dengan hot pants berjenis denim karena cuaca cukup panas. Makeup tipis hanya sebatas lip balm biar bibir tidak cepat kering. Yang lebih penting krim sunscreen supaya kulit tidak cepat hitam. Apalagi dia mau jalan–jalan ke luar rumah. Kacamata hitamnya tidak ketinggalan, tetapi topi pantai justru ketinggalan di rumah. Ah, betapa dirinya menyesal, padahal dia tahu rumah nenek dekat ke pantai.  Ketika Alisa melangkah keluar dari kamar menuju ruang tengah, pintu kamar mandi terbuka. Akan tetapi seperti sedang ada yang mengisinya. Alisa coba mengintip ke dalam, ternyata ada dua wanita paruh baya.  Yang satu duduk di kursi pendek, sedangkan satu lagi berdiri memakai kemben sampai selutut. “Eh... Non Alisa ya?” tanya wanita yang berdiri. Wanita bertubuh sintal, dandanannya sederhana, mungkin dia pembantu di rumah ini. “Ini mbok lagi mandii apa ya Non bilangnya ..... Tantenya Alisa,” jelas si mbok.  Oh, benar ialah pembantu di rumah nenek. Terus yang lagi duduk dimandikan berarti bibinya. Alisa memutuskan masuk saja ke dalam, tapi berdiri agak pinggir supaya tidak kecipratan air pancuran. Kebetulan masih cukup ruang untuk berbincang. Tiba–tiba Alisa merasa trenyuh  melihat kondisi bibinya. Kemarin dia masih mengira bibinya sakit pada umumnya seperti diabetes atau kanker  sehingga malas keluar kamar. Mungkin malu dengan kondisi fisik dirinya. Tetapi ini tidak ada yang aneh dengan raga Tante Sanita. Justru ada yang salah dengan kejiwaan bibinya itu. Kedua tangannya sibuk memainkan bebek karet digenggamannya. Kepalanya menggeleng-geleng dengan bola matanya berputar-putar. Sesekali kelihatan ekspresi bibinya gembira dengan menginjak–injak lantai. Dia sibuk dengan dunianya sendiri.    “Kalau dikasih mainannya biasanya dia anteng mau mandi,” jelas si mbok lagi. Alisa hanya terdiam tidak bisa berkata–kata. Tapi kemudian otaknya bekerja. Selama ini mama dan nenek diam saja tidak memberitahukan keadaan bibinya itu, tapi mungkin dia bisa tahu dari si mbok. Alisa coba mendekat untuk sekedar mengguyur punggung bibinya itu supaya lebih akrab. “Mbok, kok Tante bisa begini? Seingat Alisa dulu nggak kaya gini.” Ada perasaan sedih juga di dalam diri Alisa kenapa keadaan kerabatnya berubah menjadi kacau begini. “Mbok juga nggak tahu pasti Non,” kata si mbok. “Mbok sudah berapa lama kerja di sini?” tanya Alisa lagi. “Kalau kerja sama oma Non baru sepuluh tahun.” Alisa mulai berhitung mundur berarti dia memang belum ketemu si mbok waktu kecil. “Tapi kalau kerja di kampung ini sudah hampir 20 tahun, Non. Mbok sendiri bukan dari kampung sini,” lanjut si mbok. Tapi Alisa tidak peduli dengan latar belakang si mbok. “Tapi Mbok tahunya apa?” Alisa bertanya lagi. “Aduh.. bagaimana ya Non, mbok takut kesalahan ngomong,” suara lirih si mbok. Hmmm kenapa orang–orang di sini pada menyembunyikan rahasia ya pikir Alisa. Tapi kelihatannya si mbok mestinya bisa dipaksa berbicara di antara yang lain. “Nggak apa–apa, Mbok. Cerita saja. Alisa kan juga nggak lama di sini. Cuma pendatang ingin tahu saja, nggak  ada maksud apa–apa,” bujuk Alisa. “Tapi janji ya Non jangan bilang siapa–siapa,” pinta si mbok. “Ya iyalah, Mbok. Suer deh.” “Soalnya Mbok juga nggak tahu kejadian pastinya. Tahu–tahu Mbok datang, Tante Non sudah begini.” Si mbok kelihatan masih berputar–putar bicara. “Iya, Mbok. Cerita saja,” tegas Alisa dengan nada meyakinkan. “Yah mungkin kaya cerita mbok juga.” Loh kok balik lagi kaya cerita si mbok pikir Alisa. Tapi dia tidak mau memotong cerita, takutnya nanti si mbok gagal bercerita. “Oh bagaimana ya, Mbok?” tanya Alisa. “Mbok dulu dilarang sama suami kerja di kampung ini, Non. Sama orang tua juga. Tapi kan ijazah mbok cuma sampai SMP jadi mau cari kerja susah ya. Mau bantu orang tua ke laut juga sudah banyak keluarga mbok yang begitu. Jadi terpaksa mbok kerja sama warga di sini.” Si mbok mengawali ceritanya. “Terus Mbok memannya kenapa?” tanya Alisa penasaran. “Yah kata orang–orang sih di kampung ini warganya pada menyimpang begitu, Non. Tapi maaf dulu ya, Non. Ini kan kata orang, bukan mbok sendiri,” kata si mbok sambil takut–takut. “Menyimpang maksudnya?” Alisa jadi tambah penasaran. “Yah nggak berdoa ke Tuhan lah kira–kira gitu,” jawab si mbok sederhana. Alisa hanya berpikir positif mungkin aliran kepercayaan turun-temurun. Rasanya ini diaku dan dilindungi oleh negara.   “Terus Mbok...?” Alisa merasa cerita si mbok belum selesai. Sekarang dia juga asyik sendiri dengan dunianya, sambil tangannya terus mengguyur tubuh bibinya itu. “Jadi dulu mbok pernah hamil. Padahal suami mbok sudah suruh berhenti bekerja saja. Tapi mbok waktu itu pikirnya nggak apa–apa soalnya nyonya rumah juga baik sama mbok. Mbok nggak usah kerja berat-berat lagi. Malah mereka jadi suka kasih makanan sehat begitu. Sudah kaya anaknya sendiri yang hamil.” Si mbok terdiam sejenak. “Nasib keluarga mbok kali ya yang jelek. mbok keguguran. Janinnya tiba–tiba hilang,” lanjut si mbok lirih.   Alisa menyatakan rasa simpatinya, tetapi apa yang salah ya dari ceritanya. Mungkin si mbok kurang berhati–hati atau terkena penyakit tertentu. “Kata suami mbok, anak mbok dimakan sama setan penghuni rumah situ,” suara si Mbok berat. Seperti ada rasa dendam yang tidak bisa terbalaskan. Dalam hati Alisa ini seperti cerita rakyat tradisional pada umumnya. Tapi dia tetap menunjukkan muka serius supaya si mbok tidak tersinggung. “Buat tumbal supaya tuan rumah bisa kaya, sehat, dan panjang umur.” Mbok menyelesaikan ceritanya. Alisa mulai berpikir terus hubungannya sama Tante Sani apa. Apakah si mbok mau bilang kalau bibinya itu dijadikan tumbal sama nenek. Kacau juga pikiran si mbok. Dia juga sedikit menyinggung cucu kesayangannya nenek. Iseng Alisa bertanya lagi ke si mbok. “Tapi, Mbok. Kok Mbok mau kerja di sini?” tanya Alisa menguji. Rupanya Mbok kesal mendengar pertanyaan itu. “Yah, Non kalo nggak percaya nggak apa–apa. Kalau mbok kan butuh uang. Lagian mbok sudah nggak punya apa–apa lagi. Anak nggak ada. Suami juga sudah cerai,” kata si mbok ketus. “Alisa juga nggak punya apa–apa kok, Mbok,” goda Alisa. Walaupun dia juga tidak yakin dengan jawabannya yang asal.  “Non kan masih gadis. Nggak boleh main–main, Non,” pesan si mbok. DEG. Maksudnya? Ya sudah pasti Alisa menjaga kesuciannya dari laki–laki hidung belang. Sesi percakapan itu berakhir dengan tidak lucu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD