Bab 6 : Anak - Anak Iblis

1679 Words
Alisa memasuki ruang tengah. Terlihat mama dan nenek sudah selesai makan duluan di sana. Ah, mungkin karena Alisa bangun kesiangan dan berbelok ke kamar mandi dulu. “Bunda sayang kan sama Alisa?” tanya mama serius seperti ingin mengkonfirmasi. Tapi belum sempat nenek menjawab, dia melihat Alisa sudah mau masuk ke ruangan. “Sini Alisa duduk samping oma. Oma kan sangat sayang sama Alisa,” kata nenek sambil menunjuk kursi dengan sandaran tinggi di samping duduknya. “Kami mau tengoki Bunda, tapi Alisa nggak bisa tinggal di sini,” tegas mama. “Iya, Bunda tahu Kamu juga nggak suka di sini. Ada Alisa. Sudah jangan bahas itu terus. Sini Alisa,” panggil nenek. Kenapa pagi–pagi sudah ada pembahasan serius begitu pikir Alisa. Tapi Alisa setuju dengan nenek seharusnya mereka bahas cerita yang santai saja di meja makan. Menunya sederhana saja karena si mbok juga banyak urusan. Sebagai perjamuan kepada tamunya, maka hari itu ekstra satu ekor ayam dari kandang dipotong oleh si mbok. Padahal Alisa berharap ada menu ikan mumpung lagi di dekat pantai pasti ikannya lebih segar. Sementara nenek tidak boleh makan selain sayuran. Di atas meja jadi hanya disajikan ayam bakar dua ekor dan tiga macam tumisan sayur.  Buah jeruk juga tampak kusam, mungkin sudah dari beberapa hari yang lalu tidak dikupas. Sedangkan peralatan makan semuanya kuno, tetapi antik. Meja panjang itu bisa memuat sepuluh kursi, tetapi piring yang ada hanya lima buah. “Yang lain kemana, Oma?” tanya Alisa. Padahal Alisa juga tidak kenal “yang lain” itu siapa saja. Nenek menyendokkan nasi dan mencapit ayam bakar ke piring Alisa. “Yang lain? Oh Hendro sama Endru? Entar juga muncul. Biari saja kita duluan,” jawab nenek. “Oh mereka sudah besar kali ya, Oma. Dulu kan masih kecil gitu waktu Alisa tinggal di sini.” Alisa jadi antusias setelah mendengar nama sepupu kembar laki-lakinya itu. Maklum teman–teman yang lain punya sepupu banyak. Dia saja yang hampir tidak pernah ketemu sepupu–sepupunya. Saudara dari pihak ayah pun jarang ditemui, walaupun mereka kebanyakan tinggal di Jakarta. Lantaran keluarga bresar dari pihak papa seperti punya amarah yang disimpan kepada mama, sehingga kedatangan mereka berdua selalu ditolak. Apakah mereka menyalahkan mama karena kematian papa. Apa yang salah kalau papa meninggal karena penyakit jantung setelah menikah dengan mama. Tapi lebih baik menjaga jarak daripada jadi korban pelampiasan satu keluarga besar. “Enak, Sa? Di sini nggak ada hamburger, spaghetti kaya di Jakarta. Adanya singkong sama ikan baronang bakar. He... He... He...,” canda nenek terkekeh. “Habis ini kamu mau bantu oma melihat tukang memetik cabai?” tanya nenek lagi. Ya, nenek berkebun cabai, bunga matahari, selain tentunya pohon kelapa, tipikal perkebunan warga situ.  Tadinya Alisa mau jalan–jalan ke pantai, tetapi dia tidak sanggup menolak tawaran nenek. Ah, mungkin ide bagus juga ke pantainya sore saja. Mumpung sekarang masih jam 9 bisa membantu nenek dulu, biar tidak dikira bermalas–malasan. “Mau, Oma,” jawab Alisa lugas. “Nanti Kamu pakai topi caping saja. Ada di dekat pintu. Biar cucu oma tidak jadi hitam. He... He... He...,” canda nenek lagi. Rupanya hari ini nenek lagi senang ya. Mungkin sudah melihat cucu kesayangannya, jadi badannya tidak sakit lagi. Padahal kemarin jalan saja sudah pelan–pelan dan mata agak kabur. # # # Pas Alisa siap turun ke lapangan, dua sepupunya sudah terlihat berada di tengah kebun sambil memetik cabai. Kata si mbok kedua anak lelaki itu putus sekolah ketika SMP kelas 1 karena tidak bisa mengikuti pelajaran dan sering kesurupan. Yang terakhir ini Alisa juga ragu apakah si mbok menambahkan cerita versinya sendiri seperti kisah calon bayinya. Jadi sekarang kerja mereka cuma membantu nenek di kebun. Tapi mereka berdua mungkin tidak terlalu khawatir karena bakal mewarisi kebun 1,5 hektar ini. “Kamu Hendro atau Endru?” tanya Alisa kepada salah satu yang berdiri paling dekat dengannya. “Hendro. Kakak yang kemarin malam datang kan?” tanya balik Hendro. “Iya. Kakak namanya Alisa. Sepupu Kamu. Dulu Kamu masih kecil, tapi sekarang sudah besar. Kita jarang ketemu sih,” jelas Alisa. Kalo dilihat anak ini cakep juga, sayang saja kalo bodoh (dan suka kesurupan). Alisa tertawa dalam hati. Tapi Alisa beruntung keluarga besarnya memiliki gen yang bagus jadi keturunannya semua cakep. “Saudara Kamu, Endru, bedanya apa sih? Biar Kakak nggak salah panggil?” tanya Alisa lagi. “Kalo Endru ada t**i lalat di dahinya, Kak. Dia juga suka bejo,” canda Hendro. “Nggak Kak, Hendro yang suka bejo,” protes Endru yang baru bergabung. “Endru, Kak yang tiap malam bejo... Ha... Ha... Ha...,” timpal Hendro. “Dia, Kak.” “Sudah... sudah... kalian kok jadi ramai. Jangan suka bejo. Titik,” kata Alisa menengahi. “Bagaimana kalian sudah kumpuli banyak cabainya?” tanya Alisa. Sepertinya belum, jadi anak – anak itu semuanya diam. “Kalau begitu Kalian lanjutkan lagi. Ini Kakak bantu,” saran Alisa. Siang itu di tengah terik matahari yang menyengat kulit, mereka kembali memetik cabai yang sudah ranum. Untung mereka memakai topi caping dari anyaman bambu jadi sedikit bisa teduh. Luas juga kebun nenek mungkin lebih dari 1 hektar pikir Alisa. Sekelilingnya ditanamai pohon kelapa sebagai pembatas dengan wilayah tetangga, sedangkan agak tengah didominasi tanaman cabai dan bunga matahari. Saat memasuki musim panas, bunga matahari berkembang sempurna. Lahan seluas ini dimanajemen oleh nenek seorang diri bersama dengan tukang-tukangnya. Dulu seingat Alisa lebih banyak tukang lagi, tetapi sekarang Alisa berhitung hanya ada tiga tukang. Itu pun mereka seperti tidak mau dekat-dekat dengan keluarga majikannya. Ada tatapan curiga ke arah Alisa, tapi dia maklum mereka belum pernah bertemu. Mungkin juga ada perasaan beda level antara majikan dan buruhnya. # # # Lewat tengah hari, mereka merasa capai. Alisa dan kedua sepupunya memutuskan beristirahat karena keringat sudah bercucuran. Sialnya Alisa lupa bawa baju ganti jadi kelihatan agak lepek. “Kak, kita istirahatnya di lumbung saja,” usul Endru. “Oh boleh. Dimana? Tunjuki jalannya, Ndru,” pinta Alisa. “Itu Kak,” lanjut Hendro sambil menunjuk ke arah bangunan kecil di pojok belakang kebun. “Tapi bersih kan, Dro?” tanya Alisa takutnya banyak sarang laba–laba. “Bersih, Kak. Hendro dan Endru sering tiduran di situ,” terang Hendro. Alisa pun setuju dibawa mereka sampai ke sana. Ternyata memang bersih, walau agak berantakan. Di situ menjadi tempat peletakan alat–alat perkebunan, pupuk, dan besi–besi tua. Ya lumayanlah buat tempat berteduh sambil menikmati bekal makan siang yang sudah disiapkan oleh nenek mereka. Dua saudara itu langsung ribut lagi berebut mengambil ayam yang paling besar. Kali ini Alisa tidak melerai. Sambil menikmati makan dengan tangannya, Alisa membiarkan dan memandangi saja kenakalan mereka. Lucu juga pikir Alisa punya ‘adik’ baru dengan macam–macam tingkah mereka. Selama ini Alisa merasa sendirian saja, walaupun banyak teman, tetapi rasanya beda kalau punya saudara sendiri kaya begini. Itu juga mereka statusnya hanya sepupu, bagaimana kalau adik kandung sungguhan lamun Alisa. Angin berembus sepoi–sepoi dari balik pintu. Alisa jadi mengantuk setelah setengah hari bekerja di ladang disusul makan sampai kenyang. Dilihatnya dua sepupunya sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri bermain game di HP. “Ya sudah aku mau tiduran sebentar dulu. Kalian banguni kakak nanti kalau sudah mau pulang,” pinta Alisa. “Iya, Kak,” dijawab serempak. Mereka berdua tersenyum berpandangan, lalu melanjutkkan memerangi musuh di HP. Awas saja kalau dirinya sampai  ditinggal pikir Alisa. Tapi ini belum terlalu sore. Sekedar tidur 1–2 jam tidak apa lah masih keburu pulang sebelum magrib pikirnya. Jadi dia membiarkan dirinya terlelap. # # # Johni datang membawa kado buat Alisa. Alisa tidak mengira dan buru-buru masuk ke kamar lalu membuka kejutan itu. Sambil duduk bersila di atas ranjang kamar tidurnya, dia mendapati lagi–lagi boneka kucing kesukaannya. Hatinya sangat gembira dan ingin berterima kasih kepada Johni. Kebetulan Johni sudah berada di kamar Alisa juga. Johni minta ciuman Alisa di pipinya dan gadis itu menyanggupinya. “Muachhh.” Alisa memberikan ciuman terbaiknya. Tetapi sebelum Alisa melepaskan diri, Johni bergerak mencumbu bibir Alisa. Alisa merasa risih bibir mereka bersatu, tetapi sementara dibiarkan saja. Wah, pikirnya mungkin sekarang tahapan pacaran mereka sudah naik tingkat. Johni sudah berani mengekspolari dirinya lebih dalam di bagian yang lebih intim. Tapi Alisa diam–diam menikmatinya juga. Alisa memandangi wajah Johni yang rupawan dan membiarkan tubuhnya dikuasai. Rasa ini sungguh nikmat dan pelan–pelan merambat ke bawah sampai sekujur tubuh. Alisa merasakan tangan–tangan Johni menjadi liar setelah dari tengkuk gadis itu. Tiba–tiba Alisa terhenyak ketika dadanya dipegang-pegang. Dia baru merasakan ini sudah salah. Langsung otaknya bekerja dan dia menjerit marah. “JOHN...!” Seketika matanya terbuka dari mimpi itu. Tapi apa yang ditemuinya di dunia nyata lebih miris lagi. Hendro dan Endru sedang memegangi dadanya. “NAJIS...!” bentak Alisa. Oh, masih untung Alisa melihat BHnya tidak copot. hanya pakaiannya sudah disingkap ke atas, tapi tidak sampai lepas. Anak–anak nakal itu telah meraba–raba b*******a sepupunya sendiri. Tanpa pikir panjang Alisa mendorong dan menendang sekuat-sekuatnya para pria kecil itu agar menjauh dari dirinya. Mereka terguling jatuh dari atas dipan, tetapi tidak melawan. “NGAPAI KALIAN?” cecar Alisa dengan nada tinggi. Setelah jatuh cukup keras, mereka diam saja tidak bergerak dalam posisi memunggungi Alisa. Hanya terdengar suara cekikikan geli.  “Aarrggghhh!” Alisa marah–marah dan mengumpat di atas pembaringannya. Semakin marah, Alisa bangun dan berniat memberi pelajaran kepada anak–anak nakal itu. “BANGUN...!” perintahnya sambil kakinya menendang punggung salah satu yang paling dekat, entah si Hendro atau si Endru. Tapi mereka tetap tidak mau membalikkan badan, hanya meringkuk sambil terus cekikikan. Alisa melangkahi anak itu dengan maksud menendang perutnya saja biar tahu rasa. Hanya saja ketika dia sudah dalam posisi menghadap Endru (yang ada t**i lalat), dia baru sadar mata anak itu berbeda. Pupil Endru membelah menjadi dua di kedua matanya.  Pupil tambahan itu bahkan bisa bergerak bebas saling mendekat dan menjauh. Alisa tekejut ketika empat pupil mata itu menatap tajam ke arahnya.   “YA Tuhan,” sebut Alisa. Alisa menangis bingung karena anak-anak itu sedang kesurupan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD