Bab 7 : Karma

1149 Words
Alisa masih menangis galau. Perasaannya campur aduk marah, takut, dan jijik, ketika datang kembali ke lumbung bersama nenek. Kali ini para tukang yang tadinya tidak mau membaur ikut bersama rombongan itu. Ada dua bapak–bapak sudah berumur dan satu yang masih muda, mungkin anak dari salah satu bapak itu. Sepertinya mereka sudah pernah melakukannya, karena tanpa banyak diarahkan oleh nenek, tukang-tukang itu memegangi tangan dan kaki Endru dahulu. Nenek tidak banyak bicara, hanya memasang muka serius. Alisa tidak berani masuk ke dalam lumbung. Dia hanya berdiri di luar pintu demi menyaksikan ritual pengusiran setan itu. Tubuh anak bernama Endru itu mulai mengeliat, tetapi tidak bisa kabur karena sudah dipegangi. Suara cekikikannya kini berganti menjadi amarah. Dia mengumpat kata–kata kotor kepada semua orang di situ. Matanya masih bertanda aneh. “PERSETAN KAU!!!” teriak anak itu. “Sadar, Mas. Sebut nama Allah,” kata bapak yang beruban. Nenek memercikkan air putih ke wajah Endru. Kemudian dia mulai komat-kamit merapal mantra dalam bahasa yang berbeda. Suaranya pelan jadi seperti mendesis. Tapi mantra itu sepertinya manjur, seiring tubuh Endru berontak semakin gila seakan ada sosok yang dipaksa keluar. Teriakannya seperti mengisyaratkan kesakitan yang luar biasa.  Sejak semua orang sibuk menangani tubuh Endru dulu, tubuh saudaranya juga kelihatan gelisah. Hendro sekarang bangun dan beranjak menjauh seperti takut kepada nenek. Dia merapat ke dinding terdekat. Matanya menatap ke sekeliling seperti tikus mencari celah untuk kabur. Tapi nenek sudah selesai dengan Endru, dan sekarang mengejarnya. “TURUN!” hardik nenek kepada Hendro. Ini sudah gila pikir Alisa. Hendro yang kesurupan bisa merayap di dinding. Sekarang dia ada di pojok langit-langit lumbung. Para tukang agak kewalahan menyuruh Hendro turun jadi mereka memakai galah, percis seperti mau menangkap seekor tikus. Ya mungkin karena berat badan juga, tubuh Hendro terpojok dan akhirnya jatuh ke lantai. Di saat anak itu mengerang dan susah berdiri, para tukang segera meringkusnya dan memeganginya seperti Endru. Nenek mengulang mantra yang sama kepada Hendro. Akhirnya ritual pengusiran setan selesai. Kini Hendro meyusul Endru tertidur. Seorang tukang yang paling muda menunjukkan kepada Alisa bahwa situasi sudah terkendali. Dia membukakan kelopak mata Endru dan Hendro bergantian.   “Sini, Mbak! coba lihat,” katanya. Aduh, kenapa Alisa harus menyaksikan itu pikirnya. Alisa takut-takut mulai berani masuk ke dalam. Dia lega memastikan lewat pupil mata kedua saudara kembar itu sudah menjadi normal lagi.  “Sudah, Ton. Jangan ganggu mbaknya,” kata bapak beruban kepada anak laki–lakinya itu. “Cepat Kamu bawa Hendro ke kamar! Bapak yang bawa Endru,” Katanya lagi. Para tukang membopong tubuh Hendro dan Endru kembali ke dalam rumah. Sepanjang jalan mereka seperti melantunkan litani yang lebih indah didengar daripada mantra nenek. Kedua anak itu terlihat tidur pulas, walaupun bukan di atas ranjang. Tetapi kenapa mereka tidak membacakan doanya tadi bersama nenek, apakah mereka takut menyinggung nenek yang berbeda kepercayaan.   # # # “Sabar ya, Sa,” kata nenek setelah mereka berdua sampai di ruang tengah. Alisa hanya mengangguk. Lantaran masih syok, dia memutuskan tidak mau bercerita panjang lebar kepada nenek. Masa iya dia bercerita hubungannya dengan Johni, lalu kedua sepupunya memegang dadanya. Malu juga. Lagi pula setelah dipikir saat itu iblis yang mengerayanginya, bukan sepenuhnya kesengajaan sepupunya. Jadi sementara dia simpan dulu rahasia ini sendiri sampai tiba waktunya. Hanya saja dia masih merasa jijik. Akan tetapi nenek malah berpikir lain. “Sa, Kamu kan sudah besar bisa menilai sendiri,” kata nenek membuka pembicaraan. “Oma mau kasih Kamu sesuatu,” lanjutnya. “Apaan Oma?” tanya Alisa penasaran. “Satu barang buat jagain Kamu biar nggak diganggu lagi,” jawab nenek. “Barang apa Oma?” tanya Alisa meminta penjelasan lebih lanjut. “Besok oma kasih kalau Kamu sudah siap.” Mungkin pikir Alisa kalung atau gelang jimat begitu. Tidak apa–apalah kata Alisa dalam batinnya, daripada berurusan dengan kejadian aneh melulu di sini. Setelah itu Alisa disuruh berpuasa. Mama sempat bingung kenapa anaknya jadi tidak mau makan malam. Baru setelah mendengar cerita dari nenek kalau Alisa syok melihat sepupunya kesurupan, maka mama bisa maklum.   “Ya sudah Kamu mandi terus tidur biar tenang,” saran mama. Alisa buru–buru mandi secepatnya, walaupun dia maunya mengguyur tubuhnya lebih lama supaya semuanya dosa tadi siang luntur. Tidak lupa Alisa meminta mama mengawasi pintu kamar mandi dari sofa di  ruang tengah. Tugas mama baru selesai ketika mengantar Alisa masuk ke kamar tidurnya. “Sa, tadi siang Kamu kenapa?” tanya mama. Mungkin mama mau mendengar juga cerita dari sudut pandang anaknya. “Nggak, Ma. Ya itu cuma lihat si Hendro sama Endru kesurupan,” jawab Alisa sama seperti nenek. “Iya, terus Kamunya bagaimana?” tanya mama lagi. “Ya kaget saja, Ma. Kan Alisa nggak pernah lihat–lihat begituan. Baru di sini saja begitu,” jawab Alisa ketus padahal takut juga. “Memang kalian habis berbuat apa? Kok sampai diganggui mahluk halus gitu.” Mama heran juga, tidak ada api masa akan ada asap.    “Nggak tahu, Ma., kalau si Hendro sama Endru. Alisa kan di situ ketiduran. Tahu–tahu bangun, mereka sudah kesuru ... ya gitu, Ma.” Alisa enggan membahasnya lagi. “Ya sudah, Sa. Mama juga heran kenapa sejak kita pergi dari sini, tante Kamu juga sakit jiwa begitu. Anak-anaknya juga jadi nggak bener,” keluh kesah mama. Alisa diam saja menunggu mama bercerita lebih banyak. “Dulu tante Kamu memang suka gonta–ganti lelaki. Dia juga sudah jahat sama mama. Ah sudah lah ...” Mama berhenti tidak mau berbagi cerita dengan Alisa. “Apa ini hukum karmanya ya. Kasihan juga...” Cerita ditutup oleh mama dengan desahan panjang. “Ya sudah, Sa. Mama tinggal dulu ya. Kamu buruan tidur. Jangan pikir berat-berat,” pesan mama. Alisa mengangguk setuju. Tetapi tatapannya terus mengamati mama sampai pintu tertutup, berharap mama tidak pergi meninggalkannya. Tapi apa daya, dia bukan anak kecil lagi yang bisa minta tidur dikeloni sama mama. Alisa buru–buru mengunci pintu dan jendela rapat–rapat, lalu kembali meringkuk di bawah selimut. Kini Alisa jadi takut memejamkan matanya karena sudah dua kali bermimpi buruk. Dari luar terdengar sayup-sayup suara nenek dan mama seperti sedang berdebat. Ah, tapi Alisa lagi takut keluar kamar sendiri, selain tidak mau juga mencampuri urusan orang dewasa. Jadinya menunggui jarum jam saja yang terus berputar. Benar saja lewat tengah malam, dalam rasa kantuknya, kelopak matanya mulai bergerak naik turun. Antara sadar atau tidak, Alisa merasa ada bayangan hitam di sudut ruangan. Sepertinya sosok anak kecil yang sama memegangi kakinya waktu itu. Hanya jongkok di situ, tidak bergerak sedikit pun. Seperti sedang menunggu sesuatu atau menunggu melakukan sesuatu. Alisa coba menenangkan hatinya, mungkin hanya bayangan pikirannya yang bermain liar. Teringat kata mama, jangan berpikir yang macam–macam. Tapi Alisa menengok lagi sosok itu tidak kunjung pergi. Sedangkan tubuh Alisa kini sudah lemas, tidak bisa bangun seperti ditindih beban puluhan kilo. Alisa hanya bisa menutup matanya dengan bantal sambil berharap pagi hari cepat datang.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD