Bab 8 : Susuk Penjaga

1279 Words
Mimpi buruk kemarin terulang lagi percis sama. Dari kejauhan cakrawala terlihat obyek yang semula hanya titik lalu berenang mendekat dan semakin jelas wujudnya. Ya sosok genderuwo hijau dengan muka merah yang mau menangkapnya. Kaki Alisa terjebak ke dalam pasir seperti dibawa tarik semakin ke dalam. Tiba-tiba muncul sosok anak kecil kulit putih pucat dengan bibir biru yang memegangi kakinya. Alisa capai terus-terusan mimpi buruk. Jadi Alisa bangun dan memutuskan pagi ini dia bertekad menemui neneknya setelah mandi. Kebetulan belum sarapan juga jadi masih bisa dihitung berpuasa. Saat Alisa membuka kembali pintu kamar mandi, nenek keburu berdiri di depan.  Alisa sempat terkejut. “Oma, dari tadi tunggui Alisa?” “Iya, Sa.” “Ada apa? Oma mau pakai kamar mandi?” tanya Alisa. “Bukan, Sa. Oma mau kasih Kamu pusaka dulu. Yang oma cerita kemarin,” jawab nenek. “Tapi Alisa mau ke kamar dulu Oma,” protes Alisa. Seakan mau menunjukkan dia sebaiknya berpakaian selengkapnya dulu baru membicarakan urusan itu.  “Nggak apa–apa, Sa. Cuma sebentar saja. Lagian barang ini dipasangnya di bawah pusar,” jelas nenek. Lalu nenek mengeluarkan benda pusaka kecil tipis, tetapi tidak sampai sebesar jarum. Bahannya terbuat dari kuningan jadi seperti berwarna emas.    Alisa mengamati benda yang dialasi saputangan hijau polos itu. Dia jadi ragu, apakah nenek serius memberikan alat–alat yang terhitung mistis itu. Jadi merinding kalau tahu baru keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya pikirnya. Kenapa di sini harus berurusan dengan hal–hal gaib begitu.  “Apaan ini, Oma?” tanya Alisa pura–pura bodoh. “ini pusaka bisa melindungi Kamu dari gangguan mahluk halus,” terang Oma. Ini kan seperti susuk pikir Alisa lagi. Walaupun dia belum pernah melihat dengan kepala sendiri, tapi kata orang bentuknya begitu. Apakah memasang susuk itu berdosa? “Ah, dosa nggak Oma?” tanya Alisa coba mengelak.  “Kata agama Oma nggak. Dosa itu kan relatif tergantung ajarannya apa,” tanggap nenek. “Tergantung niatannya, Sa. Kalau buat kebaikan nggak apa–apa. Asal jangan disalahgunakan. Kan ini buat perlindungan Kamu, bukan buat menyakiti orang lain.” Benar juga pikir Alisa. Ini kan cuma benda perantara saja, yang penting dia masih percaya kepada Tuhan kata batin Alisa. “Tapi bagaimana ya Oma? Entar kenapa–kenapa nggak? ” Alisa masih berat hati saja memakai begituan. Tapi Alisa juga takut hidupnya tidak nyaman tinggal di sini. “Tapi apa sih, Sa? Oma saja juga pakai, tapi nggak terjadi apa–apa.” Nenek menunjuk dirinya. “Nanti kan juga bisa dilepas kalo Kamu sudah nggak mau,” timpal nenek lagi. “Oh begitu, Oma.” Alisa mulai berpikir mungkin tidak apa–apa sekedar pakai sementara. Dia sudah bertekad saat ini tidak mau melihat mahluk halus yang aneh–aneh lagi. Bonusnya siapa tahu dia jadi punya kekuatan super. Walaupun itu hanya ada di serial televisi jadi seperti para penyihir cantik. He ... He ... He ... “Nah begitu dong, nurut sama oma. Ini buat kebaikan Kamu juga biar aman,” kata nenek.   Nenek kelihatan senang karena sudah berhasil membujuk Alisa. Sebelumnya Alisa sudah memakai pakaian dalam sehingga berani menyingkapkan handuknya. Pelan–pelan nenek mendorong jarum itu ke bawah pusar Alisa. Ngeri juga dia melihat ujung jarumnya menembus kulitnya sampai habis. “Aa... aawww... pelan–pelan Oma,” komplain Alisa kesakitan.  “Iya, Sa. Kamu juga jangan dirasa. Ini oma sudah pelan–pelan,” sanggah nenek biar Alisa tidak rewel.   Aduh, dia baru sadar betapa bodoh dirinya kenapa mau saja menuruti omongan nenek. Walaupun dia percaya sama nenek bahwa itu bisa melindunginya dari gangguan mahluk halus, tapi bagaimana kalau jarumnya tidak steril lalu dia kena penyakit tipes. Kacau, kenapa baru terpikir setelah jarumnya masuk ke badan.   “Sudah, Sa. Sekarang Kamu bisa tidur nyenyak,” kata nenek serasa puas rencananya sudah berjalan. Tunggu dulu, kok nenek bisa tahu ya kalo setiap Alisa tidur ada saja yang mengganggu. “Kok Oma tahu?” tanya Alisa curiga. Apakah rumah ini memang terkenal angker atau bagaimana ceritanya. “Ya kan oma sudah tinggal di sini puluhan tahun. Rumah tua pasti ada saja penunggunya. Apalagi kalau lihat cucu oma yang cantik jelita, pasti pada ganggui. He... He... He... ,” canda nenek sambil terkekeh. “Aaa...aaahhh Oma nggak lucu,” rengek Alisa minta nenek jangan bercanda begitu.    “Ya sudah, Kamu sarapan dulu. Nanti terserah Kamu apa masih mau ke kebun cabai atau nggak,” tawar nenek. “Iya Omaku sayang,” jawab Alisa dengan riang. Apakah ini efek dari susuk itu sehingga suasana hatinya lebih tenang dan gembira. Dia masuk ke kamar tidur juga dengan perasaan beda seperti lebih percaya diri, bahwa mahluk–mahluk usil itu akan minggir. Hari ini dia memilih baju berjenis off shoulder yang diikat pada bagian bawah. Dia mulai berkaca di depan kaca lemari, memandangi dirinya yang cantik. Lalu dicobanya beberapa alternatif celana pendek yang sesuai. Denim berwarna biru langit sepertinya yang paling cocok, walaupun sudah agak ketat jadi bokongnya agak terbentuk. Hari ini Alisa mulai berpikir mau memakai makeup terbaik. Kemarin dia cuek saja karena mood-nya kurang bagus, tapi hari ini dia harus tampil beda. Ya, walaupun juga tidak rencana kemana–mana, jadi dia pilih warna yang natural soft saja. Pelembab, foundation, bedak sepertinya cocok ditabur di wajahnya. Tidak lupa lipstik berwarna soft pink  dan lip gloss melengkapi dandanannya. Sekarang pilihan aksesoris jatuh kepada sepasang anting Swarovski, hadiah dari mama waktu ulang tahunnya yang ke-17. Untuk tangan, dipilih gelang yang banyak lilitan dengan motif etnik. Terakhir dia memilih bandana motif polkadot  untuk merapikan rambutnya yang tergerai.  Alisa merasa puas dengan penampilannya hari ini. Dia melangkah ke meja makan seperti seorang bintang film. Rambutnya terkibas kena angin yang berembus sepanjang lorong itu sampai di ruang tengah. Dia tampil percaya diri. Melewati kamar mandi, dia melihat Si mbok sedang memandikan bibinya. Jadi Alisa berhenti sejenak di depan pintu kamar mandi untuk pamer. Si mbok terkagum-kagum melihat cucu majikannya itu. “Non, cantik amat hari ini. Habis gajian ya, Non?” “Ah, Mbok. Bercanda melulu.”  Alisa tersipu malu. Berarti sudah ada satu orang yang memuji kecantikannya. “San, coba lihat Non Alisa. Cantik benar hari ini kaya puteri.” Si mbok memanggil bibi Alisa. Wanita itu berhenti bermain di dunianya sendiri dan memalingkan muka ke arah Alisa. Alisa bergaya berharap walaupun bibinya gila, tapi masih mau memujinya juga. Mata bibinya menatap Alisa. Selanjutnya ekspresi bibinya di luar dugaan Alisa, dia seperti ketakutan. Dia menghentakkan kaki dan mengamuk. “Non, sudah! Non, sudah!” Si mbok jadi kewalahan. Alisa terkejut. Memang aneh bibinya itu. Tapi dia tidak menyangka bibinya malah akan marah, boro-boro memujinya. Apakah bibinya merasa tersaingi dengan kecantikan Alisa. “Ah, dasar! Seharusnya aku tidak memaksa bibiku. Dia kan tidak tahu perempuan cantik,” kata Alisa dalam hati. Jadi Alisa lanjut melangkah ke ruang tengah. Mama yang sudah duduk di meja makan terkejut, tetapi ikut senang. Nenek tidak kelihatan, tapi sepertinya sudah selesai sarapan karena piring di meja tinggal empat. Si kembar juga belum kelihatan, tapi Alisa masa bodoh. Lebih baik tidak dekat–dekat dengan mereka dulu pikirnya. “Cantik benar hari ini Kamu, Sa. Itu anting hadiah dari mama kan?” tanya mama ingin mengkonfirmasi pemberiannya. “Ya iyalah. Hadiah dari Mama tersayang,” jawab Alisa sambil berjalan menghampiri mama dan langsung mencium pipi mama. Mama yang masih terkejut hanya membelai pipi Alisa dengan telapak tangannya. “Kamu sudah baikan, Sa?” tanya mama agak khawatir. Dia curiga apakah peristiwa kemarin masih membekas di benak anaknya. “Mama lihat saja sendiri Alisa hari ini Alisa baik–baik saja,” jawab Alisa lantang. Mama terdiam sejenak, baru kemudian berkata, “Oh syukur Sa. Anak mama sudah kembali lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD