Monster Sesungguhnya

2056 Words

Pemuda itu bergerak kecil dengan terbatuk pelan sembari perlahan mendudukan diri. Ia melirik tempatnya terbaring kini, ternyata ada banyak darahnya di sana membuat ia sontak tersenyum miring. Tangannya terulur meraih hapenya dalam saku celana, ia pun menelepon seseorang dengan meringis sakit karena lukanya yang masih mengeluarkan darah. Ia menegakan tubuh saat teleponnya diangkat. "Ke kampus, gue sekarat." Ujarnya lalu menutup sambungan begitu saja. Pemuda yang tidak lain adalah Dirga itu kembali merebahkan tubuhnya pada trotoar dengan terkekeh kesenangan. Ternyata membodohi orang itu adalah salah satu hal yang paling menyenangkan. Apalagi membodohi mereka tentang kematiannya. Tidak sulit bagi Dirga untuk menahan napas sepersekian menit. Agar meyakinkan dua orang bodoh tadi yang kini su

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD