Erlangga melengos samar melihat gadis di depannya yang masih menempelkan pipi pada meja dengan menggerutu sendiri sedari tadi. Bahkan, Erlangga yang di hadapannya tidak dianggapnya. "Emang ada apaan, sih? Kenapa elo mendadak meleyot begini?" Gemas pemuda itu sudah memeluk tangan santai. "Gue masih heran aja, kenapa ini terjadi sama gue?" Ujar Erisa masih mengembuskan napasnya samar. "Ya, apaan?" Tanya Erlangga kesal karena Erisa masih saja berbicara ambigu tanpa penjelasan, "setiap gue antusias sama sesuatu hal pasti ujung-ujungnya berakhir menyedihkan begini. Emang hidup gue segitu sialnya ya?" Ujarnya sudah menghentak-hentakan kakinya di bawah meja. "Gak boleh ngomong begitu, ege. Apanya yang siaal sih, makanya cerita elah ... gue berasa begoo banget dari tadi cuma planga-plongo gak p

