Reyhan menunjukkan layar ponsel.
Wajah Alya pucat seketika.
Tertulis di sana dengan huruf kapital yang seolah menjerit:
“A.L.Y MENJUAL AIB KELUARGA MAHENDRA?”
Disusul dengan beberapa potongan foto lama saat Alya masih tinggal di mansion, dan kutipan kalimat dari novel yang baru ia unggah beberapa hari lalu.
"Aku menikahi pria yang pikirannya selalu digerakkan uang. Dan aku, hanyalah serpihan dari dunia kecilnya yang ia sembunyikan dari semua orang."
"Apa… apa ini?" suara Alya gemetar.
Reyhan memejamkan mata, mendesah pelan. “Berita itu sudah menyebar ke mana-mana, Ya. Ada yang memotong novel kamu, mengedit, dan mempostingnya seolah-olah kamu membongkar semua rahasia keluarga Mahendra.”
Alya melangkah mundur, matanya mulai berkaca-kaca. “Tapi… aku nggak pernah nyebut nama siapa pun di novel itu. Semuanya fiksi. Bahkan tokohnya pun bukan kamu…”
“Aku tahu. Tapi mereka tidak peduli,” balas Reyhan lirih. “Yang penting buat mereka, kamu pernah jadi bagian dari keluarga Mahendra. Itu sudah cukup untuk menghancurkanmu.”
Alya menjatuhkan diri di sofa kecil kontrakannya. Tubuhnya lemas. Duniaku hancur lagi, pikirnya. Belum genap enam bulan ia keluar dari keluarga Reyhan, tapi masalah selalu datang seperti badai.
Reyhan duduk di sebelahnya, menggenggam tangannya erat.
“Alya, kita bisa selesaikan ini sama-sama. Kali ini aku nggak akan tinggal diam. Aku janji.”
Alya menoleh. “Mereka bisa gugat aku, Rey… Ini bukan sekadar hujatan netizen. Ini bisa jadi tuduhan pencemaran nama baik…”
“Kalau mereka mau perang,” ujar Reyhan dengan mata tajam, “aku yang akan berdiri paling depan.”
---
Tiga hari kemudian.
Reyhan dan Alya datang ke kantor pengacara ternama yang direkomendasikan teman lama Reyhan. Di sana, mereka berdiskusi serius tentang langkah hukum, sambil membawa bukti bahwa novel itu tidak menyebutkan nama, tidak menyatakan tokoh nyata, dan semua hanya rekaan.
Namun rupanya, masalah lebih dalam dari yang mereka kira.
“Ada seseorang yang sengaja menyebarkan berita ini,” ujar Pak Ronald, pengacara itu, sambil membuka laptopnya. “Kami telusuri akun anonim yang pertama kali memviralkan potongan novel Alya. Ternyata akun itu berasal dari seseorang yang juga memiliki koneksi kuat dengan media.”
“Siapa dia?” tanya Reyhan cepat.
“Namanya... Nadine.”
Alya terhenyak. Nadine. Nama itu terasa seperti tamparan. Ia adalah mantan tunangan Reyhan sebelum pernikahan mereka yang disusun oleh keluarga. Wanita dari keluarga terpandang, cantik, licik, dan… sangat membenci Alya.
“Kenapa dia melakukan ini?” gumam Alya nyaris tak terdengar.
Reyhan menggertakkan gigi. “Karena dulu aku memilih kamu, bukan dia. Karena ayahku menghentikan rencana pertunangan itu untuk menikahkan aku secara diam-diam denganmu.”
Alya menunduk. Hatinya berdesir—campuran antara sakit, marah, dan pasrah.
---
Hari demi hari dilalui dengan tekanan. Media sosial Alya dipenuhi komentar jahat. Akun-akunnya dilaporkan massal. Bahkan dua brand yang sempat menawarkan kerja sama mendadak membatalkan kontrak secara sepihak.
Alya hancur.
Satu malam, setelah Reyhan pulang dari mencari bukti ke kantor lamanya, ia mendapati Alya duduk sendiri di dapur gelap. Lilin kecil menyala, dan matanya sembab.
“Aku nggak kuat, Rey…” bisiknya.
Reyhan mendekat, memeluknya dari belakang. “Kamu kuat. Kamu selalu kuat. Tapi kamu nggak harus hadapi ini sendirian.”
Alya menunduk dalam pelukannya. “Aku menulis karena itu satu-satunya cara aku menyembuhkan diri. Aku nggak pernah bermaksud menyakiti siapa pun…”
Reyhan mengangguk, mencium pelipis istrinya. “Dan itulah yang akan aku perjuangkan. Kita akan lawan ini. Kita akan buka siapa dalang sebenarnya.”
---
Minggu berikutnya, Reyhan menemui jurnalis lama yang dulu sering meliput Mahendra Group. Ia menunjukkan hasil penelusuran Ronald dan bukti-bukti digital bahwa akun penyebar berita palsu berafiliasi dengan Nadine.
Jurnalis itu tertarik. “Kamu mau ini diberitakan?”
Reyhan ragu sejenak, lalu mengangguk. “Ya. Tapi bukan hanya sebagai balas dendam. Aku ingin publik tahu: yang mereka serang adalah seorang istri yang hanya ingin hidup tenang. Seorang penulis yang cuma ingin didengar.”
Berita itu tayang tiga hari kemudian. Judulnya:
“Dalang di Balik Tuduhan Fiktif terhadap Penulis A.L.Y Terungkap – Dendam Lama yang Belum Usai?”
Media berbalik arah. Dukungan publik mulai kembali. Banyak netizen meminta maaf. Komentar di i********: Alya berubah jadi penuh semangat. “Semangat Kak Alya! Kami percaya Kakak nggak salah!” tulis seseorang.
Namun satu kejutan belum berakhir.
Saat Alya membuka emailnya, ia menerima undangan resmi: novelnya akan diterbitkan secara cetak oleh salah satu penerbit besar.
Air mata Alya tumpah. Kali ini bukan karena sakit. Tapi karena akhirnya... kebenaran tak perlu berteriak. Ia cukup berdiri tegak dan membiarkan kejujuran bersinar sendiri.
---
Suatu malam, Alya dan Reyhan duduk di beranda rumah kecil mereka. Udara hangat, langit cerah.
“Semua sudah selesai ya?” tanya Alya pelan.
“Belum,” jawab Reyhan. “Karena perjalanan kita baru mulai. Tapi aku janji, ke mana pun arah hidup kita nanti... aku akan selalu di sampingmu.”
Alya tersenyum. Ia menggenggam tangan Reyhan, lalu menarik napas panjang.
“Aku juga punya sesuatu,” ujarnya.
“Apa?”
Alya mengeluarkan test pack dari saku bajunya. Dua garis merah jelas terlihat.
Reyhan menatapnya tak percaya. “Kamu…?”
Alya mengangguk sambil tersenyum. “Kita akan punya bayi.”
Reyhan tak bisa berkata-kata. Ia memeluk Alya dengan penuh cinta, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
---
Tiga bulan kemudian...
Alya duduk di atas panggung kecil di acara peluncuran bukunya. Ia mengenakan dress biru muda, dan perutnya mulai membulat. Penonton penuh. Wartawan memotret. Tapi Alya tetap tenang.
“Novel ini saya tulis dari hati,” ucap Alya saat pidato. “Bukan untuk mengumbar masa lalu, tapi untuk menyembuhkan diri sendiri. Karena kadang, menulis adalah satu-satunya cara kita bisa berdamai dengan luka yang pernah ditinggalkan.”
Sorak tepuk tangan bergema. Reyhan duduk di barisan depan, matanya tak lepas dari wanita yang telah menjadi dunia baginya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Alya merasa benar-benar diterima. Bukan karena status, bukan karena nama, tapi karena keberaniannya menjadi diri sendiri.
---