Tiga hari setelah kedatangan Alya ke Jakarta, hidupnya berubah drastis.
Ia kini tinggal di sebuah apartemen mewah milik Reyhan. Letaknya di pusat kota, dikelilingi gedung-gedung pencakar langit, butik mewah, dan restoran bintang lima. Balkon apartemen menghadap langsung ke jalan protokol, di mana lampu-lampu kota bersinar sepanjang malam seperti lautan bintang.
Namun, meski tinggal di tempat yang begitu nyaman, Alya merasa... terasing.
Setiap sudut ruangan terasa terlalu mengkilap untuk disentuh. Sofa mahal, karpet bulu import, kamar mandi dengan bathup besar dan kaca anti-embun. Bahkan aroma ruangan ini seperti berasal dari hotel elit—bukan rumah.
Alya sering memandangi dirinya di cermin, bertanya-tanya:
Apakah aku pantas di sini?
---
Hari-harinya dimulai dengan sarapan yang disiapkan oleh asisten rumah tangga bernama Bu Leli. Wanita paruh baya yang sopan dan ramah, tapi tetap menjaga jarak.
“Bu Alya mau sarapan apa hari ini?”
“Roti dan teh saja, Bu.”
“Baik, nanti saya buatkan yang hangat.”
Meski sederhana, Alya tahu... ia sedang diawasi. Setiap gerak-geriknya bisa sampai ke telinga ayah Reyhan—Pak Mahendra.
---
Pada hari kelima, Reyhan mengajaknya datang ke acara keluarga besar.
Alya menolak, tapi Reyhan bersikeras.
“Mereka harus tahu kamu istriku. Dan kamu nggak perlu takut. Aku di samping kamu.”
Alya menatap gaun di atas tempat tidur—gaun malam biru muda berpotongan anggun. Bukan miliknya. Reyhan menyuruh penata busana menyiapkannya.
Gaun itu indah. Tapi berat. Seolah membawa beban ribuan mata yang akan menatap sinis dan bertanya-tanya: siapa perempuan kampung ini di antara keluarga konglomerat?
---
Acara itu diadakan di hotel bintang lima. Ballroom-nya luas, berisi lampu gantung kristal dan alunan musik klasik dari musisi profesional.
Alya berjalan di samping Reyhan, tangan mereka bergandengan, tapi detak jantung Alya tak karuan.
Semua orang berpakaian mewah. Berlian di leher wanita-wanita itu bisa membayar kontrakan Alya selama 10 tahun.
Tatapan sinis langsung menghujam dari berbagai arah.
“Dia itu istri Reyhan?”
“Mana mungkin.”
“Lihat bajunya. Kelihatan murah walau mahal.”
“Pasti cewek dari desa. Main guna-guna.”
Alya hanya menunduk. Tapi langkahnya tetap tegak. Ia ingat kata Reyhan sebelum turun dari mobil:
“Kamu punya hak berdiri di sampingku. Jangan pernah ragukan itu.”
---
Malam makin larut. Saat para tamu sudah mulai duduk, datanglah seseorang yang membuat Alya benar-benar ingin pergi:
Karina.
Dengan gaun emas mengilap, rambut disanggul tinggi, dan senyum setajam belati.
“Lihat siapa yang Reyhan bawa malam ini...” katanya dengan suara keras, cukup untuk menarik perhatian tamu sekitarnya.
“Alya,” balas Reyhan dingin. “Istriku.”
Karina mendekat, menatap Alya dari ujung kaki sampai kepala.
“Kau cocoknya jadi pelayan, bukan nyonya Mahendra.”
Alya menatapnya tajam. “Kau juga cocoknya jadi tokoh antagonis sinetron murahan.”
Karina tersentak. Beberapa orang tertawa pelan.
Tapi momen itu terputus ketika Pak Mahendra masuk ruangan, diikuti beberapa pengusaha penting dari luar negeri.
Tatapannya langsung tertuju pada Alya.
“Bersiap. Ini akan jadi malam panjang,” bisik Reyhan pelan.
---
Setelah pidato sambutan, Reyhan diperkenalkan kepada mitra bisnis luar negeri—termasuk anak perempuan dari pemilik perusahaan Singapura, yang dimaksud ayahnya sebagai calon istri baru.
Alya melihat dari kejauhan. Wanita itu tinggi, cantik, anggun, dan... percaya diri.
Ia berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih. Tertawa kecil sambil menyentuh lengan Reyhan.
Dan Reyhan? Meski terlihat menjaga jarak, tetap bersikap sopan.
Alya menahan napas.
Seseorang berdiri di sampingnya. Ayah Reyhan.
“Lihat?” katanya. “Wanita itu bisa membawa bisnis kami ke tingkat global. Kamu bisa apa, Alya?”
Alya menatap pria itu. “Saya mungkin bukan siapa-siapa. Tapi saya tidak akan pernah menjual suami saya demi bisnis.”
Pak Mahendra tertawa pendek. “Sayangnya, kamu tidak punya pilihan.”
---
Setelah acara selesai, di dalam mobil, Reyhan diam. Alya juga.
Hening panjang.
“Maaf soal tadi,” ucap Reyhan akhirnya.
“Aku tahu,” balas Alya. “Kamu terjebak.”
“Aku nggak pernah menyesal menikah sama kamu. Tapi semakin aku melindungimu, semakin banyak yang kamu harus hadapi.”
Alya memejamkan mata. “Aku sanggup. Tapi kamu juga harus sanggup. Jangan lagi kamu diam saat mereka rendahkan aku.”
Reyhan menatapnya. “Kamu benar. Aku akan buktikan, kamu bukan hanya pantas jadi istriku, tapi juga pantas berdiri sejajar dengan mereka.”
---
Keesokan harinya, Alya mulai belajar banyak hal:
Etika makan formal
Tata cara bersalaman dalam bisnis
Bahasa Inggris dasar
Public speaking sederhana
Bukan karena ingin mengubah dirinya. Tapi karena ia ingin bertahan. Karena ia sadar: mencintai Reyhan berarti mencintai dunianya juga.
Bu Leli membantu dengan lembut. Bahkan mulai memanggilnya “Nyonya Alya”.
“Jangan biarkan mereka melihatmu lemah, Nyonya. Orang lemah dimakan di dunia ini.”
Alya mengangguk.
---
Namun badai belum berlalu.
Suatu malam, Alya mendengar telepon Reyhan dari balkon.
"Aku nggak bisa ikut rencana itu, Karina. Aku sudah bilang..."
"...jangan bawa Alya dalam urusan ini."
"...dia bukan pion."
"...aku akan pertahankan dia, apa pun yang terjadi."
Alya berdiri di balik pintu. Jantungnya berdegup kencang.
Apa rencana yang mereka maksud? Siapa yang mengancam siapa?
---
Keesokan harinya, surat tanpa nama masuk ke bawah pintu apartemen.
Isinya hanya satu kalimat:
> “Kamu pikir Reyhan benar-benar mencintaimu? Lihat isi harddisk di meja kerjanya.”
Alya gemetar.
Ia mendekati meja Reyhan, membuka laci.
Di sana ada sebuah flashdisk.
Setelah dilekatkan ke laptop, video pertama langsung terbuka.
Itu rekaman CCTV warung miliknya... 6 bulan lalu. Saat Reyhan pertama kali datang, berpura-pura sebagai pelanggan biasa.
Lalu, ada rekaman pertemuan Reyhan dengan seorang pria tua.
"Jodohkan aku dengan anak itu. Aku butuh seseorang yang bisa dipercaya, bukan wanita dari kalangan atas."
Alya menahan napas.
Jadi... semua ini sudah direncanakan?
Reyhan datang ke warungnya, mendekatinya... bukan karena cinta, tapi karena misi?
---
Pintu apartemen terbuka.
Reyhan masuk, membawa tas kerja.
Alya berdiri di hadapannya.
“Kita perlu bicara.”
---