📖 Bab 3 – Menjemput Luka ke Jakarta

817 Words
Hari itu panas. Matahari seperti membakar kulit, tapi Alya tidak merasa panas. Dadanya justru dingin. Beku. Ia berdiri di depan stasiun kereta antar kota, dengan koper kecil di sampingnya. Baju-bajunya ia lipat dalam diam. Isinya tidak banyak: hanya beberapa potong kaus, gamis panjang, dan satu foto lama bersama ibunya. Keputusan ini ia ambil setelah tiga minggu penuh kebingungan. Tiga minggu bertanya-tanya: apa yang harus ia lakukan? Tapi setelah melihat berita Reyhan di televisi, semua jawabannya muncul. Ia ingin tahu. Ingin tahu, apakah cintanya pantas untuk dipertahankan... atau dibuang. --- Kereta melaju pelan, lalu makin cepat. Di dalam gerbong ekonomi, Alya duduk di dekat jendela. Matanya menatap langit yang mulai senja. "Aku akan datang, Reyhan," bisiknya pelan. "Tapi bukan karena uangmu. Aku datang untuk mendapat jawaban." --- Tiga belas jam kemudian, ia sampai di Jakarta. Kota itu masih sama: padat, ramai, dan menyimpan segalanya—impian, kesedihan, dan ambisi. Ia tidak langsung menuju alamat Reyhan. Sebaliknya, ia menginap satu malam di kos harian murah, cukup untuk membersihkan diri dan mengumpulkan keberanian. Besoknya, ia naik ojek menuju gedung yang tertulis dalam surat Reyhan. MAHENDRA GROUP – TOWER A. Bangunan tinggi menjulang itu memantulkan cahaya matahari pagi seperti kristal raksasa. Petugas keamanan dengan setelan rapi berdiri di depan pintu masuk. Mereka bahkan tidak tersenyum. Alya menelan ludah. Pakaiannya sangat kontras: blus polos dan celana panjang hitam. Sementara wanita-wanita di lobi semua mengenakan blazer mahal, heels mengkilap, dan parfum berkelas. Dia berjalan pelan menuju resepsionis. “Permisi, saya... mencari Reyhan Mahendra,” ucapnya dengan suara hampir tak terdengar. Resepsionis itu menatapnya dari atas ke bawah. “Ada janji, Mbak?” Alya menggeleng. “Tapi saya istrinya.” Wanita itu terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Maaf, tapi tanpa janji, tidak bisa.” “Saya benar-benar istrinya. Coba telepon dia—” Sebelum Alya selesai bicara, seorang wanita elegan muncul dari lift. Karina. Alya mengenal wajah itu. Wanita yang pernah mengejeknya di depan warung. "Sudah kuduga kamu akan datang," ucap Karina, dengan senyum setengah mengejek. "Kamu pikir dengan wajah polos dan status istri, kamu bisa masuk seenaknya ke dunia ini?" Alya menatapnya tajam. "Aku cuma ingin bicara dengan Reyhan." "Dia sedang rapat dengan calon istrinya yang baru." Alya membeku. "Apa... maksudmu?" Karina melipat tangan di d**a. "Ayah kami memaksa Reyhan membatalkan pernikahan bodohnya dan menikah dengan anak konglomerat dari Singapura. Dan percayalah... dia akan menurut." Alya merasa jantungnya remuk. “Kalau kamu pintar, kamu pulang. Dunia ini bukan untuk orang sepertimu.” --- Tapi Alya tidak menyerah. Dia menunggu. Di lobi. Tiga jam. Empat jam. Sampai akhirnya, Reyhan keluar dari lift. Dengan wajah lelah, dasi longgar, dan tatapan kosong. Saat matanya bertemu mata Alya, dia berhenti. “Alya?” Alya berdiri. “Aku datang.” Reyhan menghampirinya. Tatapannya terkejut, lalu berubah menjadi lega, kemudian... sedih. “Kamu nggak seharusnya ke sini. Ayahku—” “Aku nggak peduli sama ayahmu. Aku peduli sama kamu,” potong Alya tegas. Reyhan menggenggam tangannya. “Ayo. Kita bicara di luar.” --- Mereka duduk di sebuah kafe kecil di seberang gedung. Reyhan menatap Alya lama. “Kamu marah?” Alya menatap balik. “Kamu pikir?” Reyhan tersenyum kecil. “Aku rindu kamu.” “Kamu bohong. Katanya kamu nunggu aku. Tapi kamu malah mau nikah lagi?” Reyhan menggeleng. “Aku terpaksa. Ayahku mengancam. Kalau aku tidak putus dari kamu, dia akan memecat semua staf loyal yang membelaku di perusahaan. Bahkan menggusur kontrakan tempat kita tinggal.” Alya terdiam. “Jadi... kamu pilih mereka?” Reyhan meraih tangannya. “Aku nggak tahu harus pilih siapa. Dunia ini... rumit. Tapi yang jelas, aku tidak akan pernah menceraikan kamu.” --- Seketika, suara langkah kaki menghentikan pembicaraan mereka. Seorang pria paruh baya dengan setelan abu-abu dan tongkat elegan berdiri di belakang mereka. Ayah Reyhan. "Jadi ini perempuan yang membuat putraku lupa diri?" suaranya dalam, penuh wibawa. Reyhan berdiri, tegang. “Ayah, ini urusanku.” "Tidak. Ini urusan keluarga." Lalu ia menatap Alya tajam. “Berapa yang kamu mau untuk menceraikan Reyhan?” Alya bangkit berdiri. Matanya tajam. “Saya tidak menjual cinta saya, Pak. Dan saya tidak menikah karena uang.” Pria itu tertawa sinis. “Cinta? Dunia ini tidak berjalan dengan cinta, Nak. Dunia ini berjalan dengan kekuasaan dan keuntungan.” Reyhan menggenggam tangan Alya lebih erat. “Aku akan keluar dari perusahaan kalau Ayah terus mencampuri hidupku.” Mata ayahnya melebar. “Berani kamu mengancam ayahmu sendiri?” “Aku bukan anak kecil lagi.” --- Malam itu, Reyhan membawa Alya ke apartemen pribadinya. Bukan rumah mewah keluarga, tapi tempat sederhana yang ia beli sendiri saat pertama kali lepas dari kekuasaan ayahnya. Di sana, mereka duduk di balkon, memandangi Jakarta malam. “Alya... kalau kamu lelah, kamu bisa pergi. Aku nggak akan marah,” kata Reyhan pelan. Alya menggeleng. “Kalau kamu nggak nyerah, aku juga nggak.” Reyhan memeluknya erat. Di tengah segala badai, mereka tahu satu hal pasti: mereka tidak sendirian. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD