📖 Bab 1 – Suami Kontrak di Bawah Langit Mendung

751 Words
Hujan turun pelan saat suara akad menggaung di sebuah rumah kontrakan sederhana di pinggiran kota. Alya menunduk, jemarinya gemetar saat menyambut tangan pria asing yang kini resmi menjadi suaminya. "Saya terima nikahnya Alya binti Hasan dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai." Sederhana. Sunyi. Tanpa tamu istimewa, tanpa dekorasi indah. Hanya tikar lusuh, dua saksi, dan harapan yang nyaris hancur. Alya mengangkat wajah, melirik lelaki yang kini menjadi suaminya. Reyhan. Lelaki dengan kemeja putih kusut, sepatu biasa, dan wajah datar tanpa ekspresi. Dia tidak tampan seperti aktor Korea, tapi ada sesuatu di sorot matanya—dingin, dalam, dan sulit ditebak. “Selamat, ya,” bisik ibunya pelan sambil memeluknya. Alya hanya tersenyum tipis. Hatinya kosong. Tak tahu harus bahagia atau justru takut. Dia baru mengenal Reyhan dua kali. Mereka tak pernah berbicara lebih dari lima menit. Semua ini terlalu cepat. --- Malam pertama mereka sunyi. Tidak ada bunga mawar, tidak ada musik romantis. Hanya suara hujan di atap seng dan lampu 10 watt yang menggantung sendu di sudut kamar. Alya duduk di sisi tempat tidur. Tempat tidur? Lebih mirip kasur busa tipis yang mulai kempes. Reyhan duduk di kursi plastik dekat jendela, memandangi malam. “Kita sudah sah. Tapi jangan berharap terlalu banyak dariku,” ucap Reyhan tanpa menoleh. Alya menatap punggungnya, bingung. “Maksudnya?” “Aku cuma butuh pernikahan ini agar ibuku tenang. Aku akan tetap kerja, bayar sewa, dan kamu bisa tetap hidup dengan tenang. Tapi jangan minta cinta, apalagi kasih sayang.” Dingin. Sangat dingin. Alya menarik napas. “Sama. Aku juga gak berharap apa-apa. Ayahku maksa aku nikah karena dia pikir aku jadi beban. Sekarang, aku nggak perlu jadi beban siapa-siapa.” Suasana sunyi lagi. Angin menyusup lewat celah jendela. “Aku akan tidur di lantai. Kamu bisa pakai kasur,” katanya kemudian sambil mengambil bantal kecil. Alya terdiam. Tidak tahu harus senang karena dia sopan, atau kecewa karena suaminya sendiri bahkan tidak mau berbagi tempat tidur. --- Pagi datang terlalu cepat. Alya bangun lebih dulu. Membuat teh hangat dan menanak nasi. Dia terbiasa bangun jam lima, sejak kecil. Reyhan baru keluar dari kamar mandi dengan handuk di bahu, rambutnya basah. “Pakai handukku aja. Yang bersih cuma itu,” ucap Alya pelan. Reyhan hanya mengangguk. “Kamu kerja?” tanya Alya. Reyhan memandangnya sekilas. “Iya. Ada pengiriman hari ini.” Alya tak berani bertanya lebih jauh. Katanya sopir, katanya freelance. Tapi dari gaya bicaranya... terlalu rapi. Terlalu tenang. Tidak seperti sopir biasa. Dia makan cepat, lalu pergi naik motor tua warna hitam yang berdebu. Alya mengamati dari balik tirai. “Entah kenapa aku merasa kamu bukan seperti yang kamu bilang, Reyhan,” gumamnya lirih. --- Hari-hari berikutnya berjalan datar. Mereka nyaris tak bicara. Alya bekerja di warung kopi dekat stasiun. Reyhan pergi pagi, pulang malam. Kadang membawa roti, kadang hanya diam lalu langsung tidur. Tapi perlahan, ada hal-hal kecil yang membuat Alya mulai curiga. Reyhan selalu membawa ponsel dua, tapi yang satu selalu mati. Dia suka membaca berita bisnis setiap malam. Dan... yang paling aneh, dia tidak pernah membuka dompet di tempat umum. Selalu membayar dengan transfer. Dan sekali waktu, Alya melihat isi dompetnya: ada kartu platinum dengan nama "Reyhan A. Mahendra." Alya bukan anak kecil. Dia tahu, kartu itu hanya bisa dimiliki orang kaya. Tapi... kenapa suaminya tinggal di kontrakan sempit ini? --- Suatu malam, Reyhan pulang lebih larut dari biasa. Bajunya basah, wajahnya lelah. “Ada masalah?” tanya Alya, berani. “Enggak,” jawabnya pendek. Alya berdiri, mencoba menahan rasa ingin tahu. “Reyhan... aku boleh tanya sesuatu?” Lelaki itu mengangkat wajah. “Tanya aja.” “Kamu... beneran kerja jadi sopir?” Hening. Reyhan menatapnya tajam. Untuk pertama kalinya, tatapannya menusuk langsung ke jantung Alya. “Apa kamu mulai mencurigaiku?” Alya menelan ludah. “Nggak. Aku cuma... penasaran.” Reyhan berdiri, lalu melangkah pelan ke arahnya. “Alya, kamu pernah dikhianati?” Pertanyaan itu membuat Alya diam. “Pernah. Sama orang yang paling aku percaya,” gumamnya akhirnya. Reyhan menarik napas panjang. “Aku juga.” --- Dua minggu berlalu. Lalu, semuanya berubah. Suatu pagi, Alya ke pasar untuk belanja. Saat pulang, dia melihat sebuah mobil hitam mewah parkir di depan kontrakan. Dua pria bersetelan jas berdiri di depan pintu. Dan di tengah mereka... Reyhan. Tapi... pakaiannya berbeda. Setelan formal, jam tangan mahal, dan tatapan tajam seperti eksekutif muda. Alya membeku. Reyhan menoleh—mata mereka bertemu. Tapi dia tidak menjelaskan apa pun. Hanya berkata pelan, “Maaf, aku belum sempat bilang... siapa aku sebenarnya.” ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD