bc

Menikah Karena Kasihan

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
family
age gap
opposites attract
arranged marriage
tragedy
sweet
bxg
city
office/work place
secrets
civilian
like
intro-logo
Blurb

Desty Veolina, 23 tahun, seorang ibu dengan putra kecil bernama Raka, tak pernah menyangka akan dinikahi oleh Haris Arkasa, pria 30 tahun yang saat itu begitu perhatian, royal, dan menerima dirinya serta Raka tanpa syarat.Tiga belas tahun berlalu. Mereka telah memiliki dua anak perempuan, Evelyn dan Linda. Namun, Haris yang dulu hangat perlahan berubah menjadi suami yang keras, suka mengatur, dan merasa dirinya paling berhak mengambil keputusan.Desty mencoba bertahan demi keluarganya, sampai sebuah kenyataan menghancurkan keyakinannya selama ini.Haris ternyata tidak pernah menikahinya karena cinta.Ia menikahi Desty karena kasihan.Setelah tiga belas tahun menjadi istri Haris, sanggupkah Desty menerima kenyataan bahwa pernikahan yang selama ini ia perjuangkan mungkin tidak pernah dimulai dari cinta?

chap-preview
Free preview
Bab-1: Dijodohkan Teman?
Sore itu, cahaya matahari masuk melalui celah tirai ruang tamu rumah Desty, meninggalkan semburat keemasan di lantai. Udara terasa cukup tenang, hanya sesekali terdengar suara kendaraan dari luar dan suara televisi yang menyala pelan. Desty duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya pada sofa. Di hadapannya, Raka yang baru berusia dua tahun sedang duduk di kursi kecilnya, sesekali memainkan sendok sebelum akhirnya kembali membuka mulut ketika disuapi. Di samping Desty, Intan duduk santai sambil memperhatikannya. Beberapa menit mereka mengobrol tentang hal-hal kecil sebelum Intan tiba-tiba berkata, “Desty, aku punya kenalan yang cocok buat kamu.” Desty yang sedang menyuapi Raka langsung menatap Intan dengan wajah bingung. “Cocok apanya?” “Ya... cocok buat jadi suami. Raka masih butuh peran ayah. Dia juga belum menikah.” Sendok di tangan Desty berhenti di udara. Ia menatap ke arah Intan sekilas, lalu kembali menyuapi putranya. “Intan, aku punya anak. Mana mungkin dia mau sama aku.” “Ayolah... kamu itu masih cantik, dia juga ga keberatan. Orangnya baik, aku kenal banget sama dia.” Ucap Intan yang terus berusaha membujuk. Desty menghela napas. Sejak Raka lahir, hidupnya memang tak lagi sesederhana dulu. Ia terbiasa dengan tatapan orang, pertanyaan tentang ayah Raka, dan anggapan bahwa seorang perempuan dengan anak kecil akan sulit mendapatkan pasangan. Meskipun ia terlahir dari keluarga kaya, tetapi sifatnya yang mandiri sejak dulu membuatnya tak ingin bergantung pada keluarganya. Karena itu, Desty selalu memilih untuk tidak berharap. Sampai Intan menyebut satu nama. “Haris Arkasa.” “Siapa?” “Temanku. Umurnya tiga puluh. Kerjaannya bagus. Orangnya baik. Dan...” Intan melirik Raka yang sedang sibuk memainkan mainannya. “Dia tahu tentang kamu. Tentang Raka juga.” Desty terdiam. Sebelum kembali bertanya. “Dia tahu aku punya anak?” “Aku sudah cerita semuanya tentangmu. Dia juga berniat ingin menikah di usianya yang ke-tiga puluh tahun ini.” Desty menatap Intan tak percaya. “Terus dia masih mau dikenalin?” Intan tersenyum kecil. “Makanya aku berani buat jodohin kalian.” --- Pertemuan itu terjadi beberapa hari kemudian di sebuah kedai kecil. Desty datang bersama Intan dan Raka. Ia sebenarnya masih ragu, bahkan sempat ingin membatalkan semuanya. Toh dirinya masih sanggup untuk menafkahi satu orang anak. Tetapi, di sisi lain. Ia teringat ucapan Intan beberapa hari yang lalu. Intan benar, Raka masih membutuhkan peran seroang ayah. Seorang pria tinggi dengan kemeja sederhana datang menghampiri meja mereka, keraguan itu perlahan mereda. “Maaf, ya. Tadi jalanan agak ramai,” ucap Haris sambil menarik kursi di hadapan mereka. “Tumben banget kamu yang telat,” goda Intan. Haris hanya terkekeh. “Sekali-sekali.” Setelah itu, pandangan Haris beralih kepada Desty yang sejak tadi hanya diam. Intan pun tersenyum kecil. Sembari memperkenalkan Desty. “Nah, ini Desty.” Desty yang mendengar namanya langsung berdiri. Ia sempat terlihat canggung sebelum akhirnya mengulurkan tangan. “Halo.” Haris turut berdiri dan menyambut uluran tangannya.“Halo, Desty.” “Senang bisa kenal kamu,” ujar Haris yang tersenyum ramah. “Iya, sama-sama.” Desty membalasnya dengan senyuman yang ramah juga Desty pun kembali duduk. Entah mengapa, pertemuan pertama itu membuatnya sedikit gugup. Mungkin karena sejak awal Intan sudah terlalu banyak bercerita tentang pria di hadapannya. Haris kemudian melirik ke arah anak kecil yang duduk di samping Desty. "Ini pasti Raka ya?” Desty mengangguk. "Iya, anak aku." Haris tersenyum, lalu menatap Raka yang sedang memainkan mainannya. “Hai, Raka.” Raka hanya menatapnya sebentar, kemudian kembali sibuk dengan mainannya. Desty terkekeh kecil. “Dia memang begitu kalau ketemu orang baru.” “Enggak apa-apa,” jawab Haris santai.Tidak ada ekspresi keberatan di wajahnya. Intan kemudian meraih buku menu yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Ia membukanya sambil menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menggeser satu buku menu ke arah Desty. “Ngobrol sambil makan aja, aku dah lapar. Mending kita pesan makanan. Kalian mau makan apa?” Desty menerima buku menu itu dengan kedua tangannya. Pandangannya menyusuri daftar makanan di dalamnya, sementara tangan satunya sesekali merapikan rambut Raka yang jatuh ke dahi. “Aku terserah. Kamu aja yang pilih.” Intan mengangkat kedua alisnya. Ia menutup sebagian buku menu dengan telapak tangan, kemudian menatap Desty seolah tidak percaya. “Jangan terserah terus. Nanti kalau aku pesenin yang nggak kamu suka, jangan protes.” Desty terkekeh pelan. Sudut bibirnya terangkat sebelum ia kembali melihat menu. “Yaudah, aku pesan nasi ayam aja.” “Gitu dong.” Intan mengangguk puas sambil kembali membuka buku menu. Setelah beberapa detik, ia mengalihkan pandangannya kepada Haris. “Kamu apa, Ris?" “Aku nasi goreng sama es teh.” Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. “Kak, pesanannya?” Intan pun mengambil buku catatan kecil yang diberikan pelayan, lalu mulai menyebutkan pesanan. “Nasi ayam satu, nasi goreng satu, es teh satu.” Ia berhenti sebentar dan menoleh kepada Desty. “Raka mau pesan apa?” Desty menunduk melihat putranya. Raka masih sibuk memainkan mainan kecilnya, sama sekali tidak memperhatikan percakapan orang dewasa di sekitarnya. “Bubur ayam aja. Dia belum terlalu bisa makan makanan yang pedas.” Desty kemudian mengangkat wajahnya kepada pelayan. Haris yang mendengar itu ikut melirik ke arah Raka. Tatapannya terlihat lebih lembut ketika memperhatikan anak kecil tersebut. “Bubur ayam satu, yang nggak pedas.” Pelayan mengangguk sambil mencatat. Setelah pesanan selesai dicatat, pelayan berpamitan dan meninggalkan meja mereka. Haris kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya masih tertuju pada Raka selama beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali menatap Desty. “Raka biasanya suka makan apa?” Haris kembali bertanya. “Dia lumayan pilih-pilih.” Desty tersenyum kecil sambil mengusap kepala Raka. “Kadang makannya gampang, kadang bisa lama banget cuma buat ngabisin beberapa suap.”Haris mengangguk pelan. Tatapannya kembali beralih kepada Raka yang kini sibuk memainkan mobil-mobilan kecilnya. “Namanya juga anak kecil.” “Iya.” Desty tersenyum tipis. Tangannya masih mengusap rambut Raka dengan gerakan perlahan. Beberapa detik kemudian, suasana kembali hening. Desty menundukkan pandangannya dan memainkan ujung jarinya di atas meja. Sementara Haris sesekali melirik ke arahnya, seolah sedang mencari topik pembicaraan. Intan yang menyadari kecanggungan itu akhirnya menghela napas pendek. “Kalian jangan tegang gitu, dong.” Ia menatap keduanya bergantian dengan senyum geli. “Ini bukan wawancara kerja.” Haris spontan tertawa kecil. Ia mengangkat kedua tangannya sebentar, seolah membela diri. “Siapa yang tegang? ” “Kalian berdua.” Intan menunjuk Haris, lalu beralih menunjuk Desty.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.7K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1.0K
bc

Tentang Cinta Kita

read
231.4K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
175.6K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
12.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook