Shaka berkali-kali menyeka keringatnya, Dia sudah berteduh di sebuah ruko kosong, tapi tetap saja terik matahari terasa begitu menyengatnya. Sudah hampir dua puluh menit Shaka menunggu, tapi adik manjanya itu belum menampakkan batang hidungnya.
"Bang Shaka!" Merasa terpanggil, Shaka menoleh ke arah sumber suara.
Adelia dan seorang temannya yang kemarin dia kenal dengan nama Tita itu berdiri tanpa dosa di sampingnya dengan menyedot es teh sisri dalam sekantong plastik.
Shaka yang sedari tadi menahan haus dan panas begitu merasa tergoda melihat es yang yang ada di tangan sahabat adiknya itu. Semenjak tadi dia sudah mencari supermarket terdekat, tapi nihil.
"Minta." Shaka menyambar begitu saja es yang tadi dalam genggaman Tita.
Dilemparkannya sedotan bekas bibir gadis belia itu. Shaka mengangkat plastik es itu tinggi-tinggi dengan mulut yang mangap di bawahnya. Dengan sekali tenggak, satu plastik es itu tandas tak bersisa, berikut dengan es batunya.
Adel dan Tita hanya molongo di tempat melihat kelaluan Shaka. Hingga beberapa detik berlalu, Tita mulai sadar bahwa esnya telah dirampas.
"Eh, itu kan esku, gak sopan!" omel Tita dengan bibir mengerucut.
"Bagi dikit doang, pelit!" sahut Shaka.
Tita mendengkus tak terima, sedang Shaka dengan tanpa dosanya mengusap bibirnya yang basah karena es tersebut.
"Es apaan itu? Aneh banget rasanya!"
"Aneh tapi habis," gerutu Tita sembari melengos.
"Kepaksa!"
"Gak tau terima kasih!"
"Gak penting!"
"Dasar, kutil buaya!"
"toples micin!"
Adel yang sedari tadi berdiri di tengah-tengah kedua orang tersebut hanya bisa diam sembari mendengarkan ocehan unfaedah kedua makluk itu.
"Berisik, woe! Tak sumpahin berjodoh baru tau ra–"
"Aduh!" Belum selesai ucapan Adel, Tita dan Shaka dengan kompak memukul gadis tersebut. Jika Tita hanya memukul lengan, Shaka justru menoyor kepalanya.
"Ngomong di filter, demen amat punya kakak ipar kek pohon pisang begitu," ledek Shaka dengan dagunya menunjuk Tita.
Shaka menatap dengan seksama gadis di samping adiknya itu. Tita memang tak cantik, hanya jika diperhatikan gadis itu cukup manis. Hanya saja, melihat bodinya yang datar membuat Shaka tak berselara. Bukan tipenya.
Merasa disindir, gadis berkuncir itu melotot tak terima. Dalam hati Tita menyesali pernah memuji ketampanan pemuda di hadapannya itu.
'Wajah boleh tampan, tapi mulutnya? Ck! Ngalahin pedesnya mulut tetangga.'
Tita tak tahan untuk tidak mengoceh sendiri dalam batinnya. Gadis itu masih menatap ke arah Shaka bersiap untuk menyerang balik.
"Emangnya aku mau punya laki yang omongannya lebih pedes ketimbang ghibahan tetangga kayak kamu?"
Mendengar ucapan Tita, kini ganti Shaka yang melotot tak terima. "Hei, perawan belum genap! Kalau pun omonganku pedes, itu masih cocok dengan wajahku yang ganteng, lah kamu?" Shaka menjeda ucapannya.
Lelaki itu memandangi Tita dari atas hingga bawah dengan senyum mengejek. "Datar, rata, tipis mana dekil!"
Tita menggeram tak terima, sedang Adel melongo dengan bibir sedikit menganga sempurna. Dia tak menyangka jika sekarang kakaknya bisa bicara sepanjang ini dengan seorang wanita, bahkan bisa sampai mengejek. Fix! Kakaknya terlalu lama bergaul dengan pelanggan emak-emak.
"Eh, om-om kadaluarsa! Situ oke ngatain orang begitu? Ganteng tapi gak laku? Yakin normal?" Kini gantian Tita yang mencibir, dia tersenyum puas melihat wajah Shaka yang merah padam menahan amarah.
Tak banyak bicara, Shaka meraih tangan Tita dan menyeretnya dan menghempaskannya ke tembok.
"Eh, mau ngapaian?" tanya Tita kebingungan.
Sejujurnya, saat ini gadis itu mulai takut, apalagi melihat perubahan wajah Shaka yang sangat sulit dia artikan. Jika pemuda itu marah, kenapa ada seuntas senyum mengejek di bibirnya, tapi jika tak marah kenapa tatapannya justru lebih menakutkan?
"Eh-eh, Bang. Mau ngapain?"
Adelia mendekat, dia memandang ke Shaka dan Tita bergantian.
"Dia tanya kan aku normal apa enggak? Biar aku buktiin di depanmu sekalian!"
Shaka menyeringai, tatapannya lurus menghadap Tita yang mulai ketakutan.
"Jangan macam-macam! Ini jalanan umum, aku bisa teriak!"
"Bang, jangan aneh-aneh! Tita sahabat aku!"
Shaka tak memedulikan ucapan dua gadis itu. Dia terus melangkah mendekati Tita dengan senyum miring.
'Duh, demi kera sakti yang masih sibuk mencari kitab suci, seseorang tolong aku'
Tita komat-kamit sendiri dalam hatinya. Shaka sudah berhenti tepat di depannya sekarang, jarak mereka hanya sebatas dua langkah saja. Dan kali ini Tita benar-benar takut.
"Bang, serius. Jangan aneh-aneh!" Adel menarik-narik lengan kakaknya agar mundur.
Selama ini, Adel benar-benar tak tahu sifat kakaknya yang ini. Meskipun tak tinggal bersama, tapi Shaka sering pulang ke rumah walaupun hanya sehari dua hari. Lagipula, selama ini Shaka menunjukan sikap yang normal-normal saja seperti biasanya, tapi sekarang kenapa jauh berbeda?
"Apa? Jangan beraninya cuma sama anak kecil!" Tantang Tita sok berani.
Disaat Tita dan Adel dilanda kecemasan, Shaka justru terbahak. Lelaki itu mendorong dahi Tita dengan telunjuk tangannya.
"Dalam mimpi aja aku ogah ngapa-ngapain kamu, toples micin! lempeng dan gak kerasa!" ledek Shaka dengan tetap terbahak.
Tita yang semula ketakutan kembali geram dengan ucapan Shaka. Tita mengangkat kakinya, menginjak sepatu Shaka kuat-kuat.
"Aaw!" pekik Shaka kaget sekaligus kesakitan.
"Syukurin! Adel, kamu doyan rujak, kan? Cabe lagi mahal, ulek saja mulut abangmu ini kalau kurang pedes!"
Usai berkata demikian Tita melenggang pergi dengan hati dongkol.
"Dasar perawan tanggung!"
***
"Assalammualaikum, Tita pulang."
Tita mengedarkan pandangannya ke seisi penjuru rumah. Tak biasa rumahnya sepi seperti ini. Kemana gerangan sosok lelaki yang wajahnya sebelas dua belas dengan Ari wibowo itu?
"Yuhuu ... spadaaa, Nagita Slavina pulang!"
Tita berteriak sekali lagi, memastikan jika rumah ini benar-benar kosong atau tidak. Dan hasilnya sama saja, tak ada sahutan.
"Bodoh amatlah, ntar juga muncul sendiri. Capek!"
Lelah berteriak dan tak ada sahutan, Tita berjalan menuju kamarnya. Gadis itu melempar asal tasnya dan berlanjut merebahkan tubuh ke atas kasur.
Hari ini, tubuhnya terasa remuk. Sejak pagi tenaga dan emosinya terus-terusan diuji. Usai pelajaran olah raga yang menguras keringat, dia mendapat tugas khusus merapikan perpustakaan karena ketahuan membeli minuman saat jam pelajaran masih berlangsung. Dan terkahir tadi? Tita bahkan ingin sekali terjun ke bak kamar mandi saking panasnya.
"Dasar om-om gak laku! Bujang lapuk! Perjaka tua! Laki kadaluarsa! Muka keriput! Rambut ubanan! Sempak Firaun! Kutil buaya! Ah, apapun itu, kamu nyebelin!"
Tita ngomel-ngomel sendiri mengingat kelakuan Shaka padanya tadi. Seumur-umur, baru kali ini Tita berhadapan dengan lelaki yang mulutnya pedas seperti Shaka. Dan sialnya, kenapa lelaki itu harus menjadi kakak Adel, sahabatnya. Mau tidak mau dia akan selalu bertemu dengannya.
"Mentang-mentang cabe mahal, dia produksi cabe sendiri dengan mulut merconnya itu."
"Siapa yang produksi cabe, Ta? Kebetulan banget cabe di warung lagi abis, sapa tau dapat murah."
Suara sahutan dari arah pintu membuat Tita bangkit dari posisinya. Gadis itu mendongak, menatap dengan memamerkan senyum Pakraden.
"Eh, itu si Adel jualan cabe sekarang."
"Lah, perusahaan keluarganya bangkrut? Jangan-jangan dia mau buka warung juga kayak bapak? Awas, Ta. Jangan pernah bocorin rahasia bakwan penomenal kita kepada siapapun. Kaset berharga kita itu."
"Aset, Pak."
"Halah, beda sehuruf doang. Eh, tapi kalau mau tanam modal buat bisnis kita gak papa sih, nanti kita bagi hasil sama rata."
Tita memukul dahinya pelan. Sudah pusing, makin pusing lagi deh dia. Lagi pula, sejak kapan jual bakwan pakai istilah bisnis segala? Pakai tanam modal pula. Fix, bapaknya korban berita pojok pitu.