Ingus Koala

1114 Words
Adelia melenggang dengan santai menuju ke kelasnya. Sudah sejak seminggu ini dia tak berlalu berlarian karena takut gerbang di tutup. Semua itu tentu saja berkat kehadiran Shaka, kini kakak lelakinya itulah yang menjadi sopir pribadinya setiap pagi. Sejak dulu, Adelia selalu diantar sopir untuk berangkat ke sekolah. Jalanan yang padat membuatnya hampir setiap hari terkena macet, dan itulah yang akhirnya membuat dia selalu terlambat. Kini, dengan memakai motor Shaka dia bisa terhindar dari macet dan plototan Bu Rahayu, si guru BK. Sesampainya di kelas, Adelia hanya geleng-geleng kepala saat melihat sahabatnya sudah asyik dengan headset dan novel di tangannya. Terkadang dia merasa heran sendiri, dari mana asal otak cerdas yang Tita miliki selama ini. Bagi yang tak mengenal Tita, melihat prestasinya –selalu masuk ranking lima besar dan beberapa kali memenangkan lomba cerdas cermat– mungkin mereka beranggapan Tita gadis yang manis dan rajin belajar. Namun, siapa yang sangka wujud asli gadis tersebut. Bagi Adel, Tita tak ubahnya remaja pada umumnya, banyak tingkah sedikit bandel. Malahan, Tita tipikal gadis yang sembrono dan seenaknya sendiri. Keluar masuk ruang BP bukan hal yang baru baginya. Memang bukan pelanggaran yang besar, beberapa kali Tita ketahuan sedang membeli es ke kantin atau lain waktu tertidur di pojokan perpustakaan hingga jam pelajaran di mulai. Begitulah Tita, sungguh berbanding terbalik dengan prestasinya yang bisa dibilang luar biasa. "Novel baru?" tanya Adel sembari meletakkan tas di atas bangku. Gadis tersebut mengambil tempat duduk tepat di samping Tita. Tak mendapat respon, Adel menarik sebelah headset Tita. "Sekolah woe, sekolah!" teriak Adel tepat di telinga Tita. Tita yang kaget spontan melayangkan novel ke samping dan tepat mengenai wajah Adel. "Aw! Gila, sadis banget sih!" omel Adel sembari mengelus-elus pipinya. "Eh, sorry-sorry, gak sengaja. Suruh sapa ngagetin." Tita mengarahkan tangannya ke wajah Adel, memeriksa hasil dari ulahnya. Merasa pipi Adel masih mulus, Tita kembali melayangkan pukulan kecil ke wajah sahabatnya itu. "Masih mulus, gitu sok-sokan histeris," lanjut Tita yang langsung mendapat plototan tajam dari Adel. "Kamu itu, ya? Cewek gak ada manis-manisnya. Dasar, penggilingan panci!" "Masih mending, dari pada kamu manisnya cuma di belakang layar doang. Dasar, cewek aplikasi!" Mandengar ucapan Tita, bukannya menjawab Adel malah dirundung tanya. "Cewek aplikasi apaan?" "Iya, yang cantiknya cuma pas pakai aplikasi doang alias ketergantungan filter," jawab Tita sembari terbahak. Tak menjawab, Adel hanya menoyor pelan kepala sahabatnya itu. Tak ada dendam apalagi sakit hati, meskipun baru setahun berteman, persahabatan mereka benar-benar tercipta atas dasar saling menyayangi dan menghargai. Tentu saja menghargai dalam tanda kutip. "Ta, tugas makalah yang dari Bu Septi dikumpulkan besok, kan? Kok kita belum ngerjain?" Adel memiringkan badan, menatap ke arah sahabatnya yang kembali asyik dengan novelnya. "Kita siapa? Aku udah, kamu aja yang belum." "Seriusan? Udah kelar?" tanya Adel antusias. Tita hanya mengangguk tanpa berniat menoleh sedikit pun. Melihat itu, mata Adel berbinar. Pasalnya, itu adalah tugas kelompok untuk satu bangku, dan semua kini sudah dikerjakan oleh Tita tanpa harus Adel berpikir keras. "Duh, sumpah demi babang Lee Min Hoo yang bakalan jadi jodoh aku, kamu memang sahabat terbaik, Ta." Adel mendekatkan wajahnya, mengecup beberapa kali pipi Tita. Merasa risih, dengan telapak tangannya Tita menjauhkan wajah Adel dari hadapannya. "Jorok, Del! Aku masih normal!" "Maaf, terlalu bahagia soalnya." jawab Gadis berambut lurus itu. "Jangan seneng dulu, kamu tahu aku gak punya laptop, jadi mesti disalin dulu terus di print," jelas Tita yang langsung diangguki oleh Adel. "Itu biar aku yang ngerjain. Biar aku yang salin, cetak dan kamu terima beres deh. Sekarang tugasnya mana? Biar nanti pulang sekolah aku kerjain." Tita menutup novelnya, gadis itu mengangkat tasnya dan mulai mencari sesuatu di dalamnya. Merasa tak menemukan yang dia cari, Tita kembali membongkarnya, memastikan bahwa buku itu benar-benar gak ada. "Kok gak ada, Del? Apa ketinggalan, ya?" tanyanya sembari menatap ke arah Adel. Gadis yang ditanyai itu justru menggidikan bahu. "Ya, sudah nanti pulang sekolah aku mampir dulu ke rumah kamu, ambil catatannya." Tita hanya mengangguk mengiyakan. "Oke. Aman kalau gitu. Sekarang tinggal kasih kabar Bang Shaka dulu biar nanti jemputnya bawa mobil aja." Mendengar nama Shaka disebut, Tita spontan menarik handphone milik Adel. "Gak perlu!" teriaknya cepat. "Kenapa?" tanya Adel dengan menautkan kedua alisnya. "Aku males ketemu abangmu yang super nyebelin itu. Aku pulang sendiri aja, nanti aku anterin catatannya ke rumah kamu." "Lah, kenapa mesti begitu? Kan malah bolak-balik, lagian benci sama cinta beda tipis, awas naksir!" Adel terbahak tak memedulikan plototan tajam dari Tita. "Dih, amit-amit! Masa depanku terlalu berharga untuk dihabiskan dengan lelaki kompor meleduk seperti abangmu itu." "Awas, jangan sesumbar dulu. Ada malaikat lewat diaminin, jadi kakak iparku baru tahu rasa!" "Doa jelek gak bakal terkabul." "Jadi kakak iparku bukan dosa tahu! Kita bisa saling curhat tanpa kebentur waktu." Berbeda dengan Adel yang berbinar, Tita justru memutar bola matanya malas. 'Andai abangmu bukan gorilla kadaluarsa, aku pasti bahagia banget punya adik ipar kayak kamu.' batin Tita sembari menatap Adel. "Eh-eh, tapi ada yang aneh sih. Bang Shaka itu orang yang paling pelit ngomong loh, apalagi sama cewek, dia bisa berubah ketus dan songong banget. Lah, pas lihat sikapnya ke kamu kemarin, asli! Surprise banget. Jangan-jangan kalian beneran jodoh?" Pandangan Adelia menerawang jauh, mencoba membayangkan jika dua orang yang disayanginya itu benar-benar bersama. Ah ... pasti seru! "Dasar aneh! Emang kemarin bukan songong apa namanya? Disayang-sayang? Gak terima songong, belagu banget malah." Adel memutar bole matanya ke atas. "Iya juga sih, tapi sapa tau kan kalian memang sudah digariskan bersama." "Ngehalu jangan ketinggian! Jatuh benjut, woe!" Lagi-lagi Tita menoyor kepala Adel yang sedang sibuk melamun. "Buah semangka buah manggis, dimakannya di kandang kebo. Abang Shaka dan Tita yang manis, Adel doain kalian berjodoh." Tita hanya geleng-geleng kepala mendengar pantun absurd Adel. "Gak kakak, gak adek, otak sama-sama gesrek. Cocok emang saudaraan sama Spongebob." ??? "Bang, kita anterin Tita pulang dulu, ya? Aku mau ambil catatan dulu ke rumahnya," ucap Adel kepada Shaka yang sudah berdiri di seberang gerbang sekolah. "Kenapa dia gak pulang sendiri aja?" tanya Shaka sembari mengarahkan dagunya kearah Tita. Tita memang berdiri sedikit jauh dari kedua kakak beradik itu, tapi suara Shaka yang cukup keras membuatnya dengan jelas mendengarkan ucapan Shaka. "Emang dipikir aku mau? Kalau bukan Adel yang maksa aku juga ogah!" jawabnya sembari berjalan mendekat ke arah dua bersaudara itu. "Iya, Bang. Adel yang butuh. Jadi, anterin, ya?" rayu Adel sembari mengedip-kedipkan mata ke arah Shaka. Shaka memutar bola matanya malas. "Naik!" perintahnya sembari berjalan memutar menuju mobil. Dengan ogah-ogahan, Tita akhirnya ikut masuk ke dalam mobil tersebut. Tita yang duduk di bangku belakang tanpa sengaja bertatapan dengan Shaka yang juga kebetulan melihat pada spion di atasnya. Untuk beberapa saat pandangan mereka terkunci, hingga akhirnya mulut mercon Shaka kembali berulah. "Apa lihat-lihat? Sadar kalau aku ganteng? Tapi gak usah ngarep, kamu bukan tipeku, ingus koala!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD