"Ta, itu si Shaka ganteng, ya? Sopan lagi."
Tita yang sedari tadi asyik membaca novel seketika menoleh kepada bapaknya itu. Mata gadis itu menyipit, merasa harus waspada dengan arah pembicaraan lelaki kesayangan itu.
"Iya, ganteng, saking gantengnya sampai kadaluarsa," jawab Tita asal.
"Kadaluarsa gimana maksudnya?" tanya Pak Su penasaran. Lelaki yang sedari tadi menghitung pemasukan warungnya itu langsung menghentikan kegiatan dan menanti jawaban putrinya.
"Iya, udah tua gak laku-laku, kadaluarsa, kan? Sudah waktunya diretur tuh."
Pak Su makin bingung dengan maksud Tita. Dibanding dirinya, bukankah Shaka jauh lebih muda darinya? Masih sangat tampan dan layak bersanding dengan putrinya itu.
"Kenapa diretur? Secara onderdil dan sparepart pasti masih bagus. Jadi, kenapa gak kamu fungsikan saja?"
Tita kembali terdiam, dia menutup cepat novel yang sedari tadi dia baca dan berbalik badan menghadap Pak Su.
"Gimana-gimana, Pak? Kok aku mencium aroma-aroma gak enak di sini?"
Pak Su tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya itu. Tita yang sangat paham dengan sikap bapaknya itu, diam-diam menelan ludah.
'Mampus! Fellingku mulai ambyar ini' gerutu Tita dalam hatinya.
"Ya, sapa tau aja, Allah berkendak dan Shaka bersedia, kalian bisa jadi jodoh gitu." Pak Su menaik turunkan alisnya, menggoda anaknya yang sudah memasang muka datar.
"Bapak kan baru sehari ketemu Shaka, kenapa jadi jodoh-jodohin begini, sih? Lagian Shaka itu nyebelin banget, Pak," omel Tita tak terima.
"Ya, Itung-itung memperbaiki keturunan dan masa depan gitu, Nak."
"Dih, bukannya tambah cerah yang ada masa depanku suram, Bapak. Wes ah, kenapa bahas ginian sih, Pak. Tita masih sekolah loh, lulus aja belum."
"Namanya juga usaha, Nak."
"Bapak, ibarat makanan, Tita ini cuma sayur bayam dan Shaka itu rendang. Dilihat dari segi mana pun, Rendang lebih istimewa, rempah-rempahnya banyak dan bahan utamanya mahal. Lah sayur bayam? Bening doang."
"Lah tapi kalau sayur bayam ditambahi sambel sama penyetan ikan mujaer enak, loh, Ta."
"Iya, tapi gak ada dalam menu prasmanan."
"Tapi ada kok di menu dapurnya bapak besok pagi."
Tita melengos. "Bilang aja bapak mau dimasakin itu besok," cibir Tita yang mendapat cengiran khas Pak Su.
Pak Su menggeser duduknya untuk lebih dekat kepada Tita yang sedang duduk lesehan di bawah sofa. Lelaki itu mengulurkan tangan, membelai pucuk kepala putri semata wayangnya itu.
"Maaf, ya, Nak. Bapak belum bisa ngasih yang terbaik buat kamu. Andai saja bapak masih bekerja seperti dulu, mungkin kehidupan kita juga bisa lebih baik dari ini."
Pak Su menatap putrinya itu dengan sebuah senyuman. Tita membalas dengan hal serupa, sejujurnya dia tak suka adegan lembek seperti ini, karena seperti yang sudah-sudah bapaknya itu akan mulai menyalahkan dirinya sendiri.
Tita meraih sebelah telapak tangan Pak Su, digenggamnya tangan tersebut dengan erat.
"Tita gak suka ih, bapak bahas beginian terus. Sudah berapa kali Tita bilang, Tita bahagia, bapak selamat dari kecelakaan itu saja Tita udah bersyukur banget. Jadi, berhenti menyalahkan diri sendiri."
Pak Su tak pernah berhenti bersyukur dianugrahi putri semanis dan sebaik Tita. Meskipun terkadang sikap anak itu bisa lebih sangar dari anak laki-laki, tapi Tita selalu dikenal tetangga sekitar sebagai gadis yang sangat ringan tangan.
Awalnya, Pak Su sempat khawatir, terbiasa hidup tanpa pengawasan seorang ibu akan membuat Tita menjadi gadis yang susah diatur, tapi ternyata ketakutannya itu salah. Tita justru tumbuh menjadi gadis yang begitu pengertian dan peduli dengan dirinya. Untuk itulah, besar harapan Pak Su agar Tita selalu bahagia, entah bersamanya atau dengan suaminya kelak.
"Ya sudah, kita bahas yang lain. Eh, kamu sebentar lagi lulus kan, sudah cari-cari informasi kampus mana yang mau kamu pilih?"
Tita yang sedari tadi menatap penuh ke arah Pak Su itu tersenyum paksa. "Pak, Tita gak usah kuliah, ya? Tita mau kerja saja."
"Kenapa?" tanya Pak Su heran.
"Kuliah mahal, Pak. Tita mau bantuin bapak cari uang saja, kita gedein warung bapak, kan pemasukan jadi makin banyak," oceh Tita dengan semangat.
"Enggak! Kamu harus kuliah! Bapak pingin kamu jadi orang lebih baik nanti, gak cuma sekedar buruh pabrik atau pegawai biasa. Kamu harus jadi orang besar."
"Tapi kuliah mahal, Pak."
"Bapak sudah nabung lama untuk biaya kuliah kamu ini, sembari nunggu kamu lulus besok Insya Allah uangnya pasti cukup untuk daftar kamu masuk kuliah."
Tanpa sadar mata Tita mulai berkaca-kaca, dia tak menyangka bapaknya sudah merancang ini jauh-jauh hari, bahkan Pak Su begitu niat hingga menabung untuk dia melanjutkan sekolah.
"Bapak, baik banget sih, Tita jadi pingin nangis." Tita memayunkan bibirnya, bersikap seolah-olah ingin menangis.
"Halah, lebay. Kalau kata anak sekarang, kamu bikin gelay." Tangan yang sedari tadi mengusap pucuk kepala Tita itu, kini beralih
mengusap wajah Tita.
"Ih, bapak sok gaul!"
"Lah bapak kan belum tua-tua banget."
Kedua orang itu kini tertawa bersama. Jika boleh Tita memilih, gadis itu lebih suka bekerja saja, membantu meringankan beban orang tua satu-satunya itu. Dia ingin, warung milik bapaknya itu hanya untuk sampingan dan mengisi kekosongan waktu Pak Su agar tak jenuh, bukan malah menjadi pemasok utama seperti ini.
"Bapak, gimana kalau uang tabungannya buat nikah bapak saja? Bu Cin masih tetap jadi janda bahenol nomor satu sampai sekarang, loh?" Tita menaik turunkan alis, mencoba menggoda bapaknya itu.
"Bu Cin bukan selera bapak. Gimana kalau dibalik saja? Kenapa kamu gak nikah saja sama Shaka? Gak cuma kuliah saja, hidup kamu juga bakalan ditanggung sama dia."
"Bapaaaak!"
***
"Bang, besok pagi jemput Tita dulu, ya? Ada tugas yang harus dia cek dulu, bener apa enggak."
Shaka yang sedang asyik makan soto dalam balutan mie instan itu menoleh cepat kepada adiknya. "Kenapa gak dibahas disekolahan aja sih?"
"Takut gak sempet, Bang. Itu pelajaran pertama, kalau nanti aku kesiangan gimana? Searaha juga ini, mau, ya?" rengek Adel di depan Shaka.
Tak mau terus-terusan di teror Adel, Shaka mau tak mau pun menyetujui permintaan adiknya itu. "Tapi si Onta suruh nunggu depan gang aja, ya? Serem kalau ketemu sama bapaknya."
"Pak Su? Emang kenapa?" tanya Adel heran.
"Dia minta abang jadi mantunya?"
"Hah!" teriak Adel kaget. Namun, sesaat kemudian sebuah senyuman terbit dari bibir gadis itu.
"Asek, Tita sama Adel jadi ipar."
Shaka yang sedang menikmati sisa-sisa suapan terkakhirnya mendadak menyemburkannya keluar. Buru-buru pemuda itu mengambil minum yang ada di hadapannya.
Shaka menatap adiknya masih senyam-senyum sendiri karena kegirangan itu.
"Mampus! Bakal runyam ini hidupku."