"Ck! Mana si onta? abang kan sudah bilang suruh dia tunggu di depan gang aja," gerutu Shaka kepada Adel.
"Semalam udah tak kasih tau, Bang. Tungguin di sini, ya? Aku masuk dulu jemput dia." Adel membuka sabuk pengamannya, sesaat kemudian gadis itu melesat pergi menuju rumah Tita.
Shaka mengitarkan pandangan ke sekitar, kampung tempat Tita tinggal ini termasuk padat penduduk. Banyak motor berlalu lalang keluar masuk gang, padahal gangnya pun ralatif sempit, andai ada dua motor yang berpapasan, salah satunya harus mengalah untuk berhenti sejenak. Dan parahnya, masih saja ada orang yang seenaknya parkir sembarang yang alhasil membuat pengendara motor lain sedikit kesusahan.
Namun, bukankah memang ini Indonesia? Gengsinya lebih gede ketimbang rasa solidaritasnya.
"Lama banget sih? Aku mau ada urusan ini!" omelnya saat melihat Tita dan Adel yang justru asyik bercanda.
"Kalau gak ikhlas gak usah jemput tadi!" sahut Tita saat sudah duduk di bangku belakang.
"Kalau bukan karena permintaan Adel aku juga ogah!" jawab Shaka tak kalah galak.
"Duh, Bang. Santai napa! Kaki Pak Su lagi kumat, tadi Tita bantuin bapaknya bentar. Lagian belum telat ini," urai Adel mencoba menenangkan kakaknya.
Shaka menoleh ke arah Adiknya yang masih sibuk memakai sabuk pengaman itu. "Lagian kalau niat pakai mobil gini kamu kan bisa minta antar Pak Dul tadi."
"Ih, ngomel mulu! Abang lupa kata mama? Selagi abang di sini, Adel menjadi tanggung jawab penuh abang! Jadi jangan protes terus!"
"Ya, kalau gini kan abang jadi telat!"
"Kalau gak mau telat ya, jalan! Jangan malah ngomel terus! Udah kek ABG lagi dapet aja." Tita memotong begitu saja ucapak Shaka.
Merasa tersindir, Shaka menoleh cepat ke arah gadis yang duduk di belakangnya itu. Matanya menatap tajam, tak terima dengan perkataan yang menurutnya bocah kemarin sore itu.
"Eh, Onta! Perawan nanggung! Gak sadar banget, sih. Ini kan gara-gara kamu!"
"Lah, emang sapa yang minta jemput? Kamu pikir aku seneng ketemu kamu terus? Bukannya dapat anugrah, malah ketemu musibah!"
Shaka memutar tubuhnya ke samping, memposisikan diri untuk menghadap ke belakang. "Kamu itu harusnya bersyukur, banyak noh di luar sana gadis-gadis yang berebutan pingin dekat sama aku."
"Cih! PD-mu selangit, Kisanak! Lagipula mereka belum tahu aja sifat asli kamu gimana. Dasar, Pejantan kadaluarsa!"
"Ka–"
"Sudah-sudah, Woe!"
Shaka yang berniat membalas ucapan Tita mendadak diam saat Adel memutus ucapannya begitu saja.
"Kalian berdua ini kenapa, sih? Berantem mulu, gak cepek? Untung KUA masih tutup, buka udah aku seret kalian ke sana!"
"Najis!"
"Ogah!"
Shaka memutar tubuhnya kembali ke depan, menghidupkan kembali mesin mobilnya dan siap melaju. Sedangkan Tita sendiri langsung membuang muka ke samping, hatinya dongkol tak karuan.
'Perasaan tadi aku yang sarapan sambel, kenapa jadi mulut si Bujang lapuk itu yang pedes banget?' omel Tita sendiri dalam batinnya.
Melihat Tita dan Shaka yang sama-sama membuang muka, Adel tertawa sendiri. "Kalian benar-benar jodoh!"
Jitakan di kepala dari dua arah berlawanan pun mendarat di kepala Adel. Gadis itu meringis, mengusap pelan seraya menatap tak terima kepada dua tersangka yang kini saling membuang muka.
***
"Udah sip, kan, Ta?" Tita hanya mengangguk menjawab pertanyaan Adelia.
Kedua gadis itu kini sudah berada di dalam kelas, jangan ditanya bagaimana leganya Tita saat mereka sampai di sekolah dan tak bertemu lagi dengan si Bujang karatan itu. Tita heran, mana image pelit bicara dan kaku yang pernah Adel ucapkan tentang kakaknya itu, perasaan sejak pertama bertemu, lelaki itu sudah heboh seperti kompor meleduk.
"Tapi nanti yang maju bacain makalahnya kamu, ya, Del? Aku lagi gak berminat dapat pujian keren." ucap Tita sembari menutup makalah yang sedari tadi dia periksa.
"Alasanmu, Tit. Tiap ada tugas beginian mana pernah kamu mau maju buat bacain. Heran, baru kali ini aku nemu orang kayak kamu, pinter tapi kagak nampak, udah kayak mbak kunti aja."
"Aku gak mau kecantikanku luntur gara-gara dilihatin banyak orang."
Tita memasang headset, seperti biasanya gadis itu langsung mengeluarkan novel dan bersiap menjelajah dunia halunya.
"Sok cantik!"
"Emang cantik." sahut seseorang dari arah belakang.
Adel menoleh seketika, Tita yang sudah asyik dengan headsetnya sepertinya sudah tak mendengarkan suara apapun lagi kecuali musik dari handphonenya.
"Hei, jelangkung! Datang-datang salam dulu, kek!" semprot Adel yang hanya mendapat cengiran tanpa dosa.
"Dari tadi aku di sini, Del. Kalian aja yang gak nyadar aku di sini," jawab pemuda berseragam sama dengan Adel dan Tita itu.
"Ngeles aja. Pagi-pagi udah mau ngapel, sekolah dulu!"
"Lah ini sekolah, emang kamu pikir kita ada di mana?"
Tak memedulikan ocehan Adel lagi, pemuda itu lantas pindah tepat di belakang Tita. Dia menarik satu headset yang sedang terpasang di telinga gadis itu.
Tita yang kaget langsung menoleh ke belakang. Gadis itu sudah bersiap untuk marah, muka garang telah dipasang di wajah manisnya. Namun, melihat siapa yang tepat di belakangnya wajah gadis itu langsung berubah.
Sebuah senyum manis langsung terukir di wajah Tita. Adel yang melihat perubahan ekspresi Tita langsung mencibir.
"Eh, Atta," ucap Tita begitu manis. Bahkan menurut Adel terlewat manis. Benar-benar bukan Tita yang sesungguhnya.
Dialah Atta, siswa kelas sebelah yang diam-diam sudah lama singgah di hati Tita. Di hadapan Atta, Tita seperti berubah wujud menjadi bidadari manis yang sangat lemah lembut.
"Cinta itu apa adanya, Ta. Kalau memang Atta suka sama kamu, dia harus terima baik buruknya kamu. Bukan justru kamu berubah menjadi orang lain demi dia," celoteh Adel beberapa bulan lalu, saat pertama kali Tita menceritakan perasaanya.
"Tapi Atta suka cewek yang lembut, Del. Dan gak ada salahnya kan aku berubah seperti itu demi Dia? Lagi pula, berubah jadi lebih baik gak masalah, bukan?" elak Tita saat itu.
"Berubah itu demi diri sendiri, demi bahagaian diri sendiri, Bukan demi menarik perhatian orang lain. Buat apa kamu terihat baik cuma biar dapat penghargaan doang?"
"Ini bahagian diri sendiri, kok. Kan kalau dekat dengan Atta aku bahagia."
Adel tak lagi berucap. Rasa suka sudah membuat Tita menutup telinga. Adel hanya bisa pasrah, setidaknya dia cukup bahagia melihat sahabatnya itu juga bahagia.
"Selamat pagi, asyik banget sih, novel baru?" tanya Atta seraya memindah posisi duduk di samping Tita.
"Pagi, Atta. Enggak, ini sudah beli seminggu kemarin sih, cuma belum sempat baca aja, selain PR lagi banyak, sering ketiduran sore juga," jawab Tita lagi-lagi dengan begitu manis.
"Jangan kebanyakan begadang, ya? Belajar sama baca novel boleh-boleh aja, tapi kesehatan mesti di jaga juga. Jangan sampai sakit."
Adel ingin muntah saja rasanya melihat tingkah dua orang di sampingnya itu. Kenapa tidak biasa saja? Kenapa harus sok manis dan perhatian begitu? Ah, Adel lupa, namanya orang jatuh cinta semua terasa indah. Kambing dibedakin aja udah bisa menjelma jadi Lee Min Hoo, ya, cinta memang sebuta itu.