Bunyi bel sekolah terdengar menandakan jam pelajaran pertama segera di mulai. Atta dan Tita yang sebelumnya sedang asyik berbincang saling memandang. Merasa tak rela waktu berlalu sedemikian cepat.
"Aku balik kelas dulu, ya? Nanti istirahat kita ke kantin bareng," pamit Atta yang langsung diangguki oleh Tita.
Atta bangkit dari kursinya, sebelum berlalu pemuda itu membelai pucuk kepala Tita pelan, memberi sebuah senyuman yang langsung menembus ke dalam hati si gadis berkuncir kuda itu.
Tita tak berhenti tersenyum, bahkan saat Atta sudah tak terlihat pun, senyum itu masih mengembang indah di bibirnya. Hingga sebuah jitakan membuat dia langsung tersadar.
"Orangnya sudah ilang. Senyumin aja terus sampai gigimu luntur," bisik Adel tepat di telinga Tita.
"Andai kamu tahu indahnya jatuh cinta," jawab Tita dengan kembali tersenyum. Jatuh cinta dan kurang waras memang terkadang beda tipis.
"Dan andai kamu tahu bahwa cinta tak terbalas itu sakit banget," sambung Adel dengan sok dramatis.
"Eh, maksudnya apaan? Doain gak bener, ya?" protes Tita tak terima.
"Lah, aku cuma mau ingetin kamu, sampai detik ini Atta belum nyatain cinta. Jadi, kamu jangan keGR-an dulu. Mendung belum tentu hujan, Pacaran belum tentu ke pelaminan, lah apalagi cuma PDKT doang? Belum tentu pacaran."
Tita mencabik, dia sedikit kesal dengan ucapan Adel. Namun jika dipikir-pikir, ucapan sahabatnya itu benar juga. Sudah hampir beberapa bulan dia dan Atta menjalin hubungan dekat, bahkan sikap dan perhatian pemuda itu pun sudah semanis pacar, lantas apa yang membuatnya hingga detik ini tak menyatakan rasa?
"Gimana kalau aku tembak dia duluan?" Usul Tita yang langsung di gelengi Adel cepat.
"No! No! No! Cukup kamu berubah jadi orang lain di depan dia, jangan lagi melakukan hal yang aneh-aneh. Tunggu dan lihat saja, kalau memang Atta beneran suka sama kamu, dia sendiri yang akan datang mendekat dan menyatakan rasa. Jadi, buang jauh-jauh pikiran kamu jauh itu," kata Adel menggebu-gebu.
Tita menghembuskan napas berat. Wajahnya mendadak lesu. Sampai kapan dia harus menunggu? Kalau dengan menunggu dia mendapatkan apa yang benar-benar diharapkan jelas itu tak masalah, tapi jika sebaliknya?
"Arrrrgh! Atta, kapan kamu bilang cinta?" teriak Tita spontan.
"Iya, Tita? Siapa yang mau bilang cinta?" Suara serak terdengar dari arah depan.
Tita yang semula menutup muka dengan kedua tangannya spontan mendongak. Ternyata, Pak Arif guru Bahasa Indonesia sudah berada di dalam kelas. Gadis itu hanya bisa tersenyum kikuk.
"Huuuuu ...." sorakan dari seisi kelas mulai terdengar.
"Cie ... cie, Tita jatuh cinta."
"Tita naksir si Atta kelas sebelah?"
"Tita bisa jatuh cinta ternyata."
"Eh, Tita jatuh cintanya sama laki, kan? Habis dia kadang mencurigakan."
Berbagai selentingan-selintangan lain pun mulai terdengar. Demi Bang Toyib yang sudah lima kali puasa lima kali lebaran kagak ada kabar, Tita ingin sekali terjun ke empang, ketemu si Patrick dan Spongebob yang pingin belajar bikin apem.
***
"Tit, kamu beneran gak mau lanjutin kuliah?" tanya Adel saat Tita sedang membantunya mencoba mendaftar di salah satu universitas lewat jalur online.
Siang ini, kedua gadis itu sedang berkumpul di rumah Adel. Selain untuk membantu Adel daftar kuliah, ada beberapa tugas yang lagi-lagi harus mereka kerjakan berdua.
"Gak tau, Del. Aku bingung," jawab Tita sendu.
"Kalau bingung cari pegangan." Shaka yang kebetulan lewat tak tahan untuk tidak ikut komentar.
Entah apa yang terjadi dengan pemuda itu, rasanya dia senang sekali menggoda gadis belia itu. Dia memang biasa menjahili Adel, tapi sikap Tita yang lebih pemarah membuatnya semakin gemas dengan sahabat adiknya itu.
Tita menoleh sekilas ke arah Shaka. "Nyamber aja kayak bensin," gerutu Tita yang tak ditanggapi Shaka.
Pemuda itu berjalan menuju dapur, mengambil air dingin di kulkas dan sengaja meminumnya tak jauh dari Adel dan Tita yanh sedang berada di ruang keluarga.
"Bingung kenapa?" tanya Adel.
"Bapak maunya aku kuliah, tapi aku gak tega, Del. Kuliah itu mahal, sedangkan kamu tahu sendiri kami hidup cuma mengandalkan pendapatan dari warung saja. Bapak bilang sih kalau beliau udah nabung buat biaya kuliahku, tapi kan tetap aja kedepannya pasti masih butuh biaya untuk yang lain-lain," urai Tita yang diangguki oleh Adel.
Tak hanya Adel, Shaka pun mendengarkan dengan seksama cerita Tita. Seingatnya, Adel pernah cerita kalau Tita itu gadis yang pintar, jadi menurutnya akan sangat sayang sekali jika gadis itu tak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
"Tapi kamu bisa kuliah sambil kerja, Tit."
"Kerja apaan, Del? Jaman sekarang susah nyari kerja yang mau part time. Aku pingin kerja full time aja, gedein warung bapak biar pendapatannya juga makin gede."
"Ah, Tita. Tapi kan sayang banget. Atau aku bilang aja ke mama aku biar dia mau bayarin kuliah kamu, gimana?" usul Adel dengan semangat.
"Enggak! Aku gak mau hutang budi, Adel. Lagian kuliah juga bukan sekolah yang wajib, jadi aku gak mau terlalu memaksakan diri."
Shaka masih diam di tempatnya, sejujurnya dia teramat kasihan dengan Tita. Gadis itu memang mneyebalkan, tapi dia sama sekali tak membenci gadis itu.
Shaka memutar otak, mencoba berpikir apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Tita. Jika dilihat dari ucapannya kepada Adel barusan, gadis itu pasti tak mau dibantu secara cuma-cuma.
"Bisa pose, gak?" tanya Shaka tiba-tiba.
Lelaki itu kini sudah berpindah tempat, Shaka mengambil tempat duduk di atas sofa, tepat di samping Adel yang sedang duduk lesehan bersama Tita.
"Pose gimana maksudnya, Bang?" tanya Adel buka suara.
"Ya, pose seperti model. Katanya dia butuh duit." Shaka mengarahkan dagunya ke arah Tita.
"Model apa maksudnya? Aku memang butuh duit, tapi aku gak mau jual diri," pungkas Tita begitu saja.
"Otakmu itu negatif thinking terus. Lagian body datar begitu mana laku dijadiin model bokep."
"Astagfirullah, Abang. v****r banget omonganmu." Adel geleng-geleng kepala sembari mengelus dadanya dengan ekspresi sok kalem.
"Biarin datar yang penting gak jadi bahan tontonan orang!"
"Mangkanya dengerin dulu! Kebetulan distro yang aku buka ini produksi pakaian cewek juga, karena baru pertama kali jadi aku model buat foto dan endorse. Kamu butuh uang, kan? aku bakalan gaji kamu sesuai standart yang ada," jelas Shaka yang langsung membuat mata Tita berbinar.
Sejujurnya tawaran ini amat sangat menggiurkan bagi Tita, tapi bisakah dia menjadi model? Belum lagi itu berarti dia akan ketemu terus dengan si Pejantan keratan itu, tentu itu akan menjadi ujian kesabaran yang begitu berat baginya.
"Mau, Tit! Mau, ya? Kapan lagi dapat kerjaan santai begini? Jaminan terkenal iya, dapat duit juga iya," bujuk Adel.
"Gimana?"
"Kalau aku nyambi kuliah gimana?"
"Kamu bisa kerja sepulang sekolah. Lagian pemotretan juga gak tiap hari, jadi selagi gak ada pemotretan, kamu cukup bantu-bantu di distro. Pikirin aja dulu, lagian distronya belum jadi."
Usai berkata demikian, Shaka bangkit dari posisinya, berjalan meninggalkan dua gadis yang sibuk dengan pikiran masing-masing itu.
"Oh, ya," ucap Shaka tiba-tiba.
Adel dan Tita menoleh bersamaan, melihat ke arah Shaka yang sudah berada di tangga hendak ke lantai dua.
"Kalau emang mau, mulai sekarang makan yang banyak biar waktu pemotretan badanmu gak datar-datar banget," lanjutnya dengan senyum jahil.
Tita yang semula mendengarkan dengan seksama langsung menahan napas. Wajahnya memerah, bersiap menumpahkan lava amarah kepada lelaki yang kembali berjalan dengan terbahak itu.
"Dasar Shakalaka Dum-dum! Pejantan karatan! Bujang bangkotan! Aku kutuk jadi gulali baru tahu rasa!"