0855 764 856 265
[Onta, ukuran bajumu apa?]
Tita memandang heran pada sebuah pesan masuk yang ada di handphonenya. Dia tak mengenal nomor baru tersebut, tapi mengingat panggilan yang tertera, tak ada tersangka lain selain si bujang karatan. Shaka.
Onta
[Ngapain tanya ukuran bajuku? Mau beliin seperangkat alat salat? Gak usah, Makasih!]
Tak perlu menunggu lama, balasan chat dari Tita sudah langsung Shaka terima. Kini, gantian pemuda itu yang menatap aneh dengan balasan pesan dari Tita.
"GR banget nih, Onta. Siapa juga yang mau sama dia. Dasar Onta ayan!" gumam Shaka sendiri sembari mengetik balasan untuk Tita.
Pejantan Kadaluarsa
[Segitu naksirnya, ya, kamu sama aku? Sampai-sampai bermimpi aku bawain mas kawin?]
Balasan dari Shaka spontan membuat amarah Tita naik ke ubun-ubun. "Bener-bener cari perkara ini pejantan, awas aja!"
Tak mau bertele-tele dengan membalas pesan, Tita langsung menghubungi nomor Shaka melalui panggilan Whatshaapp.
"Halo! Maksudnya apaan ngomong begitu? Amit-amit aku naksir kamu, cakep juga enggak!" sahut Tita cepat saat panggilan sudah tersambung.
"Ya, kamu itu Onta yang mikirnya kejauhan. Aku cuma tanya ukuran baju kamu udah bahas mas kawin, gimana kalau aku tanya ukuran daleman? Bisa-bisa kamu ngajakin ke ranjang." Suara kekehan terdengar dari seberang sana, membuat Tita makin meradang dibuatnya.
"Astagfirullah, Bujang lapuk! Ngakunya lulusan mahasiswa, tapi kalau ngomong gak difilter. Sumpah! Kamu v****r!"
"Lah kenapa? Kamu udah gede kan? Pasti udah pahamlah maksudku," jawab Shaka dengan santainya.
"Bodo! Nyesel aku ngomong sama kamu!"
"Lah yang telepon duluan kan, kamu. Gimana sih?"
"Oke, Bye!"
"Eh, tunggu-tunggu! Pertanyaanku belum dijawab." Potong Shaka tiba-tiba.
Tita yang sebelumnya udah hampir mematikan telepon akhirnya membatalkan niatnya itu. "Apa lagi?" tanyanya galak.
"Baju kamu ukurannya apa? Aku mau siapin baju-baju buat pemotretan kamu."
Dibalik handphonenya, Tita tersenyum sendiri. Lucu sekali mendengar bahasa pemotretan, sudah kayak model papan atas saja dia.
"Katanya nunggu distronya jadi dulu?" tanya Tita dengan nada yang lebih bersahabat dari sebelumnya.
"Beberapa model sudah ada yang datang. Kebetulan aku juga jual online, jadi jemput bola dulu tak masalah." Tita mengangguk-angguk mengerti dengan ucapan Shaka.
"Ouw, begitu."
"Jangan ah-oh, ah-oh terus. Apa ukuranmu?"
"Pakai M aja."
"Oke. Belajar pose yang cantik, jangan sampai besok fotomu udah kayak foto KTP. Makan yang banyak!"
"Ya Allah, iya bawel!" jawab Tita yang mulai sebal lagi.
"Satu lagi, save namaku dengan benar. Rayshaka yang tampan dan rupawan. Bye!"
Shaka menutup panggilannya begitu saja, membuat Tita yang hendak membalas ucapannya mengurungkan niat.
"Dasar Perjaka kadaluarsa! Nyebelin!"
***
"Bapak, Tita mau kuliah."
Sore itu, Tita dan Pak Su tengah asyik duduk di bale depan rumahnya sembari menjaga warung kelontongnya.
"Lah bagus itu. Bapak setuju," ucap Pak Su sembari menepuk-nepuk bahu putrinya itu.
"Tapi ada syaratnya, Pak."
Pak Su menautkan kedua alis, menatap penuh tanya kepada anak gadisnya itu. "Udah kayak minta pesugihan aja pakai syarat."
"Ya Allah bapak, amit-amit. Miskin boleh, gak beriman jangan." Tita mengelus dadanya tak lupa mengucapkan Istigfar beberapa kali. Sudah persis kayak emak-emak yang sebel sama tingkah anaknya.
"Lagakmu, Nduk! Udah kayak Mama Didi saja." Pak Su mengusap telapak tangannya ke muka Tita, membuat bapak dan anak itu tertawa bersama.
"Jadi, apa syarat yang kamu ajukan?" tanya Pak Su saat tawa keduanya sudah mulai reda.
"Tita boleh kuliah sambil bekerja?"
"Kerja apa? Nanti kalau malah ganggu kuliah gimana? Gak usahlah, bapak masih kuat biayain."
"Gini loh, Pak. Tita jelasin dulu. Tita dapat tawaran kerja dari Pejantan karatan, eh maksudnya Shaka. Dia kebetulan baru buka distro batu, lah rencananya ada pakaian ceweknya. Dia nyuruh Tita buat jadi model baju-bajunya, jadi cuma foto-foto doang," jelas Tita yang masih ditanggapi dengan Pak Su dengan alis bertautan.
"Nah, dia ngijinin Tita kerja setelah kuliah. Kalau gak ada sesi foto-foto, Tita jaga distronya. Kan lumayan Tita bisa biayain kuliah Tita sendiri, boleh, ya?"
Pak Su nampak terdiam sesaat, matanya masih menatap penuh ke arah putrinya. Tita harap-harap cemas menunggu jawaban orang tua tunggalnya itu. Meskipun sangat ingin bekerja, ijin dan ridho Pak Su yang akam menjadi penentu.
"Kamu bisa jamin kalau itu tidak akan menganggu kuliahmu?"
"Aku bisa pastiin, Pak. Aku janji nilai kuliahku pasti baik-baik saja. Insya Allah."
Pak Su manggut-manggut mendengar jawaban putrinya itu. Selama ini, meskipun jauh dari didikan seorang Ibu, Tita tumbuh menjadi gadis yang sangat manis dan penurut. Memang terkadang gadis itu bersikap absurd dan sedikit emosional, tapi mengingat usianya yang masih labil dan sangat muda, Pak Su mencoba memahami itu.
"Baiklah, bapak bakal ijinin kamu bekerja. Selain karena kerjaannya sepertinya ringan, tentu saja karena Shaka adalah bosnya. Sapa tau kalian malah berjodoh," ujar Pak Su tak lupa dengan senyum pakradennya.
Tita mendelik karena kaget dan tak terima. Bapaknya itu sepertinya sudah sangat kepincut dengan Shaka. Hingga dalam hal apapun yang berkaitan dengan Shaka, pembahasannya pun pasti tak jauh-jauh dari KUA. Benar-benar meresahkan.
"Ya Allah, Bapak. Tita mau kerja, bukan mau cari mantu buat bapak, jadi yang bener aja dong," protes Tita tak terima.
"Lah, kan bapak juga berharap syukur-syukur dikabulin sama yang di atas."
"Doa tak beralasan gak bakal terkabul."
"Tapi doa anak yatim itu biasanya didengar."
Tita mengerutkan dahinya, merasa ambigu dengan ucapan bapaknya. "Siapa yang yatim?"
"Lah bapak kan yatim, kakek kamu sudah meninggal lama toh? Berarti bapak yatim kan?"
Tak lagi banyak bicara, Tita bangkit dari tempatnya. Gadis itu berlalu saja, tak memedulikan sang bapak yang masih saja bicara.
"Tita, besok salam ke calon mantu bapak, ya?" Teriak Pak Su saat Tita sudah menjauh.
"Bodo amat! Tita gak denger!"
***
Tita masih bergumul dengan selimut saat Pak Su memanggilnya dari luar. Dia amat berat meninggalkan kasur dan selimut kesayangannya itu. Ini adalah hari minggu, hari di mana dia bisa tidur tenang tanpa harus buru-buru ke sekolah.
"Ta, masih belum bangun?" Suara Pak Su terdengar lagi dari luar, membuat Tita mau tak mau bangun dan membukakan pintu untuk bapaknya itu.
"Iya, Pak. Tita bangun," jawab Tita sembari membuka pintu kamarnya.
Pak Su memindai anaknya dari atas ke bawah. Tita masih sangat berantakan, mata yang masih terpejam, tubuh yang sempoyongan serta rambut yang sangat acak-acakan.
"Oalah, Ta. Anak gadis kok modelnya kayak begini, gak malu sama jodoh?"
"Bapak ngomong apa sih, pagi-pagi udah bahas jodoh. Bapak kenapa bangunin Tita? Ini masih pagi." tanya Tita dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ada yang nyariin kamu di luar."
"Siapa?"
"Lihat saja sendiri."
Tita hanya berdecak menanggapi ucapan Pak Su. Dengan malas, dia berjalan menuju teras rumahnya. Matanya membulat seketika saat melihat sosok yang sudah berdiri tegap sembari menatapnya itu.
"Hai!" sapanya.
Ah, Tita rasanya ingin pingsan saja.